Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 94 : Tak Ada Kesempatan Kedua


__ADS_3

Klewing mendengar suara Aria dari belakang tubuhnya, langsung melesat menjauh.


Raut wajah Klewing dan Lowo Ireng langsung pucat, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang sangat mereka takuti sudah berada di dekat mereka.


“Kalian sudah satu kali di beri kesempatan hidup, tetapi kalian sudah menyia nyiakan kesempatan yang aku berikan.


“Tak ada kesempatan kedua bagi kalian,” ucap Aria dengan nada dingin.


Lowo Ireng tanpa memperdulikan Klewing langsung lompat, hendak keluar dari padepokan Jagawana, tetapi Buto Ijo yang mendapat perintah, matanya selalu mengawasi mereka berdua.


Melihat Lowo Ireng terbang hendak keluar, Buto Ijo langsung melesat menyambar kaki Lowo Ireng.


Tap!


Setelah mencekal pergelangan kaki Lowo Ireng, Buto Ijo langsung melemparkan Lowo Ireng kembali ke dekat Klewing, yang berada di depan Aria.


Whut!


Lowo Ireng langsung turun di sisi Klewing.


Ki Bayan menatap ke arah Rama, kemudian bertanya.


“Dimana kalian bertemu dengan kedua kisanak itu?


“Kami bertemu mereka, ketika mereka sedang jalan kaki di jalan yang menuju ke arah gunung, Ki,” jawab Rama.


“Sepertinya kedua orang tokoh utara itu kenal dengan mereka.” Ucap Ki Bayan.


“Dan tampaknya juga sangat takut, Ki! Anjani ikut bicara, setelah melihat Lowo Ireng berusaha kabur, tetapi berhasil di tangkap kembali oleh Buto Ijo.


Sementara itu, Klewing yang mengetahui Lowo Ireng hendak kabur meninggalkan dirinya, menatap ke arah Lowo ireng.


“Kakang hendak meninggalkan aku? Tanya Klewing dengan nada gusar.


“Aku keluar, hendak menyuruh anak buah kita membunuh semua orang di padepokan Jagawana,” balas Lowo Ireng untuk menutupi malu, setelah dirinya di tangkap dan di lemparkan kembali oleh Buto Ijo.


Aria yang mendengar perkataan Lowo Ireng mendengus, kemudian berkata kepada Buto Ijo.


“Mereka sudah tak bisa di ampuni! Kau keluar dan habisi mereka yang ada di luar.


“Ingat! Jangan sampai ada satupun yang tersisa,” ucap Aria dengan nada dingin.


Setelah mendengar perkataan Aria, Buto Ijo langsung melesat keluar, dan tak lama kemudian terdengar suara teriakan dan jeritan memilukan dari orang yang berada di luar.


Surajaya serta Rama yang merasa penasaran langsung melesat keluar, wajah keduanya berubah pucat dan dalam hatinya merasa bergidig, melihat puluhan orang tergeletak dengan kepala pecah, dan anggota tubuh yang tampak terlipat akibat hantaman, serta tekukan Buto Ijo terhadap tubuh lawan.


Aria yang sudah menyalurkan tenaga dalam ke mata dan dapat melihat aura dari Lowo Ireng dan Klewing, tersenyum dingin dari balik capingnya.


Tangan kanan Klewing sudah bertambah dengan cakar besi yang merupakan senjata andalannya, sedangkan Lowo Ireng menyiapkan kantong paku beracun.


Klewing langsung melesat, sambil cakar besi menghantam ke arah kepala Aria,


Sedangkan Lowo Ireng setelah melihat Klewing menyerang, langsung melesat ke udara, matanya tak berkedip siap melemparkan paku beracun, ke arah Aria bergerak.


Shing!


Suara sabetan cakar besi terdengar, saat senjata Klewing menyambar kepala.


Aria angkat tongkatnya tegak lurus, menangkis serangan cakar besi Klewing.


