Iblis Buta

Iblis Buta
Satu Kenyataan Yang Mengejutkan


__ADS_3

“Sekarang giliranmu! Seru Aria kepada resi Larang tapa.


Setelah wujud panglima hitam lenyap, kini di tengah arena hanya ada resi Larang tapa dan Aria Pilong.


“Kalasrenggi, kita bekerja sama! Kau bisa menjadi ketua padepokan nomor 1 jika membantuku,” ucap Resi Larang tapa.


Kalasrenggi mendengus mendengar perkataan sahabatnya itu.


“Sudah terlambat larang tapa! Seru Kalasrenggi, “kau hadapi saja ketua Jagad Buwana sebagai tantangan resmi jika kau ingin menduduki posisi puncak, seperti yang kau cita-citakan selama ini,” lanjut perkataan Kalasrenggi sambil tersenyum sinis.


“Bagaimana Larang tapa! Sudah dapat bantuan atau belum? Tanya Aria setelah mendengar percakapan antara Larang tapa dengan Kalasrenggi.


Phuih!


“Maju kau buta! Panglima hitam memang bisa kau bunuh, tetapi jika ingin membunuhku, tak semudah yang kau pikirkan,” Resi Larang tapa berkata.


Aria tersenyum dingin mendengar perkataan Resi Larang tapa.


Tubuhnya langsung menghilang.


Tetapi Aria menyerang tempat kosong, karena setiap Aria menghilang, resi Larang tapa langsung bergerak menghindar.


kalau untuk mengikuti gerak Resi Larang Tapa, tidak akan mungkin, Aria berpikir bagaimana cara mengatasi Resi Larang tapa.


Pertempuran tidak akan berakhir kalau terus seperti ini.


Beberapa kali, Aria menyerang ia selalu memperhatikan gerak kilat Resi Larang tapa, sang resi memang terus menghindar dan tidak mau balas menyerang Aria, yang menurutnya hanya buang-buang tenaga saja.


Setiap bergerak Sinar putih selalu ke arah kanan, entah kenapa Aria juga tidak tahu jawabannya, tetapi itu mungkin sudah kebiasaan resi Larang tapa, pikir Aria.


Aria lalu menghilang dan menunggu Resi Larang tapa, tepat dimana dia akan bergerak.


“Apa dia akan lewat sini? Batin aria bertanya tanya.


Saat melihat aura putih bergerak cepat, tongkat Aria bergerak ke arah sinar putih yang hendak lewat.


Plak!


Tangan kilat resi Larang tapa menghantam tongkat yang hendak menghalangi jalannya.


Tongkat berputar setelah terkena tangkisan dan langsung menyerang kembali, ke arah kepala resi Larang tapa.


Resi Larang tapa badannya membungkuk, sambil tundukkan kepala menghindari tebasan tongkat Aria Pilong, kemudian tangan kilat Larang tapa menyambar ke arah kaki Aria.


Aria lompat menghindari serangan yang menuju ke arah kaki, setelah lompat menghindar, tangan kiri Aria menghantam dengan ajian Mawageni ke arah kepala Resi Larang tapa.


Plak!


Kembali tangan kanan resi Larang tapa menangkis hantaman tangan kiri Aria Pilong.


Blam!


Tubuh Aria terpental ke atas, akibat pantulan dari tangkisan resi Larang tapa.


Setelah terpental Aria langsung salto di udara, kemudian ujung tongkat Aria menghantam Ubun-Ubun kepala Resi Larang tapa.


Tubuh resi larang tapa lenyap dan sudah berpindah tempat, sehingga tusukan Aria menemui tempat kosong.


Setelah serangannya tidak menemui sasaran, Aria langsung menggunakan ajian Rogo Demit ke arah kanan berusaha mencegat Resi Larang tapa, kalau perkiraannya benar, sang resi pasti lewat di dekatnya.


Sinar putih melesat dengan cepat, Aria menghantam ke arah sinar putih yang melesat dengan cepat hendak lewat di dekatnya.


Buk!


Suara hantaman tangan Aria terdengar yang mengenai pinggang Resi Larang tapa terdengar.


Suara jerit kaget dan sakit terdengar dari mulut resi Larang tapa, saat pinggangnya terkena hantaman tangan Aria yang sudah di aliri ajian Mawageni.


Resi Larang tapa terlempar, lalu muntahkan darah segar dari mulutnya.

__ADS_1


“Bangsat! Bagaimana mungkin si buta, bisa mengikuti gerakanku,” batin resi Larang tapa sambil menahan sakit di pinggang kiri, baju serta kulitnya hangus terkena hantaman ajian Mawageni yang di lancarkan Aria Pilong.


