Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 104 : Nasehat Dan Restu Nyi Selasih


__ADS_3

“Padepokan Jagad Buwana? Tanya Resi Jayaprana, sambil kerutkan keningnya.


“Benar! Jawab Selamet.


“Siapa ketua Jagad Buwana? Tanya Bayusena, merasa penasaran mendengar nama padepokan yang namanya baru saja ia dengar, apalagi setelah tahu, Carik bayangan hanya sebagai seorang utusan di padepokan itu.


“Ketuanya….”


Plak!


Tengkuk Buto Ijo di tepak oleh Aria, sambil berkata.


“Kalau makan, jangan sambil bicara,”


“Tangan Suketi juga ikut menutupi mulut Buto Ijo , sehingga si raksasa terbatuk.


Sebagian daging ayam menyembur ke arah wajah Carik bayangan, tetapi kembali sang carik sudah berpindah tempat.


“Kalau makan hati-hati! Untung saja, aku Selamet,” Carik bayangan berkata.


Phuih!


“Sebal aku dengarnya! Kalau saja tanganku sudah berada di lehernya, aku ingin tahu, apa dia masih bisa bilang Selamet,” gerutu Buto Ijo.


“Ketua padepokan Jagad Buwana sedang bertapa, jadi segala sesuatunya para pengurus yang menjalankan padepokan.


“Aku di suruh mencari satu kampung atau kota kecil untuk tempat Ketua serta pengurus padepokan, berdiam, selama berlangsungnya pertemuan di gunung Bromo.


“Kau sewa saja penginapan di desa Ranu pani! Seru Bayusena.


“Aku di suruh membeli satu kampung atau kota, bukan menyewa penginapan,” balas Selamet.


“Membeli satu kota? Tanya Bayusena dengan raut wajah kaget.


“Duit tidak masalah buat padepokan Jagad Buwana, asal cocok langsung beli,” jawab Carik Bayangan.


“Sombong! Seru Bayusena.


“Kenapa….”Kepalamu ingin di jual? ! Tanya Selamet.


“Hati-hati kalau bicara! Kau pikir padepokan Bayugeni takut pada Jagad Buwana? Ucap Bayusena dengan nada dingin.


“Kau kenal tidak, dengan padepokan Bayugeni? Tanya Selamet kepada Buto Ijo.


“Namanya saja baru ku dengar sekarang! Jawab Buto Ijo.


“Bangsat Denawa! Sejak di desa Samiloto bukankah sudah di beritahu, kalian semua termasuk orang padepokan Bayugeni,” batin Bayusena.


“Kalau pengurus padepokan, kau pasti tahu? Coba kau sebut, Siapa tahu aku kenal dengan pengurus padepokan Jagad Buwana,” resi Jayaprana berkata.


Selamet tampak berpikir, ketika mendengar permintaan resi Jayaprana.


Hmm!


Semua menunggu jawaban Selamet.


Tetapi Selamet tidak juga berkata.


Brak!


“Cepat kau sebut, siapa pengurusnya! Bentak Buto Ijo.


“Di tunggu dari tadi, tidak juga bicara,”


“Resi! kalau mau menjadi anggota padepokan Jagad Buwana, baru aku beritahu siapa pengurusnya.


“Kalau mereka semua mau menjual tanahnya kepada padepokan Jagad Buwana, terpaksa kalian harus pergi dari Ranu pani,” Selamet setelah berkata, kemudian berdiri.


“Maaf! Aku berangkat lebih dulu,”


“Perlahan Selamet berubah menjadi seperti asap, kemudian menghilang di keremangan malam.


“Tak kusangka, Carik bayangan hanya menjadi seorang utusan di padepokan Jagad Buwana, entah siapa ketua Jagad Buwana,” batin Resi Jayaprana.


Setelah Carik bayangan pergi, Anjani membuka perbekalan yang di bawa dari desa Samiloto, mereka lalu makan bersama.

__ADS_1


Saat mereka makan, Resi Jayaprana bercakap-cakap berdua dengan Aria.


“Tuan muda! Sewaktu kau di tusuk pedang, dan di tendang Buto Ijo, tuan muda tidak terluka, Apakah itu ilmu sihir pembalik mata, atau ajian kebal, tetapi setahu aku, kalau kebal biasanya tidak mempan senjata, tetapi tubuh tuan Aria tidak? Tanya Resi Jayaprana.


