
Aria bersama dengan Rama, sedangkan Anjani seorang diri, kedua kuda terus bergerak tanpa berhenti, agar sebelum malam sampai di Padepokan Jagawana.
Rama dan Anjani sepakat untuk tidak memacu kuda mereka, agar Buto Ijo tidak tertinggal jauh dari mereka yang memakai kuda.
Rama bercerita kepada Aria selama berkuda, menurut keterangan gurunya, ada jalan rahasia menuju ke puncak Semeru dari padepokan Jagawana, tetapi tidak banyak yang tahu.
Orang hanya tahu berjalan dari sisi lain, jika ingin ke arah puncak Semeru.
Benar saja apa yang di katakan oleh Rama, sebelum malam mereka sudah berada di satu perkampungan di kaki gunung, perkampungan itu tak lain adalah padepokan Jagawana.
Batang Kayu-kayu besar berdiri menjadi pagar yang kokoh mengeliling padepokan Jagawana.
Di pintu gerbang terdapat gapura dengan pintu tebal yang terbuat dari kayu keras,
Papan besar di atas gapura, tampak tulisan, Padepokan Jagawana.
Rama mengetuk pintu gerbang yang tertutup dengan tangannya.
Tok….Tok!
Lobang kecil di tengah pintu gerbang terbuka, lalu tampak pria berkumis tebal berkata.
“Mau kemana dan cari siapa? Tanya orang itu.
“Kami mau bertemu dengan Ki Bayan,” jawab Rama.
“Siapa kalian? Tanya orang itu setelah mendengar perkataan Rama.
Hmm!
Dengus Buto Ijo, mendengar perkataan orang di balik pintu gerbang, sementara perutnya sudah tidak bisa kompromi.
“Kami murid resi Jayaprana, kami datang atas undangan Ki Bayan,” jawab Rama.
“Tunggu sebentar! Seru penjaga gerbang.
Setelah selesai melapor, pintu gerbang terbuka.
Rama, Anjani, Aria serta Buto Ijo masuk, setelah di dalam, tampak rumah-rumah murid dan tetua Padepokan Jagawana.
Di tengah perkampungan terdapat satu rumah besar yang di kelilingi oleh rumah-rumah kecil.
Penjaga gerbang membawa Rama dan Anjani ke rumah besar, tempat tinggal Ki Bayan
Sesampainya di rumah besar, Ki Bayan sudah berdiri di depan rumah.
Ki Bayan ketua Padepokan Jagawana seorang pria bertubuh sedikit bungkuk, dengan kulitnya berwarna hitam, tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek.
Gigi putihnya terlihat setelah ia tersenyum melihat Rama dan Anjani.
“Hampir 10 tahun tidak bertemu, kalian ternyata sudah menjadi muda mudi yang gagah dan cantik,” ucap Ki Bayan setelah melihat Rama dan Anjani.
Rama tersenyum mendengar ucapan ramah dari Ki Bayan, kemudian balik bertanya, “Bagaimana kabar Ki Bayan? Tanya Rama.
“Baik dan tidak baik,” jawab Ki Bayan sambil tersenyum, tetapi di balik senyum Ki Bayan, ada kegundahan yang mengganjal hati tokoh tua itu.
“Mari….Mari Silahkan masuk! Ucap Ki Bayan.
Ketika melihat Aria dan Buto Ijo yang memakai caping, Ki Bayan kerutkan keningnya sambil menunjuk ke arah Buto Ijo yang bertubuh besar.
“Mereka ini? Tanya Ki Bayan.
“Mereka kawan kami, Ki! Yang muda bernama Aria, sedangkan yang bertubuh besar bernama Jo.
Setelah mendengar bahwa Aria kawan Rama, Ki Bayan mempersilahkan mereka masuk.
Rama, Anjani, Aria serta Buto Ijo, duduk di meja bersama Ki Bayan, Ki jalak Ireng dan Surajaya.
Ki Bayan lalu memperkenalkan Ki Jalak Ireng serta Surajaya kepada Rama dan Anjani.
Buto Ijo melihat makanan di meja, tanpa basa basi setelah duduk dan di persilahkan, langsung menyantap kue-kue yang di hidangkan, begitupula dengan Suketi.
Surajaya kerutkan kening melihat Buto Ijo dan Suketi yang terus melahap makanan, saat mereka sedang bercakap cakap, kemudian bertanya kepada Rama.
__ADS_1
“Saudara Rama! Apa kawan-kawan ini murid Resi Jayaprana? Tanya Surajaya.
“Bukan tuan! Kami bertemu di jalan, karena banyak rampok dan begal, kami lalu mengajak mereka jalan bersama, apalagi setelah tahu Saudara Aria Pilong tidak bisa melihat, kami semakin tidak bisa meninggalkan mereka,” ucap Rama.
Surajaya langsung menoleh ke arah Ki Bayan setelah mendengar penjelasan Rama mengenai Aria dan Buto Ijo.
