Iblis Buta

Iblis Buta
111 : Maaf! Jalan Kita Berbeda


__ADS_3

Kalasrenggi menatap Aria dengan tatapan tajam.


Kalasrenggi tahu Aria adalah manusia, tetapi dari tubuh Aria tercium bau siluman yang sangat kuat, itu yang membuat Kalasrenggi penasaran terhadap Aria Pilong, apalagi setelah melihat Aria mempunyai ajian Pancasona, ajian yang sangat susah di hadapi.


Karena pemilik ajian Pancasona tidak bisa mati, jika tubuhnya masih terkena hembusan angin, menempel di tanah atau terkena tetesan air.


“Mau apa ketua jauh-jauh datang ke tempatku? Tanya Aria.


“Ada beberapa hal yang hendak aku bicarakan dengan ketua Jagad buwana,” jawab Kalasrenggi.


Kemudian Kalasrenggi lanjut berkata.


“Pertemuan masih beberapa hari lagi, aku memang menyuruh orang-orangku menghubungi partai besar untuk bergabung dengan partai matahari yang belum lama aku dirikan.


“Kalau saja aku tahu, padepokan Jagad Buwana di pimpin oleh iblis buta, aku tidak akan menyuruh Kalabenda, melainkan datang sendiri untuk mengajak kerjasama dengan padepokan Jagad Buwana.”


“Aku tidak tertarik bekerja sama dengan kalian,” balas Aria setelah mendengar perkataan Kalasrenggi.


Hmm!


Suara dengus terdengar keluar dari hidung Kalasrenggi, matanya menatap tajam ke arah Aria.


“Jika kau mau menerima tawaranku, akan ada banyak keuntungan yang akan di dapat oleh Jagad Buwana,” ucap Kalasrenggi setelah mendengar penolakan Aria Pilong.


“Kalau kau merasa banyak mendapat keuntungan, kenapa tidak kau ambil sendiri saja,” balas Aria.


“Aku tidak serakah dan ingin berbagi, tuan Aria Pilong! Benar bukan, namamu Aria Pilong? Tanya Kalasrenggi.


“Kau benar! Larang tapa tidak mungkin salah memberitahu namaku,” jawab Aria Pilong.


“Larang tapa memang sahabatku, tetapi urusan di partai Matahari, Larang tapa tidak boleh ikut campur,” balas Kalasrenggi.


“Lalu apa apa yang kau inginkan dari Jagad Buwana? Tanya Aria.


“Kerjasama dalam menghadapi Padepokan Elang emas,” Lanjut perkataan Kalasrenggi.


“Setelah kita berhasil, Jagad Buwana aku pastikan akan menjadi padepokan No. 2 di tanah Jawa ini, di bawah partai Matahari,” jawab Kalasrenggi.


Ha Ha Ha


“Kalau partai Matahari merasa kuat, kenapa tidak berusaha sendiri menjadi yang teratas di pertemuan gunung Bromo? Tanya Aria dengan nada sinis.


“Jagad Buwana tidak akan bekerja sama dengan siapapun untuk menjadi nomor satu, karena hasil yang di dapat melalui perjuangan, akan di hargai oleh kawan-kawan dunia persilatan,” jawab Aria.


“Baik, Aku hargai keputusanmu! Jangan menyesal nantinya jika padepokan Jagad Buwana yang baru muncul akan tenggelam kembali,” ucap Kalasrenggi dengan nada dingin.


“Mari kita pergi! Kalasrenggi berkata kepada Kalabenda, lalu melesat pergi dari desa Ranu pani.


Setelah Kalasrenggi pergi, Aria mengumpulkan para petinggi padepokan Jagad Buwana.

__ADS_1


Mereka langsung memperbincangkan tawaran Partai Matahari dan isu-isu yang beredar mengenai padepokan lain, terutama padepokan Elang emas yang sepertinya di takuti oleh Kalasrenggi.


“Apa ada kawan yang tahu tentang padepokan Elang emas? Tanya Aria.