Resi Larang tapa tidak sadar dengan kebiasaan yang sering ia lakukan, setiap menggunakan langkah kilat selalu bergerak ke kanan, dan kebiasaannya itu di ketahui oleh Aria yang terus memperhatikan setiap pergerakan Resi Larang tapa.


“Rupanya keparat buta ini sudah mengetahui pergerakan langkah kilat yang aku miliki,” batin Resi Larang tapa.


Sambil memegangi pinggangnya, resi Larang tapa berusaha berdiri sambil menahan sakit.


Matanya tajam menatap Aria, seakan hendak menelan bulat-bulat Aria Pilong.


Resi Larang tapa mencabut keris ber eluk tujuh yang jarang ia keluarkan, keris pusaka yang di beri nama keris Rogo pitu andalannya.


Niatnya untuk melarikan diri, kini tertutup oleh hawa amarah akibat rasa sakit yang ia rasakan di pinggang,


Aria melihat aura besar yang di pegang oleh resi Larang tapa, kemudian menancapkan tongkat ke lantai arena, kemudian mengeluarkan kujang macan putih dari dadanya, matanya tajam menatap ke arah aura besar yang terlihat di depan mata.


“Hati-hati Raden! Keris andalan Resi Larang tapa bisa memunculkan 7 orang yang memegang keris, walau kekuatan mereka tidak sama dengan yang asli, tetapi mereka sama-sama merepotkan,” ucap Nyi Selasih memberitahu kemampuan keris yang di miliki oleh Resi Larang tapa.


“Terima kasih Nyi! Tetapi manusia bayangan, tidak akan berpengaruh terhadap ku, karena aku tidak bisa melihat.


Aura yang kulihat bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, jika benar yang Nyi selasih katakan, perbedaan kekuatan yang mereka miliki akan menjadi petunjuk untukku,” balas Aria.


“Raden benar,” ucap Nyi selasih dengan nada gembira.


Resi Larang tapa merapalkan ajian Rogo pitu, keris eluk tujuh bergetar dan tak lama kemudian di samping Resi Larang tapa, tampak 7 manusia yang sama dengan Resi Larang tapa.


Ketujuh manusia yang menyerupai Resi larang tapa serta resi Larang tapa sendiri, berputar mengelilingi Aria, dengan maksud untuk mengelabui penglihatan musuh, mana yang asli dan palsu.


Tetapi Resi Larang tapa yang di selimuti nafsu, tidak sadar bahwa musuhnya buta, berapun manusia yang berbentuk sama, tidak akan berpengaruh terhadap Aria.


Aria menghantamkan kujang pusaka Macan putih ke lantai arena, suara ledakan dan asap putih mengepul di udara, dari kepulan asap muncul macan putih dengan loreng ke emasan di tubuhnya.


Penjaga barat meraung kencang mengelegar, suaranya menggetarkan telinga orang yang mendengar.


“Raden! Biar ku habisi si pembuat kekacauan ini,” ucap Maung Bodas.


“Baik, Raden! Seru Maun Bodas.


Aria setelah memberi perintah, kemudian melesat, langsung menuju ke arah Resi Larang tapa.


Kujang macan putih langsung menyambar kepala Resi Larang tapa,


Ketujuh manusia cipataan, melesat berusaha menghalangi Aria, tetapi Maung Bodan setelah mengaum langsung melesat, kemudian menerkam ke arah para manusia ilusi ciptaan Resi Larang tapa.


Sang resi terkejut dan berhasil menangkis kujang yang menusuk ke arah dada.


Trang!


Setelah berhasil menangkis, Resi Larang tapa menyabet perut Aria dengan kerisnya.


Sementara Maung Bodas berusaha, menghalangi manusia ilusi yang berusaha menolong sang Resi.


“Bangsat buta ini tidak terpengaruh dengan manusia bayangan milikku, sebenarnya apa yang ia lihat? Sehingga bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” batin resi Larang Tapa.


Setelah tahu Ajian Rogo pitu miliknya tidak berpengaruh terhadap Aria, apalagi setelah melihat Maung Bodas perlahan tapi pasti mulai memusnahkan manusia bayangan yang ia ciptakan.


Hati Resi Larang tapa mulai resah, kali ini niat melarikan diri kembali terbersit di pikiran kakek licik tersebut.


Dari tenda Jagad Buwana, Resi Wangsanaya perlahan wujudnya berubah setengah macan setelah melihat Resi Larang tapa mulai melihat kanan dan kiri.


Selagi penjaga barat sibuk menghalangi, resi Larang tapa setelah menghantam Aria dengan pukulan kilatnya, Aria lompat menjauh.


