Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 62 : Dendam sang Kakek


__ADS_3

Anggota padepokan tangan hitam di pimpin oleh Serigala hitam melesat naik ke arena, setelah melihat Bahurekso tewas.


Sebelum Prajurit Kadiri naik, Buto Ijo langsung menyambut dua orang yang berlari paling depan, baju mereka di cengkeram lalu di banting Buto Ijo.


Buk!


Dua orang anggota padepokan Tangan hitam langsung tersungkur, saat mereka hendak bangkit, kaki Buto Ijo sudah menendang perut dan menginjak punggung mereka.


Buk!


Kedua nya langsung tewas.


Tumenggung Wirabumi melihat anggota padepokan Tangan hitam naik ke atas panggung, langsung memberi isyarat kepada prajurit penjaga, prajurit Kadiri langsung mengepung, golok dan tombak menyambar dan menusuk anggota padepokan tangan hitam yang berusaha naik ke arena sayembara.


Hentikan!


Suara teriakan terdengar kencang dari mulut Senopati Singalodra.


Serigala hitam langsung hentikan langkah, sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk berhenti.


Mereka membawa tubuh Lowo Ireng yang masih tak sadarkan diri dan mayat Bahurekso dari arena.


“Buto Ijo! Kau tunggu pembalasan kami,” ucap Serigala hitam sambil menunjuk dengan tangan kanan.


“Sekarang saja! Kenapa harus tunggu ? Tanya Buto Ijo sambil senyum meledek.


Serigala hitam tidak menanggapi, ia lalu memimpin anak buahnya menjauh dari arena, setelah menadapat isyarat dari Senopati Singalodra.


“Tenaga dalam si iblis buta sangat kuat, agaknya tidak di bawah aku,” batin Singalodra, setelah tadi beberapa kali kedua tangan bertemu.


Singalodra tidak tahu bahwa Aria belum mengeluarkan semua tenaga dalamnya saat mereka bertempur.


Singalodra menambah tenaga dalam untuk mempergunakan Aji kilat bayu, ajian yang ia pelajari dari resi Larang tapa untuk menyerang Aria.


Senopati Singalodra langsung menyerang, tangan kanan menyerang tempat mematikan di tubuh Aria.


Whut!


Sedikit lagi tangan Singalodra menghantam kepala Aria.


Aria menepak lengan Senopati Singalodra.


Plak!


Setelah menepak, tongkat Aria menyabet ke arah perut Senopati Singalodra.


Sret!


Senopati Singalodra lompat mundur menghindar, setelah menghindar dengan cepat menyerang kembali.


Semakin lama gerakan Senopati Singalodra semakin cepat sehingga tak bisa di ikuti oleh mata biasa, hanya mereka yang mempunyai tenaga dalam tinggi yang bisa melihat gerakan Senopati Singalodra.


Mereka hanya melihat sinar putih yang terus mendekat atau menjauh, ke arah Aria yang hanya berdiri di tengah arena.


“Bangsat! Baru kali ini seranganku bisa di tahan atau di hindari,” batin Senopati Singalodra, “matanya memang buta, tetapi dia lebih awas dari orang yang melek,” lanjut perkataan Senopati Singalodra dalam hati.


“Tak kusangka ilmu Senopati Singalodra sangat tinggi, kalau lawannnya tak mampu melihat atau membaca gerakan Senopati Singalodra, melawannya hanya mengantar nyawa,” panglima Sanjaya berkata dalam hati.


Plak!


Kali ini tubuh keduanya mundur, setelah beradu pukulan.

__ADS_1


Hmm!


Hidung Aria mendengus setelah merasakan pukulan Senopati Singalodra.


“Benar dugaanku, kau pasti murid Larang tapa.”


Senopati Singalodra menggunakan aji gelap bumi, sama seperti pukulan resi Larang tapa sewaktu melawan Aria.


“Sangat berbahaya jika kau di biarkan hidup,” ucap Aria dengan nada dingin.


Phuih!


“Memangnya kau mampu membunuhku? Tanya Senopati Singalodra sambil tersenyum mengejek.


“Jangan merasa hebat di depanku, tadi aku hanya ingin menguji ilmu yang kau miliki, setelah aku tahu kau murid Larang tapa, jangan harap kau bisa keluar dari arena ini dalam ke adaan hidup,” balas Aria.


“Iblis buta! Bicaramu seperti orang paling sakti di tanah Jawa.”


Baru saja Senopati Singalodra selesai bicara, ujung tongkat Aria sudah berada di depan mata.


Kejut bukan kepalang Senopati Singalodra, kepalanya menunduk, tubuhnya sambil jongkok berputar menjauh.


Setelah tubuhnya menjauh, Senopati Singalodra balik menyerang menggunakan ajian kilat bayu.


Whut….plak!


Tangan kiri Senopati Singalodra bertemu dengan tongkat Aria.


Telapak tangan Senopati Singalodra terasa panas, setelah bertemu tongkat.


Tangan kiri Aria bergerak menghantam dada Senopati Singalodra.


Senopati Singalodra terkejut, melihat tangan kiri Aria yang berubah warna menjadi merah, menghantam ke arah dada.


Aji gelap bumi di pakai oleh Senopati Singalodra untuk menahan ilmu mawa geni.


