
“Dimana aku? Aria berkata dalam hati, setelah merasakan tidak ada gerakan dari orang-orang di sekitarnya.
“Apa karena hawa yang tadi aku rasakan, aku jadi seperti ini? Banyak pertanyaan di kepala Aria yang belum terjawab.
“Tadi aku menarik hawa yang berasal dari keningku, jika aku kembalikan hawa tersebut ke kening, mungkin aku bisa merasakan keberadaan orang-orang,” batin Aria.
Sambil melangkah dan memeriksa serta memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya, Aria mulai melakukan kebalikan dari apa yang tadi ia mulai.
Aria berdiri sambil memusatkan perhatian, kemudian Aria berusaha mengumpulkan hawa dari seluruh badan, setelah hawa bergerak Aria mengarahkan hawa tersebut kembali ke keningnya.
Tak lama kemudian, perlahan Aria mendengar suara tarikan napas, serta teriakan-teriakan dari beberapa orang.
“Tadi-tadi di sini!? Sarka berkata sambil menunjuk ke arah kursi di mana tadi Aria duduk.
Terkadang kedua tangan Sarka memegang kepala, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Aria muncul kembali, tetapi kini ia berada di samping Rara Ayu, dan tangan kiri Aria tepat berada di pundak Rara Ayu.
“Kenapa aku ada di sini? Siapa yang aku pegang?Tanya Aria dalam hati sambil menarik tangannya dari bahu, sedangkan kepala Rara Ayu tepat berada di dada Aria.
Rara Ayu terkejut saat bahunya seperti ada yang memegang, rona wajah Rara Ayu langsung merah setelah Aria berdiri di depanya, sambil memegang bahu.
“Ternyata kang mas Aria memilih aku,” Rara Ayu berkata dalam hati.
Tanpa Aria sadari, Ajian Rogo Demit milik Nyi Selasih berpindah ke tubuh Aria, akibat perpindahan kekuatan yang kini berkumpul di keningnya.
Ajian Rogo Demit, adalah ajian yang bisa memindahkan tubuh si pemilik ilmu, menuju alam ghaib tanpa terlihat.
Hmm!
“Menghilang sebentar, pas datang langsung pegang-pegang,” Sarka yang tadi terkejut, sekarang mencibir melihat Aria berdiri di depan Rara Ayu sambil memegang bahu sang gadis.
“Kakang….! Seru Wulan sambil menarik Aria.
“Apa yang terjadi? Tanya Aria.
Mereka yang hadir lalu menceritakan apa yang tadi mereka lihat, saat kabut hijau sampai Aria tiba-tiba menghilang.
Aria ingin bertanya tapi Nyi Selasih sedang istirahat dan Aria tidak mau mengganggu.
“Raden tadi menggunakan ajian Rogo Demit,” ucap Buto Ijo.
“Ajian Rogo Demit? Tanya Aria sambil kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo.
“Ajian Rogo Demit adalah ilmu yang bisa membuat Raden pergi ke dunia lelembut tanpa di ketahui oleh mereka, begitu pula sebaliknya, jika Raden menggunakan ilmu itu dari alam lelembut, di dunia manusia tubuh Raden tidak akan terlihat,” Buto Ijo memberitahu Aria tentang Ajian yang tadi tanpa sengaja ia keluarkan.
“Rupanya begitu, apa karena kekuatan Nyi Selasih yang pindah ke tubuhku, sehingga aku bisa menggunakan Ajian Rogo Demit,” batin Aria, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Aku tidak pernah belajar ilmu itu, kenapa bisa menggunakannya? Tanya Aria.
“Di dunia lelembut, walau manusia tidak belajar, tapi bisa mendapat ilmu,” jawab Buto Ijo.
“Bagaimana bisa? orang menggunakan ilmu yang belum pernah di pelajari,” ucap Sarka.
__ADS_1
“Ya bisa saja, tolol! Contohnya sudah kau lihat, Raden mendapatkan ilmu tiban ( ilmu yang jatuh ke orang yang di tuju tanpa harus belajar ) dari Nyi Selasih.,” Buto Ijo berkata.
“Pasti ada syaratnya,” balas Sarka.
“Tentu saja! Raden dapat ilmu tiban dari Ratu, setelah Raden meniban tubuh Ratu.”
Aria mendengus mendengar perkataan Buto Ijo sambil menoleh ke arah sang raksasa.
Begitu pula dengan semua mata yang berada di ruangan langsung menuju ke arah Buto Ijo, setelah mendengar perkataan raksasa bertubuh hijau itu yang sudah ketelepasan bicara, karena mereka yang berada di dalam ruangan mengartikkan kata meniban dari Buto Ijo sama dengan menindih.
Buto Ijo melihat semua mata memandang ke arahnya apalagi saat melihat mata Aria, raksasa itu langsung berdiri sambil berkata, “aku lapar ingin cari makan dulu,” kemudian melangkah pergi.
“Kakang! Apa maksud perkataan Buto Ijo? Tanya Wulan.
“Tidak tahu,” jawab Aria.
