
“Tua lawan tua,” ucap Wangsa sambil menyeringai.
Rajawali hitam menatap wajah Wangsa, keningnya berkerut.
“Aku dengar di tanah Pasundan ada Resi yang wajahnya mirip dengan se ekor singa, apa kau orangnya?
Phuih!
“Loba bacot sia, kehed! Ucap Wangsa sambil melesat, menerkam ke arah Rajawali hitam.
Rajawali hitam melesat ke atas, kemudian kakinya menendang kepala Wangsa.
Wangsa tekuk kedua kaki sambil tundukkan kepala menghindari tendangan, kemudian cakar kanan menyambar betis Rajawali hitam.
Rajawali hitam tidak gugup kaki kanannya diserang, kaki kiri Rajawali hitam menyambar cakar Wangsa.
Wangsa melihat telapak kaki kiri Rajawali hitam menendang, jari yang terbuka langsung mengepal dan meninju telapak kaki Rajawali hitam.
Plak!
Rajawali hitam menggunakan tinju Wangsa sebagai pantulan, tubuhnya melesat sambil bersalto, mundur beberapa tombak dari Wangsa.
Melihat musuh menjauh, Wangsa melesat kembali sambil cakar kanannya menyambar perut Rajwali hitam.
Kali ini Rajawali hitam tidak mundur, tangannya mengibas menahan serangan Wangsa.
Plak!
Kedua tangan bertemu, Rajawali Hitam setelah menangkis, tangan kiri berputar dan menyambar leher Wangsa.
Wangsa geser tubuhnya ke kiri, kemudian tangan kanan menyambar kaki Rajawali hitam.
Crep!
Setelah berhasil menangkap, wangsa langsung melempar Rajawali hitam ke arah batang pohon besar.
Whut!
Tubuh Rajawali hitam melesat ke arah pohon, tangan Rajawali hitam mengembang dan tubuhnya yang sedang melesat agak tertahan, kemudian kaki Rajawali hitam menjejak batang pohon dan langsung melesat.
6 jari Rajawali hitam layaknya cakar burung melesat, siap menyerang bagian tubuh Wangsa.
“Akan ku robek lehermu,” batin Rajawali hitam, sambil menatap bengis ke arah Wangsa.
Setelah dekat, Rajawali hitam mengibaskan kedua tangannya, dua bayangan hitam berbentuk cakar burung melesat, ke arah leher dan dada Wangsa.
Wangsa mendengus melihat serangan Rajawali hitam, lalu tangan kanan menghantam ke atas, sambil merapalkan ajian benteng angin.
Whut!
Bayangan berbentuk asap tipis tembus pandang, langsung menyelimuti tubuh Wangsa.
Pukulan cakar Rajawali iblis, menghantam ajian benteng angin milik wangsa.
Blam!
Rajawali hitam terkejut dan tidak menyangka, Wangsa mempunyai ilmu pertahanan yang kuat, sehingga pukulannya tidak berhasil menembus pelindung yang di ciptakan Wangsa.
Wangsa di bawah lindungan Aji benteng angin, melihat Rajawali tertahan akibat beradunya kekuatan mereka langsung lompat, cakarnya menyambar perut Rajawali hitam.
Rajawali hitam silangkan kedua tangan, berusaha menahan sambaran Wangsa.
Buk!
Wangsa tersenyum dingin setelah sambaran tangan kanannya berhasil di tangkis Rajawali hitam, kaki kanan Wangsa dengan cepat menghantam ke arah pinggang Rajawali hitam, tanpa bisa di tahan karena kedua tangan sedang menangkis serangan Wangsa.
Buk!
Tubuh Rajawali hitam melesat mengantam beberapa prajurit Tumapel.
Brak!
__ADS_1
Setelah jterpental dan menabrak prajurit Tumapel, tubuh Rajawali Hitam melenting dan langsung berdiri sambil menatap tajam ke arah Wangsa, rasa sakit di pinggangnya tidak begitu dirasa, tetapi harga diri Rajawali hitam, yang terluka setelah tendangan lawan berhasil masuk mengantam telak pinggangnya.
“Kita sudahi saja permainan anak kecil ini,” ucap Rajawali hitam dengan nada dingin, kemudian ia duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Perlahan dari kepala Rajawali hitam, keluar asap yang semakin lama membentuk wujud se ekor Rajawali hitam, dengan mata berwarna merah.
