Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 103 : Bertemu Seorang Utusan


__ADS_3

“Bukannnya kau yang menendang? Tanya Resi Jayaprana.


“Diam kau tua Bangka! Ucap Buto Ijo sambil berdiri, lalu menunjuk Resi Jayaprana.


Hmm!


Aria mendengus mendengar perkataan Buto Ijo.


“Maaf Raden! Buto Ijo berkata.


“Tadi aku mendengar ada suara saudara Rama serta saudari Anjani,” Aria mengganti pembicaraan.


“Kami berdua ada di sini, tuan Aria! Balas Rama dan Anjani sambil melangkah mendekati Aria.


“Kalian….kalian sudah saling kenal? Tanya Resi Jayaprana, sambil kerutkan kening.


“Benar guru! Aku dan adik Anjani kenal dengan tuan Aria serta tuan Jo,” jawab Rama.


Bayusena setelah kematian kedua muridnya, merasa canggung berada di dekat Aria.


“Tuan Muda! Sepertinya urusan antara kita sudah selesai, aku minta maaf atas kelakuan muridku, tetapi mereka berdua sudah membayar kesalahan mereka,” ucap Bayusena sambil memberi hormat.


“Bangsat! Jadi mereka berdua itu muridmu? Buto Ijo berkata sambil mendekat ke arah Bayusena.


Aria langsung menoleh ke arah Buto Ijo.


“Aku dengar kau di luar sana banyak membunuh orang, apa benar? Tanya Aria dengan nada penuh teguran.


“Sedikit Raden! Jawab Buto Ijo.


“Mereka bikin kesal, setiap aku mau bertanya, mereka langsung lari, ya ku bunuh saja,” lanjut perkataan Buto Ijo.


Hmm!


“Kami berdua setelah turun gunung terus mengikuti saudara Jo, kami berdua sering menghalangi saudara Jo membunuh, jadi tuan Muda tidak usah khawatir,” Rama berkata.


“Terima kasih,” ucap Aria sambil memberi hormat.


Ketua Bayusena, Kakak pertama, Nagini serta Bidara.


“Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian, berkat kalian, aku bertemu lagi dengan keluargaku,” Aria berkata.


“Kakak, coba kau lihat! Tidak ada bekasnya,” Ucap Bidara sambil wajahnya mendekati wajah Aria.


Telapak kanan Buto Ijo mendorong kepala Bidara menjauh.


“Apa-apaan sih kau ini? Nagini berkata kepada sang adik.


“Bekas tusukan kakak kedua dan ke empat tidak ada bekasnya,” bisik Bidara.


“Ketua Bayusena! Jika aku bertemu dengan keluargaku yang lain, aku pasti akan membayar hutangku kepada ketua,” ucap Aria.


“Tidak….tidak usah tuan! Tuan muda tidak berhutang kepada kami, tuan muda dengar sendiri, kami telah di tipu oleh juragan tengik itu,” balas Bayusena.


“Sayang sekali, tadi di halangi oleh resi Jayaprana, kalau tidak! Sudah ku bunuh dia,” lanjut perkataan Bayusena, dengan nada gusar.


“Selain dua orang yang di lempar, tadi ada tiga orang yang tewas di injak-injak oleh tuan Jo,” Rama Ikut bicara.


“Rasakan! Itu pasti mereka,” balas Nagini.


“Kita bicara di dalam saja! Ucap Resi Jayaprana.


“Mereka setuju, lalu masuk ke dalam. Sedangkan murid pertama Bayusena, mengurus mayat kedua adik seperguruannya.


“Ternyata kita saling terkait! Ucap Resi Jayaprana sambil tersenyum.


“Bayusena! Semua masalahmu sudah selesai, juragan Sukir juga sudah di bunuh oleh Buto Ijo.


“Langkah apa selanjutnya yang akan kau lakukan? Tanya Resi Jayaprana.

__ADS_1


“Kami akan pulang dan membubarkan padepokan Bayugeni,” jawab Bayusena.