“Elang emas adalah Padepokan yang berada di daerah paling timur Jawa, Padepokan Elang emas lumayan besar


“Menurut kabar yang beredar dan informasi dari anak buahku, mereka yang mempunyai masalah dan di buru di tanah jawa, biasanya lari ke daerah paling timur di Jawa, kemudian penjahat itu menemukan padepokan, lalu bergabung dengan padepokan yang menampung mereka, lalu padepokan itu di sebut Padepokan Elang emas,


“Padepokan Elang emas tidak menerima murid, mereka menjadi besar karena banyaknya pelarian atau buronan kerajaan yang bergabung dengan padepokan Elang emas,” Raden Kusumo memberi penjelasan, karena tidak ada yang memberi keterangan.


“Kenapa kerajaan tidak menyerbu perguruan Elang emas? Tanya Aria.


“Ketua! Menangkap Satu orang, dengan jarak yang sangat jauh, membuat kerajaan atau padepokan enggan memburu mereka, tetapi setahu aku, padepokan Elang emas jarang ikut campur dengan urusan padepokan dan tidak pernah mau menerima undangan, karena anggota mereka yang terdiri dari orang-orang bermasalah,” lanjut perkataan Raden Kusumo.


“Jadi begitu rupanya,” ucap Aria.


“Jadi kali ini padepokan Elang emas, ingin naik ke permukaan setelah lama berdiam diri,” lanjut perkataan Aria.


“Sepertinya begitu, ketua,” balas Raden Kusumo.


“Siapa yang memimpin Padepokan Elang emas? Tanya Aria.


“Elang emas di pimpin oleh sepasang Elang emas, Elang jantan dan Elang betina, mereka di sebut sepasang Elang emas karena rambut mereka yang berwarna kuning ke emasan,” kali ini Singabarong yang bicara.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Singabarong, kemudian berkata.


“Khusus untuk Raden Kusumo, aku membebaskan Raden untuk tidak ikut ke pertemuan, karena Raden Kusumo yang pedagang,” Aria berkata.


“Maaf ketua! Jika di perbolehkan, kami akan ikut menghadiri pertemuan, biarpun kami sekarang keluarga pedagang, tetapi dahulu keluarga kami adalah keluarga petarung,” Raden Kusumo meminta Aria untuk memperbolehkannya ikut.


Aria akhirnya anggukan kepala, karena teringat sewaktu mereka bertemu di kediaman sang Raden, bahwa Raden Kusumo datang ke Ranu pani memang sengaja untuk melihat pertemuan akbar yang di adakan di gunung Bromo.


“Terima kasih ketua….Terima kasih,” ucap Raden Kusumo setelah aria mengabulkan permintaannya.


Waktu yang tersisa di pakai berlatih di kediaman masing-masing, sedangkan Aria yang kamarnya di kawal oleh Buto Ijo, terus komunikasi dengan Nyi Selasih sambil memadu kasih.


Nyi Selasih masih belum mengetahui tentang pirasat yang datang, kekuatan apa yang tengah mengincar di pertemuan gunung Bromo.


***


Satu hari sebelum pertemuan, rombongan Padepokan Jagad Buwana bergerak menuju gunung Bromo.


Satu kereta kuda yang mewah khusus di siapkan oleh Raden Kusumo untuk sang ketua.


Rombongan bergerak dengan gagah, semua memakai pakaian yang berwarna biru langit, agar sesuai dengan arti nama padepokan Jagad Buwana yang luas seperti langit.


Dua kereta kuda berada di tengah rombongan Buto Ijo lari di samping kanan kereta kuda yang di tumpangi Aria, sedangkan di samping kiri kereta, Andini serta Andira mengiringi sambil menunggangi kuda mereka.


Di belakang kereta yang di tumpangi oleh Nyai Kidung kencana dan Anjani, Resi Jayaprana, Raden Kusumo, Rama serta Bayusena menunggang kuda mengawal kereta dari belakang.