“Murid Resi Jayaprana memang baik, padahal banyak sekali di dunia ini orang yang sering berpura pura baik, ternyata di kemudian hari menjadi jahat,” ucap Surajaya sambil melirik ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo langsung angkat kepala mendengar perkataan Surajaya, tapi Buto Ijo tak membalas, karena di bawah meja, kaki Aria menoel kaki Buto Ijo, sebagai isyarat agar Buto Ijo tak usah meladeni perkataan Surajaya.
“Kisanak! Kita tidak boleh buruk sangka terhadap orang, kecuali kita melihat sendiri kejahatan orang itu,” suara merdu terdengar dari mulut Anjani, yang langsung membungkam mulut Surajaya.
“Kisanak hendak kemana? Tanya Ki Bayan kepada Aria.
“Kami hendak menuju ke puncak gunung Semeru, ketua.” Jawab Aria.
Raut wajah Ki Bayan berubah mendengar perkataan Aria, begitupula dengan Ki jalak Ireng dan Surajaya.
“Untuk apa kisanak pergi ke puncak Semeru? Tanya Ki Bayan dengan tatapan curiga.
“Kami ada keperluan, Ketua. Maaf! Kami tidak bisa menyebutkan keperluan kami,” balas Aria.
Hmm!
Suara dengusan Surajaya terdengar.
Buto Ijo langsung mengepal dan meremas kue yang ada di tangannya, mendengar dengusan Surajaya.
“Kami bertiga adalah penjaga gunung Semeru, semua kepentingan di atas gunung Semeru, kami harus tahu.
“Agar tidak ada orang yang akan mengacau di puncak gunung Semeru,” Surajaya berkata kembali.
Brak!
Meja bergetar, wadah kue serta tempat minum terangkat setelah Buto Ijo menggebrak meja, karena kesal mendengar perkataan Surajaya.
“Pencari kayu, petani dan orang yang berburu di gunung Semeru, semua sudah kau tanya, belum? Tanya Buto Ijo dengan nada dingin sambil menatap Surajaya dari balik capingnya.
“Bangsat! Berani sekali kau menggebrak meja di depan Surajaya,” ucap lelaki paruh baya itu, sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Ketua! Mohon maaf atas perkataan pamanku, kalau ketua dan kawan-kawan ketua merasa keberatan dengan kehadiran kami, kami mohon diri sekarang juga.
“Saudara Rama dan Saudari Anjani! Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian berdua yang sudah menolong kami, tanpa memperdulikan segala macam urusan orang lain,” Aria berkata, kemudian memberi hormat kepada Rama dan Anjani.
“Mari kita pergi, paman! Seru Aria kepada Buto Ijo setelah memberi hormat.
“Tunggu dulu saudara Aria! Ini hanya salah paham saja, kenapa tidak menunggu pagi hari, baru melanjutkan perjalanan.
Baru saja Rama bicara, terdengar suara kentongan yang di pukul terus menerus serta suara beradunya senjata tajam dan teriakan teriakan, dari luar rumah tempat mereka berkumpul.
Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya, Rama serta Anjani langsung melesat keluar rumah, sedangkan Aria dan Buto Ijo mengikuti dari belakang.
Di halaman padepokan Jagawana, tampak puluhan murid padepokan sedang bertempur dengan orang-orang berpakaian hitam.
2 orang berpakaian hitam dengan gerakan sangat cepat, berkelebat sambil menghantam murid Padepokan Jagawana, gerakan keduanya sungguh cepat. Membuat mereka yang melihat terkejut.
Berhenti!
Teriakan menggelegar terdengar dari mulut Ki Bayan, setelah melihat banyak muridnya tewas oleh kedua orang berpakaian hitam itu.
Suara dengusan keluar dari mulut Buto Ijo, setelah melihat dua orang berpakaian hitam yang berdiri di hadapan Ki Bayan.
Mendengar suara dengusan dari hidung Buto Ijo, Aria lalu bertanya.
“Kau kenal dengan mereka? Tanya Aria.
“Mereka si kampret Lowo Ireng dan Klewing,” ucap Buto Ijo.
Hmm!
“Mereka berada di sini pasti atas perintah Larang tapa, tapi apa maksud mereka mengacau di sekitar Semeru,” batin Aria dalam hati, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
Ha Ha Ha
__ADS_1
“Bayan! Aku peringatkan kau sekali lagi, bergabung dengan kami, atau Jagawana akan kami habisi malam ini juga,” ucap Klewing alias Serigala hitam yang tangan kirinya putus oleh Sarka ketika bertempur di arena sayembara.
Ki Bayan menarik napas mendengar perkataan Klewing.
Jarak antara mereka ada Lima tombak, keduanya tidak mau terlalu dekat, karena akan berbahaya, jika salah satu menyerang secara mendadak.
Beberapa waktu yang lalu, utusan padepokan tangan hitam memberi surat kepada Ki Bayan, agar perguruan Jagawana bergabung dengan tangan hitam.
