Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 101 : Penguasa Gunung Batok


__ADS_3

“Bromo! Seru Bayusena sambil kerutkan kening.


“Apa benar yang kau katakan? Tanya Bayusena.


Aria anggukan kepala.


“Di Bromo sebentar lagi ada pertemuan antar padepokan se tanah Jawa, mungkin ayahmu pergi ke Bromo hendak bertemu dengan kawan lama, atau melihat keramaian,” balas Bayusena.


Bayusena menarik napas setelah berkata, keningnya berkerut seperti sedang berpikir.


“Sebenarnya aku menerima undangan untuk menghadiri pertemuan di Bromo, tetapi aku memutuskan untuk tidak kesana, karena mereka pasti menghina padepokan Bayugeni, apalagi setelah tahu kita telah menghilangkan barang titipan juragan Sukir,” Bayusena berkata.


“Jadi bagaimana baiknya guru? Apa kita harus mengantarkan tuan Aria ke Wengker,” tanya murid pertama.


“Wengker jaraknya sangat jauh lalu untuk apa kita ke Wengker kalau orang yang kita cari ada di Bromo?


Lanjut perkataan Bayusena.


“Baiklah kita ke Bromo untuk memenuhi undangan, sambil mencari ayah tuan muda Aria, setelah berhasil menemukan juragan Wangsa, aku akan menutup padepokan Bayugeni dan kalian berlima bebas kemanapun kalian pergi,” Bayusena setelah berkata, kemudian menatap satu persatu muridnya dengan wajah sedih.


Kelima murid Bayusena berdiri dari kursi, kemudian sujud, lalu berkata bersama sama.


“Kami akan selalu ikut dengan guru, apapun yang terjadi.”


Bayusena tersenyum, hatinya merasa terharu mendengar perkataan murid-muridnya.


“Bangkitlah! Kita bicarakan masalah itu nanti setelah kita berhasil menemukan juragan Wangsa.


“Sekarang kalian tolong kemasi barang-barang dan perbekalan sambil beritahu murid lain agar berjaga di padepokan, cukup kita ber enam yang berangkat besok, memulai perjalanan ke Bromo.


“Waktu pertemuan masih lama, jadi kita bisa mampir ke kota-kota sambil jalan menuju Bromo, siapa tahu ada informasi mengenai juragan Wangsa,” Bayusena berkata kepada kelima muridnya.


Kelima murid anggukan kepala, satu persatu mereka mempersiapkan perbekalan yang hendak di bawa, sementara Bayusena bersama Aria duduk sambil bercakap-cakap.


Ke esokan hari enam ekor kuda bergerak cepat keluar menuju ke arah utara, tepatnya menuju Bromo.


Aria berkuda dengan murid pertama dari perguruan Bayugeni.


Sedangkan sisanya berkuda sendiri.


Gunung Semeru dengan gunung Bromo tidak begitu jauh, dengan menunggang kuda dalam waktu 2 sampai 3 hari bisa sampai, tergantung dengan kecepatan kuda yang di pakai.


Bayusena memerintahkan muridnya untuk mampir di desa Gedong, desa yang terletak di tengah-tengah antara perbatasan dengan Bromo, penduduk di desa Samiloto banyak terdapat orang dari suku Tengger, suku asli penduduk yang menempati gunung Bromo.


Desa Samiloto sangat ramai, penduduknya ramah dan sopan, sehingga banyak yang singgah di desa Samiloto sebelum melanjutkan perjalanan kembali.


Setelah satu hari mereka berkuda, Bayusena yang memimpin rombongan akhirnya sampai di desa Samiloto sebelum malam.


Penginapan yang ada di desa Samiloto sudah kenal dengan Bayusena, karena jika melewati desa ini, Bayusena selalu menginap di penginapan ini.


“Apa ada kamar kosong? Tanya Bayusena.


“Semua kamar penuh Ki Bayu,” jawab salah seorang pelayan.


Hmm!


“Masa tidak ada kamar untuk rombonganku? Kembali Bayusena berkata.


“Sebenarnya masih tersisa 3 kamar, tetapi rombongan Ki Bayu sekarang ada 7 orang, jadi sepertinya tidak bisa menginap di sini,” jawab pelayan itu.


“Ya sudah! Aku ambil ketiga kamar itu,” ucap Bayusena.


“Kalian berdua satu kamar! Kalian bertiga juga satu kamar, sedangkan aku berdua sekamar dengan tuan muda,” ucap Bayusena membagi kamar kepada lima orang muridnya.


Nagini dan Bidara merasa tertarik setelah melihat wajah Aria, tetapi mereka tak bisa mendekat, karena pemuda itu selalu bersama dengan kakak pertama dan guru mereka.


Setelah membagi kamar, Bayusena lalu mengajak Aria makan di ruangan depan. Supaya Bayusena bisa melihat siapa saja yang datang ke penginapan atau desa Samiloto.


