Iblis Buta

Iblis Buta
Menyerang Alas Purwo


__ADS_3

Suasana bahagia yang terjadi di istana tampak siring berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Alas Purwo.


Seorang lelaki paruh baya dengan rambut panjang dan mulai memutih, tengah menatap mayat pemuda tampan yanh ada di hadapannya.


Mata lelaki itu merah, tampak air mata mengembang di mata pria itu sambil menatap pemuda tampan yang terbujur kaku di depannya, di sisi lain mayat pemuda tampan tersebut yang tak lain adalah Sentanu, duduk Lelaki yang kepalanya berupa kerbau dengan tanduk melengkung, mata Ki Banyu Alas tampak merah menyimpan bara dendam atas kematian sang murid.


Ki Banyu Alas menaruh dendam bukan kepada orang yang membunuh muridnya, tetapi kepada Aria Pilong karena muridnya tewas karena pemuda itu yang menjadi penyebabnya.


“Banyu Alas! Siapa yang sudah membunuh anakku? Tanya pria paruh baya itu dengan nada dingin.


“Aria Pilong,” jawab Ki Banyu Alas dengan nada yang sama-sama dingin.


“Aria Pilong,” Ucap Pria paruh baya dengan nada gusar, kemudian berkata kembali setelah menyebut nama orang yang sudah membunuh putranya.


“Kau berada di sana, tetapi anakku bisa tewas, apa benar kau ini orang paling sakti di tanah Jawa? Tanya pria itu yang tak lain adalah Darmawangsa, ayah dari Sentanu dengan nada tak percaya.


“Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena di sana ada Ratu laut utara,” jawab Ki Banyu Alas.


Hmm!


“Ada hubungan apa antara pemuda itu dengan Ratu laut utara, sampai anakku bisa kehilangan nyawa tanpa ada tindakan darimu, kau bilang Sang Ratu tidak akan turun tangan, apapun yang kau perbuat,” balas Darmawangsa.


“Pemuda itu yang di tugaskan untuk membunuhku, karena dendam lama antara aku dan Ratu laut utara.


“Bangsat!? Seru Darmawangsa sambil menghantam lantai batu saking gusar mendengar jawaban Ki Banyu Alas.


“Apa kau tidak memberitahu Ratu laut utara, siapa kakek dari anakku? Kembali Darmawangsa bertanya dengan nada geram.


“Aku sudah beritahu, tetapi mereka tetap membunuh anakmu,” jawab Ki Banyu Alas.


Melihat Darmawangsa diam, Ki Banyu Alas lanjut berkata, “apa Resi Sapta Darma sudah kau beritahu tentang kematian cucunya?


“Aku belum memberitahu ayah, karena ia tidak mau menemui orang yang tidak ia kehendaki,” jawab Resi Darmawangsa.


“Kau adalah putranya, sedangkan Sentanu adalah cucu, kenapa tidak kau beritahu? Aku yakin kita bisa membunuh pemuda itu, jika ada ayahmu bersama kita,” balas Ki Banyu Alas.


“Apa kau pikir aku tidak mampu membunuh pemuda itu? Tanya Darmawangsa sambil menatap dengan sorot mata tajam.


“Bukan itu yang aku khawatirkan, tetapi dengan kehadiran ayahmu, setidaknya bisa meredam Ratu laut utara untuk tidak membantu pemuda yang sudah membunuh Anak mu,” jawab Ki Banyu Alas.


“pusaka Tombak gading kencana, bisa di pakai untuk membunuh Ratu Laut utara,” balas Darmawangsa.


“Tidak semuda apa yang kau katakan, Sobat! Seru Ki Banyu Alas, “Ratu laut utara punya segudang ilmu yang tidak bisa kau bayangkan, hanya ayahmu yang sanggup menghadapi ratu laut utara,” Ki Banyu Alas lanjut berkata.


“Ayah tidak akan mungkin mau jika tahu siapa yang akan dia hadapi, karena Ratu Laut utara adalah salah satu sahabat ayah,” balas Darmawangsa.


Ki Banyu Alas menarik napas mendengar perkataan sang sahabat.


“Apa dendam pati ini masih tak bisa menggerakkan hati ayahmu, untuk menuntut balas? Tanya Ki Banyu Alas yang bermaksud mengadu domba antara Resi Sapta Darma dengan Ratu Laut utara.