Jika mereka menolak, padepokan Jagawana akan di hancurkan.
Ki Bayan tahu kebesaran padepokan tangan hitam dengan ketiga tokohnya yang sangat di takuti, sehingga Ki Bayan akhirnya meminta bantuan Resi Jayaprana untuk mengatasi ancaman padepokan tangan hitam.
Tetapi setelah di tunggu lama, bukan Resi Jayaprana yang datang, melainkan kedua muridnya, sebenarnya Ki Bayan merasa kecewa, ketika tahu murid sang Resi yang datang membantu bukan resi Jayaprana yang datang sendiri, karena lawan yang mereka hadapi bukan tokoh sembarangan.
“Tuan! Bergabung tidaknya padepokan Jagawana dengan padepokan Tangan hitam, kami akan putuskan setelah menghadiri pertemuan di gunung Bromo, bukankah kami sudah memberitahu kepada utusan tuan mengenai hal itu,” Ki Bayan membalas perkataan Klewing.
“Kau pikir kami bodoh! Kau hanya ingin mengulur ulur waktu berkata seperti itu, sesudah menghadiri pertemuan di gunung Bromo, lalu bertemu dan bergabung dengan kawan-kawanmu, perkataanmu pasti akan berbeda,” balas Klewing dengan nada dingin.
“Anak murid padepokan Tangan hitam sudah mengepung Jagawana, aku bisa memastikan, satupun tidak akan ada yang lolos, jika kalian menolak bergabung.
“Kau putuskan hari ini juga, mau bergabung dengan Tangan hitam, atau hari ini akhir dari padepokan Jagawana,” ucap Klewing, aku beri kalian waktu untuk berembug.
Ki Bayan, Jalak Ireng dan Surajaya saling tatap.
Buto Ijo yang melihat Surajaya diam setelah di ancam langsung meludah.
Phuih!
“Lihat musuh tangguh langsung diam, tapi melihat orang biasa, mulutnya terus berkoar koar seperti orang paling jago,” ucap Buto Ijo.
“Bangsat! Kau pikir mereka bangsa cecurut macam dirimu,” balas Surajaya, mendengar perkataan Buto Ijo, yang jelas-jelas sudah menyindirnya.
“Kau sebut aku apa? Tanya Buto Ijo dengan nada geram sambil melangkah, mendengar perkataan Surajaya.
Aria langsung menarik tangan Buto Ijo.
Aria lalu menghampiri Ki Bayan, lalu berkata.
“Aku mempunyai satu penawaran untuk Ki Bayan, jika Ki Bayan mau mendengarkan penawaranku.
Ki Bayan kerutkan kening mendengar perkataan Aria, mereka yang tengah berkumpul terkejut mendengar perkataan Aria, begitupula dengan Rama dan Anjani.
“Penawaran apa kisanak? Tanya ki Bayan.
“Tunjukan pada kami, jalan rahasia menuju puncak gunung Semeru.
“Kalau Ki Bayan setuju, mereka berdua kami yang akan habisi,” jawab Aria.
Ki Bayan sebenarnya tak percaya terhadap ucapan Aria, tetapi ia tak ada pilihan lain, Kedua ketua Padepokan Tangan Hitam bisa mereka hadapi bersama sama, walau ia sendiri tidak yakin akan memenangi pertarungan.
Tetapi ratusan murid padepokan tangan hitam yang datang, bisa membunuh semua anak muridnya.
“Baik! Aku setuju dengan tawaran kisanak,” balas Ki Bayan.
Aria tersenyum dari balik capingnya, mendengar perkataan ketua padepokan Jagawana.
Lalu berkata kepada Buto Ijo.
“Kau berjaga-jaga jika mereka hendak melarikan diri,”
Ki Bayan, Jalak Ireng, Surajaya serta Rama dan Anjani, kini perhatian mereka terpusat kepada Aria yang sedang berbicara kepada Buto Ijo.
Terlebih Rama dan Anjani, mereka ingin tahu, apa benar perkataan Aria bahwa ia akan menghabisi kedua tokoh golongan hitam yang di takuti di daerah utara.
Klewing mendengar Ki Bayan tengah berbisik bisik dengan seorang pria bercaping kemudian berteriak kencang.
“Sudah belum kalian berembug? Tanya Klewing dengan nada tidak sabar.
Kata-kata Klewing sudah cukup bagi Aria untuk mengetahui keberadaan tokoh No. 3 di padepokan Tangan hitam.
Aria dengan ajian Rogo Demit langsung lenyap dari hadapan Ki Bayan, Rama serta Anjani.
Anjani sampai mundur dua langkah, melihat Aria lenyap dari hadapannya.
__ADS_1
Sedangkan raut wajah Klewing langsung terlihat pucat, saat dari belakang tubuhnya terdengar suara dingin, Aria Pilong.
“Kau masih hapal dengan suaraku?