
Wangsa kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo, begitu juga dengan Pranaya serta keluarga Kemala yang lain mendengar perkataan Buto Ijo.
“Kau tidak salah ucap? Tanya Wangsa dengan nada heran.
“Kau pikir aku tidak kenal dengan orang tua sendiri? Bentak Buto Ijo yang kesal mendengar perkataan Wangsa.
“Aku percaya…..aku percaya! Tetapi kenapa kau tadi menyebut tua bangka? Tanya Wangsa.
“Itu urusanku,” jawab Buto Ijo.
Perlahan tampak pusaran air di telaga Kelud semakin membesar.
Tetapi angin seperti berhenti berembus di sekitar telaga, daun-daun juga tampak berhenti bergerak.
Perlahan dari dalam pusaran air, keluar Naga berwarna hijau, setelah keluar dari telaga, air telaga kembali tenang. Naga hijau setelah melayang layang diatas telaga, tak lama kemudian berubah bentuk menjadi kakek bertubuh besar dengan semua kulit berwarna hijau sama seperti Buto Ijo.
Pranaya, juru kunci serta Keluarga Kemala langsung sujud melihat Naga hijau keluar dari telaga, saat melihat Naga berubah menjadi seorang kakek bertubuh besar menghampiri Buto Ijo, Pranaya melirik ke arah kakek Naga hijau, dalam hatinya bertanya-tanya, “apa benar Buto Ijo anak dari penunggu gunung Kelud?
Kakek bertubuh besar dan berkulit hijau tersenyum kepada Buto Ijo, kemudian berkata.
“Lama tidak bertemu, nak! kau sudah dewasa sekarang,” ucap Naga Hijau sambil tersenyum, tatapan matanya penuh haru saat menatap Buto Ijo.
Phuih!
“Memangnya kau peduli denganku? Tanya Buto Ijo dengan nada dingin.
“Yang sopan ke orang tua Jo,” ucap Wangsa, sekarang Wangsa baru percaya bahwa Buto Ijo ada hubungan dengan Naga hijau.
“Diam kau Wongso! Balas Buto Ijo.
“Tidak apa Resi, aku memang orang tua yang pantas di maki,” ucap Naga hijau.
“Kenapa kau bisa tahu, aku ini resi? Tanya Wangsa.
“Apa perlu aku sebut juga nama kawanku yang kau jaga selama ini? Naga hijau balik bertanya sambil tersenyum.
“Cukup….cukup, kalau sudah kenal tidak usah di sebut! Sekarang kalian berdua, silahkan bercakap cakap,” balas Wangsa, kemudian meninggalkan Buto Ijo bersama Naga hijau.
“Jadi….jadi benar eyang Naga hijau adalah ayah dari Buto Ijo? Tanya Pranaya.
“Benar! Aku adalah ayah Buto Ijo, satu lagi yang harus ku katakan pada kalian, ada alasan sendiri yang tak bisa ku katakan, aku selama ini tidak menjaga penduduk lereng Kelud dan keluarga Kemala dengan baik,” ucap Naga hijau.
“Kalian silahkan tinggalkan telaga ini, aku mau bicara dengan anakku,” lanjut perkataan Naga hijau.
Pranaya, juru kunci serta keluarga yang lain setelah memberi hormat, kemudian pergi meninggalkan telaga Kelud.
“Resi berdua, sebaiknya menunggu tuan Buto Ijo di tempat kediaman kami,” ucap Pranaya dengan sangat sopan, setelah tahu Buto Ijo benar anak dari Naga hijau.
Wangsa anggukan kepala mendengar perkataan Pranaya, kemudian berkata sambil menatap Andira.
“Hei Budak! Coba kau tuntun dan tunjukan jalan pada adik ketiga ku ini.”
Cis!
“Enak sekali kau bicara, biarpun kalian menang taruhan, belum tentu aku mau menjadi budak kalian,” Andira membalas ucapan Wangsa.
Hmm!
“Enteng sekali bicaramu, kalau tadi tidak di tahan oleh adikku, saat ini kau sudah ada di akhirat,” ucap Wangsa dengan raut wajah kesal.
Andira tidak tahu, ketika ia tak sadarkan diri, Buto Ijo hampir saja meremukan kepala Andira, tetapi di cegah oleh Aria.
“Biar aku saja yang jadi penunjuk jalan,” ucap Andini.
“Silahkan tuan,” ucap Andini mempersilahkan Aria untuk lewat.
__ADS_1
Aria langsung memegang tangan Andini setelah gadis itu berkata.
