
Bahu Rekso, Serigala hitam serta kelelawar hantu langsung berdiri, setelah Nyi Rondo mayit pingsan.
“Mau apa kalian? Tanya Buto Ijo.
“Tahan! Teriak Senopati Singalodra.
Ketiga orang ketua Tangan Hitam, diam mendengar seruan Senopati Singalodra, sementara si gadis yang bersama panglima Sanjaya, melirik ke arah Aria.
“Tuan Aria! Kami dari Kahuripan sangat menghargai seseorang yang mempunyai kepandaian, jika tuan Aria mau bergabung dengan kami, Kahuripan sangat senang, kami tidak akan mengecewakan tuan Aria.
Ha Ha Ha
“Kalau tuan Aria mau, kami dari Galuh juga tidak keberatan jika tuan Aria mau bergabung,” Panglima Sanjaya berkata.
“Maaf aku tidak pernah bekerja kepada siapapun dan tidak berminat bergabung dengan kerajaan,” balas Aria.
Senopati menarik napas mendengar perkataan Aria, kemudian berkata.
“Kalau begitu maaf, kami tidak bisa membiarkan tuan keluar dari tempat ini, setelah tuan mendengar percakapan kami,” Senopati Singalodra berkata.
“Kau mampu menahan ku? Tanya Aria dengan nada dingin.
“Kita lihat saja! Benar begitu panglima Sanjaya? Tanya Senopati Singalodra.
“Kita belum bekerja sama,” balas Sanjaya mendengar perkataan Senopati Singalodra, “tapi memang aku penasaran dengan tuan Aria, terutama wajahnya,” lanjut perkataan Sanjaya.
Ha Ha Ha
“Raden duduk saja, biar Buto Ijo yang bereskan mereka semua,” Buto Ijo berkata sambil tertawa, mendengar perkataan mereka yang penasaran kepada Aria.
“Hati-hati suami! apalagi terhadap orang-orang dari tanah Pasundan,” Nyi Selasih berkata.
“Kau tenang saja, aku bisa menghadapi mereka,” Aria menjawab kekhawatiran Nyi Selasih.
“Mari kita berkelahi di luar, di sini susah bergerak,” ucap Buto Ijo, sambil melesat keluar ruangan, di ikuti oleh Serigala hitam, Lowo Ireng dan Bahurekso, sementara Aria mengikuti sambil membawa tongkatnya.
Kini panglima Sanjaya serta Senopati Singalodra baru percaya Aria buta, setelah melihat pemuda itu jalan sambil di bantu tongkatnya.
Buto Ijo berdiri sementara di depannya sudah siap 3 orang berpakaian hitam.
“Adi Buto Ijo! Apa benar kau ingin membunuh kami? Kita ini adalah saudara,” ucap Bahurekso.
“Saudara itu menurut kalian, tetapi aku tidak merasa mempunyai saudara seperti kalian,” Buto Ijo membalas perkataan Bahurekso.
“Sudahlah kakang! Jangan banyak basa basi dengan orang yang tidak kenal budi,” Serigala hitam berkata.
Mendengar perkataan ketiga ketua padepokan tangan hitam, Aria lalu maju mendekati Buto Ijo.
“Kau mundur, biar aku yang hadapi mereka! Aku tidak mau kawanku di sebut orang yang tidak kenal budi dan memukul saudaranya sendiri,” ucap Aria.
Mata Buto Ijo melotot ke arah Serigala hitam, tetapi akhirnya mundur setelah mendengar perkataan Aria.
Kini Aria berdiri di tengah kepungan tiga ketua padepokan tangan hitam.
Aria angkat tongkatnya di depan dada, sementara tangan kirinya melambai ke arah ketiga ketua tangan hitam.
“Maju semua! Biar aku bisa menghemat tenaga,” ucap Aria dengan nada dingin.
“Sombong!? Teriak Serigala hitam dengan nada gusar sambil melesat ke arah Aria, tangannya menyambar perut.
Aria angkat tongkatnya menangkis serangan Serigala hitam.
Plak!
Setelah berhasil menangkis, tongkat berputar, kemudian ujung tongkat Aria balas menusuk ke arah bahu Serigala hitam.
Serigala hitam terkejut melihat tongkat Aria langsung balik menyerang, setelah berhasil menangkis.
Serigala hitam mundur se tombak menghindari serangan Aria.
Whut!
Dari sisi kanan, satu tangan menyambar ke arah kepala dengan kecepatan tinggi.
Lowo Ireng mulai ikut menyerang, tetapi gerakan Lowo Ireng yang menimbulkan suara, sangat mudah di hindari oleh Aria.
Tubuh Aria sedikit membungkuk, setelah sambaran Lowo Ireng lewat, tongkat Aria kemudian menebas kaki Lowo Ireng.