Trang!


Setelah menangkis, Aria menghantamkan tangan kiri dengan ajian Mawageni ke tubuh Klewing.

__ADS_1


Whut!


Klewing yang tangan kirinya putus tak bisa menangkis, tubuhnya mundur dua langkah, menghindari serangan Aria.


Lowo Ireng setelah melihat Klewing mundur, langsung menghujani Aria dengan paku beracun dari udara.


Aria yang mengetahui tempat Lowo Ireng dari aura yang keluar, tubuhnya langsung lenyap.


Senjata rahasia Lowo Ireng langsung menghujani tanah dimana tadi Aria berdiri.


Lowo Ireng melihat Aria menghilang langsung turun mendekati Klewing.


Perkiraan Lowo Ireng tepat, setelah melesat turun, Aria berada di tempat tadi Lowo Ireng berdiri di udara.


Melihat musuhnya sudah turun, Aria langsung melesat ke arah Lowo Ireng dan Klewing.


Whut!


Tongkatnya mengibas ke arah Lowo Ireng dan Klewing.


Sinar merah dari ajian Mawageni yang di alirkan melalui tongkat melesat.


Melihat sinar merah melesat, Klewing dan Lowo Ireng melesat ke kiri dan kanan menghindari serangan Aria.


Blam!


Serpihan tanah dan kerikil muncrat ke atas, saat hawa tenaga dalam dari ajian Mawageni menghantam tanah, lobang besar tampak terlihat akibat hantaman Aria.


Anjani sampai leletkan lidah, melihat lobang besar akibat dari hantaman Aria.


Klewing menghantam dari sisi kiri, sedangkan Lowo Ireng melesat dari sisi kanan, keduanya menyerang Aria dari dua sisi.


Aria melihat aura hitam menyerang dari sisi kanan dan kiri, tubuhnya melesat naik sambil memutar tongkatnya.


Trang!


Aria memutar tongkatnya melihat, merasakan dan mendengar 3 angin mendesis keras menuju ke arahnya.


Tring….Tring….Tring!


Ketiga paku berjatuhan ke tanah, setelah berhasil menangkis senjata rahasia musuh, telapak kiri Aria dengan cepat menghantam ke arah Lowo Ireng.


Whut….Brak!


Lowo Ireng yang tengah naik tak bisa menghindar, tubuhnya langsung terhempas ke tanah, masih untung Lowo Ireng langsung melipat kedua tangan, sehingga tubuhnya terlindung oleh baju kulit yang bisa membuatnya terbang.


Tetapi hawa panas ajian Mawageni yang menghantam tubuh, terasa sangat panas.


Perlahan darah meleleh dari sisi bibir Lowo Ireng, tanda orang No. 2 dari padepokan tangan hitam sudah terluka dalam.


Hoek….cuih!


Lowo Ireng meludah, dari mulutnya keluar ludah bercampur darah.


“Kakang jangan jauh dariku, kita harus saling melindungi melawan si iblis buta,” ucap Klewing.


Lowo Ireng anggukan kepala mendengar perkataan Klewing.


Tangan kanan Klewing bergerak naik turun di depan dada, sambil merapalkan ajian serigala hitam


Tak lama kemudian, bayangan hitam keluar dan membentuk se ekor serigala berwarna hitam bermata merah menatap tajam ke arah Aria.


Aria tak mau berlama lama menghadapi kedua orang yang sudah tak bisa di ampuni itu, tangan kiri bergerak ke arah dada, setelah mengerahkan tenaga dalam ke arah tangan kiri, kini di tangan kiri Aria, tampak kujang berwarna putih, dengan hiasan gagang berbentuk kepala macan.

__ADS_1


Setelah Aria memegang kujang pusaka Maung Bodas, Aria langsung menghantamkan kujang ke arah tanah.


Blam!