“Anggap saja seperti itu resi,” jawab Aria.


Resi Jayaprana kerutkan kening mendengar jawaban Aria.


Tetapi sang resi mengerti, setelah mendengar suara muridnya, Anjani yang datang membawa makanan untuk Aria.


“Guru! Kasihan tuan muda, perutnya sudah lapar tetapi terus saja di ajak bicara.”


Hmm!


“Dasar pengacau! Kalau kau tak keburu datang pasti sudah mengatakan Ajian yang tadi di pakai,” resi Jayaprana mendengus, kemudian pergi meninggalkan Anjani berdua dengan Aria.


“Kakang makan dulu! Seru Anjani, raut wajah Anjani langsung merah setelah memanggil kakang.


Aria anggukan kepala, kemudian menerima nasi bersama lauk pauk dari Anjani.


Perlahan Aria makan sambil di temani oleh Anjani.


“Bagaimana kakang bisa selamat, setelah jatuh ke jurang? Tanya Anjani.


“Panjang ceritanya! Tetapi takdir yang menyelamatkan aku, sehingga bisa bertemu lagi dengan kalian,” jawab Aria.


“Tuan Buto Ijo sangat cemas terhadap kakang,setelah kakang jatuh ke jurang, Ki Bayan sampai mengosongkan padepokan jagawana, karena takut semua murid padepokan di bunuh oleh Buto Ijo,” balas Anjani


“Begitulah Buto Ijo,” ucap Aria.


Percakapan Aria dan Anjani terhenti ketika mendengar suara Bidara.


“Tuan Muda! Kami bawakan air untukmu,”


“Terima kasih” ucap Aria sambil menerima wadah air dari Bidara.


“Tuan muda! Maafkan kedua kakak seperguruan ku, mereka pasti sedang kalut ketika menyerang tuan muda,” Bidara berkata dengan nada sedih.


“Sudahlah! Tak usah di bicarakan lagi,” balas Aria.


“Bidara! Ngomong sembarangan,” tegur Nagini, wajahnya langsung merah setelah sang adik mengatakan ia kekasih Rama.


Begitu pula Anjani, wajahnya cemberut ke arah Bidara, tetapi hatinya berbunga bunga.


“Udara malam mulai dingin, kalian sebaiknya istirahat, biar besok tidak lelah.


“Aku akan berjaga di sini,” ucap Aria.


Ketiganya lalu pamit.


“Nyi….Kau sudah pulih? Tanya Aria.


“Sudah Raden! Bayangan hijau melesat, Nyi Selasih sudah duduk di samping Aria.


Aria tersenyum melihat Sang istri.


“Istriku cantik sekali,” Aria berkata sambil memandang Nyi Selasih.


“Raden sekarang pandai merayu,” balas Nyi Selasih sambil tersenyum malu.


“Bagaiman pertemuan dengan Resi Lanang jagad? Tanya Nyi Selasih.


Aria lalu menceritakan semuanya kepada Nyi Selasih.


Setelah mendengar cerita Aria, Nyi Selasih langsung memeluk Aria.


“Jika sudah mendapatkan ajian itu, Aku bisa hidup lama dengan Raden,”


Aria mencium kening Nyi Selasih.


“Aku juga” ucap Aria.


“Anjani gadis yang baik, cantik dan berbudi, dia pantas untuk menjadi pendamping Raden.


Aria kerutkan keningnya mendengar perkataan Istrinya.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Tanya Aria.


“Raden! Kita berbeda alam, bisa bersama tapi tak bisa bersatu, Raden butuh wanita yang bisa bersama dan bersatu, yang bisa di dapat jika menikahi gadis yang berasal dari dunia manusia, karena raden harus mempunyai keturunan,” Jawab Nyi Selasih sekaligus memberi penjelasan kepada Aria.


Aria diam mendengar penjelasan Nyi Selasih.


“Untuk saat ini aku masih merasa nyaman dengan Nyi Selasih, tetapi jika aku harus menikah seperti yang tadi, Nyi selasih katakan. Siapapun gadis yang menjadi pasanganku, biarkan waktu dan takdir yang mengatur.”


