
Plak….Plak….Plak!
Buto Ijo Setelah memutar kepala Lembusora tetapi tidak ada jawaban, lalu menepak nepak kepala Lembusora yang perlahan mulai dingin.
Sor….bangun, Sor! Seru Buto Ijo.
“Mbu….Lembu! Kembali Buto Ijo berkata, kali ini sedikit teriak.
“Percumah, sudah mati! Wangsa angkat bicara setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Masa baru bertempur sudah mati, kau pakai senjata rahasia untuk membunuhnya? Tanya Buto Ijo.
Phuih!
“Kau yang membunuhnya, kenapa malah menyalahkan aku,” jawab Wangsa dengan nada kesal.
“Aku memang bertempur, tetapi tidak membunuhnya,” balas Buto Ijo.
“Coba kau lihat wajah Lembusora! Dari menghadap ke bawah, sekarang wajahnya menatap ke atas, siapa yang memutar kepalanya? Tanya Wangsa.
“Yang memutar adalah aku, karena dia tidak sopan, masa bicara tanpa mau melihat wajah,” jawab Buto Ijo.
“Kalau sudah tahu kenapa kau masih tanya? Balas Wangsa dengan nada kesal.
Keduanya diam ketika melihat Aria dan Buwana Dewi memberi hormat kepada Mpu Barada.
Mpu Barada berkata dalam hati, saat melihat keduanya.
“Memang pasangan Serasi.”
“Tolong sampaikan kepada ibu, dalam 3 hari kedepan, kami akan menikah,” Buwana Dewi berkata kepada Mpu Barada.
Mpu Barada anggukan kepala mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Aku akan menyampaikan pesanmu, kau juga harus hati-hati, jika Banyu Alas datang, bisa jadi ia akan mengacaukan acara pernikahan kalian,” balas Mpu Barada.
Buwana Dewi saling pandang dengan Aria, mendengar perkataan Mpu Barada, kemudian berkata.
“Jika ayah datang, kami berharap bisa menyadarkan ayah, jika ayah setuju dan mau! Kami juga akan mengajak ayah untuk tinggal bersama,” Buwana Dewi berkata dengan nada optimis.
Mpu Barada tersenyum mendengar perkataan Buwana Dewi, kemudian membalas perkataan gadis itu.
“Semoga apa yang Dewi inginkan bisa terkabul, tetapi Dewi jangan berharap terlalu banyak, karena nanti hasilnya tidak sesuai dengan apa yang sudah Dewi inginkan, kau akan kecewa.”
Buwana Dewi tersenyum mendengar perkataan Mpu Barada.
“Kami berdua sudah membicarakan masalah ini, Semoga saja ayah bisa mengerti akan maksud baik kami berdua,” Buwana Dewi membalas perkataan Mpu Barada.
Mpu Barada anggukan kepala mendengar perkataan Buwana Dewi.
“Bagaimana mengundang Ki Banyu Alas? Orang yang akan menyampaikan pesan sudah tidak ada,” Wangsa angkat bicara sambil menunjuk ke arah mayat Lembusora yang badannya terlungkup, tetapi raut wajahnya menghadap ke arah langit, tampak kulit leher Lembusora berlipat, akibat di putar oleh Buto Ijo.
“Aku tidak sengaja membunuhnya,” Buto Ijo yang membalas perkataan Wangsa.
“Kalau soal undangan kepada Banyu Alas, kalian tidak usah khawatir, jika memang ia berniat datang, dia akan datang di acara pernikahan anaknya.
__ADS_1
“Tetapi aku tidak bisa memastikan, Banyu Alas akan berbuat ulah atau tidak di acara pernikahan kalian.
“Selagi ada Nyai Ratu, Banyu Alas tidak akan berani bertindak, tetapi jika Nyai Ratu sudah tidak ada, itu yang harus kalian pikirkan,” Mpu Barada berkata untuk menjawab pertanyaan yang ada benak semua orang.
“Kalau mengganggu! Bunuh saja,” Ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Mpu Barada.
Hmm!
“Kau pikir gampang membunuhnya? bapamu saja belum tentu mampu mengalahkan Banyu Alas, apalagi kau,” balas Mpu Barada mendengar ucapan Buto Ijo.
“Kau pikir aku takut? Ucap Buto Ijo dengan nada dingin.
Mpu Barada mengalihkan pembicaraan, setelah mendengar nada bicara Buto Ijo.
“Kau tidak menikah bareng dengan ketuamu, Buto Ijo? Tanya Mpu Barada.
“Aku memang ada rencana seperti itu, tetapi apa Suketinya mau menikah sekarang? Balas Buto Ijo.
“Kau yang hendak menikah kenapa bertanya padaku, tanyakan saja sendiri?jawab Mpu Barada.
“Aku tidak tanya padamu, tetapi kepada Suketi,” balas Buto Ijo.
“Entah kenapa tanganku selalu gatal, hendak memukul kepala anak dari Naga hijau, jika ia bicara,” batin Mpu Barada setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Suketi! Kau mau menikah bareng bersama Raden? Tanya Buto Ijo.
Suketi langsung anggukan kepala mendengar perkataan Buto Ijo.
“Lantas bagaimana dengan ayahmu, apa dia akan datang? Kembali Buto Ijo bertanya.
“Iblis Kawi akan datang, Jo! Kalau kau beritahu dia,” Wangsa yang menjawab pertanyaan Buto Ijo.
“Berubah besar atau kecil, tetap saja Suketi, kenapa harus kau batalkan? Tanya Wangsa.
