
“Kalau kita masuk dari depan, kita akan mengalami banyak hadangan dari anak buah Elang jantan.
“Tetapi kalau kita masuk ke Tegaldlimo lewat Bali, tidak akan ada yang menyangka pergerakan kita,” Ujang Beurit berkata.
“Kau benar! Seru Aria mendengar penjelasan Ujang Beurit, “kalau kita berhasil membunuh Ki Banyu Alas, padepokan Elang emas bukan suatu hal sulit jika kita ingin memberantasnya.”
“Tetapi bagaimana kita membunuh Ki Banyu Alas, bukankah Ki Banyu Alas bisa tewas jika ia menderita batin dan tewas di tangan Buwana Dewi? Tanya Wangsa.
“Ada atau tidaknya Buwana Dewi, kita harus berusaha membunuh Ki Banyu Alas,” jawab Aria, ada rasa sedih di hati pemuda itu ketika mendengar nama Buwana Dewi, “entah di mana gadis itu sekarang,” batin Aria.
“Baiklah kalau begitu! Besok Kita mulai mengamati situasi.
“Setelah kita menghabisi Iwa Brengos dan menghancurkan padepokan Elang emas yang ada di kota kalipuro, kita lanjutkan perjalanan menuju Ketapang dan menyebrang ke Bali,” Aria memberikan instruksi kepada anak buahnya, setelah mendengar cerita 2 orang yang melihat dan mengamati kota yang kini mereka tempati.
Mereka lalu istirahat untuk memulihkan tenaga, setelah melakukan perjalanan jauh berhari hari.
Seperti biasa, pagi hari setelah sarapan makanan kecil dan secangkir teh panas.
Aria, Buto Ijo serta Wangsa jalan menuju ke arah pantai, dimana para nelayan mulai ber aktivitas.
Sementara itu, Selamet dan Ujang Beurit pergi terlebih dahulu, untuk kembali menggali informasi apapun yang bisa mereka dapat.
Aria, Buto Ijo dan Wangsa duduk di warung kopi sambil melihat aktivitas para nelayan yang hendak melaut dan kembali setelah melaut.
Beberapa orang langsung memburu pelayan yang baru saja sampai, mereka langsung membantu menarik perahu ke tepi pantai, dan membantu membawa keranjang berisi laut hasil tangkapan semalam.
Saat tengah membawa hasil laut yang ia dapatkan semalam, nelayan bernama Ki Moro yang tengah memikul 2 keranjang berisi ikan, di hampiri oleh 3 orang pria berkulit hitam.
“Mana setoran sewa perahu yang kau pakai? Tanya salah seorang dari ketiga pria itu.
“Nanti akan aku berikan setelah menjual hasil tangkapanku, Ki,” jawab nelayan yang di panggil Moro.
“Tidak bisa! Sudah berapa kali kau berkata seperti itu, tetapi kau selalu kabur setelah menjual hasil tangkapanmu,” kembali orang itu berkata dengan nada tinggi.
“Ki Suli! Aku memang mau melunasi hutan dan mengambil kembali perahu miliku setelah menjual hasil tangkapanku hari ini, jadi Ki Suli tidak usah Khawatir,” balas Nelayan yang di panggil Moro.
“Apa Kau bilang, mengambil kembali perahu? Tidak bisa, Kami tidak menjual perahu tetapi hanya menyewakan saja,” balas Ki Suli setelah mendengar perkataan Moro.
Ki Suli!? Teriak Moro sambil lanjut berkata, “Aku tidak menjual perahu, tetapi meminjam uang, tetapi kenapa kalian malah mengambil perahu milikku, kemudian berkata seolah perahu ini milik kalian dan aku harus menyewa.”
“Ki Moro! Seru Ki Suli, “sebelum kau pinjam uang, kami sudah memberitahu bahwa perahu mu di pakai sebagai jaminan, jika kau telat membayar,
perahumu akan menjadi milik kami.”
“Aku bukannya tidak mau membayar, kau kan tahu sendiri bulan-bulan kemarin adalah musim hujan dan angin, kalau hasil tangkapan sedikit lantas uang nya kuberikan kepadamu, anak istriku mau makan apa? Ki Moro berkata dengan nada gusar.
“Memangnya aku peduli, anak istrimu mau makan atau tidak? Yang aku pedulikan hanya uang setoran mu, kalau kau tidak bayar! Masih banyak orang yang akan menyewa perahu ini untuk melaut.”
__ADS_1
“Ini perahuku! Aku yang berhak memakainya, bukan orang lain,” Ki Moro berkata.
Hmm!
“Menurut Ki Brengos orang yang susah di atur bunuh saja, lalu buang mayatnya ke laut,” Ki Suli mencabut golok yang terselap di pinggang, setelah berkata dengan nada dingin.
Setelah melepaskan keranjangnya, sambil mundur, Ki Moro menyabet nyabetkan pikulannya ke arah Ki Suli dan anak buahnya.
“Mundur….mundur kalian! Seru Ki Moro dengan raut wajah pucat.
