
“Percuma aku bicara! Orang itu sudah kau bunuh,” batin Tumenggung Wirabumi sambil melirik ke arah tubuh Senopati Singalodra yang sudah tanpa kepala.
Sedangkan Prabu Samarawijaya hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan, melihat Senopati Singalodra tewas, karena ini bukan hal yang boleh di anggap remeh, karena bisa memicu perang dengan Kahuripan.
“Panglima Sanjaya aku minta pendapatmu, bagaimana jawaban aku kepada Adi Mapanji Garasakan jika menanyakan kematian Senopati Singalodra,” Prabu Samarawijaya berkata.
“Baginda Prabu ceritakan saja apa adanya bahwa Senopati Singalodra bertempur sebagai pendekar, bukan sebagai prajurit kerajaan Kahuripan,” balas Panglima Sanjaya.
“Aku akan menjadi saksi jika Prabu Mapanji Garasakan menanyakan perihal Senopati Singalodra,” lanjut perkataan Panglima Sanjaya.
“Terima kasih atas bantuan panglima Sanjaya,” balas Prabu Samarawijaya, hatinya sedikit merasa lega walau iya yakin pasti bakal ada buntut dari peristiwa ini.
Raja Samarawijaya angkat tangan, memberi isyarat kepada Tumenggung Wirabumi agar menutup sayembara.
Orang-orang padepokan tangan hitam langsung balik ke utara, di pimpin oleh Serigala hitam dan Lowo Ireng yang sudah sadarkan diri.
Tumenggung Wirabumi melepaskan orang-orang dari padepokan Tangan hitam, karena tidak mau ada banyak lagi korban berjatuhan.
Tumenggung Wirabumi memerintahkan 2 orang anak buah Senopati Singalodra untuk membawa dan menguburkan atasan mereka.
Ketika akan mengumumkan nama pemenang, Tumenggung Wirabumi bingung, karena orang terakhir yang berdiri dan terdaftar di sayembara adalah Sarka.
Jadi bisa di katakan Sarka, adalah ketua pendekar kerajaan Kadiri yang baru.
“Kenapa Tumenggung diam? Tanya Wulan sambil berdiri dari kursinya.
Wulan tahu Tumenggung Wirabumi bingung, karena Sarka berasal dari tanah Pasundan.
“Pemenang….pemenang sayembara adalah tuan.”
“Tahan! Aku menolak muridku menjadi pemenang sayembara, ganti saja sama yang lain, resi Maung Bodas memotong perkataan Tumenggung Wirabumi.
“Memang tidak pantas,” ucap Buto Ijo yang berada di samping kiri resi Maung Bodas.
“Bek….uhuk….uhuk!
Siku kiri resi Maung Bodas menghantam perut Buto Ijo, membuat Buto Ijo, batuk-batuk.
“Bangsat! Kenapa kau main pukul? Ucap Buto Ijo sambil menunjuk resi Maung Bodas.
“Aku tidak lihat ada orang,” jawab resi Maung Bodas.
“Matamu buta? Tanya Buto Ijo.
“Bukan buta, tetapi aku tidak lihat, guoblok! Resi Maung Bodas berkata sambil melotot, hati resi nyentrik itu tidak suka, muridnya di sebut tidak pantas oleh Buto Ijo.
Sudah….sudah! Ucap Aria dengan nada kesal.
“Jadi….jadi resi adalah guru sarka? Ucap Tumenggung Wirabumi setelah yang lain diam.
Resi Maung Bodas anggukan kepala menjawab pertanyaan Tumenggung Wirabumi.
Setelah Tumenggung Wirabumi berembug dengan beberapa tokoh, akhirnya resi Sarpa kencana di tunjuk langsung, diangkat sebagai ketua pendekar kerajaan Kadiri.
__ADS_1
Resi Sarpa kencana setelah di desak akhirnya bersedia.
Tumenggung Wirabumi kemudian melapor kepada Prabu Samarawijaya, bahwa resi Sarpa kencana yang menjadi ketua pendekar.
Prabu Samarawijaya anggukan kepala, setuju dengan keputusan Tumenggung Wirabumi.
“Pemuda itu sekali pukul langsung terpental,” ucap Prabu Samarawijaya kepada Panglima Sanjaya, “mana mungkin jadi ketua pendekar kerajaan Kadiri, belum lagi asal-usulnya tidak tidak jelas,” lanjut perkataan Prabu Samarawijaya sambil tertawa dan menatap panglima.
“Asal pemuda itu aku sangat tahu jelas, baginda Prabu,” balas panglima sanjaya.
“Oh, iya! Panglima sanjaya kenal dengan Sarka? Tanya Prabu Samarawijaya.
“Kenal! Sarka adalah nama samaran, namanya aslinya adalah Jaka Samudera, putra Sanjaya, panglima kerajaan Galuh.