“Mana makanannya? Tanya Aria setelah duduk lama, tetapi tidak mencium bau makanan, apalagi perutnya saat ini sudah terasa lapar.


“Kalau mau makan enak, lebih baik nanti kita jalan ke hutan, kalau di sini! Makan saja apa yang ada di meja,” Ucap Bayusena sambil mendorong wadah yang berisi ubi rebus ke depan Aria.


“Ketua tidak ada uang, ya? Tanya Aria.


“Kalau aku ada uang, untuk apa aku membubarkan padepokan Bayugeni,” jawab Bayusena dengan nada sedikit emosi.

__ADS_1


Baru saja mereka bercakap-cakap, masuk seorang pria paruh baya, di kawal oleh beberapa tukang pukul yang mengawal pria itu.


Melihat orang yang datang, Bayusena serta kelima muridnya langsung menunduk.


“Masa kamar sudah habis! Memangnya kalian tidak kenal siapa aku? Tanya orang itu.


“Tentu saja kami kenal, juragan adalah pelanggan setia penginapan, tadi memang ada 3 kamar yang tersisa, tetapi sudah diambil oleh ketua Bayusena,” jawab sang pelayan.


“Bayusena! Dimana dia sekarang? Tanya pria paruh baya itu.


“Mereka duduk di samping kanan pintu masuk! Seru si pelayan.


Bayusena dengan senyum di paksakan, lalu tangannya melambai ke arah pria paruh baya yang tak lain adalah juragan Sukir.


Juragan Sukir melihat lambaian tangan Bayusena mencibir, kemudian menghampiri.


“Kapan kau membayar hutangmu? Tanya Juragan Sukir sambil bertolak pinggang.


“Juragan tenang saja! Guru akan membayar semua hutang, kepada juragan Sukir,” jawab Nagini.


Phuih!


“Tentu saja harus bayar, kalau tidak! Kalian berdua yang akan menjadi jaminan, sebelum guru kalian melunasi hutangnya,” balas Juragan Sukir, sambil matanya menjelajah ke arah tubuh Nagini dan Bidara.


“Tidak….tidak mau, enak saja! Juragan pikir, kami ini barang? Ucap Bidara sambil cemberut.


“Kau pikir 4000 keping uang emas jumlah yang sedikit? Kalau gurumu membayar hutangnya, aku tidak butuh kalian berdua! Karena aku bisa membeli puluhan wanita yang lebih cantik dari kalian,” jawab Juragan Sukir, sambil mencibir ke arah Bidara.


“Juragan tenang saja! Tuan muda ini akan membayar kami, setelah kami mempertemukan tuan muda ini dengan keluarganya,” ucap Bayusena sambil menunjuk ke arah Aria.


Juragan Sukir kerutkan kening, lalu menatap Aria yang memakai caping.


“Memangnya dia siapa dan berani membayar berapa? Tanya Juragan Sukir.


“Tuan muda berani membayar 5000 keping uang emas, jika kami berhasil menemukan keluarganya,” jawab Bayusena.


Hmm!


“Siapa keluarga tuan ini? Tanya Juragan Sukir.


“Juragan Wangsa dari kota Wengker? Tanya Juragan Sukir sambil keningnya berkerut.


“Aku belum pernah mendengar nama juragan Wangsa, di kota Wengker,” jawab Sukir.


Bayusena tertegun mendengar perkataan Juragan Sukir, begitupula dengan kelima muridnya.


“Juragan jangan membual! Seru Bayusena.


“Kau pikir aku membual? Aku ini salah satu orang yang sering berdagang di kota Wengker, belum pernah aku dengar ada juragan bernama Wangsa, namanya saja baru ku dengar sekarang,” Sukir berkata.


Mendengar perkataan juaragan Sukir, Aria lalu berdiri, kemudian berkata kepada Bayusena.


“Ketua! Lebih baik kita ke kamar, istirahat,”


“Tunggu dulu! Kau takut bualanmu akan terkuak, bukan? Tanya Sukir dengan nada tinggi.


Sambil memberi isyarat kepada tukang pukul bayarannya untuk menahan Aria.


Salah seorang tukang pukul, setelah mendapat isyarat Sukir, kemudian tangannya menahan bahu Aria, sedangkan yang lain langsung berdiri mengitari tempat duduk Bayusena serta kelima muridnya.


Aria mendengus setelah bahunya di cekal, tetapi Aria belum mau bertindak, karena di penginapan sedang ramai.


Orang yang sedang duduk sambil menikmati hidangan langsung menoleh, karena keributan yang di timbulkan oleh juragan Sukir.


Bayusena serta kelima murid mulai meragukan perkataan Aria, karena Bayusena tahu Sukir memang sering berdagang sampai jauh.


“Tuan muda! Apa benar yang dikatakan oleh juragan Sukir? Tanya Bayusena.