“Bukan itu sebabnya! Ucap Darmawangsa, “sudahlah tidak usah membicarakan lagi tentang ayahku, lebih baik kita susun rencana untuk membalas kematian putraku,” lanjut perkataan Darmawangsa.


Ki Banyu Alas, terlihat kecewa mendengar perkataan Darmawangsa, tetapi ia tidak meng ungkapkan rasa kecewa hatinya.


Ki Banyu Alas hanya anggukan kepala mendengar niat Darmawangsa yang ingin menuntut balas atas kematian putranya, Sentanu.


****


Pesta di istana tampak siring setelah pernikahan Aria, berlanjut sampai dua hari dua malam.


Pesta di malam hari di gelar di alun-alun istana, suara gamelan dan lenggak lenggok para penari, di sambut suka cita oleh para penduduk menyaksikan hiburan rakyat yang di gelar untuk memeriahkan pernikahan Aria Pilong dan putri angkat Prabu Anak Wungsu.


Setelah pesta selesai, Aria mengumpulkan anggota Jagad Buwana untuk membahas tentang penguasa Alas Purwo, Buwana Dewi hadir dan ikut mendengarkan rencana apa yang akan di buat oleh sang suami terhadap ayahnya.


“Menurut ketua tindakan apa yang harus kita ambil? Tanya SingaBarong.


“Aku ingin membujuk Ki Banyu Alas agar bertobat dan mau bergabung serta tinggal bersamaku,” Aria menjawab pertanyaan Singabarong.


Mereka yang mendengar jawaban sang ketua anggukan kepala, mereka maklum dengan perkataan sang ketua, karena sekarang Ki Banyu alas adalah mertua Aria Pilong.


“Kalau Ki Banyu Alas tidak mau menerima uluran tangan kita, lantas tindakan apa yang akan ketua lakukan? Kembali Singabarong bertanya.


Kali ini Aria tidak menjawab pertanyaan Singabarong.


“Bagaimana menurut Adik Buwana Dewi? Tanya Aria, melemparkan pertanyaan Singabarong.

__ADS_1


“Aku menurut saja dengan perkataan kakang Aria, tetapi aku berharap bisa berkumpul bersama ayah,” ucap Buwana Dewi dengan nada sedih, karena masalah ini layaknya pisau bermata dua, dengan kedua sisi tajam, bisa melukai orang yang dekat dengannya.


Aria menarik napas mendengar perkataan Buwana Dewi, ia memaklumi perkataan sang istri yang masih berharap ada mukjizat agar sang ayah mau bertobat.


“Baiklah kalau begitu,” Arya berkata setelah mendengar jawaban sang istri, kemudian berkata kembali, “ kita tak bisa berlama-lama di sini, karena kita mempunyai tugas dan tanggung jawab besar.


“Singabarong! persiapkan semua anggota Jagad Buwana, besok kita langsung ke Alas Purwo, tepatnya ke Tegaldlimo.


“Bawa semua pasukan siluman yang kita miliki untuk menandingi pasukan Siluman Alas Purwo.” Aria memberi perintah apa yang harus di lakukan.


“Siap ketua! Jawab Singabarong, hatinya senang dengan keputusan sang ketua, karena Singabarong kesal dengan Ki Banyu Alas yang sombong dan seakan tidak tertandingi.


Setelah memberikan instruksi apa yang harus di lakukan, Aria bersama Buwana Dewi menemui Prabu Anak Wungsu, untuk membicarakan niat mereka yang akan pergi ke Tegaldlimo.


“Kenapa harus besok? Tanya Prabu Anak Wungsu, “kalian berdua baru saja menikah, aku dan permaisuri sangat bahagia setelah mempunyai Buwana Dewi, apa kalian tidak bisa mengulur waktu untuk pergi ke tempat Ki Banyu Alas? Tanya Prabu Anak Wungsu.


“Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena masalah ini sangat mendesak dan tak bisa menunggu,” jawab Aria.


Prabu Anak Wungsu menarik napas mendengar jawaban suami dari putri angkatnya, kemudian anggukan kepala sambil tersenyum.


“Aku bangga dengan kalian berdua, kalian sebenarnya masih banyak waktu untuk bersenang-senang, tetapi kalian tidak melakukannya dan lebih mementingkan kepentingan orang banyak, aku benar-benar bangga dengan kalian,” balas Prabu Anak Wungsu.