Raut wajah Prabu Samarawijaya berubah lalu berkata, “tetapi….tetapi pemuda itu sangat tampan, ya benar putramu itu sangat tampan.”
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung panglima Sanjaya mendengar perkataan Prabu Samarawijaya.
Setelah sayembara selesai, Aria berkumpul di tempat Tumenggung Wirabumi, ia bersama Buto Ijo serta yang lain langsung ke tempat Tumenggung Wirabumi, dan tak mau bertemu Prabu Samarawijaya.
Sedangkan Panglima Sanjaya bersama Sekar Arum menunggu Sarka, di tempat kediamannya yang telah di sediakan oleh Prabu Samarawijaya.
“Guru….guru kok tahu aku ada di Daha? Tanya Sarka.
“Kebetulan saja, aku mau pergi ke Semeru lewat Daha, lalu melihat keramaian dulu.
Aria langsung berpaling ke arah resi Maung Bodas mendengar sang resi hendak menuju gunung Semeru.
“Mau apa kau ke Semeru? Tanya Resi Maung Bodas.
“Ada urusan,” jawab Aria.
Resi Maung Bodas menatap tajam ke arah Aria, kemudian anggukan kepala.
“Baik! Kita jalan bersama ke gunung Semeru,” ucap resi Maung Bodas.
Phuih!
“Naik gunung bawa-bawa orang tua, bikin susah saja,” ucap Buto Ijo sambil mengambil goreng ayam.
“Yang ada kau nantinya, yang akan menyusahkan aku,” balas resi Maung Bodas.
“Lama tak bertemu Sarpa kencana? Tanya resi Maung Bodas.
“Kau semakin tua tetapi semakin gagah saja, Wangsa,” resi Sarpa kencana membalas perkataan Maung Bodas.
“Wongso,” terdengar suara keluar dari mulut Buto Ijo.
“Wangsa namaku! Kenapa, ada yang aneh dengan namaku? Tanya Wangsa.
“Tidak! Karena memang sudah benar,” jawab Buto ijo.
__ADS_1
“Tapi kulihat wajahmu tampak aneh, pasti kau akan mengejek namaku bukan? Tanya Wangsa.
“Cepat katakan pikiran busuk apa yang ada di otakmu yang kecil itu,” lanjut perkataan Wangsa, melihat raut wajah Buto Ijo seperti sedang berpikir.
“Bangsat! Sudah ku katakan namamu sudah benar.
“Kau kan dari tanah Pasundan bernama wangsa, sekarang kau berada di tanah Jawa, namamu berubah jadi Wongso,” Buto Ijo membalas perkataan Wangsa.
Brak!
Tangan kiri Aria menghantam meja jati tebal, hingga retak, wajahnya tampak gusar.
“Kalau mau berdebat, cepat keluar,” ucap Aria sambil tongkatnya menunjuk ke arah pintu keluar.
Buto Ijo dan Wangsa Diam mendengar perkataan Aria.
“Aku besok akan langsung berangkat ke Semeru,”
“Aku ikut kakang! Ucap Kemuning.
“Tidak! Aku tidak akan membawa atau memikirkan wanita, selama perjalanan menuju gunung Semeru,” balas Aria.
Ki Demang surya langsung mengusap kepala anaknya, yang berusaha menahan air mata setelah mendengar perkataan Aria.
“Ki Demang surya bersama Kemuning lebih baik tinggal bersama Tumenggung Wirabumi.
“Sarka! Kau akan tinggal di Galuh atau di Daha? Tanya Aria
“Aku akan menikah di Galuh, setelah menikah terserah Wulan ingin tinggal dimana,” jawab Sarka.
Aria menarik napas mendengar perkataan Sarka, Aria pernah berpesan kepada Wulan untuk mempelajari kitab 7 racun agar bisa berguna di kemudian hari.
“Kau ingat pesanku? Tanya Aria.
“Ya kakang,” Jawab Wulan.
Aria tersenyum mendengar perkataan wulan, lalu berkata kembali, “aku titip Wulan padamu,” Yang di balas anggukan Sarka.
“Mana….? Tanya Sarka sambil tangannya bergerak gerak ke arah Aria.
“Apa? Tanya Aria sambil kerutkan kening.
“Kujang macan putih warisan guruku,” ucap Sarka sambil tangannya bergerak, meminta kujang.
Plak!
Kepala Sarka di tampar oleh Wangsa.
“Enak saja kau bicara! Memangnya aku sudah mati kau bilang warisan, dan sejak kapan aku pernah mewariskan senjata pusaka kepadamu? Tanya Ki Wangsa.
“Sudah di beri adiknya masih saja ingin kujang.”
“Jadi….jadi! Kujang pusaka macan putih? Tanya Sarka mendengar perkataan gurunya.
__ADS_1
Resi Maung Bodas alias Ki Wangsa sambil anggukan kepala, lalu jarinya menunjuk ke Aria Pilong.
“Aku wariskan penjaga barat kepada dia,”