Iblis Buta

Iblis Buta
Utusan Pelangi


__ADS_3

Setelah Wangsa mengingatkan, siapa tahu mahluk itu adalah mata-mata musuh.


Buto ijo di suruh membawa mahluk itu untuk di tanyai.


“Jangan pura-pura tak sadarkan diri! nanti aku cabuti satu persatu tulangmu,” ucap Buto Ijo.


Pengiwa mendengar perkataan Buto Ijo, perlahan tubuhnya melayang naik.


Pengiwa yang tidak mempunyai kaki, melayang setombak di belakang Buto Ijo, tangan Buto Ijo memegang sulur pohon yang terikat ke bagian tubuh Pengiwa.


Jika langkah Buto Ijo agak cepat, sulur pohon ia tarik, sehingga Pengiwa terpaksa harus lebih cepat, kalau tidak ingin sakit karena anggota tubuhnya yang di ikat terkena tarikan Buto Ijo.


Ha Ha Ha


“Saudara Buto Ijo, seperti sedang main Layang-layang! Seru Raden Untung sambil tertawa.


“Pengiwa kalau tidak di buat seperti ini, akan merepotkan, jika tidak tahu cara untuk menangani Pengiwa, jika bertemu lebih baik langsung di bunuh,” Buto Ijo membalas perkataan Raden Untung.


Pengiwa naas itu langsung Sumpah serapah dalam hati, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


Melihat cara Buto Ijo menangkapnya, Pengiwa yakin, pria bercaping bertubuh besar itu pasti sering menghadapi mahluk seperti dirinya.


Setelah sampai di tempat mereka berkumpul, rusa yang di bakar Selamet mulai matang.


Buto Ijo mematahkan ranting pohon yang agak besar, setelah mengikat Pengiwa, Buto Ijo duduk.


Aria yang sudah mendengar dari Kalasrenggi tentang mahluk yang di bawa oleh Buto Ijo, kemudian berkata.


“Kau dari padepokan Elang emas? Tanya Aria dengan nada dingin.


“Tidak….tidak tuan! Aku bukan anggota padepokan Elang emas,” jawab Pengiwa.


“Lantas sedang apa kau di hutan? biasanya kau berkeliaran di kampung, mengintip perempuan yang hendak melahirkan, apa di sekitar sini ada kampung? tanya Kalasrenggi.


“Aku sedang tidak mencari Perempuan hamil, di sekitar hutan ini tidak ada Kampung,” jawab Pengiwa.


“Lantas sedang apa kau di sini? Memata matai kami? Tanya Wangsa.


“Tidak….tidak! Aku….aku sedang mencari telaga, di sekitar hutan ini,” Pengiwa menjawab pertanyaan Wangsa.


“Baru aku dengar ada Pengiwa mandi,” ucap Buto Ijo sambil melahap Daging yang menempel di tulang iga rusa, setelah matang di bakar oleh Selamet.


“Kalau aku berkata terus terang dan memberitahu satu rahasia! Apa aku akan di bebaskan? Tanya Pengiwa.


“Tergantung seberapa berharga rahasia yang akan kau katakan,” balas Aria.


“Jika kisanak berjanji, aku akan mengatakannya,” Pengiwa berkata untuk meminta kepastian.


“Baik! Aku tidak akan membunuhmu,” balas Aria.


“Apa Kisanak sudah mendengar tentang utusan pelangi? Tanya Pengiwa.


“Utusan pelangi? Aria berkata sambil kerutkan keningnya, mendengar perkataan Pengiwa.


Kalasrenggi mulai tertarik, dengan perkataan Pengiwa tentang utusan Pelangi.

__ADS_1


“Benar kisanak, Utusan pelangi! Jika berhasil membebaskan utusan pelangi, apapun yang kita inginkan akan terlaksana,” jawab Pengiwa.


“Mana ada hal seperti itu! Seru Buto Ijo.


“Kau tahu apa,” balas Pengiwa yang masih merasa sakit hati, terhadap Buto Ijo.


Plak….Auuw!


Suara Tulang iga rusa menghantam kepala Pengiwa dan jerit kesakitan terdengar.


“Tawanan, kalau bicara yang sopan,” ucap Buto, Ijo setelah melempar kepala Pengiwa dengan tulang iga.


Sambil menahan sakit di kepala, Pengiwa lalu bicara mengenai utusan Pelangi.


“Utusan Pelangi adalah manusia yang di kutuk karena Ingkar terhadap takdir yang sudah di gariskan.


“Jika kita berhasil membebaskan dia dari sekapan pelangi, apapun yang kita inginkan akan terlaksana.”


“Dimana aku bisa menemui utusan pelangi? Tanya Buto Ijo, ikut penasaran.


“Telaga, Jo! Seru Wangsa, kan tadi dia bilang sedang mencari telaga.”


“Diam! Aku tidak tanya kau,” ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Yang dia katakan benar! Manusia yang di kutuk selalu muncul di ujung pelangi.


