Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 36 : Peristiwa Di Kota Daha


__ADS_3

Dahulu sewaktu Prabu Airlangga Menjadi Raja Kadiri atau Panjalu. Dahanapura ( kota api ) sudah berdiri dan Dahanapura di singkat menjadi Daha.


Pada tahun 1042 mulai terjadi gesekan antara kedua putra Prabu Airlangga yang berusaha memperebutkan tahta.


Akhirnya Prabu Airlangga memecah kerajaan menjadi 2 untuk di bagi kepada kedua putranya.


Kerajaan Panjalu di sebelah barat dengan pusat kota bernama Daha di berikan kepada putranya yang bernama Sri Samarawijaya.


Sedangkan di sebelah timur yang di beri nama kerajaan Janggala yang berpusat di kota lama bernama Kahuripan di berikan kepada Mapanji Garasakan.


Sepeninggal Prabu Airlangga, terus terjadi pergesekan antara kerajaan Barat dan Timur, kedua putra Airlangga merasa merekalah yang berhak memimpin kerajaan tanpa harus di bagi dua.


Apalagi Mapanji Garasakan yang merasa pembagian itu tidak adil karena mendapatkan wilayah di kota lama ( Kahuripan ) sementara Sri Samarawijaya mendapat kerajaan Barat yang sedang berkembang dengan pusat kota bernama Daha.


Kota Daha semakin lama semakin ramai dan terus berkembang, banyak para pedagang dan pelaku usaha mencoba peruntungan di kota Daha.


Siang hari di jalan raya pusat kota Daha.


3 orang satu kuda, tampak tengah berjalan kaki menyusuri jalan sambil mata mereka melihat kiri dan kanan.


Wulan bersama Aria, sedangkan Buto Ijo berada di belakang menuntun kuda milik Wulan.


Ketika sedang jalan, telinga Aria mendengar teriakan riuh suara anak kecil, seperti sedang mengganggu seseorang.


“Ada kejadian apa? seperti suara anak-anak sedang berteriak dan bernyanyi? Tanya Aria kepada Wulan.


Di sisi jalan di bawah pohon Khadri ( pace ) tampak seorang pemuda tengah duduk sambil bersandar di batang pohon khadri.


Pemuda berpakaian compang-camping sambil matanya merem melek, seperti tak peduli dengan teriakan serta nyanyian Para bocah yang menyebut dirinya gila.


“Ada seorang pemuda yang tengah istirahat di ganggu oleh sekumpulan anak kecil,” ucap Wulan.


“Kenapa dengan anak-anak itu! kenapa mereka mengganggu orang,” tanya Aria.


“Mana aku tahu,” jawab Wulan.


“Apa perlu hamba bunuh anak-anak itu Raden,” ucap Buto Ijo.


“Enak saja kau bicara! Untuk apa kau bunuh anak kecil? Tanya Aria.


“Kalau Raden pusing melihat anak-anak itu,” jawab Buto Ijo.


Para bocah melihat si pemuda sepertinya tidak peduli dengan teriakan mereka, salah satu dari mereka mengambil buah khadri ( pace, mengkudu ) lalu melempar ke arah pemuda itu.


Si pemuda sepertinya tidak peduli, tetapi Wulan langsung melesat dan mengusir bocah yang mengganggu sang pemuda.


“Kisanak tidak apa-apa? Tanya Wulan.


Mata si pemuda terbuka setelah mendengar suara seorang gadis, begitu melihat raut wajah Wulan, pemuda itu langsung berdiri.


*Selamat siang teteh*, meuni geulis! Ucap si pemuda.


“Ih,” Wulan mundur melihat tatapan pemuda itu, apalagi setelah melihat bibir pemuda itu terus tersenyum kepadanya.


Pemuda itu melihat Wulan mundur ke arah seorang pemuda bercaping, lantas ikut menghampiri.


“Boleh saya kenalan? Tanya pemuda itu.


“Tidak….tidak mau! Ucap Wulan sambil berlindung di balik tubuh Aria, merasa takut melihat sikap pemuda itu.


Tetapi pemuda itu terus maju mendekati Wulan.

__ADS_1


Buto Ijo melihat pemuda itu terus saja maju, kemudian bergerak menghadang.


“Kau mau mampus? Tanya Buto Ijo.


Si pemuda tak menjawab, raut wajahnya tampak terkejut melihat perawakan Buto Ijo yang besar, serta kulit tangannya yang berwarna hijau, sambil mundur dua langkah, pemuda itu berkata sambil tangannya menunjuk ke arah Buto Ijo.


*“Kau….kau Buta* Hejo! Kenapa bisa keluar siang hari? Tanya pemuda itu.


Mendengar perkataan pemuda itu, Buto Ijo kerutkan keningnya.


“Kau kenal dengan Raden? Tanya Buto Ijo.


Kali ini si pemuda yang bingung mendengar perkataan Buto Ijo.


“Raden….Raden siapa? Tanya pemuda itu.


“Itu Raden buta,” balas Buto Ijo sambil menunjuk ke arah Aria.


Aria mendengus mendengar ia di sebut Raden buta oleh Buto Ijo, hatinya sedikit kesal di sebut Raden buta.


“Bukan….bukan dia! Tetapi kau yang Buta Hejo,” kembali pemuda itu berkata.


“Bangsat! Kau lihat sendiri aku tidak buta,” ucap Buto Ijo sambil membanting capingnya.


Wajah hijau dengan kumis dan berewok lebat terlihat setelah Buto Ijo membanting capingnya.


“Benar kau Buta Hejo!? Teriak pemuda itu sambil terus mundur.


