Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 37 : Masalah Baru


__ADS_3

Wulan mendengar perkataan Senopati Kebo wulung langsung berkata.


“Dia sendiri yang sebut namanya, tentu saja kami tahu, tetapi bukan berarti dia teman kami.”


“Tidak usah banyak bicara! Lebih baik kalian menyerah, sebelum kami turun tangan,” balas Senopati Kebo Wulung.


“Jadi apa mau tuan Senopati? Tanya Aria.


“Tangkap mereka! Seru Senopati Kebo wulung, sambil mundur.


Puluhan prajurit Kadiri langsung mencabut senjata, mendengar perintah Senopati.


Phuih!


“Dasar Kebo, tidak ada otaknya,” ucap Buto Ijo.


Sebatang tombak melesat ke arah pinggang, dengan sedikit menggeser tubuh, Tombak lewat di sisi pinggang.


Buto Ijo langsung menjepit tombak dengan ketiak, kemudian mematahkan batang tombak.


Krak!


Setelah mematahkan tombak, kaki Buto Ijo menendang bawah perut prajurit yang menombaknya.


Buk!


Prajurit naas itu terpental dan tewas seketika.


Sambil menjaga Wulan, tongkat Aria bergerak lincah, menyabet terkadang menusuk, tetapi prajurit yang mengurung Aria dan Wulan sangat lincah, mereka membawa tameng serta tombak pendek.


4 orang yang membawa tameng serta tombak mengurung Aria dan Wulan dari empat sudut, adalah bukan prajurit sembarangan, mereka ber empat di sebut tameng raja, salah satu pengawal raja Kadiri yang ikut bersama Senopati Kebo Wulung, mereka menyerang Aria dan Wulan secara bergantian.


Aria menghantam kepala seorang prajurit yang berada di depannya dengan tongkat.


Whut!


Prajurit itu dengan cerdik membungkukkan tubuhnya, kemudian tameng bergerak ke arah kepala menahan hantaman tongkat Aria.


Trak!


Tongkat menghantam tameng yang terbuat dari kayu keras.


Prajurit yang kepalanya terlindung oleh tameng, balik menyerang.


Tombak di tangan kanan menusuk ke arah kaki Aria.


Aria merasakan angin dingin menyambar kaki, lalu lompat sambil melentingkan tubuhnya ke arah Wulan, saat mendengar teriakan Wulan ketika dirinya di serang.


Trak!


Aria setelah turun di dekat Wulan, menyabetkan tongkatnya ke arah si prajurit.


Prajurit itu angkat tamengnya di depan dada menahan sabetan tongkat Aria.


Trak!


Prajurit langsung mundur, setelah tamengnya bergetar terkena hantaman tongkat Aria.


Hmm!


“Rupanya mereka membawa tameng, jika belum menghancurkan tameng mereka, aku susah untuk merubuhkan para prajurit itu,” batin Aria yang belum berpengalaman melawan orang yang bertempur membawa tameng, belum lagi Aria harus melindungi Wulan yang terus di desak oleh musuh, sehingga perhatiannya terbagi.


Saat musuh mundur, Aria berbisik kepada Wulan yang ada di sisinya.


“Kau bawa racun tidak? Tanya Aria.


“Bawa,” jawab Wulan.


“Kau ada racun yang bisa membuat tubuh orang gatal-gatal? Kembali Aria bertanya.


“Ada, tapi tinggal sedikit lagi,” jawab Wulan.

__ADS_1


“Sebarkan kepada prajurit yang membawa tameng,” bisik Aria, “aku akan melindungimu.”


“Racunku akan habis jika kupakai untuk meracuni mereka,” balas Wulan.


“Kalau tidak kau pakai sekarang, memangnya racun itu akan kau gunakan untuk apa? Tanya Aria dengan nada mulai kesal, apalagi telinga Aria mulai mendengar suara gerak kaki para prajurit tameng raja mulai mendekati mereka.


“Racun itu untuk berjaga-jaga,” jawab Wulan.


“Berjaga-jaga dari apa? Tanya Aria tak mengerti.


“Berjaga-jaga jika kau mau memperkosa aku,” jawab Wulan.


Phuih!


“Kau jangan khawatir! Sebelum besok kau ku perkosa, hari ini aku akan menguburkan mu terlebih dahulu.” Balas Aria dengan nada kesal.


Tanpa menunggu jawaban dari Wulan, Aria melesat sambil berputar menghantam prajurit yang berada di sisi kanan.


Whut!


Si prajurit mundur melihat tongkat melesat.


Wulan melihat Aria marah, mengambil bubuk racun dari balik baju, kemudian melesat ke arah prajurit di dekatnya.


Si Prajurit melihat Wulan bergerak, lalu menusukan tombaknya ke arah leher Wulan.


Wulan menangkis serangan tombak dengan pisau kecil yang selalu di bawa gadis itu.


Trang!


Sebelum mata tombak menusuk leher, Pisau Wulan menangkis, kemudian tangan kiri Wulan melempar bubuk putih beracun ke arah prajurit yang menyerang dirinya.


Sang prajurit melihat Wulan melemparkan sesuatu ke arahnya, langsung mengangkat tameng.


Tapi racun sudah menyebar terbawa angin, mengenai bagian tubuh si prajurit.


