
“Gamelan pemikat arwah? Tanya Aria sambil kerutkan kening.
“Benar! Setiap mahluk tak kasat mata mendengar suara gamelan ini, mereka akan menari dan mendatangi orang yang memainkannya.
“Setelah itu? Tanya Aria.
“Banyak yang bisa di lakukan oleh mereka,” jawab Wangsa.
Wangsa berdiri, lalu mengajak Aria untuk melihat lebih dekat ke panggung yang berada di tengah alun-alun desa Coblong.
“Apa mereka akan mencelakai Buto Ijo dan Suketi? Tanya Aria.
“Untuk mencelakai Buto Ijo, aku rasa tidak! Karena Buto Ijo adalah mahluk setengah campuran antara siluman dan manusia, tetapi kalau Suketi yang benar-benar murni siluman, bisa mereka tangkap,” jawab Wangsa.
Suara cemooh dan nada gusar terdengar dari mulut para penduduk, setelah melihat Buto Ijo dan Suketi menari bersama di atas panggung.
Sementara itu, 5 orang pemain gamelan saling tatap sambil terus memainkan alat musik yang mereka pegang.
“Rupanya diantara para penduduk Coblong ada siluman,” ucap salah satu dari pemain gamelan.
Tak lama kemudian musik berhenti, Buto Ijo kerutkan keningnya, sedangkan Suketi diam, seperti sedang menunggu suara musik.
Nyai Srikantil menatap ke arah Buto Ijo dan Suketi sambil tersenyum, lalu Nyai Srikantil mengambil Suketi yang berdiri diam di sisi Buto Ijo.
“Sudah beberapa kali aku menemukan siluman di desa ini, tetapi baru kali ini ada yang langsung berwujud manusia dan kera, biasanya siluman babi atau tikus yang datang,” ucap Nyai Srikantil.
Setelah berkata, Nyai Srikantil kemudian mengikat Suketi dengan tali yang melingkar di pinggangnya.
Gamelan pemikat arwah memang sengaja di mainkan untuk memanggil arwah atau siluman yang mendengar suara gamelan.
Desa Coblong selalu memanggil rombongan penari Nyai Srikantil dan berani membayar mahal, karena hasil panen mereka selalu berlimpah jika sudah di beri doa-doa oleh Nyai Srikantil.
Sebenarnya bukan doa seperti yang di percayai oleh penduduk desa Coblong, tetapi mahluk tak kasat mata yang suka mengganggu penduduk Coblong di tangkap oleh nyai Srikantil.
Buto Ijo setelah sadar dari suara gamelan, menatap ke arah Nyai Srikantil yang tengah mengikat Suketi, lalu bertanya dengan nada dingin.
“Apa yang sedang kau lakukan? Tanya Buto Ijo.
Raut wajah Nyai Srikantil berubah, wanita itu sangat terkejut mendengar perkataan Buto Ijo.
“Siapa dia dan siluman apa? Batin Nyai Srikantil, “biasanya siluman akan langsung diam, setelah mendengar suara musik gamelan pemikat Arwah,” Nyai Srikantil bertanya tanya dalam hati, sambil menatap Buto Ijo.
Musik gamelan pemikat arwah hanya bisa mempengaruhi siluman, sedangkan Buto Ijo adalah campuran, musik gamelan di mainkan, Buto Ijo ikut menari, setelah musik berhenti, Buto Ijo langsung sadar, sedangkan Suketi yang masih terpengaruh gamelan pemikat arwah.
Nyai Srikantil tidak tahu akan keadaan Buto Ijo, wanita itu berpikir bahwa Buto Ijo adalah siluman seperti yang biasa ia tangkap.
“Bangsat! Ditanya malah diam,” ucap Buto Ijo.
Buto Ijo hendak bergerak, tetapi melihat setengah badan Suketi sudah terikat tali, Buto Ijo hanya bisa menahan diri, karena takut Suketi di celakai oleh sang penari.
“Turun kau! Jangan mengacau di desa Coblong,” ucap seorang jagoan desa Coblong yang di takuti setelah berada di atas panggung.
Suara teriakan turun juga terdengar dari mulut para penduduk.
Melihat Buto Ijo diam, jagoan desa itu lebih berani, ia menghampiri Buto Ijo, lalu tinjunya melayang ke arah dada.
Buk!
__ADS_1
Sang jagoan kampung kerutkan kening melihat Buto Ijo masih berdiri. setelah ia meninju dada Buto Ijo dengan keras.
Buto Ijo tersenyum dingin, sambil melihat tangan orang yang memukulnya.
Tanpa di duga oleh sang jagoan desa, tangan kanan Buto Ijo melesat ke arah kepala.
Prak!
Sang jagoan langsung tersungkur dengan kepala pecah, terkena hantaman Buto Ijo, Nyai Srikantil langsung mundur sambil memegang Suketi.
“Paman gendon! Mainkan gamelan penunduk siluman,” ucap Srikantil sambil terus menatap Buto Ijo.
Setelah mendengar suara perintah dari Nyai Srikantil, orang yang disebut paman gendon memberi isyarat kepada kawan-kawannya, tak lama kemudian suara alunan musik gamelan terdengar kembali.
Tetapi belum lama musik mengalun, dua bayangan melesat ke arah panggung.
Trang!
Tongkat Aria menusuk ke arah gong besar sampai tembus.
Orang yang memainkan alat musik gong sangat terkejut, lalu tubuhnya lompat ke arah gendon.
Suara musik langsung berhenti, karena salah satu alat musik pendukung mereka rusak oleh tongkat Aria.
