
Selamet setelah bertemu dengan Raden Kusumo lalu berpikir, dengan apa yang sudah di katakan oleh pedagang yang sukses di dua kerajaan tersebut.
“Membunuh Aria Pilong! Apa pengurus mau melakukan apa yang menjadi ke inginan Raden Kusumo? Selamet berkata dalam hati.
“Kedua orang itu sangat misterius, yang satu adalah tokoh golongan hitam, sedangkan satu lagi adalah sang tuan, melihat pengawalnya saja sudah seperti itu, aku yakin sang tuan jauh lebih hebat dari sang pengawal, walau matanya buta,” batin Selamet.
“Tetapi jaringan perdagangan Raden Kusumo sangat di butuhkan, belum lagi informasi yang bakal di dapat jika sang Raden bergabung, pasti akan sangat menguntungkan padepokan Jagad Buwana.”
“Di terima atau tidak, itu urusan pengurus, sedangkan aku hanya menyampaikan saja,” batin Selamet.
Tak terasa berpikir sambil berjalan, Carik bayangan sudah berada di depan tempat kediaman Aria menginap.
Selamet mengetuk pintu rumah, tak lama kemudian Buto Ijo membuka pintu, lalu mempersilahkan Selamet duduk, setelah mendapat perintah dari Aria.
***
Di tempat kediaman Raden Kusumo, Resi Jayaprana mempertanyakan sikap sang sahabat.
“Kusumo! Apa benar kau menyuruh mata-mata untuk mengawasi Tuan Aria? Tanya Resi Jayaprana.
“Benar! Tapi aku tidak menyuruh Suropati untuk mengganggu, aku hanya menitahkan mengawasi dari jarak jauh saja, tetapi kau lihat sendiri Buto Ijo membunuh pengawalku.” Jawab Raden Kusumo.
“Kusumo, aku sudah memperingatkan mu beberapa kali, agar jangan mengganggu pemuda itu, dia bukan sembarang orang yang bisa dengan mudah kau takut-takuti,” balas Resi Jayaprana.
“Sudah terlambat! Seru Raden Kusumo.
“Apa maksudmu? Tanya Resi Jayaprana, Bayusena serta Anjani dan Rama yang ikut mendengar, merasa penasaran dengan perkataan Raden Kusumo.
“Aku tadi mengundang Selamet, meminta bantuan kepada pada padepokan Jagad Buwana untuk membunuh Aria Pilong.
Brak!
“Apa kau bilang? Tanya Resi Jayaprana sambil menggebrak meja.
“Kakek! Kenapa kakek sampai berbuat sejauh itu? Tanya Rama.
“Ini aku lakukan demi kebaikan cucuku,” jawab Raden Kusumo sambil menatap Rama.
“Demi kebaikan aku atau kebaikan untuk kakek? Tanya Anjani, air mata tampak ber urai di wajah gadis itu.
“Aku berjanji tidak akan menikah dengan kakang Aria, karena kakang Aria juga belum tentu suka padaku.
“Jika kakek berjanji akan menarik semua apa yang kakek lakukan terhadap kakang Aria, aku akan menepati janjiku,” lanjut perkataan Anjani.
Raden Kusumo menarik napas dalam-dalam mendengar perkataan Anjani.
“Kalau saja kau berkata seperti sekarang ini dari kemarin, tak ada gesekan antara aku dengan Aria Pilong.
“Semua sudah terjadi, besok rombongan Jagad Buwana akan datang, aku sudah bicara dengan Selamet akan bergabung dengan Jagad Buwana, jika mereka mau membantu aku mengatasi Aria Pilong.
“Jika bertemu pengurus Jagad Buwana, aku akan menarik permintaan, jika Aria Pilong mau keluar dari desa Ranu pani,” Raden Kusumo berkata.
Resi Jayaprana hanya bisa menarik napas.
“Kusumo! Aku hanya ingin mengingatkan padamu, bahwa ada sesuatu hal yang tidak bisa di beli oleh uang yang kau punya,” setelah berkata. Resi Jayaprana lalu keluar dari rumah Raden Kusumo.
Resi Jayaprana setelah keluar dari rumah Raden Kusumo langsung menuju tempat kediaman Aria.
