
Rombongan Aria di Persilahkan naik ke kapal perang milik Panglima laut I Gusti Wardana, agar lebih cepat sampai ke istana.
Aria serta anak buahnya, masing-masing di beri kamar untuk istirahat, hanya Buto Ijo yang tidak mau, karena ia ingin berjaga di depan kamar.
Setelah rombongan menyantap hidangan yang di sediakan, mereka istirahat sambil menunggu kapal berlabuh, karena masih beberapa jam lagi mereka sampai di pelabuhan Gilimanuk tempat mereka berlabuh.
Di dalam kamar, Aria duduk di kursi yang berada di ruangan, sementara itu Buwana Dewi tampak sedang rebahan di atas tempat tidur, untuk melepas lelah karena sudah mengeluarkan Ajian Banyu Weling yang belum lama ia pelajari dari ibu angkatnya, Ajian yang dapat menguasai Air agar melakukan apa yang kita inginkan.
Setelah lelahnya berkurang, Buwana Dewi membuka mata, melihat Aria masih duduk di kursi seperti saat mereka masuk.
Buwana Dewi bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Aria.
Kakang tidak istirahat? Tanya Buwana Dewi sambil duduk di dekat Aria.
Baju bagian dada Dewi agak terbuka dan memperlihatkan buah dadanya yang putih mulus.
“Kenapa sudah bangun, perjalanan sampai di tempat tujuan masih jauh,” Aria berkata.
“Aku sudah istirahat, tetapi kakang Aria yang belum,” balas Buwana Dewi sambil menggenggam tangan sang kekasih hati.
“Aku sudah biasa seperti ini, karena sambil duduk atau rebahan aku bisa istirahat dan memulihkan tenaga,” ucap Aria sambil tersenyum, merasakan hangatnya gengaman tangan Buwana Dewi.
“Apa kekuatan Kak Selasih belum pulih? Tanya Buwana Dewi.
“Belum! Mungkin Kali ini agak lama, sebab Nyi Selasih dua kali mengerahkan kekuatan besar untuk membuat pagar ghaib dalam waktu bersamaan.
Aria menarik napas panjang, sebelum lanjut berkata.
“Nyi Selasih sudah banyak berkorban untukku, setelah menikah setengah kekuatanyan tersedot olehku, sehingga tubuhnya melemah,” Jawab Aria dengan nada sedih.
Buwana Dewi tundukkan kepala mendengar perkataan Aria, lalu membalas.
“Terkadang aku malu terhadap Kak Selasih, pengorbanan serta kesetiaan kak Selasih terhadap kakang Aria, sangat jauh bila dibandingkan dengan aku.”
“Apa Buwana Dewi ingin ikut bersamaku, aku adalah pendekar kelana yang miskin dan tidak punya apa-apa,” ucap Aria.
“Kakang! Aku dari kecil tidak tahu apa itu namanya emas permata, apa yang bisa aku makan untuk mengganjal perut, ya aku makan, aku tidak membutuhkan semua itu, Kakang! Asal kakang Aria mau menerima Buwana Dewi dan menyayangi
“Aku….aku akan senang hati menerima kakang menjadi suamiku,” setelah berkata Buwana Dewi tundukkan kepala, rona wajahnya berubah merah karena jengah, hatinya berdebar dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aria membalas gengaman tangan Buwana Dewi sambil menarik napas panjang, kali ini gemgaman tangan Aria lebih erat dari gengaman gadis itu, perasaan cinta yang ia rasakan saat melihat Nyi Selasih kini hadir kembali dengan sosok gadis bernama Buwana Dewi, walaupun ia belum pernah melihat wajah gadis yang mulai ia cintai.
“Aku merasa terhormat jika adik Buwana Dewi mau hidup bersamaku, tetapi yang menjadi ganjalanku selama ini adalah….”
Jari Buwana Dewi, langsung menempel di bibir Aria, sehingga Aria tidak melanjutkan perkataannya.
“Aku sudah mendengar semuanya dari Ibu, dan ibu memberitahu agar aku mengambil sikap dan melihat sisi baik dan buruk dari persoalan yang aku hadapi.
“Aku berharap bisa bersama kakang selamanya, karena sewaktu Buwana Dewi pergi tanpa pamit, baru merasa kehilangan, saat kakang aria tidak bersamaku.
“Mengenai Ayah, aku akan membujuk ayah agar sadar serta kembali ke jalan yang benar dan hidup bersama kita.”
__ADS_1
“Aku punya permintaan, jika kakang Aria berkenan,” ucap Buwana Dewi dengan nada pelan.
Aria anggukan kepala, ia sangat senang dengan perkataan bijak dari Buwana Dewi, dalam hati Aria berjanji akan membujuk Ki Banyu Alas, untuk menanggalkan semua ambisinya mengacaukan dunia ini.
“Kalau aku mampu, aku akan mengabulkan permintaan Dewi,” balas Aria.
“Nikahi Buwana Dewi setelah kita sampai di istana Tampak Siring.”
Suasana langsung hening.
Buwana Dewi terus menatap wajah Aria di bagian bibir, ingin mendengar suara keluar dari mulut pemuda yang ia cintai.
Brak!
Pintu terbuka saat Aria hendak bicara.
“Kita sudah sampai, Raden! Seru Buto Ijo, saat masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Raut wajah Buwana Dewi berubah kelam melihat Buto Ijo.