Andini terkejut dan berusaha melepaskan pegangan tangan Aria, yang ia pikir Aria adalah seorang pria hidung belang.
“Maaf nona! Kalau nona tidak menuntun pria buta ini, kemana si buta ini harus melangkah? Ucap Aria sambil melepaskan tangannya dari tangan Andini.
Raut wajah Andini berubah mendengar perkataan Aria.
“Maaf….maaf kan saya tuan! Saya tidak tahu kalau tuan tidak dapat melihat,” balas Andini.
Aria tersenyum mendengar perkataan Andini, Aria senang dengan gadis ini, karena tutur katanya yang sopan dan budi pekertinya baik, tidak seperti gadis yang satu lagi.
Kali ini Andini sendiri yang memegang tangan Aria, dan membantunya berjalan mengikuti Pranaya serta Wangsa, menuju tempat kediaman keluarga Kemala.
Sementara itu, setelah orang-orang meninggalkan telaga Kelud.
Naga hijau duduk sila di bawah sebatang pohon rindang, sedangkan Buto Ijo duduk di depan Naga hijau.
“Darimana kau tahu aku berada di sini? Tanya Naga hijau sambil tersenyum menatap Buto Ijo.
“Dari Nyi Ratu,” jawab Buto Ijo.
Naga hijau anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.
“Aku terlalu malu dan merasa bersalah untuk bertemu denganmu,” ucap Naga hijau dengan nada sedih.
“Merasa malu atau tidak mau bertanggung jawab? Tanya Buto Ijo masih dengan nada tinggi.
“Aku merasa bersalah terhadap ibumu, karena tidak berkata sejujurnya, sehingga ibumu terkejut dan akhirnya meninggal setelah melahirkan kau,” jawab Naga hijau.
“Lantas kenapa kau meninggalkan aku di istana kali mati? Tanya Buto Ijo.
“Bukan aku berniat meninggalkan kau, tetapi rasa bersalah ku yang membuat aku tidak bisa membawamu, karena setiap aku melihat kau, aku teringat akan ibumu,” jawab Naga hijau.
Buto Ijo menarik napas mendengar perkataan Ayahnya, ia sudah mendengar cerita sebab dari kepergian sang ayah dari Nyi Selasih, tetapi memang kalau mengingat dengan susah payah Buto Ijo tinggal di istana kali mati, tanpa ada saudara, itu yang membuat Buto Ijo geram kepada ayahnya.
Buto Ijo diam tak menjawab perkataan ayahnya.
“Tadi aku lihat ada pemuda yang bersama Nyi Selasih, apa benar pemuda itu yang di maksud oleh Resi Lanang jagad? Lanjut perkataan Naga hijau.
Buto Ijo anggukan kepala, lalu berkata.
Nyi Ratu sedang istirahat panjang, jadi tak bisa bertemu dengan ayah.
Naga hijau menarik napas panjang setelah melihat anggukan kepala dan perkataan Buto ijo, kemudian berkata kembali
“Beberapa hari ke belakang, Panglima hitam dan resi Larang tapa menemui aku di sini, mereka meminta agar aku tidak ikut campur dengan urusan mereka, kalau aku ikut campur, mereka akan menghabisi semua penduduk gunung Kelud.
“Aku akhirnya terpaksa menyetujui perkataan Larang tapa, sambil mencari jalan lain, karena mereka berdua adalah mahluk kejam, cara apapun akan mereka lakukan jika mereka menginginkan sesuatu.
“Seperti yang kau lihat tadi di telaga Kelud, mereka itu adalah orang-orang yang berhasil di taklukan oleh Larang tapa.
“Tetapi setelah melihat pemuda itu ( Aria ) aku yakin kekacauan yang di ciptakan oleh penjaga tengah dan timur akan bisa di atasi, serta perdamaian di tanah Jawa ini akan bisa segera terwujud,” ucap Naga hijau.
***
“Jadi orang itu buta, Bi? Tanya Andira.
“Benar, dia buta! Aku sendiri yang menuntun orang itu,” jawab Andini.
“Mungkin dia hanya pura-pura saja, biar bisa pegang tangan bibi,” balas Andira.
“Kau ini selalu saja curiga terhadap orang lain, apa ayahmu tidak memberitahu cara menghormati orang? Tanya Andini dengan nada sedikit tinggi.
“Bibi! Aku berkata seperti itu, karena bibiku cantik, aku tidak mau bibiku menjadi candaan lelaki hidung belang,” jawab Andira sambil memeluk sang bibi.