Resi Jayaprana melihat Selamet baru saja keluar dari kediaman Aria, lalu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
“Ada apa tuan Selamet datang ke sini? Tanya Resi Jayaprana.
“Si Selamet menyuruh Raden meninggalkan Desa Ranu pani, karena besok orang-orang Jagad Buwana akan datang,” Buto Ijo yang menjawab pertanyaan Sang Resi.
“Lantas bagaimana! Apa kalian akan pergi? Kembali resi Jayaprana berkata.
“Kami tetap akan diam di sini! Kami juga ingin lihat, seperti apa orang-orang dari padepokan Jagad Buwana,” jawab Aria.
Resi Jayaprana hanya bisa menarik napas mendengar perkataan Aria.
“Biarlah aku bersama tuan Aria di sini, aku akan menjelaskan duduk perkara kepada padepokan jagad Buwana jika mereka hendak menuruti permintaan Kusumo,” resi Jayaprana berkata dalam hati.
Setelah mendapat ijin dari Aria, Sang resi akhirnya tinggal satu rumah, atas saran sang resi, Aria serta Buto Ijo jangan keluar rumah sedangkan segala keperluan mereka berdua, resi Jayaprana yang akan menyiapkan.
Siang hari suara gemuruh terdengar memasuki desa Ranu Pani, rombongan besar yang berjumlah ratusan dengan puluhan ekor kuda masuk.
Resi Jayaprana yang mengintip dari jendela rumah hanya bisa leletkan lidah, benar apa yang di katakan oleh Kusumo, Singabarong tampak gagah duduk di atas kuda berdampingan dengan Wangsa, sedangkan Nyai Kidung kencana baru saja turun dari kereta kuda bersama beberapa orang gadis.
Sedangkan seorang bertubuh kekar, tinggi besar dengan kumis tebal serta melengkung menghiasi bibir, berdiri di dekat kuda Singabarong.
Raden Untung, alias Banteng wulung, tokoh yang sukar di hadapi dan suka bertindak sesuka hati sama seperti layaknya Buto Ijo.
“Jangan….jangan keluar! Teriak resi Jayaprana dengan wajah pucat, setelah melihat Buto Ijo hendak membuka pintu rumah.
“Memangnya kenapa? Aku mau melihat orang Jagad Buwana,” ucap Buto Ijo.
“Jangan! Mereka adalah para tokoh di tanah Jawa ini, jangan bertindak gegabah,” lanjut perkataan resi Jayaprana.
“Turuti saja perkataan Resi,” ucap Aria.
Buto Ijo tidak jadi membuka pintu, setelah mendengar perkataan Aria.
Selamet sudah berdiri di hadapan penginapan, lalu memberi hormat kepada Singabarong dan resi Wangsanaya.
“Selamat datang pengurus Padepokan Jagad Buwana, Silahkan masuk dan istirahat di dalam,” ucap Selamet setelah memberi hormat.
“Bagus….kerjamu bagus Ki Selamet! Seru Singabarong.
Mereka lalu masuk ke dalam penginapan, sebagian pesuruh mengantar anggota lain menempati rumah-rumah yang sudah di sediakan untuk tempat tinggal.
“Tuan! Ada yang mau bertemu pengurus, dia ingin menjadi anggota padepokan Jagad Buwana,” bisik Selamet.
“Siapa? Tanya Singabarong.
“Raden Kusumo, seorang pedagang besar, tetua, anak buahnya juga berjumlah ratusan,” jawab Selamet.
“Pedagang! Seru Singabarong sambil kerutkan keningnya.
Baru sekarang Singabarong mendengar ada pedagang yang mau bergabung, biasanya mereka cukup membayar upeti untuk menjalin hubungan dengan padepokan besar.
“Suruh mereka datang! Seru Singabarong yang tertarik dengan perkataan Selamet.
Singabarong, Nyai Kidung kencana serta Resi Wangsa duduk di meja besar, sedangkan Selamet serta Raden Untung berdiri di belakang Singabarong.
Tak lama kemudian, Raden Kusumo serta kedua cucu, Bayusena dan ketiga muridnya masuk, setelah memberi hormat dan di persilahkan duduk.
Singabarong menatap Raden Kusumo.