Sayap rajawali mengepak ngepak sambil matanya menatap tajam ke arah Wangsa.
Wangsa merapalkan Ajian Maung Suci yang bisa membuat setengah badan Wangsa berubah.
Perlahan dari Pipi Wangsa tumbuh kumis Harimau lalu gigi taring memanjang, dan mata menyipit serta berubah warna,lalu jari tangan tumbuh kuku tajam, kekuatan serta kecepatan Wangsa bertambah beberapa kali lipat, begitu pula dengan tubuh Wangsa yang bertambah besar.
Auman menggelegar terdengar, para prajurit Tumapel mulai menyingkir dari Wangsa dan Rajawali hitam.
Rajawali hitam melesat begitu pula dengan Wangsa, tetapi gerakan Rajawali hitam dan Wangsa sama cepat.
Saat Cakar menyambar ke arah rajawali hitam, burung itu terbang dan menghindari serangan Wangsa.
Setelah berada di atas, Rajawali menukik dengan dua cakar terbuka mengarah kepala Wangsa.
Wangsa entakan kedua kaki, tubuhnya melesat naik ke arah Rajawali hitam.
Plak!
Cakar Harimau dan cakar Rajawali bertemu keduanya saling cengkram. Walau Rajawali hitam mahluk ghaib, Wangsa yang menggunakan ajian Maung Suci, ajian yang bisa menarik kekuatan roh leluhur lalu di satukan, sehingga kekuatan Wangsa berlipat ganda, dan dapat di pakai melawan mahluk ghaib seperti Rajawali hitam yang keluar dari dalam tubuh musuhnya.
Cengkraman Wangsa semakin lama semakin kuat.
Crash!
Cakar kaki Rajawali hitam hancur, perlahan tubuhnya menghilang.
Wangsa langsung menerkam, Rajawali hitam menunduk, kemudian tubuhnya berguling sambil tangan kanan menyambar perut Wangsa.
Tangan kiri Wangsa menangkis serangan Rajawali hitam, kemudian kakinya menginjak perut, Rajawali hitam terhempas keras.
Bek!
Mata Rajawali hitam mendelik, isi perutnya serasa hancur terkena injakan Wangsa.
Cakar Wangsa menghantam, tetapi Rajawali hitam berguling ke kanan, tanah yang terkena hantaman di sisi kepala Rajawali hitam sampai berlubang sebesar perut kerbau, akibat besarnya tenaga yang di keluarkan oleh Wangsa.
Nyali Rajawali hitam langsung ciut, setelah beberapa kali terkena tendangan Wangsa.
Tubuhnya melesat dan bergerak ke arah Tumenggung Wirayuda yang tengah bertempur dengan Aria.
Buto Ijo melihat Rajawali hitam berusaha kabur , mencekal tangan Suketi, lalu melemparkan Suketi ke arah Rajawali hitam.
Whut!
Kedua kaki Suketi di tekuk, serta kedua tangan memegang dengkul, tubuh Suketi yang di lempar oleh Buto Ijo melesat seperti bola besar yang tengah berputar.
Buk!
Rajawali langsung terpental setelah dadanya terkena hantaman tubuh Suketi.
Hoaks!
Darah menyembur dari mulut Rajawali hitam, bagian dalam dada Rajawali hitam terluka, setelah terkena hantaman Suketi.
Wangsa melihat Rajawali hitam rubuh langsung memburu, setelah berada di dekat musuhnya, kedua tangan Wangsa memegang kepala Rajawali hitam, “kalau lemah, tak usah banyak bicara,” setelah berkata, Wangsa kemudian memelintir kepala Rajawali hitam.
Krek….Krek!
Setelah terdengar suara dua kali tulang leher berderak, Wangsa melepaskan kepala Rajawali hitam yang terkulai, Rajawali hitam tewas seketika.
Buto langsung memburu ke arah suketi, setelah Suketi berhasil merubuhkan Rajawali hitam.
“Kenapa kakang Buto main lempar! Memangnya aku batang pohon? ucap Suketi dengan wajah cemberut.
“Aku pikir tadi prajurit Wirayuda,” balas Buto Ijo.
__ADS_1
Cis!
“Dasar tidak berperasaan,” ucap Suketi.
Ming Tao Lim perlahan membuka mata, merasakan di sekitarnya basah, Ming Tao Lim meraba tanah, kemudian melihat tangannya yang basah dan berwarna merah.