Prajurit mundur sambil berguling, setelah jauh dari Wulan, prajurit itu lalu berdiri.


Raut wajah prajurit berubah pucat melihat tangan dan bajunya tampak bubuk putih.


Prajurit itu menepak tangan dan baju, berusaha membersihkan bubuk putih, tapi terlambat, racun Wulan mulai menyebar, prajurit itu mulai menggaruk tubuhnya.


“Kenapa tubuhku gatal-gatal,” batin si prajurit, sambil menggaruk badannya.


Semakin ia garuk, badannya semakin gatal, gatal terus merambat ke bagian tubuhnya yang lain.


Trang!


Tombak di lepaskan oleh si prajurit, lalu tangan kanan terus menggaruk


Aria mendengar gerak tidak beraturan, langsung bergerak menebas ke arah si prajurit.


Plak!


Si prajurit tak bisa mengelak, lehernya terkena hantaman batang tombak, tubuhnya langsung ambruk, tewas seketika dengan tulang leher patah.


“Rupanya Wulan sudah mengeluarkan racunnya, jika aku yang terkena racun itu! Badan Wulan yang akan aku garuk.” Aria berkata dalam hati.


3 orang prajurit yang tersisa terkejut, salah seorang dari mereka berteriak memberi peringatan, “awas hati-hati terhadap racun gadis itu.”


Melihat kawannya tewas, salah seorang prajurit yang berada di dekat Wulan langsung memburu gadis itu, sambil menyabetkan tombaknya ke arah perut Wulan.


Wulan menangkis serangan tombak sambil mundur.


Trang!


Arah tombak melenceng ke kanan, tapi tombak kembali menyambar ke arah leher Wulan.


Wulan terkejut dan hanya bisa menatap tombak musuh menusuk ke arah leher, karena ia sudah mati langkah.


Whut!

__ADS_1


Aria menyambar tubuh Wulan dengan Aji Bayu samparan, sambil tongkatnya menyambar ke arah kaki si prajurit.


Plak!


Prajurit terhuyung saat kakinya terkena hantaman tombak Aria.


Sambil tangan kiri memeluk tubuh Wulan, Aria kali ini menendang perut prajurit itu.


Buk!


Si Prajurit tidak siap menerima serangan, tubuhnya langsung ambruk dengan isi perut hancur terkena tendangan Aria.


Sebentar-sebentar tangan Wulan berusaha menurunkan tangan Aria yang tengah memeluk dirinya.


Tetapi Aria tidak melepaskan pelukannya.


Sambil terus memeluk Wulan, Aria lompat ke kiri, lalu tongkatnya menusuk dada prajurit yang di sebut prajurit tameng raja.


Prajurit itu palangkan tameng di depan dada.


Trak!


Saat tongkat menghantam, Wulan dengan cepat melemparkan bubuk racun, ke arah prajurit itu.


Si Prajurit gugup dan langsung mundur, Aria tak mau membuang kesempatan, Aria bergerak mengikuti suara gesekan kaki musuh, tongkatnya menusuk ke arah kaki, tameng bergerak berusaha menghantam tongkat, tetapi tak di sangka oleh si prajurit Aria dengan jurus tongkat Seda gitik mencongkel tameng dari bawah.


Trak.


Saat tameng bergerak naik akibat congkelan tongkat Aria.


Wulan yang tengah di rangkul oleh Aria menyabetkan pisaunya ke arah leher prajurit itu.


Sret!


Garis tipis terlihat di leher prajurit itu setelah Wulan menyabetkan pisaunya.


Garis tipis berubah warna menjadi merah.


Prajurit itu melepaskan tombaknya, tangannya lalu memegang leher yang perlahan mulai terbuka dan menyemburkan darah segar.


Tak lama kemudian tubuh prajurit itu ambruk ke tanah dan tewas.


Tongkat Aria bersinar setelah prajurit ketiga tewas.


“Nyi kenapa tidak membantu? Tanya Aria.


“Aku tak mau mengganggu kesenangan Raden,” jawab Nyi Selasih, “lebih baik tidur,” lanjut perkataan Nyi Selasih.


Wulan menggeliat dari rangkulan Aria.


“Lepaskan!? Teriak Wulan, pipi gadis itu tampak merah merona.


Aria langsung melepaskan pelukannya.


“Aku sampai susah bernapas,” ucap Wulan.


“Kenapa susah bernapas, aku kan cuma memeluk pinggangmu,” balas Aria.


“Mana yang kau bilang pinggang? Kau memeluk atas pinggang,” balas Wulan, wajahnya langsung merah setelah berkata.


Sejak di peluk dan tangannya memegang 2 bukit kembar di dadanya, perasaan Wulan sudah tak menentu dan hanya bisa pasrah.


“Memangnya kau tidak merasakan? Tanya Wulan, sambil menatap wajah Aria yang tertutup caping.


Maksud dari perkataan Wulan adalah, apa Aria tidak merasakan Hatinya deg-deg an saat kedua tangan pemuda itu memeluk sambil memeras buah dadanya.


“Sepertinya tidak ada perasaan apa-apa,” jawab Aria.


Raut Wajah Wulan langsung cemberut mendengar perkataan Aria, kemudian berkata dengan nada kesal.


“Awas kau! Kalau pegang-pegang lagi,”

__ADS_1


__ADS_2