
Buto Ijo yang sangat khawatir setelah mengetahui Aria jatuh ke jurang, di bantu oleh puluhan orang dari padepokan Jagawana kembali ke goa sambil membawa obor dan tali panjang.
Selama perjalanan menuju ke goa, Buto Ijo terus memarahi Ki Bayan yang dianggapnya sebagai orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya Aria kedalam jurang.
“Kalau kau belum pernah kesana, jangan beritahu jalan,” ucap Buto Ijo dengan nada gusar.
“Tuan Buto dengar sendiri, aku sudah memberitahu tuan Aria sewaktu hendak masuk, bahwa aku belum pernah lewat jalan ini,” balas Ki Bayan.
Surajaya tak berani dekat dengan Buto Ijo, karena ia tahu, raksasa berkulit hijau itu tak suka padanya.
Sedangkan Anjani selalu berkata sabar kepada Buto Ijo, yang terlihat sangat cemas, hanya Anjani dan Rama yang tidak kena semprot Buto Ijo, karena kedua muda mudi itu sudah baik padanya dan Aria ketika mereka bertemu.
Setelah sampai dan melihat goa tidak tertutup, Ki Bayan lalu berkata.
“Kenapa tidak tuan tutup lagi goa itu dengan batu?
“Diam kau! Tunjuk Buto Ijo sambil matanya melotot, menatap ke arah Ki Bayan.
“Kalau kau banyak bacot! Bukan goa itu yang aku tutup, tapi usiamu,” lanjut perkataan Buto Ijo dengan nada gusar.
Ki Bayan langsung diam setelah di bentak oleh Buto Ijo.
Anak murid padepokan jagawana di perintahkan untuk berjaga di depan goa.
Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya serta Rama dan Anjani masuk ke dalam goa bersama Buto Ijo, puluhan batang obor mereka bawa untuk persiapan, serta gulungan tali di bawa Jalak Ireng.
Buto Ijo memimpin jalan menuju jalan yang pernah ia lalui bersama Aria.
Perlahan mereka bergerak, setelah sampai di pintu kedua. Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya serta kedua saudara kembar, terpaku melihat jalan menanjak yang kiri kanannya jurang, Buto Ijo terus melangkah menyusuri jalan setapak.
Rama dan Anjani tanpa berpikir langsung mengikuti di belakang Buto Ijo, sedangkan Ki Bayan dan Jalak Ireng saling pandang melihat jalan setapak yang cukup ekstrem di dalam goa dan akhirnya mengikuti di belakang Rama dan Anjani.
6 batang botor menerangi jalan yang di lalui oleh rombongan yang di pimpin oleh Buto Ijo.
Buto Ijo yang melihat jalan setelah di terangi obor, hatinya bergidig setelah melihat jurang yang dasarnya tak terlihat.
Setelah mengira ngira tempat sewaktu di serang oleh ribuan kelelawar, Buto Ijo berhenti.
“Apa di sini tempatnya? Tanya Rama.
“Benar! Kami di serang oleh ribuan kelelawar di sini,” jawab Buto Ijo.
Rama kerutkan kening, setahu Rama, kelelawar tidak akan menyerang tanpa sebab.
__ADS_1
Setelah Rama melihat banyak bekas kue berserakan di tempat mereka berdiri.
“Apa tuan Jo sewaktu jalan sambil memakan kue? Tanya Rama.
“Aku tidak! Karena sedang menggendong Raden, Suketi yang makan kue.
“Apa kelelawar itu menyerang Suketi? Tanya Rama.
Buto Ijo anggukan kepala.
“Jadi kera yang ada di bahumu yang menyebab kan kelelawar menyerang tuan Aria? Surajaya berkata.
Suketi yang mendengar perkataan Surajaya, langsung melemparkan sisa kue yang sedang ia makan ke arah wajah Surajaya.
Plak!
“Monyet keparat! Teriak Surajaya, sambil tangannya menyambar ke arah Suketi.
Tap!
“Mau apa kau? Tanya Buto Ijo sambil menatap tajam.
“Kera ini kurang ajar padaku! Aku akan memberi pelajaran padanya,” ucap Surajaya.
“Sebelum memberi pelajaran kepada calon istri ku, kau dulu yang harus di beri pelajaran,” ucap Buto Ijo sambil tangan kirinya menghantam kepala Surajaya.
Tak ada suara jeritan Surajaya, saat kepala Surajaya pecah dan tubuhnya melayang jatuh ke jurang.