Lowo Ireng melentingkan tubuhnya, menghindari serangan tongkat Aria.
__ADS_1
Ketika Aria menunggu turun, tetapi ia tidak mendengar Lowo ireng turun, karena Lowo ireng kini berada di udara seperti terbang karena jubah terbuat dari kulit yang ia milikki, jubah yang bisa menyimpan dan mengeluarkan udara, sehingga Lowo Ireng seperti bisa mengambang di udara.
“Bangsat! kemana perginya orang itu? Batin Aria yang tidak mendengar suara gerakan Lowo Ireng.
Melihat Aria seperti orang bingung, Serigala hitam bergerak, kedua tangan menyambar ke arah kepala, seperti se ekor serigala yang tengah menerkam mangsa.
Aria memutar tongkat mendengar suara angin menuju ke arahnya.
Tak….tak!
Suara tangan Serigala hitam terdengar ketika menghantam tongkat.
Perlahan tangan kiri Aria mulai merah, mengantung pukulan, Aji Mawa geni.
Saat serangannya berhasil di tangkis, Serigala hitam mundur, tetapi Aria yang mendengar suara gesekan baju Serigala hitam yang terkena angin, sudah cukup bagi Aria untuk mengetahui tempat musuhnya.
Aria melesat menghantam dada serigala hitam, Serigala hitam terkejut, kemudian jatuhkan diri sambil berguling.
Tangan kiri Aria yang mengandung ajian Mawa geni menghantam pohon yang ada di belakang Serigala hitam.
Blam!
Pohon besar itu langsung berderak, batang tengah yang terkena hantaman Aria hancur terbakar, tak lama kemudian pohon besar tumbang, menimbulkan suara riuh.
Melihat dan mendengar suara pohon besar tumbang, serta Aria yang tengah berusaha mendengarkan pergerakan musuhnya.
Hmm!
“Ini bukan saat yang tepat buat pendekar buta,” Sanjaya berkata dalam hati, apalagi setelah melihat perlahan Lowo Ireng mulai turun mendekati Aria.
“Kenapa Buto Ijo tidak berusaha melindungi majikannya yang berada dalam bahaya,” batin Sanjaya melihat Lowo Ireng semakin dekat.
Lowo Ireng menyeringai tangan kanannya siap menghantam ke arah kepala Aria.
Tetapi Aria berbalik, sorot matanya tajam melihat aura yang terpancar keluar dari tubuh Lowo Ireng.
“Kau pikir mudah membokongku! Ucap Aria dengan nada dingin, sambil tongkatnya menyabet ke arah perut Lowo Ireng yang hendak menyerang.
Whut!
Lowo Ireng terkejut, tubuhnya melesat mundur, menghindari sabetan tongkat Aria.
Dengan kekuatan penuh Lowo Ireng berusaha menghindar, tetapi jarak Lowo Ireng sudah di hitung oleh Aria.
Lowo Ireng berusaha bergerak, tetapi tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak.
“Awas! Dia di belakangmu kakang Lowo,” teriak Serigala hitam.
Tetapi teriakan Serigala hitam terlambat, Lowo Ireng merasakan punggungnya panas, tubuhnya langsung terpental dan dari mulutnya menyembur darah segar.
Hoaks!
“Aku masih ada hati karena kau pernah bersama Buto Ijo, kalau tidak! Sudah ku hancurkan tubuhmu,” ucap Aria dengan nada dingin.
Serigala hitam untuk sementara tidak berani bergerak, sementara Bahurekso berusaha menolong Lowo Ireng, yang tergeletak tak sadarkan diri.
“Siapa lagi yang ingin mencoba orang buta? Tanya Aria.
“Aku! Terdengar suara lembut seorang gadis.
Panglima Sanjaya tersenyum mendengar perkataan putrinya, baru kali ini Sekar Arum mau mencoba kepandaian seseorang, tanpa di perintah olehnya.
“Silahkan mulai Raden! Sekar Arum berkata.
“Silahkan wanita lebih dulu,” balas Aria.
“Awas caping! Teriak Sekar Arum, sambil melesat.
Gerakan gadis itu sangat cepat, Buto Ijo sampai terkejut melihat kecepatan gerak Sekar Arum, sedangkan Panglima Sanjaya tersenyum melihat gerak putrinya.
Aria yang sama sekali tak menyangka dan mengganggap remeh gadis yang bersamanya di dalam kereta, tidak bisa menghindar.
Plak!
Capingnya terpental, terkena tamparan tangan Sekar Arum.
Wajah Aria terlihat oleh mereka yang berada di tempat itu.
Cis!
__ADS_1
“Ku pikir hebat! Ternyata hanya segitu saja,” ucap Sekar Arum dengan suara penuh ejekan.