“Aku memberikan Restu kepada Kalian, bawa prajurit kerajaan Bali untuk membantu kalian,” lanjut perkataan Prabu Anak Wungsu.


“Terima kasih atas restu, ayah! Seru Aria sambil tersenyum, kami tidak akan membawa prajurit Bali, karena Alas Purwo adalah kerajaan Siluman yang harus di hadapi dengan pasukan siluman, kami hanya meminta kepada Ayah, agar memerintahkan panglima Laut I Gusti Wardana mengantarkan kami ke Tegaldlimo,” Aria membalas perkataan Prabu anak Wungsu.


Prabu Anak Wungsu tersenyum, kemudian membalas.


“Kau perintahkan saja, Gusti Wardana untuk mengantar, karena kalian Adalah anak-anakku.


“Perintah kalian terhadap para pejabat dan prajurit Bali sama dengan perintah dariku,” Prabu Anak Wungsu membalas perkataan Aria.


“Terima kasih atas kepercayaan yang ayah berikan kepada kami,” ucap Aria.


“Tetapi ingat! Setelah kalian kembali dari Tegaldlimo, kalian harus balik ke istana Tampak Siring, aku akan memberitahu kepada Pangliama Laut agar menunggu kalian di sana,” balas Prabu Anak Wungsu.


Aria serta Buwana Dewi angguka kepala mendengar perkataan Prabu Anak Wungsu, lalu pamit undur diri.


Malam hari sebelum keberangkatan, Aria bercakap-cakap dengan Buwana Dewi di kamar.


“Kakang! Setelah kita menikah, apa kakang Aria bisa melihat aku? Tanya Buwana Dewi, dari selesai menikah sampai melaksanakan malam pengantin, pertanyaan itu selalu mengganjal di hati Buwana Dewi.


Raut wajah Buwana Dewi terlihat sedih setelah melihat jawaban sang Suami.


Ketika tengah bercakap-cakap, sinar hijau keluar dari tubuh Aria, Nyi Selasih munculkan diri setelah istirahat panjang, raut wajah Nyi Selasih masih terlihat pucat, tanda tenaganya belum sepenuhnya pulih.


“Kakak Selasih! Seru Buwana Dewi sambil tersenyum, Buwana Dewi sangat senang melihat kehadiran madunya itu.


Selamat untuk Raden dan juga Adik Buwana Dewi, maaf Selasih baru bisa memberikan selamat hari ini, karena kemarin tenagaku masih belum bisa untuk di pakai menampakkan diri, jawab Nyai selasih.


Kakak tidak usah berkata seperti itu,” ucap Nyi Selasih.


“Lebih baik kak Selasih istirahat untuk menjaga bayi yang ada di dalam kandungan Kak Selasih.


Nyi selasih terkejut mendengar perkataan Buwana Dewi.


“Darimana adik tahu bahwa aku tengah mengandung? Tanya Nyi Selasih dengan tatapan tak mengerti.


“Aku tahu dari kakang Aria,” jawab Buwana Dewi.


“Lantas darimana Raden tahu aku tengah mengandung? Kali ini Nyi Selasih bertanya kepada Aria.


“Ratu laut utara yang memberitahu aku, aku sebenarnya ingin bertanya, tetapi tidak mau mengganggu istirahat Nyi Selasih,” jawab Aria Pilong.


Nyi Selasih tersenyum mendengar perkataan Aria.


Aria lalu menceritakan peristiwa kedatangan Ki Banyu Alas yang memegang pernikahan mereka, Aria juga memberitahu Nyi Selasih, bahwa mereka akan ke Alas Purwo untuk membujuk Ki Banyu Alas.


Nyi Selasih mendengarkan cerita sang suami sambil menyimak, intinya Nyi Selasih mendukung keputusan yang di ambil oleh sang suami, tetapi kali ini, ia tidak bisa ikut bertempur mendampingi suaminya, karena keadaan tubuhnya yang lemah dan tenaganya yang sudah jauh berkurang.


Aria mengerti dan sangat berterima kasih kepada kedua istri nya yang berbeda Alam karena keduanya mendukung apa yang dilakukannya.


Ketiganya bercakap-cakap sampai larut malam dan akhirnya ber istirahat, untuk memulihkan tenaga, karena besok akan berangkat menuju Tegaldlimo.