Buto Ijo dan Wangsa tanpa di suruh oleh Aria, melangkah ke arah Ki Moro yang hendak di serang, sedangkan Suketi bersama Aria menikmati hidangan kelapa muda yang di campur gula aren.
Saat golok Ki Suli hendak membacok Nelayan bernama Moro, Wangsa dengan cepat menyambar dan menarik tubuh Moro.
Whut!
Golok menebas tempat kosong.
Ki Suli kerutkan keningnya melihat tebasannya tidak menemui sasaran.
Alisnya terangkat dan keningnya berkerut melihat Moro sudah bersama Wangsa.
“Sopo Sampean? Tanya Ki Suli, “jangan ikut campur dengan urusan kami, jika kalian masih ingin hidup.”
Hmm!
“Siapa kalian? Tanya Ki Suli melihat Wangsa dan Buto Ijo yang memakai caping, “Kalian sepertinya bukan orang kalipuro?
“Aku memang bukan orang kalipuro, kami datang dari Panarukan,” jawab Wangsa.
“Panarukan! Balas Ki Suli.
“Mau apa kau jauh-jauh datang ke kalipuro? Tanya Ki Suli dengan tatapan curiga, apalagi pria bertubuh besar menyebut nama ketuanya.
“Kau tidak usah banyak tanya, kami di suruh Mata elang untuk mengajak Iwak Brengos ke tempatnya,” jawab Buto Ijo.
“Iwa, Jo!….Iwa, Bukan Iwak,” seru Wangsa.
“Bawel kau! Seru Buto Ijo dengan kesal.
“Cepat panggil Iwak Brengos, aku mau menyampaikan pesan Mata elang untuknya,” Buto Ijo berkata kepada Ki Suli.
“Jadi kalian adalah anggota padepokan Elang emas yang ada di kota Keta? Tanya Ki Suli.
“Buto Ijo dan Wangsa saling pandang mendengar perkataan Ki Suli, kemudian gelengkan kepala.
“Jadi kalian ini siapa nya Tetua Mata Elang? Tanya Ki Suli.
__ADS_1
“Kalau aku tidak begitu kenal, hanya pernah melihat Mata Elang dari jauh, kalau temanku ini! Dia cukup dekat,” jawab Wangsa.
“Saking dekatnya, sampai tanganku mampu menghancurkan Batok kepala Mata Elang,” Buto Ijo ikut berkata.
Sambil tangannya menghantam kepala dua orang kawan Ki Suli.
Whut….Prak!
Salah seorang kawan Ki Suli, kepalanya pecah, sedangkan satu lagi berhasil lompat mundur.
Tetapi Wangsa bertindak lebih cepat, setelah melihat satu orang mundur, tubuhnya melesat dan tangannya menyambar ke arah leher salah satu kawan Ki Suli tang tersisa.
Crep!
Anggota padepokan Elang emas langsung tersungkur, dengan tenggorokan robek tersambar cakar Wangsa.
Ki Suli mundur, melihat dua orang kawannya tewas dengan mudah.
“Tunggu….tunggu! Ki Suli berkata sambil mundur, “kalian tunggu di sini, biar ku panggil tetua Iwa, untuk menghabisi kalian,” ucap Ki Suli sambil balik badan dan langsung melarikan diri.
Buto Ijo dan Wangsa tertawa terbahak bahak, setelah melihat Ki Suli Lari terbirit birit.
“Terima kasih atas pertolongan kisanak! Tetapi sebaiknya kisanak pergi, sebab Iwa Brengos sangat kejam, dia tak segan-segan mencincang musuh dan menjadikannya makanan ikan,” Ki Moro berkata sambil tersenyum pahit, karena tak bisa menghindar dari musibah yang sebentar lagi ia alami.
“Mereka datang! Seru Ki Moro tak lama kemudian, setelah melihat lebih dari 50 orang anggota padepokan Elang emas, berlari mendatangi ke arah mereka.
Seorang pria bertubuh gemuk dan berkumis tebal, yang satu kakinya terbuat dari besi, tampak bersama dengan puluhan anggota padepokan Elang emas.
“Siapa yang berani membunuh anak buahku? Tanya Iwa Brengos mantan bajak laut yang kini menjadi ketua cabang padepokan Elang emas di kota kalipuro.
“Banyak juga mereka, So! Ucap Buto Ijo.
“Kau takut, jo? Tanya Wangsa.
Phuih!
Buto Ijo meludah mendengar perkataan Wangsa.
“Coba kau lihat! Iwak Brengos dan anak buahnya sudah keluar semua apa belum? Tanya Buto Ijo kepada Moro.
“Apa maksud kisanak? Ki Moro tak mengerti dengan perkataan Buto Ijo.
“Kalau sudah keluar semua lebih bagus, biar kita berdua tidak perlu lagi mencari dan mengejar anggota mereka yang tersisa,” jawab Buto Ijo.
Kau pilih anggotanya atau Si Iwa? Tanya Wangsa kepada Buto Ijo.
Buto Ijo menjawab perkataan Wangsa.
__ADS_1
“Kau diam saja di sini! Biar aku yang habisi mereka semua.