“Kau tidak menerima undangan? Tanya Resi Jayaprana.


“Aku menerima undangan ke Bromo, tetapi aku merasa tidak pantas untuk datang kesana,” Bayusena berkata sambil melirik ke arah Aria Pilong.


“Kenapa tidak pantas, ketua? Tanya Aria.


“Ketua mempunyai padepokan, sedangkan kami tidak. Aku akan mendukung ketua, jika ketua mau datang ke pertemuan,” lanjut perkataan Aria.


Bayusena saling tatap dengan kedua muridnya.


Bidara yang duduk paling dekat, membisiki sang guru.


“Terima saja, guru! Dia tidak bisa mati,” di tusuk juga tidak ada bekasnya sama sekali.”


Hmm!


“Ini memang bisa mengangkat nama Bayugeni, jika tuan Aria, Buto Ijo serta resi Jayaprana bersamaku ke pertemuan, tidak ada yang akan menganggap padepokan Bayugeni lemah,” membayangkan keuntungan yang bakal ia dapatkan untuk padepokannya, Bayusena senyum-senyum sendiri.


Brak!


“Bangsat! Di tanya malah cengengesan, ku remas nanti mulutmu,” ucap Buto Ijo sambil menggebrak meja, hatinya tak sabar menunggu jawaban Bayusena.


“Maaf….maaf! Baik, kita pergi bersama ke pertemuan gunung Bromo,” Bayusena berkata setelah di bentak oleh Buto Ijo.


Ada keinginan tersembunyi dari Aria ikut rombongan padepokan Bayugeni, karena ia ingin melihat padepokan Jagad Buwana berdiri dan siapa saja yang masuk menjadi anggotanya.


Setelah di putuskan, akhirnya semua ikut rombongan padepokan.


Pertemuan di gunung Bromo untuk padepokan, bukan per orangan.


Mereka yang menghadiri pertemuan harus memperlihatkan simbol padepokan yang hanya di pegang oleh ketua padepokan.


Perwakilan dari barat, tengah, timur serta utara hadir, sang perwakilan di masing-masing daerah mengetahui padepokan yang ada di daerah asal mereka.


Pertemuan yang dia adakan di gurun pasir, akan di penuhi oleh ribuan orang dari berbagai padepokan di tanah Jawa.


Semua setuju dengan usul resi Jayaprana, apalagi di sana ada rumah milik keluarga Kusumo, kakek Rama yang merupakan mantan Tumenggung di jaman Prabu Airlangga, kemudian menjadi seorang pedagang besar.


***


Pagi hari, rombongan yang di pimpin oleh resi Jayaprana bergerak menuju Ranu pani.


Buto Ijo kali ini memakai baju, tidak seperti kemarin, caping juga menghiasi kepala Aria dan Buto Ijo sehingga wajah mereka tersembunyi.


Rombongan bergerak perlahan, mereka juga sering bertemu dengan rombongan dari padepokan lain.


Padepokan besar selalu mengutus orang untuk mencari dan memesan tempat yang paling nyaman untuk sang ketua, sebelum ketua mereka datang.


Sebelum malam saat hendak melewati hutan kecil yang menjadi perbatasan dengan Ranu pani.


Rombongan resi Jayaprana melihat api unggun di tempat yang biasa di pakai oleh pengembara saat istirahat di malam hari, tak jauh dari api unggun, duduk seorang pria paruh baya yang memakai pakaian rapi layaknya abdi kerajaan, dengan topi khas Jawa ( blangkon )


Pria yang sedang membakar ayam hutan, tampak tak peduli dengan kedatangan rombongan resi Jayaprana.


“Apa boleh rombongan dari padepokan Bayugeni istirahat di sini? Tanya Bayusena sambil memberi hormat.


“Silahkan saja ketua,” balas orang itu tanpa melihat ke arah Bayusena.


Hmm!


Suara dengus keluar dari hidung Bayusena, melihat sikap orang itu.