“Bangsat! Kau masih saja menyebut aku buta,” balas Buto Ijo dengan wajah kesal.


“Kalau bukan Buta( raksasa )? Lantas kau ini apa? Tanya pemuda itu.


Buto Ijo tak bisa menahan kesabarannya, tubuhnya melesat dan menghantam pemuda yang berdiri di dekat pohon khadri.


“Buto Ijo jangan gegabah dan menarik perhatian orang! Teriak Aria.


Buto Ijo yang hendak menyerang kembali, langsung urungkan niatnya lalu berdiri di samping Aria, sambil menatap pemuda itu dengan raut wajah kesal.


“Maaf kan kawan kami kisanak, dari nada bicara kisanak, sepertinya kisanak bukan dari daerah sekitar sini? Tanya Aria.


“Aku memang bukan berasal dari sini, aku berasal dari barat Jawa,” pemuda itu menjawab perkataan Aria.


“Pantas saja! Terkadang bahasa kisanak tidak sama dengan orang pribumi,” balas Aria.


“Maafkan saya kisanak, bukan maksud saya membuat keonaran dengan rombongan kisanak, tetapi saya tertarik dengan kawan kisanak ini, di tempat saya kawan kisanak ini di sebut Buta Hejo,” ucap pemuda itu.


“Kurang ajar! Kau masih saja menyebut aku buta,” ucap Buto Ijo, saat tubuhnya hendak bergerak, Aria langsung menahan tubuh Buto Ijo.


“Jangan sembarangan! Seru Aria.


Tiba-tiba si pemuda menyadari ada yang salah dari perkataannya, tak lama kemudian si pemuda tertawa.


Ha Ha Ha


“Aku mengerti sekarang! Maaf kan aku kawan, aku tidak menyebut kau buta alias tidak melihat, di tempat asalku yang disebut buta itu, raksasa,” ucap si pemuda sambil tersenyum kepada Buto Ijo, “jadi buta hejo yang kumaksudkan adalah Raksasa berwarna hijau,” lanjut si pemuda setelah menyadari kesalahannya.


Aria tersenyum lalu mengangguk.


“Syukurlah! ternyata cuma salah paham saja,” balas Aria.


Phuih!

__ADS_1


“Kalau tidak ada Raden, sudah ku remas-remas kepalamu,” Buto Ijo berkata, masih dengan nada kesal.


Tiba-tiba pemuda itu merapatkan tangan di depan dada sambil memberi hormat.


“Aku biasa di panggil Sarka.”


Phuih!


“Nama yang aneh,” ucap Buto Ijo sambil meludah.


“Aku Aria Pilong,” Aria ikut menyebut namanya, setelah mendengar pemuda memperkenalkan diri.


“Apa! Lolong? Ucap Sarka sambil melihat lebih jelas wajah Aria di balik caping.


“Dasar tuli! Dengus Buto Ijo.


“Pilong saudara Sarka, bukan lolong,” balas Aria.


“Oh….maaf….maaf! Ucap Sarka, “Aku pikir kisanak buta.”


Buto ijo tak bisa menahan amarahnya mendengar perkataan Sarka, saat tubuhnya bergerak mendekat, langkahnya terhenti setelah mendengar teriakan.


“Itu dia….itu dia orangnya!? Cepat kepung jangan sampai lolos.”


Puluhan prajurit berseragam lengkap langsung mengepung Sarka, Aria, Wulan serta Buto Ijo.


Seorang pria paruh baya yang berpakaian seperti seorang pembesar maju, kemudian berkata.


“Anak muda! Serahkan pusaka kujang Macan putih yang kau curi dari istana Kadiri.”


Sarka tersenyum mendengar perkataan pria itu, lalu membalas.


“Senopati Kebo wulung! Kau pasti tahu asal pusaka kujang macan putih dan kenapa aku mengambilnya,”


“Soal lain aku tutup mata dan telinga, yang aku tahu kau telah mencuri pusaka kujang macan putih, salah satu pusaka di kerajaan Kadiri,”


lanjut perkataan Senopati Kebo wulung.


“Mengingat aku kenal dengan gurumu, aku akan melepaskan mu, jika kau mau menyerahkan pusaka yang kau curi.


“Setahu aku, Kerajaan Kadiri tidak peduli dengan pusaka kujang macan putih.


Kawanmu yang baru, Tumenggung Adiguna tahu kekuatan kujang macan putih, ia menyuruh orang untuk mengambilnya dari gudang pusaka kerajaan.


“Aku merebut kujang itu dari begundalnya Adiguna, jadi siapa yang kau sebut mencuri,” Sarka berkata sambil tersenyum mengejek Senopati Kebo Wulung.


Raut wajah Senopati Kebo Wulung perlahan berubah merah mendengar perkataan Sarka.


“Kalau begitu! jangan salahkan aku kalau nyawamu hanya sampai hari ini,” ucap Senopati Kebo Wulung.


“Tunggu dulu tuan Senopati! Kami bertiga baru saja sampai di kota Daha dan tidak kenal dengan pemuda ini,” ucap Wulan sambil menunjuk Sarka.


Mendengar perkataan Wulan, Senopati Kebo Wulung menatap bergantian ke arah Wulan, Aria dan Buto Ijo.


Ketika menatap Buto Ijo, Senopati Kebo Wulung bertanya.


“Kisanak kau tahu nama bocah kurang ajar ini?


“Keparat itu namanya Sarka,” jawab Buto Ijo.


Senopati Kebo Wulung anggukan kepala, lalu menoleh ke arah Wulan sambil tersenyum.

__ADS_1


“Katanya belum kenal.”


__ADS_2