
“Enteng sekali bicaramu kisanak! Apa kau tidak kenal dengan Ronojiwo serta Suto Abang? Sepasang Dedemit gunung Wilis,” Tanya Ronojiwo.
Phuih!
“Kalau Dedemit, ya di mana mana tetap Dedemit! Kalau hanya jadi Dedemit di gunung Wilis, kau ini Dedemit macam apa? Buto Ijo membalas perkataan Ronojiwo.
“Bangsat! Rupanya kau memang cari mati,” ucap Ronojiwo mendengar perkataan Buto Ijo yang sepertinya meledek mereka.
Salah seorang anak buah Ronojiwo yang berada di dekat Buto Ijo, langsung menghantam ke arah kepala, karena tidak sabar sang ketua terus saja mengajak bicara orang yang telah membunuh Gendo.
Plak!
Kepala Buto Ijo sampai bergerak ke kanan, setelah terkena hantaman anak buah Ronojiwo, caping Buto Ijo juga terpental, saking kerasnya hantaman.
Ronojiwo tersenyum mengejek sambil menatap Buto Ijo.
“Kupikir pendekar hebat, di serang oleh anak buahku saja, tak bisa menghindar,” ucap Ronojiwo sambil menatap Buto Ijo yang sedang mengambil capingnya di tanah.
Setelah mengambil caping dan melihat capingnya rusak.
Buto Ijo langsung membanting capingnya ke tanah.
Setelah membanting caping, Buto Ijo melesat ke arah orang yang memukul, kemudian kepalan tangan Buto Ijo langsung menghantam ke arah kepala orang itu.
Prak!
Anak buah Ronojiwo sama sekali tak menyangka dirinya akan di serang, langsung ambruk ke tanah dengan kepala pecah.
“Keparat! Rupanya kau ingin mampus,” teriak Ronojiwo sambil menghantam punggung Buto Ijo yang tengah membelakangi dirinya.
Buk!
Buto Ijo terhuyung beberapa langkah kedepan terkena hantaman Ronojiwo.
Ronojiwo terkejut, setelah melihat musuh yang ia hantam hanya terhuyung.
“Siapa orang ini! Seharusnya tulang belakang orang itu patah setelah ku hantam, tetapi sepertinya orang itu tidak terluka,” batin Ronojiwo.
Suto Abang juga terkejut melihat yang terjadi di depan matanya, kemudian mencabut golok besar dan bersiap.
Buto Ijo setelah terhuyung amarahnya memuncak, tubuhnya berbalik, lalu kepalan tangan menghantam ke arah dada Ronojiwo.
Plak!
Ronojiwo menangkis tinju Buto Ijo dengan telapak tangan.
Keduanya lalu berdiri berhadapan.
“Kau….kau Buto Ijo? Tanya Ronojiwo setelah melihat jelas wajah Buto Ijo, dengan kulit wajahnya yang berwarna hijau, begitu pula dengan Suto Abang yang sama terkejut dengan kakak seperguruannya, setelah tahu orang yang mereka hadapi adalah Buto Ijo.
Begitu pula anak buah Ronojiwo dan Suto Abang, mendengar nama Buto Ijo, kaki mereka tanpa di suruh, mundur satu langkah menjauh.
Buto Ijo menyeringai setelah namanya di sebut.
“Kalau kau kenal aku, lebih enak buatku untuk membunuhmu,” ucap Buto Ijo dengan nada dingin.
“Tunggu dulu! Kita adalah orang se aliran, salah paham ini lebih baik kita sudahi saja,” ucap Ronojiwo sambil memberi isyarat kepada Suto Abang agar menyimpan goloknya.
“Sudah 2 kali tubuhku terkena pukulan, enak saja kau bicara, sudahi,” balas Buto Ijo.
Setelah berkata, Buto Ijo langsung menghantam ke arah dada Ronojiwo.