Sinar putih keluar dari ujung kujang, kabut mengepul, dari dalam kabut berwarna putih lalu muncul Maung Bodas besar, dengan belang berwarna kuning ke emasan menatap tajam ke arah Serigala hitam.


Serigala hitam perlahan mundur, melihat penjaga barat yang tubuhnya lebih besar darinya.


Macan putih langsung melesat, menerkam serigala hitam yang tengah mundur.


Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya serta Rama dan Anjani langsung mundur menjauh, angin menderu dari tubuh Penjaga barat yang lompat ke arah Serigala hitam.


Serigala hitam kaki depannya mencakar Macan putih, tetapi penjaga barat menghindari serangan ke arah kanan, setelah menghindar, kedua kaki Macan Putih menerkam ke arah badan serigala hitam.


Crep….Crep!


Kedua cakar Macan putih menancap di tubuh serigala hitam, serigala hitam berusaha meronta melepaskan kedua cakar yang mencengkeram, tetapi mulut Macan putih yang terbuka, langsung menggigit leher serigala hitam.


Crep!


Dua taring panjang masuk, darah berbau busuk dan berwarna hitam keluar dari gigitan Macan putih.


Perlahan tubuh serigala hitam memudar, melihat mahluk jadi-jadian Klewing musnah, Aria langsung melemparkan tongkatnya ke arah tubuh Klewing yang tengah berdiri.


Klewing yang diam terpaku, hanya bisa menatap tongkat meluncur deras ke arah dada.


Crep!


Tongkat menembus dada Klewing sampai punggung yang langsung merubuhkan tubuh orang No. 3 di padepokan Tangan hitam.


Melihat Klewing tewas, Nyali Lowo Ireng langsung ciut, di pikiran Lowo Ireng hanya ada satu, yakni melarikan diri.


Lowo Ireng melihat Aria tengah memperhatikan Klewing, tubuhnya langsung melesat berusaha melarikan diri.


Sambil matanya terus menatap ke arah belakang, ke arah Aria yang masih berdiri.


Dengan mengawasi Aria, Lowo Ireng bisa tahu jika Aria menghilang dan ia bisa langsung menghindar.


Tetapi ada yang tidak ia sadari.


Buto Ijo yang sudah menghabisi anak murid di luar padepokan Jagawana tengah mengamati Lowo Ireng yang terus melihat kanan dan kiri.


Melihat Lowo Ireng melesat hendak keluar dari padepokan Jagawana.


Buto Ijo dengan sekuat tenaga, mencabut satu batang kayu besar dan panjang, dari pagar padepokan Jagawana.


Lowo Ireng yang hendak melesat keluar dari padepokan dan selalu melihat ke arah Aria, tidak melihat Buto Ijo yang tengah bersiap sambil berdiri di atas pagar padepokan jagawana layaknya seorang pemukul kasti yang tengah menunggu bola, dengan kedua tangan memegang batang kayu besar, sambil menyeringai menatap tajam ke arah pergerakan Lowo Ireng.


“Akhirnya aku bisa keluar,” batin Lowo Ireng, setelah melihat Aria tak bergerak.


Ketika pandangannya berbalik dan menatap ke arah depan, Lowo Ireng dengan raut wajah pucat dan mata terbelalak, menatap satu batang kayu besar dan panjang, yang di pegang Buto Ijo melesat ke arahnya.


Buk!


Tubuh Lowo Ireng melesat kembali kedalam padepokan, tulang tubuhnya hancur terkena hantaman batang kayu yang di pegang Buto Ijo.


Tubuh Lowo Ireng jatuh di dekat Klewing, keduanya tewas dengan sangat mengenaskan.


Aria tersenyum mendengar tubuh Lowo Ireng yang terkena hantaman Buto Ijo, kemudian berteriak kencang.


“Kau sudah membereskan musuh yang ada di luar? Tanya Aria.


Buto Ijo membalas perkataan Aria.

__ADS_1


“Sesuai perintah Raden! Satupun tidak ada yang hidup.”


__ADS_2