“Tuan muda! Tolong beritahu kami jika memang benar apa yang dikatakan oleh juragan Sukir? Tanya Bayusena, kali ini sambil menatap Aria dengan tatapan dingin.


“Ketua! Benar atau tidak ucapanku, ketua hanya mengantarku dan aku akan membayar ketua, jadi menurutku tidak ada yang di rugikan,” jawab Aria.


Ha Ha Ha


“Kalau kebohongan mulai terungkap, pasti yang berbohong akan cemas,” Juragan Sukir setelah tertawa lalu berkata.

__ADS_1


“Cepat katakan siapa kau sebenarnya dan Apa maksudmu menipu Bayusena? Tanya Juragan Sukir.


“Aku hanya seorang buta yang ingin bertemu dengan keluargaku,” ucap Aria.


“Buta….jadi kau buta? Tanya Juragan Sukir.


“Hebat! Seorang pemimpin padepokan bisa di perdaya oleh orang buta.


Sebenarnya yang pintar si buta atau yang bodoh adalah si ketua padepokan? Tanya Juragan Sukir.


Wajah Bayusena berubah kelam mendengar perkataan Juragan Sukir, di desa Samiloto, Bayusena cukup di kenal jadi perkataan juragan Sukir membuat, Bayusena malu.


“Tuan Muda! Perjanjian kita batal,” ucap Bayusena sambil menatap dingin.


“Entah apa tujuanmu! Tetapi aku tidak Suka di bohongi,” lanjut perkataan Bayusena dengan wajah dingin.


Tukang pukul bayaran juragan Sukir melepaskan cekalan setelah di beri isyarat.


“Bayusena! Kau tak usah melunasi hutangmu padaku, tetapi dengan syarat kau harus menjadi pengawalku, bagaimana? Tanya Juragan Sukir.


“Guru….jangan mau bekerja dengan orang licik itu! Coba guru lihat, kantong uang yang ada di pinggang juragan Sukir adalah kantong mutiara yang pernah hilang sewaktu kami kawal,” ucap Nagini.


Nagini sewaktu mengawal kotak barang berharga sudah di pesan jangan membuka, tetapi ia penasaran lalu mengintip isi kotak, setelah tahu kotak berisi kantung yang di dalamnya permata, Nagini terkejut.


Kini Nagini melihat kantung uang tergantung di pinggang juragan Sukir, membuat gadis itu curiga.


“Apa maksudmu? Tanya Bayusena.


“Dia adalah maling barangnya sendiri, lalu meminta ganti rugi kepada guru,” jawab Nagini.


“Sukir! Apa benar yang dikatakan oleh muridku ini?


Phuih!


“Sudah menghilangkan barangku! Masih saja kau banyak alasan,” balas juragan Sukir.


Ke empat murid Bayusena langsung berdiri mendengar perkataan Nagini.


“Apa benar yang di katakan adik ketiga? Tanya murid pertama dari Bayusena.


“Aku tidak salah lihat kakang! Itu memang kantong uang yang ada di dalam kotak yang kita kawal,” jawab Nagini.


Hmm!


“Sukir! Kita bersahabat, tak kusangka hatimu licik dan ingin menusuk ku dari belakang,” Bayusena berkata dengan nada dingin.


“Bayusena! Serahkan padepokan Bayugeni padaku, dan semua hutang mu ku anggap lunas,” balas juragan Sukir sambil tersenyum licik.


Tangan Bayusena bergerak menghantam ke arah kepala, tetapi seorang tukang pukul bayaran menangkis hantaman Bayusena.


Plak!


Bayusena mundur saat merasakan tangannya panas, setelah beradu dengan pengawal juragan Sukir.


“Bayusena! Lebih baik kau turuti saja ke inginanku, kau tidak akan menang melawan sepasang pendekar bukit tengkorak,” ucap juragan Sukir sambil tersenyum sinis.


Sepasang pendekar bukit tengkorak sangat terkenal akan kekejamannya, tetapi setahu Bayusena, mereka tidak pernah bekerja kepada orang lain.


Seorang pria tua yang dari tadi duduk mendengarkan, lalu berdiri.


“Bayusena! Biar aku yang hadapi sepasang pendekar bukit tengkorak, kau habisi saja juragan Sukir.


Setelah memperhatikan kakek yang berkata kepadanya.


Bayusena langsung memberi hormat.


“Tidak kusangka bisa bertemu dengan Resi Jayaprana, penguasa gunung Batok di tempat ini,” ucap Bayusena.


Aria kerutkan kening mendengar nama Resi Jayaprana dan berusaha mengingat ingat.


“Sepertinya aku pernah mendengar nama resi ini! Tapi dimana? Batin Aria.


“Aku terpaksa turun dari gunung batok, mencari kedua muridku yang belum juga kembali.


“Rama dan Anjani”

__ADS_1


__ADS_2