“Darah….tubuhku penuh darah! Ucap saudagar Ming sambil berdiri, lututnya gemetar melihat puluhan prajurit Tumapel tewas berserakan di sekitarnya.
Saudagar Ming melangkah dengan cepat menjauhi puluhan mayat prajurit yang tewas.
Saat mata saudagar Ming melihat ke arah rumah Tumenggung Wirayuda yang terbakar hebat.
Kedua tangan saudagar Ming menepak kepala.
“Barangku….kain sutra terbaik milikku! Habis sudah semuanya,” ucap Suadagar Ming, melihat Api melahap rumah dan mulai merambah ke bangunan di sekitar rumah Tumenggung Wirayuda.
Buto Ijo dan Suketi yang berada tidak jauh dengan Ming Tao Lim, bergerak mendekati saudagar Ming.
“Kenapa kau? Tanya Buto Ijo melihat Ming Tao Lim berdiri, sambil menatap rumah Tumenggung Wirayuda yang terbakar.
“Habis sudah! Jawab Saudagar Ming dengan tatapan kosong.
“Apa yang habis? Tanya Suketi.
“Kau….Kera bisa bicara! Saudagar Ming berkata sambil menunjuk ke arah Suketi.
Tubuh Saudagar Ming langsung duduk, kemudian matanya terpejam, tidak sadarkan diri.
Suketi tundukkan kepala, melihat saudagar Ming tak sadarkan diri setelah melihatnya.
Buto Ijo menatap ke arah Suketi yang tengah tundukkan kepala, lalu mendengus dan melihat ke arah Saudagar Ming.
“Kalau masih tak sadarkan diri, ku patahkan batang lehermu,” ucap Buto Ijo dengan nada dingin.
Ming Tao Lim yang diam tak bergerak, perlahan tampak menarik napas panjang, kemudian bangkit, lalu duduk.
“Aku tadi sedang rebahan, sambil memikirkan barang-barangku yang habis terbakar, tuan,” ucap Saudagar Ming.
“Barang-barang apa? Tanya Wangsa yang melangkah mendekat.
“Dagangan yang aku bawa dari negeriku, tuan,” sutra, giok dan mutiara serta kulit beruang berkualitas tinggi, semuanya musnah,” jawab saudagar Ming.
“Kau tidak usah khawatir! Adik kelima sudah mengamankan barang-barangmu, serta sedikit harta Tumenggung Wirayuda.
Raut wajah Saudagar Ming berubah, seperti tak percaya mendengar perkataan Wangsa.
“Apa….apa benar yang tuan katakan? Ucap Saudagar Ming sambil memegang tangan Wangsa.
“Benar,” jawab Wangsa.
Kedua tangan Saudagar Ming mencengkeram erat tangan Wangsa.
Tak lama kemudian terdengar suara.
Bruk!
Saudagar Ming jatuh tak sadarkan diri saking senangnya mendengar kabar, barang-barangnya sudah berhasil di selamatkan.
“Lama-Lama ku tendang kepalamu,” dengus Buto Ijo dengan nada kesal, sambil menatap ke arah Ming Tao Lim.
“Resi! Kenapa tidak ada penduduk yang datang melihat? Padahal suara jerit prajurit yang terluka dan pertempuran sangat jelas terdengar, belum lagi rumah Tumenggung Wirayuda yang terbakar,” tanya Suketi.
“Nyi Selasih yang melakukannya! Dari dalam tubuh adik ketiga, Nyi Selasih memberi semacam kabut ghaib yang mengelilingi rumah Tumenggung Wirayuda, sehingga orang biasa tidak akan bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di rumah Tumenggung Wirayuda.
“Apalagi sekarang lewat tengah malam, waktunya sebagian orang tidur pulas dan sebagian lagi malas untuk keluar, kita bisa semakin bebas melakukan apapun di sini tanpa takut di lihat oleh penduduk Tumapel,” Wangsa membalas perkataan Suketi.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Ucap Buto Ijo.
“Memangnya kau tanya? Balas Wangsa sambil melihat Aria yang masih bertempur dengan Tumenggung Wirayuda.
Tokoh kerajaan yang dulunya bersama dengan Prabu Airlangga mendirikan kerajaan Panjalu.
__ADS_1
Wangsa tahu Tumenggung Wirayuda seorang yang susah di hadapi, kemudian sang Resi berkata kepada Buto Ijo.
“Mari kita bantu adik ketiga, Jo!