__ADS_1
Andini tersenyum mendapat pelukan dari sang keponakan, umur mereka hanya terpaut 3 tahun, keduanya sudah seperti layaknya adik kakak dan keduanya saling mengasihi.
Mari kita keruangan tengah, Ayahmu pasti sedang bercakap cakap dengan tamu.
Benar apa yang dikatakan oleh Andini, Aria Wangsa serta juru kunci telaga Kelud sedang bercakap-cakap, saat mereka datang.
Wangsa tersenyum melihat sepasang pedang Kemala.
“Para pelayan sudah datang! Apa kalian sudah siap? Tanya Wangsa sambil menatap Andira.
“Ayah! Apa perkataannya benar? Tanya Andira.
“Maafkan ayahmu, nak! Sepertinya kau dan bibimu harus ikut mereka, tuan Buto Ijo memang belum datang, tapi aku yakin pertaruhan ini di menangkan oleh mereka, setelah aku tahu, ternyata Buto Ijo anak dari eyang Naga hijau,” Pranaya menjawab pertanyaan anaknya.
“Tidak….aku tidak mau menjadi pelayan mereka! Ucap Andira, airmatanya terlihat mulai meleleh membasahi pipi.
“Nak! Kau ikut bersama mereka, itu sama dengan kami disini, sama-sama melayani penjaga kita, kami di sini melayani eyang Naga hijau, sedangkan kalian melayani Buto Ijo, anak dari eyang Naga Hijau.
“Tapi….tapi bagaimana kalau aku dan bibi di gagahi oleh mereka ayah? Ucap Andira membayangkan hal mengerikan jika mereka jalan bersama.
“Nona tidak usah khawatir, kami tidak akan mengganggu nona,” Aria ikut bicara mendengar perkataan Andira.
“Diam kau! Aku tidak bicara denganmu. Kau ini buta, kalau kami berdua di celakai oleh kedua kakakmu, apa kau bisa menolong kami? Tanya Andira.
“Aku memang buta dan tidak punya kemampuan seperti nona, tetapi ucapan dan janjiku bisa di percaya,” jawab Aria dengan nada tinggi.
“Sekarang kau bisa berkata seperti itu, karena ada ayahku, tetapi setelah kami berdua ikut, entah apa yang terjadi, kita tidak tahu,” balas Andira.
Wangsa mendengar perkataan Andira, hatinya mulai kesal.
“Sudahlah Andira! Mungkin ini sudah digariskan oleh yang diatas, jika kita harus menjadi pelayan mereka,” ucap Andini dengan nada sedih.
“Apa bibi mau, selama hidup terus melayani orang buta!? Teriak Andira.
Hmm!
“Lama-lama rasa sabarku hilang,” ucap Wangsa.
“Adik ketiga! Jika kau ijinkan, saat ini juga akan ku cabik-cabik tubuh gadis ini dan ku robek-robek mulutnya,” ucap Wangsa sambil membuka caping.
Pranaya, juru kunci, Andira serta Andini terkejut melihat wajah Wangsa yang lebih mirip se ekor Singa daripada wajah manusia.
“Tidak usah di bunuh! Kalau mereka tidak mau ikut, tidak usah di paksa,” jawab Aria.
Setelah Aria berkata, terdengar suara suitan panjang sambung menyambung di sekeliling rumah kediaman Pranaya.
Seorang pemuda kekar masuk sambil tergopoh gopoh melapor kepada Pranaya.
“Celaka tuan! Ratusan perampok mengepung kita, mereka di pimpin oleh Kawilarang, si pemetik bunga dari Tumapel.
Raut wajah Pranaya pucat mendengar nama Kawilarang, seorang tokoh golongan hitam yang sangat di takuti oleh kaum wanita, karena selalu memperkosa semua wanita cantik yang ia temui.
Pranaya melihat ke arah sang adik, Andini. Kemudian menatap sang putri, Andira.
Setelah melihat keduanya, Pranaya langsung memegang tangan Wangsa.
“Resi! Tolonglah kami,” ucap Pranaya.
Wangsa tersenyum sambil menepuk nepuk tangan Pranaya, kemudian berkata sambil tersenyum.
“Kau tenang saja! aku akan menolong kalian,” belum selesai Wangsa bicara.
Raut wajah Pranaya langsung ceria, sambil memegang tangan Wangsa penuh harap, mendengar perkataan dan senyum dari sang Resi.
Tetapi wajah Pranaya serta Andira langsung berubah kembali, setelah mendengar lanjutan dari perkataan Wangsa, sambil menunjuk ke arah Andira.
__ADS_1
“Setelah melihat dia di perkosa.”