“Aku tak mau menikah sambil menggendong Suketi, nanti di sangka oleh orang, Suketi adalah anakku,” jawab Buto Ijo.
“Itu artinya kau tidak cinta, karena tidak mau menerima Suketi apa adanya,” Mpu Barada ikut bicara.
“Diam kau, tua Bangka! Menikah saja belum pernah, tetapi berani nasehati aku,” ucap Buto Ijo, kemudian lanjut bicara.
“Kalau orang menikah, artinya dia cinta, masa hal seperti itu, kau tidak tahu.”
“Yang sopan kalau bicara,” ucap Mpu Barada setelah dirinya di sebut tua Bangka.
“Sudah….Sudah! Ucap Aria mendengar suasana pembicaraan mulai memanas, kemudian lanjut berkata, “Buto Ijo dan Suketi lebih baik pikirkan terlebih dahulu sebelum kalian menikah, jika kalian berdua sudah siap kita bersama-sama menikah tiga hari lagi.”
Buto Ijo dan Suketi anggukan kepala mendengar perkataan Aria Pilong, begitupula dengan yang lain, mereka setuju dengan ucapan Aria.
“Kalau begitu aku pamit untuk memberikan jarum pusaka tombak emas kepada Nyai Ratu, sambil menyampaikan maksud kalian,” Mpu Barada berkata.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan sang Mpu, lalu memberi hormat dan berkata, “Sampaikan salamku dan Buwana Dewi kepada Nyai Ratu.”
“Baik! Nanti akan aku sampaikan,” Mpu Barada berkata sambil balas menghormat.
“Sampaikan juga salamku buat Nyai Ratu, beritahu Nyai ratu agar membawa hadiah di saat aku dan Suketi menikah,” Buto Ijo angkat bicara.
__ADS_1
“Baik….kau tidak usah khawatir! Nyai Ratu adalah penguasa laut utara, hadiah yang akan nyai ratu berikan pasti sangat berharga,” balas Mpu Barada.
Suketi langsung tersenyum sambil lompat-lompat di bahu Buto Ijo, sementara sang raksasa tersenyum, mendengar Nyai ratu akan memberi hadiah.
“Hadiah dari seorang penguasa laut, pasti bukan barang sembarangan,” batin Wangsa mendengar perkataan Mpu Barada, sang Resi jadi penasaran, kira-kira hadiah apa yang akan di berikan kepada Buto Ijo.
Rasa hati Wangsa sama dengan Buto Ijo, yang merasa penasaran dengan perkataan Mpu Barada.
Buto Ijo untuk menghilangkan rasa penasaran di dalam hati, kemudian bertanya kepada Mpu Barada.
“Hai, tua bangka! Kira-kira hadiah apa yang akan di berikan oleh Nyai Ratu?
Raut wajah Mpu Barada tampak tak sedap di pandang mendengar dirinya di sebut, tua bangka, suara dengusan keluar dari hidung Mpu Barada.
“Kau mau tahu hadiah yang akan di berikan oleh Nyai Ratu? Tanya Mpu Barada dengan raut wajah kesal.
“Tentu saja mau! Cepat beritahu aku,” ucap Buto Ijo.
Wangsa yang merasa penasaran diam-diam menajamkan pendengarannya, ingin tahu hadiah apa yang akan di berikan kepada Buto Ijo.
Kening Buto Ijo berkerut ketika melihat raut wajah Wangsa, kemudian teresenyum.
“Wongso pasti penasaran dengan hadiah yang akan diberikan kepadaku, memang wajahnya seperti tidak peduli, tetapi telinganya selalu mengarah ke sini,” batin Buto Ijo.
“Tunggu….tunggu dulu, Batara! Seru Buto Ijo ketika melihat Mpu Barada hendak berkata, kemudian lanjut berkata kembali.
“Kau bisikan saja di telingaku, hadiahnya! Aku tak mau orang lain tahu, karena aku takut mereka iri.” Ucap Buto Ijo dengan suara sedikit lebih keras, agar terdengar oleh Wangsa.
Phuih!
Wangsa langsung meludah mendengar perkataan Buto Ijo, karena tahu raksasa bertubuh hijau itu sedang menyindirnya.
Mpu Barada yang kesal, berkata dalam hati, “kalau tidak di sebut tua bangka, pasti memanggilku dengan nama Barata.”
Perlahan sambil menggerutu dalam hati, Mpu Barada menghampiri Buto Ijo.
Setelah berhadapan, Mpu Barada menarik bahu Buto Ijo,, kemudian berbisik di telinga sang Raksasa.
Hadiah untuk mu adalah, “Air Laut.”
Buto Ijo langsung termenung mendengar perkataan sang Mpu.
“Air laut,” Batin Buto Ijo sambil membayangkan
Setelah membisiki telinga Buto Ijo dan si raksasa langsung termenung, Mpu Barada melangkah pergi
Setelah sadar dengan perkataan Mpu Barada, Buto Ijo langsung teriak sambil melesat ke arah Sang Mpu.
“Tua bangka Jangan lari, dasar keparat! Seru Buto Ijo, tetapi Mpu Barada sudah tidak terlihat, tubuhnya seperti lenyap di telan bumi.
Wangsa melihat Buto Ijo marah-marah, sang resi bertanya tanya dalam hati.
“Entah hadiah apa yang akan diberikan?
Sedangkan Aria merasa tertarik dengan perkataan Lembusora yang menyebut satu nama yang di kaitkan kepada Buwana Dewi.
__ADS_1
“Aku jelas mendengar nama itu,” batin Aria, karena masih terngiang di telinganya perkataan Lembusora yang menyebut satu nama.
“Sentanu”