Suara menggelegar terdengar saat pukulan kilat milik resi Larang tapa menghantam lantai Arena.


Blam!


Suara riuh dan takut terdengar dari mulut para penonton, karena pecahan batu lantai arena yang pecat, melesat layaknya sebuah senjata rahasia ke berbagai arah.


Crep.….Crep….Crep!

__ADS_1


Beberapa murid padepokan yang menonton tewas, terkena pecahan batu lantai arena.


Di saat suasana riuh, Resi Larang tapa melesat ke arah utara,


Resi Wangsanaya yang memang sudah bersiap, begitu melihat Resi Larang Tapa melesat keluar arena, tubuhnya bergerak mengejar, tetapi ia kalah cepat.


Dua sinar berwarna kuning ke emasan melesat dengan sangat cepat ke arah Resi Larang tapa.


Shing….Shing…..Crep….Crep!


Jerit tertahan terdengar dari mulut resi Larang tapa, saat merasakan sesuatu menyembus tubuhnya.


Resi Larang tapa berusaha menggunakan tenaga dalamnya mengeluarkan senjata rahasia yang masuk ke dalam tubuhnya.


Keringat dingin mengucur deras, ketika benda yang masuk tak bisa ia keluarkan, perlahan tubuh Resi Larang tapa mulai susah untuk di gerakan.


Saat sang Resi tengah bingung, satu tangan mencekal baju belakangnya dan satu sentakan melemparkan resi Larang tapa kembali ke dalam arena.


Brak!


Resi Larang tapa jatuh ke arena, karena di lemparkan oleh Resi Wangsanaya.


Sementara itu di tengah arena sudah berdiri Elang jantan.


Melihat Resi Larang tapa tergeletak di tengah arena, Elang jantan menyeringai.


“Tidak ada yang bisa melarikan diri dari jarum emas perampas Sukma, milik sepasang Elang emas,” Ucap Elang Jantan.


Resi larang tapa terkejut, mendengar jarum emas, benda yang sangat ia takuti, karena benda yang terbuat dari emas, tak bisa ia tahan dengan ilmu yang ia miliki, karena itu adalah kelemahannya.


Resi Larang Tapa! Walau kau adalah pembesar Kahuripan, tetapi niat mu bukan untuk kerajaan, tetapi untuk diri sendiri dan atas keserakahanmu, aku mewakili kakak seperguruanmu, memberi hukuman atas dosa yang sudah kau perbuat.”


Setelah Aria berkata, pusaka kujang Macan putih melesat ke arah Leher Resi Larang tapa, yang hanya bisa pasrah.


Crash!


Kepala Resi Larang tapa menggelinding, matanya tampak melotot ke arah Aria Pilong, seakan tidak menerima atas kematian yang ia alami.


Setelah menewaskan Resi Larang Tapa, Resi Wangsanaya lalu memegang lengan Sang ketua, kembali ke padepokan Jagad Buwana.


Elang jantan yang merasa di acuhkan mendengus, kaki kanannya menggebrak lantai arena, membuat lantai arena bergetar.


Brak!


“Aku tantang semua padepokan yang tersisa, untuk memperebutkan gelar padepokan No. 1 di tanah Jawa.


Kalasrenggi, serta Ki Sayuti ketua padepokan gunung Gede, melesat mendengar perkataan Elang jantan.


“Tuan Aria, acara pemilihan padepokan akan aku tutup dan di batalkan, karena sepasang Elang emas sudah di tunggangi oleh kekuatan Lain,” ucap Kalasrenggi.


Aria yang sudah berbalik, kerutkan keningnya mendengar perkataan Kalasrenggi.


“Apa maksudmu? Tanya Aria.


“Mereka sudah membangkitkan kekuatan yang sangat mengerikan di ujung timur Jawa, itu sebabnya sepasang Elang emas berani datang berdua.


“Satu kekuatan menakutkan yang lama tertidur dan kini mulai bangkit,” ucap Kalasrenggi


“Rupanya kau sudah tahu, kalau kami sudah membangkitkan penguasa tanah Jawa yang sesungguhnya,” Elang jantan berkata dengan nada dingin.


Penguasa Tanah Jawa sesungguhnya? Tanya Aria sambil kerutkan kening.


Ha Ha Ha


“Kau pikir tanah Jawa ini milik kelima penjaga, yang di pimpin oleh Lanang Jagad? Tanya Elang jantan, “Kau salah! Karena mereka hanyalah sekadar penjaga di saat sang pemilik sedang tidur


“Penguasa sesungguhnya di tanah Jawa ini hanya satu,” lanjut perkataan Elang jantan sambil menatap Aria Pilong.


“Dedemit Alas Purwo”

__ADS_1


__ADS_2