Mereka duduk di dekat api unggun, Buto Ijo memetik ranting yang berdaun lebat, untuk alas duduk Aria.


“Apa kisanak akan menghadiri pertemuan? Tanya Bayusena.


“Benar,” Jawab pria itu.

__ADS_1


“Lalu dimana rombongan padepokan tuan? Kembali Bayusena bertanya.


“Nanti mereka akan datang! Aku hanya seorang utusan, datang kemari menyiapkan tempat untuk ketua serta anggota padepokan menginap,” jawab orang itu.


“Bukan Suketi! Kalau itu namanya, acung,” ucap Buto Ijo, saat jari Suketi menunjuk ke atas.


“Kalau dia kacung,” lanjut perkataan Buto Ijo.


Orang berpakaian rapi, angkat wajahnya mendengar perkataan Buto Ijo.


“Cung! Dari tadi kau putar-putar terus ayam itu sampai gosong. Kalau tak suka, berikan saja padaku, biar ku sikat habis,” ucap Buto Ijo.


“Namaku Selamet, bukan cung,”


Ha Ha Ha


“Jadi kau Selamet terus sampai sekarang? Tanya Buto ijo.


“Benar! Dari bayi aku memang, Selamet,” jawab pria itu.


Phuih!


“Kalau kau tak berikan ayam itu, namamu bisa berubah,” balas Buto Ijo.


“Apa? Tanya sang pria.


“Ora Selamet,” jawab Buto Ijo.


“Memangnya kau mampu? Tanya Selamet.


Tangan Buto Ijo langsung menyambar setelah mendengar perkataan Selamet, tetapi perlahan dengan cepat, tubuh Selamet di selimuti asap, saat asap berpindah ke satu tempat, perlahan asap menghilang, berubah menjadi Selamet.


Buto Ijo semakin gusar, kali ini Buto Ijo lompat sambil menerkam dengan kedua tangan terbuka.


Buto Ijo menerkam asap dengan kedua tangan, kemudian kedua tangan Buto ijo memukul ke kanan dan kiri, tetapi Buto Ijo hanya memukul angin.


Karena Selamet sudah berpindah ke tempat lain.


“Bangsat, lawan aku! Jangan bisanya lari sana, lari sini,” ucap Buto Ijo dengan wajah gusar.


“Yang penting, Selamet,” kembali pria itu berkata.


“Berhenti! Ucap Resi Jayaprana.


“Maaf kalau aku tidak salah, apa kisanak yang di sebut, Carik bayangan? Tanya resi Jayaprana.


“Mata Resi cukup jeli! Aku memang carik bayangan, Nama asliku adalah, selamet.


“Sudahi saja! Jangan main-main,” resi Jayaprana berkata.


Setelah sang resi berkata, ayam bakar di berikan kepada Buto Ijo.


“Lain kali minta yang sopan! Ucap Selamet sambil memberikan ayam bakar.


“Phuih!


“Kau Cuma beruntung saja! Balas Buto Ijo.


Sambil menyambar, kemudian melahap ayam bakar yang sudah berada di tangannya.


“Setahu aku! Carik bayangan terkenal dengan ilmu Halimun nya selalu bekerja sendiri, tetapi kenapa sekarang menjadi seorang utusan? Tanya Resi Jayaprana.


“Karena tingkatanku lebih rendah dari anggota lain,” jawab Selamet.


Raut wajah Resi Jayaprana serta Bayusena terkejut, Carik bayangan adalah tokoh yang susah di hadapi, lebih tepatnya susah di tangkap, karena ajian Halimun yang di milik oleh sang carik, tetapi ia berkata bahwa dirinya hanyalah seorang utusan.


“Memangnya apa nama padepokan tempat saudara Selamet bernaung? Tanya Resi Jayaprana.


“Padepokanku belum lama berdiri, Resi!

__ADS_1


“Padepokanku bernama, Jagad Buwana.”


__ADS_2