****

__ADS_1


Kapal perang milik kerajaan Bali, tampak gagah mengarungi lautan, di kapal perang utama yang di kepalai oleh Panglima Laut I Gusti Wardana membawa Aria serta para pengawalnya, sementara itu sisa anak buah padepokan Jagad Buwana ,menempati kapal perang kerajaan Bali yang lain, bergerak menuju Tegaldlimo.


“Apa masih jauh tempat yang kita tuju, panglima? Tanya Aria.


“Sore hari baru kita sampai di Tegaldlimo, Raden! Jawab I Gusti Wardana.


Sementara itu, Buto Ijo dan Wangsa tengah asyik menatap laut yang ombaknya tampak bersahabat.


“Bagaimana, Jo? Kau sudah merasakan malam pengantin? Tanya Wangsa.


He He He


“Apa perlu aku menceritakannya padamu? Buto Ijo balik bertanya sambil tertawa mendengar pertanyaan Wangsa.


Sedangkan Suketi memeluk leher sang Suami, kemudian mencium pipinya.


“Melihat kalian berdua, sepertinya sudah,” jawab Wangsa.


“Tetapi apa bisa dengan bentuk Suketi yang seperti ini? Tanya Wangsa.


Plak!


Satu butir kacang mengenai wajah Wangsa, setelah ia berkata.


“Jangan lempari aku, Suketi! Ucap Wangsa, kali ini ia tidak marah dengan Suketi.


“Tentu saja berubah menjadi seorang wanita, dasar resi tolol! Jawab Buto Ijo.


“Memangnya bisa dengan keadaan Suketi yang seperti ini? Buto Ijo lanjut berkata.


“Kenapa tidak kau coba? Wangsa menjawab sekaligus bertanya.


Hmm!


“Kau coba saja sendiri,” jawab Buto Ijo.


Plak!


Pipi Buto Ijo langsung di tampar oleh Suketi setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


Setelah di tampar, baru Buto Ijo sadar kalau ia susah salah berkata.


“Benar kau menyuruhku mencoba? Tanya Wangsa sambil tersenyum.


“Bangsat! Diam kau, aku tadi salah bicara,” balas Buto Ijo dengan nada geram.


“Sudah pergi sana! Urusi saja urusanmu, jangan urusi aku, nanti ku patahkan batang lehermu, kalau kau masih saja berkata yang bukan bukan,” lanjut perkataan Buto Ijo.


Ha Ha Ha


Resi Wangsanaya tertawa melihat dan mendengar perkataan Buto Ijo, tetapi Wangsa menuruti perkataan Buto Ijo dan pergi meninggalkan kedua pengantin baru yang berbeda wujud itu, untuk memberi kesempatan kepada keduanya untuk memadu kasih di atas kapal.


Karena laut sedang tenang, dan angin bertiup lumayan kencang, sehingga sebelum sore mereka sampai di Alas Purwo bagian belakang, yang bernama Tegaldlimo.


Rombongan Ari turun dan naik ke perahu kecil, untuk sampai di Tegaldlimo, karena kapal besar tidak bisa mendekat, banyak batu karang dan laut dangkal yang menyebarkan kapal besar tidak bisa mendekat.


Rombongan Aria turun ke Tegaldlimo.


Aria melihat Ujang Beurit hendak melesat pergi untuk melihat keadaan, tetapi langkahnya langsung di hentikan Aria.


“Jangan pergi jauh, Jang! Tempat ini bukan tempat untukmu melihat situasi,” Aria berkata setelah hidungnya mencium bau hawa siluman yang sangat kuat, setelah sampai di Tegaldlimo.


Ujang Beurit anggukan kepala mendengar perintah Aria.


Hmm!


“Rupanya kedatangan kita langsung di sambut oleh penghuni Alas Purwo,” ucap Singabarong melihat beberapa kelebatan bangsa siluman, yang sebagian mendekat, sementara yang lain mengawasi.


“Kau benar! Seru Wangsa setelah melihat dan merasakan apa yang sudah di rasakan oleh Singabarong.


Aria langsung memberikan perintah, setelah tahu kedatangan mereka di sambut oleh para penghuni Alas Purwo.


“Singabarong! Buka jalan, habisi semua siluman yang tidak mau di ajak bekerja sama.


Singabarong Langsung tersenyum mendengar perintah, sang ketua.

__ADS_1


Kemudian memberi perintah kepada pasukan siluman dari istana Kali Mati.


“Seraaaaang.”


__ADS_2