Nyi Selasih langsung memeluk setelah mendengar perkataan Aria.


“Hati-hati di pertemuan! perasaanku mengatakan, ada satu kekuatan besar yang tengah mengintai kita, kekuatan itu masih tertutup kabut tebal, entah itu Resi Larang tapa atau panglima Hitam, aku belum bisa memastikannya,” Nyi Selasih berkata dengan nada cemas.


“Nyi Selasih Tidak usah khawatir! Resi Wangsa, Singabarong serta nyai Kidung kencana berhasil mendirikan padepokan Jagad Buwana.


“Aku yakin padepokan Jagad Buwana pasti banyak orang-orang hebat, salah satunya Selamet, Si Carik bayangan,” Aria berusaha menepis kecemasan Nyi Selasih.


Setelah selesai bercakap-cakap, Aria dan Nyi Selasih saling tatap penuh Arti.


Keduanya lalu bermesraan, Aria yang sudah lama jarang bertemu Nyi Selasih, malam itu semua kerinduannya ia tumpahkan.


“Kakang….Kakang bangun! Sudah pagi,” ucap Anjani sambil sedikit menggoyangkan bahu Aria.


Hmm!


“Rupanya aku tertidur,” ucap Aria sambil tersenyum malu.


“Kalau masih lelah! Nanti siang kita lanjutkan perjalanan,” resi Jayaprana berkata sambil tersenyum, sang resi suka dengan Aria, yang menurutnya pemuda cacad tetapi pantang menyerah.


Resi ingin Anjani bisa dekat dengan Aria.


“Bantu tuan Aria bangun! Seru resi Jayaprana, sambil melirik ke arah Anjani, yang tengah jongkok di sisi Aria.


“Guru bersama yang lain berangkat saja lebih dulu, nanti aku bersama kakang Aria menyusul.


Rama dan Nagini saling pandang, keduanya lalu tersenyum mendengar perkataan Anjani.


Resi Jayaprana mengerti dengan keinginan muridnya, lalu mengajak Bayusena melanjutkan perjalanan.


Tinggal Buto ijo dan Suketi yang bersama Aria.


Anjani jongkok di samping Aria, berusaha membantu Aria berdiri, sambil memegang tongkat sang pemuda.


Ketika melihat leher Aria tampak banyak gurat merah seperti bekas gigitan, Anjani kerutkan kening.


“Kenapa leher kakang Aria banyak gurat merah? Seperti bekas gigitan,” tanya Anjani.


Raut wajah Aria berubah merah mendengar pertanyaan Anjani, karena semalam ia dan Nyi Selasih bercumbu.


“Ini….ini! Ucap Aria dengan suara pelan.


“Pergi….pergi kau! Ucap Buto Ijo sambil menahan kepala Suketi yang terus menciumi lehernya, gurat merah juga terlihat RI leher Buto Ijo seperti yang terdapat di leher Aria.


“Kau gila, ya? Dari tadi leher ku kau gigit,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


Tanpa sengaja, Suketi semalam melihat Aria bercumbu dengan Nyi Selasih, sehingga dari tadi terus mengganggu Buto Ijo, dan menggigit leher sang calon suami.


Anjani kerutkan keningnya, lalu melihat leher Aria, kemudian balik menatap ke arah leher Buto Ijo.


“Aku tahu, apa yang terjadi pada leher kakang Aria,” bisik Anjani di telinga Aria.


“Jadi….jadi semalam, kau melihat aku sedang….sedang? Tanya Aria dengan suara sangat pelan.


Anjani bingung mendengar perkataan Aria, kemudian berkata.


“Jadi….jadi benar dugaanku, kakang ada hubungan? Ucap Anjani dengan nada sedih.


“Ada hubungan? Tanya Aria sambil kerutkan kening.


“Hubungan dengan siapa? Kembali Aria bertanya, karena tak mengerti dengan perkataan Anjani.


Anjani menunjuk ke arah Buto Ijo yang tengah meraba raba lehernya, kemudian berbisik.


“Dengan Suketi”


Suara dengusan langsung keluar dari mulut Aria, setelah mendengar perkataan Anjani, sambil berusaha berdiri sendiri, Aria lalu balik bertanya kepada Anjani.

__ADS_1


“Kau sehat?


__ADS_2