Ronojiwo sudah bersiap, ketika mendapat serangan, tubuhnya bergerak mundur menjauh, tetapi Buto Ijo tidak tinggal diam, tubuhnya bergerak dan terus memburu Ronojiwo.
__ADS_1
Suto Abang tidak tinggal diam melihat kakaknya di serang, tubuhnya melesat ke arah Buto Ijo, kemudian golok besarnya membacok punggung Buto Ijo.
Whut!
Buto Ijo merasakan angin dingin menuju ke arah ke punggung langsung bergerak ke arah kiri.
Whut!
Setelah berhasil menghindar, Buto Ijo balik menghantam pinggang Suto Abang.
Suto Abang yang pinggangnya terancam, lalu menangkis serangan Buto Ijo dengan telapak kiri, yang sudah di aliri ajian Bayu Abang.
Blar!
Suto Abang mundur satu langkah, setelah beradu tenaga.
Buto Ijo melihat musuh terdorong mundur, kemudian terus mendesak ke arah Suto Abang.
Suto Abang mengetahui Aji Bayu Abang tidak berpengaruh terhadap Buto Ijo, raut wajah Suto Abang tampak cemas.
Tetapi Ronojiwo tidak tinggal diam, setelah melihat adik seperguruannya di desak oleh Buto Ijo.
Anak buah sepasang Dedemit gunung Wilis, tidak berani maju karena belum ada perintah dari ketua mereka, semuanya hanya bisa menatap ketua mereka bertempur menghadapi Buto Ijo.
Di tempat lain.
Wulan berjalan mondar mandir di depan Aria, menunggu kedatangan Buto Ijo.
“Kemana sih mencari kayu bakarnya? dari tadi belum juga kembali,” ucap Wulan.
“Nanti juga kembali, mungkin sedang mencari makan malam untuk kita,” Aria membalas perkataan Wulan.
Belum lama Aria berkata, telinganya mendengar suara benturan serta teriakan.
“Ada apa kang Aria? Tanya Wulan melihat Aria berdiri.
“Sepertinya ada suara orang yang sedang bertempur,” jawab Aria.
Wulan berusaha menajamkan telinganya mendengar perkataan Aria, tetapi telinganya tidak mendengar apapun.
“Aku tidak dengar suara apa-apa,” ucap Wulan.
Semakin Aria memusatkan pikirannya, semakin kencang suara yang ia dengar, dan suara itu tak lain adalah suara Buto Ijo.
“Kau tuntun aku ke sana! Yang sedang bertempur adalah Buto Ijo,” ucap Aria.
Wulan terkejut mendengar perkataan Aria, lalu gadis itu memegang tangan Aria dan membawa Aria ke tempat asal suara yang di dengar oleh pemuda itu.
Buto Ijo mengamuk menghadapi kedua tokoh golongan hitam yang di segani di sekitar gunung Wilis.
Darah tampak mengucur di beberapa bagian tubuh Buto Ijo, begitu pula dengan baju yang ia pakai, robek terkena sabetan golok Suto Abang.
“Lebih baik kau menyerah, dan menjadi anak buah kami, kami akan menyediakan apapun yang kau minta jika kau mau menjadi anak buah kami,” ucap Ronojiwo di sela-sela pertempuran.
Tetapi perkataan Ronojiwo tak di tanggapi, malah serangan Buto Ijo semakin ganas dan tak beraturan, apa saja yang ada di dekatnya ia hantam.
“Lebih baik kita bunuh saja kakang! Daripada nantinya jadi masalah,” ucap Suto Abang setelah goloknya berhasil melukai Buto Ijo yang terkenal kebal terhadap pukulan.
Buto Ijo merobek pakaian yang ia pakai, lalu membuang pakaiannya ke tanah, luka bekas sayatan di tubuh Buto Ijo akibat golok Suto Abang, terlihat setelah Buto Ijo melepaskan baju.
Buto Ijo meludahi kedua tangan, kemudian mengusap luka bekas bacokan Suto Abang dengan tangannya.
