
“Baru di pegang saja sudah marah! Nanti kalau kau dalam bahaya, aku tidak akan mau menolongmu,” Aria membalas perkataan Wulan.
Nyi Selasih yang berada di dalam tongkat selalu memperhatikan keduanya, Nyi Selasih cemburu sewaktu Aria terus memeluk Wulan sehingga tidak mau membantu.
Sementara itu, pertempuran di tempat lain juga sengit, Buto Ijo yang posisinya tak jauh dari Sarka, terus mendesak prajurit Senopati Kebo Wulung, sebagian prajurit yang mengeroyok Buto Ijo sudah tewas, terkena hantaman raksasa bertubuh hijau tersebut.
Begitu pula dengan Sarka, ternyata pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah, beberapa kali Sarka lompat ke udara serta bergulingan di tanah menghindari serangan prajurit anak buah Kebo wulung.
Ilmu kanuragan dengan jurus cakar Harimau, mengandalkan kekuatan jari tangan Sarka mulai mendesak para prajurit anak buah Senopati Kebo wulung.
“Pantas saja berani sombong, ternyata kalian punya sedikit kepandaian,” ucap Senopati Kebo wulung.
Senopati Kebo wulung melesat ke arah Sarka, lalu tangannya menghantam ke arah dada Sarka.
Sarka mundur dua langkah, kemudian melesat ke arah kanan, lalu tangan kanannya menyambar ke arah pinggang Kebo wulung.
Kebo wulung menangkis sambaran Sarka dengan tangan kiri.
Plak!
Sarka langsung mundur, sambil mengibaskan tangannya yang terasa sakit, akibat beradu tangan dengan Kebo wulung.
“Ilmu tangan baja,” Sarka berkata dalam hati, setelah merasakan kerasnya tangan Senopati Kebo wulung.
Sarka perlahan kakinya bergeser ke kiri, pemuda itu pasang kuda-kuda, bersiap menghadapi Senopati Kebo wulung.
“Sarka! Kau sudah tahu ilmu tangan baja milikku, jika kau masih saja tidak mau menyerah, jangan salahkan aku jika….
Phuih!
“Itu saja yang kau omongkan Senopati gila jabatan, sudah tahu aku tidak mau menyerah, masih saja bertanya,” Sarka memotong perkataan Kebo wulung.
“Keparat! Teriak Kebo wulung sambil melesat ke arah Sarka.
“Tangan Senopati Kebo wulung perlahan berubah menjadi putih keperakan layaknya baja, menebas ke arah kepala Sarka.
Sarka mundur dua langkah sebelum Senopati Kebo wulung datang.
Tetapi Kebo wulung tidak mau menunggu, setelah kakinya menjejak tanah, tubuhnya melesat kembali ke arah Sarka, dengan kedua tangan terbuka, siap untuk menyerang.
Setelah berada cukup dekat, tangan kiri Kebo wulung memukul dada Sarka.
Untuk yang ke sekian kali, Sarka mundur menghindari pukulan Kebo wulung.
Buto Ijo, Aria serta Wulan yang sudah membereskan para prajurit musuh, kini menonton pertarungan antara Sarka dan Senopati kebo wulung.
Buto Ijo yang melihat pertarungan keduanya sangat kesal.
“Dari tadi loncat sana loncat sini,” Buto Ijo berkata sambil menirukan gerak Sarka yang menghindari serangan Kebo wulung.
“Jurus Macan, tetapi bertempur seperti kucing,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
Aria yang mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengukur kekuatan aura dari Senopati Kebo wulung.
Aria terkejut setelah melihat dua sinar keperakan yang ia lihat.
“Ilmu apa yang di gunakan oleh Senopati kebo wulung sampai tangannya bisa berubah warna seperti itu,” batin Aria.
__ADS_1
Apa kedua tangan Senopati Kebo wulung beracun? Tanya Aria.
“Sepertinya tidak! tetapi dia tidak mau beradu tangan, sepertinya tangan Kebo wulung mengandung kekuatan, selain racun,” balas Wulan.
“Itu ilmu tangan baja,” tiba-tiba Nyi Selasih berkata yang hanya bisa di dengar oleh Aria.
“Apa ilmu tangan baja Nyi? Tanya Aria.
“Kedua tangan si pemilik ilmu akan berubah keperakan seperti baja murni dan sangat keras, batu, kayu akan hancur jika terkena hantaman orang yang memiliki ilmu tangan baja, jika tenaga dalamnya besar dan terus berlatih, tangan Senopati mampu menahan senjata tanpa terluka,” jawab Nyi Selasih, sambil memberi penjelasan kepada Aria.
“Rupanya begitu! Pantas saja Sarka tidak mau beradu tangan dan terus menyingkir jika di serang, tetapi kalau seperti itu terus, Sarka akan kalah,” batin Aria.
Sarka lebih lincah dari Senopati Kebo wulung, sehingga sampai saat ini selalu bisa menghindari serangan, tetapi serangan-serangan Kebo wulung semakin lama semakin gencar.
“Raden mari kita pergi! Ucap Buto Ijo.
“Nanti! Kalau pertempuran sudah berakhir,” balas Aria.
“Kapan berakhirnya! Bertempur seperti itu, lompat sana lompat sini,” kembali Buto Ijo berkata.
“Sarka tidak berani menangkis tangan Senopati Kebo wulung, karena ajian Tangan Baja,” balas Aria.
“Kalau tidak mau berkorban, bagaimana dia bisa menang,” Buto Ijo membalas perkataan Aria.