Raut wajah Aria mulai berubah kelam setelah capingnya terlepas, tanpa ia bisa menghindar.
“Mau di teruskan atau kau mengaku kalah? Tanya Sekar Arum, sambil duduk di atas batu besar.
Ha Ha Ha
“Sepertinya dia sedang bingung, sehingga tidak bisa bicara, adik sekar,” Senopati Singalodra yang diam-diam jatuh hati melihat kecantikan Sekar Arum berkata, sambil tertawa mengejek Aria Pilong.
Raut wajah Aria Pilong semakin kelam mendengar ejekan musuh di sekitarnya.
“Buto Ijo, tolong kau jaga tongkatku! Ucap Aria sambil menancapkan tongkatnya ke tanah.
Dari keningnya sinar hijau keluar dan mulai menyelimuti tubuh, sementara kedua telapak tangan perlahan berputar di depan dada, bulatan sinar berbentuk bola Cakra perlahan muncul di tangan Aria.
Aria tersenyum dingin, lalu berkata.
“Bersiaplah kau menemui penciptamu,”
Setelah berkata tubuh, Aria menghilang dengan ajian Rogo Demit.
Sekar Arum tidak terkejut karena sudah melihat dua kali, dengan aji Walet emas, Sekar Arum langsung melesat dari atas batu.
Blam!
Batu sebesar perut kerbau hancur menjadi debu, terkena pukulan Cakra candhikalla.
Setelah sampai batu dan berhasil menghancurkannya, Aria langsung berubah kembali, kali ini matanya bersinar ke emasan, dan melihat sinar dari Aura tenaga dalam Sekar Arum, tengah melesat berputar di sekitar pohon.
“Mau kabur kemana kau! Teriak Aria dengan suara kencang dan langsung memburu Sekar Arum dengan ilmu Bayu samparan.
Aura yang keluar dari tubuh Sekar Arum bisa di lihat oleh Aria, sehingga ia bisa terus memburu gadis itu.
Panglima Sanjaya terkejut melihat Aria terus memburu putrinya, sambil terus menghantamkan sinar berbentuk bulat berwarna merah, beberapa pohon hancur dan tumbang setelah terkena sinar merah dari tangan Aria.
“Celaka, kalau terus seperti ini! Sekar akan tewas,” batin Panglima Sanjaya dengan raut wajah cemas, sambil melesat memburu ke arah sang putri.
Sekar Arum setelah tahu dirinya terus di kejar, hatinya mulai cemas, keringat mulai keluar membasahi wajah serta tubuhnya yang terus bergerak, menghindari serangan Aria yang menyerangnya.
“Sebenarnnya dia buta atau tidak? Sekar Arum bertanya-tanya dalam hati, “sepertinya dia melihat kemana aku bergerak,” batin Sekar Arum.
Blam….Blam!
Pohon tempat Sekar berlindung hancur, terkena Aji Cakra Candhikkala.
Sekar terus bergerak, tetapi gerak langkahnya tertahan, setelah sampai di samping rumah.
Aria tanpa ragu langsung menghantam ke arah kepala Sekar Arum.
Gadis itu menatap ngeri sambil menatap bola merah yang berputar menuju ke arah kepalanya, sebelum Aji Cakra candhikalla menghantam kepala Sekar, sinar biru ajian Petir langit andalan Panglima Sanjaya menghantam Aji Cakra candhikalla.
Blam!
Suara dentuman dasyat terdengar, saat kedua pukulan mereka bertemu.
Kaki Aria melesak masuk kedalam tanah sampai mata kaki, sedangkan Panglima Sanjaya terpental bersama putrinya, menghantam dinding rumah di belakang mereka.
Hoaks
Panglima Sanjaya muntahkan darah segar, dadanya terasa sesak menerima pukulan Aria.
“Ayah….ayah tidak apa-apa? Tanya Sekar Arum.
“Aku tidak apa-apa! Jawab Panglima Sanjaya.
Setelah minum obat Pulung, dan melancarkan peredaran darahnya yang sempat kacau ketika beradu tenaga dengan Aria.
Panglima Sanjaya bangkit dan keluar dari dalam rumah.
Lalu berdiri berhadapan dengan Aria yang kini sudah bersama Buto Ijo.
“Tuan Aria! Kau sungguh hebat,” ucap Panglima Sanjaya.
“Aku tantang kau di arena sayembara, jika kau berhasil mengalahkan ku, kerajaan Galuh tidak akan ikut campur lagi urusan antara Kadiri dan Kahuripan,” ucap Panglima Sanjaya.
Aria tersenyum dingin mendengar tantangan Panglima Sanjaya, kemudian membalas.
“Baik! Aku tunggu kalian semua, di arena sayembara.”
__ADS_1