__ADS_1


Di depan kereta Aria, Singabarong, Wangsanaya, Raden untung serta Selamet menunggang kuda.


Anggota keluarga Kemala yang bergabung dengan Jagad Buwana berbaris di depan sebagai pembuka jalan, serta pasukan berkuda yang membawa umbul-umbul kebesaran padepokan Jagad Buwana.


Rombongan padepokan Jagad Buwana tampak gagah dan membuat iri padepokan lain, yang ber Selingsingan jalan dengan Jagad Buwana.


Mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, siapa ketua padepokan Jagad Buwana? Karena padepokan Jagad Buwana yang baru berdiri, ketuanya masih menjadi misteri, tetapi setelah melihat, Singabarong serta Buto Ijo yang memang terkenal di timur Jawa berada di dalam rombongan, orang yang melihat hanya bisa diam.


Di musim kemarau gunung Bromo memiliki gurun pasir yang luasnya ribuan tombak, di gurun pasir itulah tempat pertemuan antar padepokan setanah jawa.


Para anggota padepokan yang memenuhi undangan datang berduyun-duyun naik ke gunung Bromo, mereka ingin mendapat tempat, agar lebih leluasa melihat pertemuan.


Partai Matahari sudah menyiapkan panggung yang terbuat dari batu alam yang keras, arena besar yang di pakai untuk menentukan siapa yang berhak menjadi padepokan nomor satu melalui pertandingan.


Tenda merah yang menjadi tempat Partai Matahari, berada di dekat arena, sementara tak jauh dari tenda merah, tampak tenda berwarna kuning ke emasan, Biru, hitam dan Hijau.


Semua tenda berwarna, berada tak jauh dari arena, sedangkan sisanya tenda berwarna putih.


Pihak kerajaan dari Kadiri maupun Kahuripan tidak ada yang datang, karena menurut tradisi pertemuan antar padepokan se tanah Jawa, pihak kerajaan tidak boleh ikut campur.


Pihak kerajaan menuruti perkataan para pendekar, karena padepokan setanah Jawa jika bergabung, kekuatan mereka hampir sama dengan pasukan yang di miliki oleh kerajaan besar, sehingga pihak kerajaan menghormati keputusan para ketua padepokan.


Ribuan orang sudah berkumpul, di tenda tenda putih.


Padepokan besar mulai berdatangan dan menempati tenda-tenda yang telah di sediakan.


Padepokan Jagad Buwana setelah memberitahu simbol padepokan yang berwarna biru, di antar untuk menempati tenda yang berwarna biru.


Tenda hitam di tempati oleh resi Larang tapa serta pengikutnya, sang resi datang bersama Padepokan Tangan hitam yang sudah di benahi setelah ketiganya tewas oleh Aria.


Tenda hijau di tempati oleh padepokan gunung Gede, satu-satunya padepokan besar yang mewakili, Jawa bagian barat.


Tenda berwarna kuning ke emasan masih kosong.


Tetapi kegemparan terjadi, setelah terdengar suara pekik burung Elang di atas tempat pertemuan.


Elang besar dengan sayapnya yang mengibas-ngibas dan menimbulkan angin besar, sehingga beberapa tenda berwarna putih terbang tak kuat menahan hempasan angin.


Suara riuh terdengar, setelah melihat dua orang paruh baya turun dari punggung elang raksasa, sepasang pendekar dengan rambut ke emasan tanpa memperdulikan mata serta mulut yang tengah membicarakan mereka, keduanya melangkah ke arah tenda berwarna kuning ke emasan di dekat tenda merah milik Kalasrenggi.


Keduanya lalu duduk.


Kalasrenggi lalu menyapa kedua sepasang Elang emas yang baru saja datang.


“Ketua! Mana anggota Elang emas yang lain? Tanya Kalasrenggi.


Elang jantan tanpa menoleh ke arah Kalasrenggi, lalu menjawab.


“Untuk apa membawa banyak orang? Kami berdua sudah cukup, untuk mengalahkan kalian semua.”

__ADS_1


__ADS_2