“Senang bertemu dengan pengurus padepokan Jagad Buwana,” Raden Kusumo berkata sambil memberi hormat, di ikuti oleh yang lain.
__ADS_1
“Apa benar yang dikatakan oleh Selamet! Raden ingin bergabung dengan Jagad Buwana? Tanya Singabarong.
“Benar ketua! Jawab Raden Kusumo.
“Aku bukan ketua, hanya mengurus padepokan,” ucap Singabarong.
“Apa yang membuat Raden ingin bergabung dengan Jagad Buwana? Raden sudah pasti tahu jika pedagang bergabung dengan padepokan, usaha mereka bisa di ambil alih oleh Padepokan atau keuntungan hasil dari berdagang di bagi dua dengan padepokan,” ucap Nyai Kidung kencana.
“Aku tahu Nyai, tetapi di jaman ini, jika berdagang tanpa ikut perguruan besar, sangat beresiko, persaingan yang semakin ketat bisa membuat orang gelap mata, dan mengincar pedagang yang coba mengganggu wilayahnya, belum lagi banyak rampok yang berkeliaran, jika di dukung oleh padepokan besar, kami para pedagang bisa mendapat pengawalan dan di lindungi,” Raden Kusumo menjawab pertanyaan Nyai Kidung kencana.
Singabarong, Wangsa serta nyai kidung kencana saling pandang mendengar perkataan Raden Kusumo.
“Bagaimana menurut kalian? Singabarong berkata.
“Kita tidak butuh uangnya, tapi kalau benar apa yang dikatakan oleh Selamet, anak buah Raden Kusumo tersebar di puluhan kota, kita gampang mendapat informasi yang kita inginkan,”
Ketika tengah bercakap cakap, suara gaduh terdengar dari luar.
Raden untung bersama Selamet langsung melesat keluar, setelah melihat Buto Ijo berdiri sambil memaki maki, Raden untung langsung melesat dengan menghantamkan tinjunya ke arah dada, sementara Selamet langsung lenyap, setelah Selamet berdiri di belakang Buto Ijo, lalu kedua tangannya menghantam ke arah punggung Buto Ijo.
Dua pukulan dengan tenaga dalam tinggi menghantam ke arah tubuh Buto Ijo dari arah depan dan belakang.
Blam!
Setelah menerima hantaman, kedua tangan Buto Ijo berputar, berusaha menghantam Raden untung dan Selamet.
Keduanya mundur setelah melihat Buto Ijo tidak terluka dan balas menyerang.
“Kebal pukulan rupanya! Seru Raden untung sambil menyeringai.
“Hati-hati sobat, jangan dekat-dekat dengan dia,” Selamet memberitahu sahabatnya.
Ha Ha Ha
“Berhenti! Teriak Wangsa sambil tertawa.
“Jo! Kau sudah lupa padaku? Tanya Wangsa sambil menghampiri Buto Ijo.
Phuih!
“Mentang-mentang banyak, orang-orangmu hendak mengeroyok aku, Wongso,” balas Buto Ijo, kali ini sambil tertawa.
Selamet langsung melesat dan berdiri di dekat Wongso, kemudian bertanya. Pengurus kenal dengan dia? Tanya Carik bayangan.
“Dia kan kawan kita, termasuk orang padepokan Jagad Buwana.
“Buto Ijo adalah pengawal pribadi ketua padepokan Jagad Buwana,” Wangsa memberi penjelasan kepada Selamet.
“Bukannya menurut keterangan pengurus, ketua sedang bertapa? Tanya Selamet.
“Memang benar! Kalau Buto Ijo sudah keluar, itu tanda ketua sudah selesai bertapa,” jawab Wangsa, ( Bertapa yang di maksud oleh pengurus Jagad Buwana adalah, Aria bertemu dan menerima wejangan dari Resi Lanang Jagad )
“Pengawal pribadi….” Ucap Selamet sambil otaknya terus berpikir.
“Jangan….jangan yang bersama denganmu di rumah itu? Tanya Selamet sambil menatap Buto Ijo.
Buto Ijo langsung menjawab setelah melihat tatapan Selamet.
“Dia itu ketuamu, Tolol!
__ADS_1