“Tadi sore di daerah sekitar sini hujan, biasanya kalau hujan sore besok pagi-pagi pasti ada pelangi, dan ujung pelangi selalu mengarah ke telaga,” Pengiwa berkata.


“Tuan sudah mendengar rahasiaku, sekarang lepaskan aku,” ucap Pengiwa.


Buto Ijo lalu melepaskan tali yang mengikat Pengiwa, setelah lepas dari tali, mahluk itu perlahan mulai pergi.


Kalasrenggi melihat Pengiwa pergi, kemudian angkat tangan kanan lalu dari telapak kanan Kalasrenggi muncul mulut, dari mulut yang berada di telapak Kalasrenggi keluar angin yang menyedot Pengiwa saat hendak menjauh.


“Lepaskan….lepaskan aku! Kalian tadi sudah berjanji tidak akan membunuhku,” ucap Pengiwa dengan nada cemas.


Yang berjanji untuk tidak membunuhmu adalah ketua Aria! Sedangkan aku tidak,” balas Kalasrenggi, sambil menambah daya sedot ajian Tuku Belis miliknya.


Pengiwa menjerit jerit sambil berusaha untuk melepaskan diri.


Tapi akhirnya tubuh Pengiwa masuk kedalam telapak tangan Kalasrenggi, mulut yang muncul dari telapak tangan mengulang, setelah Pengiwa berhasil di makan.


Di lain tempat, satu tubuh tanpa kepala yang tengah bersila di dekat pohon besar, perlahan tubuh itu terbakar dan hangus menjadi debu, tubuh asli Pengiwa hangus setelah jiwanya di makan oleh ajian Tuku Belis milik Kalasrenggi.


Setelah Pengiwa berhasil di hisap, Kalasrenggi bicara kepada Aria Pilong.


“Apa ketua Aria percaya dengan cerita mahluk itu? Tanya Kalasrenggi.


“Aku belum bisa memastikan percaya atau tidak,” jawab Aria.


“Apa itu pelangi? Tanya Aria.


“Apa ketua belum pernah melihat pelangi? Tanya Ujang.


“Raden tidak bisa melihat, jang Beurit! Buto Ijo yang menjawab.

__ADS_1


“Aku lupa paman,” balas Ujang.


Raden untung mendengar perkataan Buto Ijo langsung berbisik kepada Selamet.


“Tidak marah,” ucap Raden Untung yang di balas oleh anggukan kepala Selamet.


“Ada apa kalian bisik-bisik? Tanya Buto Ijo sambil melotot kepada Raden Untung.


“Aku hanya minta daging bakar sama Selamet,” jawab Raden Untung.


Hmm!


Dengus Buto Ijo.


Raden untung dan sahabatnya saling tatap dan tersenyum.


“Untung tidak dengar,” ucap Selamet.


Sang sahabat tersenyum lalu membalas, “Jadi Selamet.”


“Pelangi biasanya muncul sesudah hujan, tiga warna yang melengkung di langit, merah kuning serta hijau.


“Biru, Jo! Wangsa memotong cerita Buto Ijo.


“Hijau, tolol! Seru Buto Ijo.


“Aku sukanya warna biru, tidak suka hijau,” balas Wangsa.


“Kau tidak suka warna hijau atau tidak suka padaku,” ucap Buto Ijo.


“Keduanya aku tidak suka,” balas Wangsa.


“Kau mau berkelahi sekarang? Tanya Buto Ijo sambil berdiri.


“Kau pikir aku takut! Seru Wangsa sambil ikut berdiri.


“Jangan bikin aku kesal,” ucap Aria Pilong, mendengar perkataan kedua anak buahnya.


“Wongso selalu cari gara-gara denganku, Raden,” ucap Buto Ijo membela diri.


“Apa yang di katakan oleh Buto Ijo tentang pelangi, benar. Mau hijau atau biru. Pelangi ya tetap pelangi,” Kalasrenggi ikut bicara.


“Apa ketua Aria ingin mencari tahu kebenaran, dari perkataan Pengiwa? Tanya Kalasrenggi.


“Tidak ada salahnya bukan? Jawab Aria.


“Apa yang ketua inginkan, jika berhasil menemui manusia terkutuk yang di ceritakan oleh Pengiwa? Kembali Kalasrenggi bertanya.


“Kalau benar apa yang dikatakan oleh Pengiwa dan kita berhasil melepaskan manusia terkutuk dari pelangi.


“Manusia terkutuk akan mengabulkan permintaan orang yang telah menolongnya,” jawab Aria.


“Lalu apa permintaan ketua Aria jika berhasil membebaskan manusia terkutuk? Kalasrenggi yang merasa penasaran kembali bertanya.


“Kalau benar dia bisa mengabulkan apapun permintaan orang yang membebaskannya,” Aria Pilong menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kalasrenggi.

__ADS_1


“Aku ingin bisa melihat, seperti kalian”


__ADS_2