“Kau….kau! Kenapa membunuh kawanku? Tanya Ki Bayan bersiap.
“Kau juga ingin mati di sini? Tanya Buto Ijo sambil kakinya men jejak lantai batu.
Brak….Krek….Krek!
Semua yang berdiri di batu terkejut, hantaman kaki Buto Ijo ke lantai di susul, oleh suara retakan batu yang sedang mereka injak.
Rama dan Anjani terkejut, apalagi saat melihat retakan batu, perlahan mulai bergerak bertambah besar, dan sedikit demi sedikit serpihan lantai batu mulai berjatuhan kedalam jurang.
“Lari….! Teriak Rama sambil menarik tangan Anjani.
Rama dan adiknya melesat, begitu pula dengan Ki Bayan dan Jalak Ireng, sementara Buto Ijo yang menyadari kesalahannya, sebelum retakan sampai di tempatnya, terus teriak memanggil Aria.
Akhirnya Buto Ijo melesat mengikuti yang lain, setelah Suketi terus menjerit sambil menarik narik telinga Buto Ijo.
__ADS_1
Rama dan Anjani, Ki Bayan serta Jalak Ireng melihat lantai batu perlahan lenyap, sedangkan Buto ijo menatap dengan tatapan kosong.
Teriakan menggelegar terdengar dari mulut Buto ijo.
Tanpa memperdulikan yang lain, Buto Ijo melesat kembali keluar, dua orang anggota padepokan Jagawana yang sedang menjaga di pintu goa mengalangi lari Buto Ijo langsung di hantam.
Prak….Krek!
Tak ada suara jeritan, setelah kepala dan dada hancur dari kedua murid padepokan Jagawana.
Setelah membunuh dua murid padepokan jagawana, Buto Ijo menendang Batu penutup goa hingga hancur berkeping keping, pohon yang ia lewati langsung di hantam hingga tumbang.
Untuk mengurangi kekesalan dan kesedihan hatinya, Buto Ijo terus berlari sambil naik ke puncak Semeru.
Pohon dan batu sepanjang jalan dimana Buto Ijo berlari menuju ke puncak Semeru tumbang dan hancur terkena hantaman kedua tangannya.
Tak ada suara keluar dari mulut Suketi, kera kecil itu tahu kekesalan hati sang calon suami.
Suketi juga sangat menyesal, butiran air mata menetes dari kedua matanya yang mungil, bila teringat kejadian Aria jatuh ke jurang, karena kecerobohannya.
Setelah sampai di puncak gunung Semeru.
Buto Ijo terus berlari mengelilingi puncak Semeru, bajunya sudah sobek di beberapa bagian, terkena ranting pohon sewaktu berlari.
Bret!
Setelah merobek bajunya, Kini Buto Ijo hanya memakai celana sebatas betis, dengan kalung batu berwarna hijau di dada, terus berteriak memanggil mangil Aria Pilong.
Ki Bayan yang cemas setelah melihat Buto Ijo seperti orang gila dan sudah menewaskan 2 orang muridnya, segera mengungsikan murid-muridnya yang lain dan mengosongkan padepokan Jagawana, mengungsi untuk sementara.
Rama dan Anjani kembali ke tempat gurunya, untuk melaporkan yang terjadi di padepokan Jagawana dan gunung Semeru.
Sementara itu di alam yang berbeda, senyum tampak di bibir Resi Lanang jagad, melihat Buto Ijo yang cemas mencari sang tuan.
Sambil menarik napas panjang, Resi Lanang jagad dalam hati memuji kesetiaan anak Naga hijau terhadap Aria Pilong.
Resi Lanang jagad dari alamnya menyentil kan jari telunjuk, ke arah Buto Ijo yang sedang berdiri di puncak gunung Semeru.
Satu sinar hijau entah darimana datangnya tiba-tiba menghantam Buto Ijo, sehingga sang raksasa langsung terkapar tak sadarkan diri.
Resi Lanang Jagad tersenyum.
“Untuk kesetiaanmu, ku berikan kau ilmu tiban, kelak ilmu yang kuberikan akan menambah daya hancur pukulan dan menambah tenagamu tanpa kau sadari.
__ADS_1
Ajian ini sangat cocok dengan Buto ijo yang mengandalkan tenaga dan kekebalan tubuh, dahulu orang menyebutnya.
“Ajian Brajamusti”