Setelah berhasil menangkis, Senopati Singalodra mundur.


Setelah jauh dari Aria, tangan Senopati Singalodra sudah menggenggam keris berwarna hitam.


Keris pemberian kawan gurunya.


Senopati Singalodra duduk sila di tengah arena, keris yang ia pegang di acungkan di depan kepala, sambil mulutnya berkomat kamit membaca mantra yang di pelajari dari si pemilik keris.


Keringat terlihat bercucuran dari wajah Senopati Singalodra.


Aria melihat aura hitam sangat besar keluar dari kepala Senopati Singalodra.


Asap tipis berwarna hitam perlahan tapi pasti mulai berubah menjadi macan berwarna hitam bermata merah darah.


2 Taring macan hitam sangat panjang, sampai keluar dari mulutnya dan menambah bengis tampilan macan jadi-jadian yang keluar dari tubuh Senopati Singalodra.


Macan hitam setelah meraung, kemudian menerkam ke arah Aria Pilong.


Aria Pilong tidak menyangka Senopati Singalodra bisa memanggil mahluk jadi-jadian dengan aura yang sangat besar.


Aria menghindari terkaman macan hitam dengan ilmu Bayu samparan, kemudian tongkatnya menghantam badan macan.


Whut!


Tongkat Aria menembus tubuh macan hitam dan tongkatnya menghantam lantai.

__ADS_1


Brak!


Debu beterbangan di sekitar tongkat Aria.


Para penonton melihat Aria bergerak seorang diri sambil tongkatnya menghantam lantai tak mengerti apa yang di lakukan oleh pemuda itu.


“Panglima Sanjaya! Apa yang terjadi dengan pendekar Aria? Kenapa ia seperti berkelahi seorang diri? Tanya Prabu Samarawijaya.


Orang yang kepandaiannya belum tinggi tidak akan bisa melihat mahluk tak kasat mata, hanya orang dengan mata batin yang sudah terasah, mampu melihat mahluk ghaib yang di keluarkan oleh Senopati Singalodra.


“Tuan Aria sedang melawan mahluk ghaib berupa macan hitam yang di panggil oleh Senopati Singalodra,” panglima Sanjaya membalas perkataan Prabu Samarawijaya.


“Aku lihat tuan Aria Pilong menyerang, tapi serangannya seperti menyerang bayangan, tak bisa menyentuh mahluk ghaib milik Senopati Singalodra,” lanjut perkataan panglima Sanjaya.


Raut wajah Prabu Samarawijaya tampak cemas setelah mendengar perkataan panglima Sanjaya.


Aria menyerang dan terkadang menghindar dari terkaman Macan hitam.


Bret!


Baju Aria terkena sambaran cakar Macan hitam, Aria mundur se tombak.


Sekar Arum menatap cemas, begitu pula Kemuning dan wulan, mereka baru sadar kenapa Aria seperti bersilat seorang diri, setelah melihat baju di bagian perut pemuda itu sobek, seperti di cakar binatang buas, begitu pula dengan para penonton di luar arena.


Raut wajah Aria berubah kelam, kemudian menyalurkan Aji Cakra Candhikkala ke tongkatnya


Macan hitam kembali menerkam Aria, kedua cakarnya menuju ke arah kepala.


Kali ini Aria tidak diam menunggu, tubuhnya melesat ke arah macan hitam.


Tangan kanan menyabetkan tongkat, sedangkan tangan kiri bersiap dengan Aji Cakra Candhikkala.


Plak!


Cakar kanan macan hitam menghantam tongkat Aria, cakar kiri menyambar ke arah kepala Aria dari sisi lain, saat cakar menyambar, Aria berkelit dengan menunduk dan bergerak ke samping kanan, kemudian tangan kirinya menghantam ke arah badan macan hitam.


Buk!


Macan hitam terpental terkena telapak kiri Aria, yang mengandung Aji Cakra candhikalla.


Setelah terpental, macan hitam berubah wujud menjadi seorang kakek berpakaian hitam, berwajah sangat bengis.


“Rupanya kau yang membunuh cucuku, Loreng geni,” kakek itu berkata sambil menatap tajam.


“Bersiaplah untuk mati anak muda,” lanjut perkataan kakek yang di kenal dengan nama panglima hitam.


Setelah berkata, panglima hitam berubah kembali menjadi macan hitam, tetapi besarnya kali ini dua kali lipat dari yang pertama.


Aura hitam yang keluar dari tubuh macan hitam kali ini sangat mengerikan.


Aria terkejut, ia sangat jelas melihat bentuk macan hitam jelmaan panglima hitam dengan aura yang mengerikan.


Perlahan Aria mundur dua langkah, tetapi langkahnya terus di ikuti oleh jelmaan panglima hitam.


Sarka yang berdiri di samping Wulan melihat Aria mundur, kerutkan keningnya.


Sarka tahu lawan yang di hadapi oleh Aria kali ini bukan orang sembarangan.


Tiba-tiba telinga Sarka mendengar suara yang sangat ia kenal, suara sang guru. Resi Maung Bodas.


“Jaka! Bikeun kujang macan putih ka si lolong”*

__ADS_1


————————————————————


“Jaka! Berikan kujang macan putih ke si buta,”*


__ADS_2