“Kau lagi….kau lagi! Seru Buwana Dewi dengan nada dingin, tangan kanan Buwana Dewi mengibas ke arah poci yang terdapat di meja.
Whut!
Poci yang terbuat dari tanah liat melayang ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo langsung menutup kembali pintu yang baru saja ia buka.
Pintu langsung tertutup dan poci menghantam pintu kamar, Buto Ijo langsung bergegas menuju haluan kapal sambil bertanya tanya dalam hati.
“Kenapa Buwana Dewi kalau bertemu aku di kamar, selalu marah?
“Sudah….sudah! Kenapa Dewi marah sama Buto Ijo,” Aria berkata sambil tersenyum.
“Anak buah kakang yang satu itu, kalau masuk tidak pernah mau mengetuk pintu,” balas Buwana Dewi dengan nada kesal.
“Buto Ijo memang seperti itu, nasib Buto Ijo sama sepertimu, tetapi dia sudah bertemu dengan ayah yang meninggalkannya sejak kecil, jadi kau tidak usah ambil hati,” Aria memberi pengertian kepada Buwana Dewi.
“Baik kakang,” ucap Buwana Dewi.
“Setelah sampai di Istana Tampak Siring, aku akan menyuruh Selamet meyiapkan segala keperluan dan kebutuhan untuk kita.
“Kita menikah di istana Tampak Siring.”
Buwana Dewi seperti tak percaya, mendengar perkataan Aria, Buwana Dewi langsung memeluk sang kekasih ketika mendengar pemuda yang ia cintai mau menikah dengannya di Istana Tampak Siring.
“Terima kasih kakang! Ucap Buwana Dewi berbisik di telinga Aria.
Lanjut perkataan Buwana Dewi.
“Hanya satu harapanku setelah kita menikah.“
__ADS_1
“Apa? Tanya Aria sambil tersenyum.
“Aku berharap Kakang bisa melihat aku, seperti kakang melihat Nyi Selasih,” jawab Buwana Dewi.
Aria memeluk erat calon istrinya, matanya berkaca kaca dan hatinya terharu mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Aku tidak bisa berjanji padamu, tetapi keinginan kita sama,” balas Aria.
Lanjut Aria berkata setelah mendengar suara sibuk di luar kapal.
“Mari kita keluar, tetapi bereskan dulu pakaian Dewi, jangan sampai keluar dengan pakaian seperti itu.”
“Apa kakang bisa melihat aku? Tanya Buwana Dewi, mendengar Aria berkata, karena pakaiannya memang sedikit terbuka.
“Aku belum bisa melihat Dewi, tetapi tadi aku merasakan dan meraba sedikit, tubuh Dewi di bagian dada tidak ada kain penutupnya,” Jawab Aria.
“Dasar nakal! Ucap Buwana Dewi sambil mencubit pinggang Aria.
Keduanya keluar dari kamar setelah Buwana Dewi berpakaian rapi, raut wajah Buwana Dewi tampak bahagia, senyum ceria terus tersungging dari bibir Buwana Dewi.
Begitupula dengan Aria yang raut wajahnya tertutup caping.
Kereta kuda di siapkan oleh panglima I Gusti Wardana.
Aria dan Buwana Dewi naik ke dalam kereta Kuda, sedangkan Wangsa, Selamet serta Ujang Beurit berkuda mengelilingi kereta kuda Aria.
Buto Ijo seperti biasa, berlari di samping kereta sang Raden.
***
Prabu Anak Wungsu di kerajaan Bali mempunyai hubungan kekerabatan yang erat dengan Kerajaan Kadiri, karena raja Kadiri yang bernama Airlangga, ayah Prabu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan adalah kakak kandung dari Prabu Anak Wungsu.
Raja Tua yang bijaksana dan mencintai rakyatnya, tetapi yang sangat di sayangkan, sampai di usia senja, Prabu Anak Wungsu tidak di beri keturunan.
Hati Prabu Anak Wungsu sangat gembira menerima surat yang kirimkan melalui burung merpati dari panglima I Gusti Wardana, isi surat mengatakan ia membawa orang yang sanggup membunuh Elang raksasa yang selama ini selalu mengganggu rakyat nya.
Sementara itu di sisi lain.
Seorang pria dengan warna rambut ke emasan berdiri sambil bertolak pinggang, di sisi pria yang tak lain si Elang jantan tampak se ekor burung Elang raksasa berkaki satu.
Raut wajah Elang jantan tampak kelam, mendengar cerita burung peliharaannya, bahwa musuh yang sudah memakan kaki sang Elang dan membunuh istrinya ada di pulau ini, mereka juga sudah membunuh salah satu anak buah raja Elang.
Di belakang Elang jantan dan Raja Elang ada 4 ekor burung raksasa, serta Seratus orang anggota padepokan elang emas memakai topeng hitam untuk menutupi wajah, mereka semua bersiap untuk menunggu perintah.
Elang Jantan lompat ke punggung Raja Elang.
Raja Elang setelah majikan naik ke punggung, perlahan kedua sayap besar mengepak dan tubuhnya naik.
Empat orang anggota Elang emas, sambil membawa busur serta sekantong anak panah satu persatu ikut naik ke punggung empat Elang raksasa.
Tangan Elang jantan menunjuk ke atas, sambil berteriak Kencang.
__ADS_1
“Serang Istana Tampak Siring.”