Suasana di sekitar panggung langsung geger, para penduduk desa Coblong yang marah melihat salah seorang warganya tewas dan acara mereka di ganggu, meraih apa saja yang mereka bisa pegang, untuk menghadapi Aria serta kedua orang kawannya.
Kepala desa Coblong dengan raut wajah geram naik ke atas panggung, lalu menunjuk Aria yang telah merusak alat musik sang pemain.
“Siapa kalian! Kenapa datang-datang langsung mengacau di desa kami? Tanya sang kepala desa.
Wangsa tidak menanggapi pertanyaan kepala desa Coblong.
“Aku membantu penduduk desa Coblong, mengusir mahluk yang coba mengganggu mereka,” balas Nyai Srikantil.
“Mengusir atau menangkap mahluk halus? Tanya Wangsa sambil menatap tajam.
“Lepaskan Suketi! Seru Buto Ijo sambil kakinya menginjak gong besar yang ada di dekatnya.
Blang!
Sisi Gong yang tebal langsung melesak, di injak Buto Ijo.
Nyai Srikantil melihat Buto Ijo mampu membuat gong besar sampai melesak, mencabut pisau kecil dari balik baju, lalu menempelkan pisau di leher Suketi.
Nyai Srikantil bukan orang bodoh, Buto Ijo meminta ia melepaskan Suketi, itu artinya Suketi berharga dan bisa menjadi tameng mereka.
“Diam! Jangan bergerak atau Suketi aku bunuh! Seru nyai Srikantil.
“Lebih baik kau lepaskan Suketi sebelum terlambat,” mana Kidung kencana? Tanya Wangsa.
Raut wajah Nyai Srikantil berubah, setelah mendengar Wangsa menyebut nama Kidung kencana
“Siapa kisanak? Tanya Srikantil.
“Aku sahabat Kidung kencana,” jawab Wangsa.
Srikantil menatap Wangsa, setelah menarik napas Srikantil lalu mengusap wajah Suketi, kemudian membuka ikatan di tubuh Suketi.
__ADS_1
Suketi langsung membuka mata, lalu melesat ke arah Buto Ijo, Buto Ijo menangkap Suketi lalu mendekapnya.
Suketi langsung bersembunyi di balik pelukan tangan Buto Ijo, raut wajahnya tampak sangat ketakutan sambil menatap ke arah Srikantil.
“Tenang! Kau aman sekarang,” ucap Buto Ijo.
“Wongso! Mundur kau, biar ku beset kulit kepala penari itu,” lanjut perkataan Buto Ijo setelah menenangkan Suketi.
“Tenang Jo! Aku mau tanya dulu, kalau jawabannya tidak memuaskan, kau bunuh saja,” balas Wangsa.
Kepala desa Coblong yang merasa di acuhkan, kemudian bergerak mendekat, tetapi langkah kepala desa tertahan setelah melihat tongkat berwarna coklat sudah berada di dada.
“Beritahu kepada penduduk Coblong untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, kalau tidak! Jangan salahkan aku kalau besok sudah tidak adalagi desa yang bernama Coblong,” Aria berkata dengan nada dingin.
Kepala desa Coblong menarik napas, tak lama kemudian ia berteriak kencang.
“Bubar….bubar kabeh! Doa sudah selesai, semua kembali ke rumah masing-masing,” ucap kepala desa.
Penduduk desa Coblong kecewa terhadap kepala desa, tetapi mereka tak berani membantah.
Satu persatu penduduk desa Coblong pulang ke rumah mereka.
“Kepala desa juga sebaiknya pulang kerumah dan jangan keluar lagi, kalau ingin selamat,” ucap Aria.
Kepala desa Coblong anggukan kepala.
Setelah Aria menarik tongkatnya, kepala desa Coblong langsung pulang kerumahnya.
“Cepat katakan! Kau kenal Kidung kencana? Tanya Wangsa.
“Kidung kencana adalah guruku, kisanak,” ucap Srikantil.
“Lalu mana gurumu! Suruh dia keluar,” balas Wangsa.
“Tidak ada kisanak! Ucap Srikantil dengan raut wajah sedih, matanya tampak berkaca kaca setelah berkata.
Wangsa mendengar perkataan Srikantil dan melihat perubahan di wajah gadis itu, Wangsa kerutkan kening, kemudian bertanya.
“Apa yang terjadi pada Kidung kencana? Tanya Wangsa.
“Guruku di tawan oleh seorang tokoh sesat, setengah manusia setengah siluman, seperti kisanak itu,” jawab Srikantil sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Apa! Di tawan? Siapa yang berani menawan Kidung kencana, cepat katakan,” Wangsa berkata kali ini dengan nada tinggi.
“Aku melakukan ini untuk menolong penduduk , juga untuk menyelamatkan guruku,
Aku menari keliling desa di daerah sini sampai Tumapel sambil mencari siluman, untuk di berikan kepada orang yang menawan guruku, kalau tidak guruku akan di bunuh olehnya,”
“Untuk apa kau di suruh mencari siluman? Tanya Wangsa.
“Siluman yang kami dapat, rohnya akan di hisap oleh tokoh itu, untuk menambah kekuatan ilmu hitam yang dia miliki,” jawab Srikantil.
Hmm!
“Tidak salah lagi, pasti dia orangnya,” dengus Wangsa sambil berkata.
“Apa kisanak kenal dengan orang yang menawan guruku? Tanya Srikantil.
__ADS_1
Wangsa anggukan kepala, kemudian berkata dengan raut wajah tampak menyeramkan.
“Namanya Singa Barong”