Luka bacokan di tubuh Buto Ijo setelah di usap dengan tangan yang di beri air ludah, perlahan mulai menutup, darah langsung berhenti mengalir, kejadian yang mereka saksikan membuat keduanya terkejut.
__ADS_1
“Ternyata memang benar kata orang, Iblis ini tidak saja kebal pukulan, tetapi senjata tajam sepertinya juga tidak berarti terhadap tubuh Buto Ijo,” batin Ronojiwo mulai cemas.
Saat keduanya tengah bingung, bagaimana cara menghadapi musuh yang kebal terhadap pukulan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara geraman dari berbagai sudut.
Dalam gelapnya malam, puluhan titik mata yang menyorot tajam dan tampak berkilat, terlihat di berbagai sudut hutan, puluhan titik mata itu perlahan bergerak mendekat.
Ronojiwo melihat puluhan titik mata, lalu berbisik kepada Suto Abang.
“Mari kita menyingkir! Anak buah Ki Loreng geni sedang mendekat ke arah kita,” bisik Ronojiwo kepada adik seperguruannya.
Suto Abang yang melihat sinar tajam yang keluar dari puluhan pasang mata, langsung anggukan kepala mendengar perkataan sang kakak.
Ronojiwo setelah memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur, ia bersama sang adik perlahan menjauh dari Buto Ijo.
Buto Ijo melihat musuhnya berusaha menjauh, terus mengejar.
Buto Ijo bergerak ke arah Suto Abang yang lebih dekat dengannya.
Kepalan tangannya menghantam ke arah Suto Abang.
Tetapi sebelum tangannya sampai ke tubuh Suto abang, se ekor mahluk berwarna hitam menerkam ke arah Buto Ijo.
Crep!
Gigi taring mahluk itu menancap di bahu Buto Ijo.
Buto Ijo setelah dirinya di terkam dan di gigit mahluk jadi-jadian, berupa Harimau berwarna hitam.
Langsung memeluk perut Harimau, kemudian keduanya berguling di tanah.
Setelah posisi Buto Ijo berada di atas tubuh Harimau jadi-jadian, Buto Ijo langsung menghantam kepala Harimau tersebut.
Prak!
Kepala Harimau hancur terkena hantaman Buto Ijo, tubuh Harimau perlahan memudar dan menjadi debu hitam.
Puluhan Harimau ghaib melihat kawan mereka tewas, langsung loncat menerkam ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo silangkan Kedua tangan di depan kepala, berusaha melindungi kepala dan matanya dari terkaman Harimau jadi-jadian.
Buk….Buk….Buk!
Suara hantaman terdengar, Buto Ijo turunkan tangannya setelah merasakan tak ada Harimau yang menyerang
Setelah kedua tangan yang menyilang di depan kepala, turun.
Buto Ijo melihat Aria berdiri di depannya sambil memegang tongkat, sementara di depan Aria, tampak tiga Harimau tergeletak di tanah akibat hantaman tongkat Pemuda itu.
Puluhan Harimau menatap tajam ke arah Aria yang telah melukai tiga kawan mereka.
“Raden! Biar aku saja yang hadapi mereka semua,” ucap Buto Ijo setelah melihat Aria berdiri di depannya.
“Kau lihat dan diam,” balas Aria.
Setelah berkata kepada Buto Ijo, Aria teriak kencang.
“Ki Loreng geni! Sebaiknya kau tunjukan diri, sebelum ku habisi semua anak buahmu.” Teriak Aria.
Buto Ijo mendengar perkataan Aria yang menyuruh Ki Loreng geni tunjukan diri, keningnya berkerut, tetapi tak lama kemudian senyum terlihat di bibir Buto Ijo yang tengah menatap Aria.
Buto Ijo memegang tangan Aria, lalu berkata kepada pemuda itu.
__ADS_1
“Ternyata Raden sudah bisa melihat.”