“Apa maksudmu? Tanya Aria mendengar perkataan Buto Ijo.
“Bocah gila itu hanya lompat sana lompat sini, harusnya tahan serangan si Kebo lalu serang balik,” jawab Buto Ijo.
“Mundur kau bocah gila,” Buto Ijo teriak setelah menjawab pertanyaan Aria, perutnya yang lapar tapi Aria masih melihat pertempuran membuat Buto Ijo kesal.
Sarka melesat ke arah Aria sambil menghindari serangan Senopati Kebo wulung.
“Diam kau di sini! biar aku hajar si Kebo,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
Sarka lalu berdiri di samping Aria, tanpa di tanya, Sarka berkata sendiri.
Aku masih pemanasan tapi si Buta sudah tidak sabar.”
“Buta….buta, kalau bicara pakai aturan, kau meledek kakang Aria? Ucap Wulan dengan nada kesal.
Sarka terkejut mendengar perkataan Wulan, lalu melihat ke arah Aria yang terus menatap ke arah Buto Ijo dan Senopati Kebo wulung yang tengah berhadapan.
“Jadi tuan Aria benar Lolong? Tanya Sarka.
“Pilong! Bukan lolong,” jawab Wulan masih dengan nada kesal.
Sarka diam tak membalas perkataan Wulan, lalu menatap ke arah Senopati Kebo wulung.
“Jadi benar bukan tebakanku, kalian bersekongkol dengan pemuda itu? Ucap Senopati Kebo Wulung.
“Kau tak usah banyak bicara, cepat serang biar cepat selesai, perutku sudah lapar,” balas Kebo Ijo.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari mulut Senopati Kebo wulung, karena dari perkataan Buto Ijo, bisa dikatakan ia pasti akan kalah melawan manusia bertubuh besar itu.
Tanpa berkata lagi, Kebo Wulung melesat ke arah Buto Ijo.
__ADS_1
Tangannya yang mengandung ajian tangan baja, menghantam ke arah leher Buto Ijo.
Buto Ijo menangkis serangan Senopati Kebo wulung.
Plak!
Wajah Buto Ijo sedikit meringis setelah kedua tangan mereka bertemu.
Sedangkan Senopati Kebo wulung terkejut bukan kepalang, setelah pukulannnya tidak berpengaruh terhadap Buto Ijo.
“Siapa orang itu! Baru kali ini ada orang berani terang-terangan menangkis pukulanku tanpa terluka,” batin Senopati Kebo wulung.
“Coba sekali lagi kau tangkis seranganku! Teriak Senopati Kebo wulung, sambil tangannya menghantam bahu Buto Ijo, kali ini Senopati Kebo wulung mengerahkan sebagian tenaganya ke arah tangan yang menghantam tubuh Buto Ijo.
Whut!
Buto Ijo melihat musuh menyerang, dan tangan Kebo wulung semakin terlihat mengkilat, mundur tak mau menangkis, setelah mundur, Buto Ijo bergerak ke kanan, kemudian menangkap tangan Kebo wulung.
Tap!
Setelah menangkap, Buto Ijo melemparkan Kebo wulung ke arah pohon Khadri.
Brak!
Batang pohon khadri patah terkena hantaman tubuh Kebo wulung.
Kebo wulung setelah jatuh, langsung salto dan berdiri kembali.
Kebo wulung menepak-nepak bajunya yang penuh debu, sambil menatap tajam ke arah Buto Ijo.
“Aku tak sungkan lagi sekarang,” ucap Kebo wulung, lalu melesat ke arah Buto Ijo, gerakannya kali ini lebih cepat.
Mengincar bagian mematikan dari tubuh Buto Ijo, jurus telapak Pedang mencecar Buto Ijo yang hanya bisa menghindar dari serangan Kebo wulung.
“Keparat! Pantas pemuda gila itu selalu menghindar,” batin Buto Ijo, sambil terus menghindar dari kedua tangan Kebo wulung.
Tapi kali ini Kebo wulung bergerak cepat dan tak di sangka oleh Buto Ijo.
Bret….Bret!
Baju Buto Ijo robek di bagian dada serta pinggang robek, terkena sambaran tangan pedang Kebo wulung, kulit Buto Ijo ikut tersayat dan mulai mengeluarkan darah segar.
Ha Ha Ha
Nanti kepalamu yang akan putus oleh tangan pedangku,” ucap Kebo wulung melihat darah keluar dari dada serta pinggang Buto Ijo.
Wajah Buto Ijo berubah kelam, matanya menatap tajam Kebo wulung yang baru saja meledeknya.
Buto Ijo merobek baju dan mencampakan bajunya ke tanah, Kebo Ijo meludahi tangan lalu mengusap luka yang terkena sayatan tangan pedang, luka langsung menutup dan darah berhenti mengalir.
Kebo wulung terkejut melihat, luka bekas sabetannya rapat kembali.
kemudian tangannya menunjuk ke arah Kebo wulung.
“Bukan leherku yang akan terpotong, tapi lehermu yang akan ku pelintir,” ucap Buto Ijo.
Sementara itu penduduk mulai banyak berdatangan, melihat pertarungan antara Kebo wulung dan Buto Ijo.
__ADS_1
Salah satu penonton yang berpakaian seperti seorang pedagang, tersenyum kepalanya mengangguk melihat ke arah Buto Ijo, sambil berkata dalam hati.
“Aku harus bisa mengajak mereka bergabung dengan Tumenggung Wirabumi, karena pertempuran dengan Temanggung Adiguna sudah di depan mata.”