***
Dua orang bercaping jalan bersama, satu orang bercaping bertubuh besar, dengan kedua tangan dan kaki terlilit kain putih, sedangkan satu orang bercaping tampak memegang tongkat berwarna coklat.
Dua orang bercaping itu adalah Buto Ijo dan Aria, tangan serta kaki Buto Ijo sengaja di lilit kain putih oleh Wulan dan Kemuning untuk menutupi warna kulit Buto Ijo yang gampang di kenali.
Aria dan Buto Ijo menyusuri jalan raya yang menuju ke arah alun-alun kerajaan.
Banyak kedai nasi dan warung kopi dadakan yang berdiri, saat sayembara semakin dekat.
Rata-rata warung kopi penuh, karena banyak pendekar bersantai sambil bercakap-cakap.
Derap suara kereta kuda terdengar, saat satu kereta kuda yang terlihat megah dan besar, lewat di dekat Buto Ijo dan Aria, perlahan kereta berhenti.
“Apa ini jalan yang menuju pusat kota? Tanya orang yang berada dekat si kusir.
“Benar, terus saja! Jawab Buto Ijo.
Seorang gadis cantik berwajah bulat, dengan mata jernih, kepalanya keluar dari jendela kereta kuda, lalu bertanya kepada orang di sisi kusir.
“Masih jauh paman? Tanya gadis itu, dengan logat bahasa yang sama dengan Sarka.
“Sebentar lagi sampai tuan putri,” ucap pria yang berada di samping kusir.
“Sepertinya mereka berasal satu daerah dengan Sarka,” ucap Aria yang di balas anggukan oleh Buto Ijo.
Hmm!
Tiba-tiba Buto Ijo mendengus setelah melihat 3 orang berpakaian hitam mendekat.
Salah satu dari ketiga orang itu berkata, “kami di suruh menjemput Rombongan panglima Sanjaya.”
Orang yang duduk di dekat kusir turun, setelah mendengar perkataan orang berpakaian hitam.
“Siapa kalian? Kenapa bisa kenal dengan kami? Tanya pria itu.
“Kami dari padepokan Tangan hitam, Senopati Singalodra dari Kahuripan yang menyuruh kami untuk menjemput,” ucap orang itu dengan nada pelan, sambil kepalanya melihat ke kiri dan kanan, seperti takut ucapannya ada yang mendengar.
__ADS_1
Phuih! Buto Ijo langsung meludah mendengar perkataan orang itu.
Orang berpakaian hitam yang tadi bicara melirik ke arah Buto Ijo serta Aria kemudian bertanya.
“Apa mereka rombongan panglima Sanjaya?
Pria yang bernama Ki Panca gelengkan kepala, kemudian menjawab, “kami tadi bertanya kepada kedua orang itu, arah yang menuju pusat kota.”
Mendengar perkataan Ki Panca, orang berpakaian hitam menghampiri Buto Ijo lalu menunjuk sambil membentak.
“Siapa kalian? Darimana dan mau kemana? Tanya orang itu dengan tatapan bengis.
“Maaf tuan! Kami si Caping kembar, datang ke Daha untuk nonton sayembara,” jawab Aria.
“Kalian darimana? Tanya orang itu, seperti tidak memperdulikan perkataan Aria.
Ki Panca terus menatap ke arah Buto Ijo dan Aria, gerak gerik keduanya tidak lepas dari tatapan Ki Panca.
Buto Ijo sudah kesal kepada orang yang bertanya, tangan kanannya sudah mengepal, tetapi Buto Ijo tidak berani bertindak, karena sebelum berangkat, Aria mengatakan bahwa mereka sedang menyamar, jadi jangan bertindak sembarangan.
“Kami berdua dari Wengker kisanak,” jawab Aria.
Mendengar kata Wengker, pria itu tersenyum mengejek.
Pantas! Ucap orang itu.
Ia tahu Wengker terletak diantara gunung Wilis dan gunung Lawu, daerah yang terkenal angker dan banyak setannya.
“Pantas, apa kisanak? Tanya Aria.
“Memang pantas kalian dari Wengker, karena kawanmu itu memang mirip setan,” ucap orang berpakaian hitam sambil menunjuk ke arah Buto Ijo yang bertubuh besar.
Buto Ijo mendengar perkataan orang itu, tangannya yang sudah mengepal langsung bergerak.
Whut….Prak!
Orang berpakaian hitam tersungkur, dengan kepala pecah.
Kedua orang yang berpakaian hitam langsung melesat melihat kawan mereka tewas.
Tapi gerakan Buto Ijo lebih cepat, sebelum keduanya menyerang, tangan Buto Ijo masing-masing menyambar kepala mereka, setelah kedua kepala berhasil di pegang, kedua kepala itu langsung di adu satu sama lain oleh Buto Ijo.
Prak!
Suara rengkahan kepala terdengar, setelah kepala keduanya pecah, mereka langsung jatuh dan tewas seketika.
Aria mendengus setelah mendengar aksi Buto Ijo.
“Maaf Raden, tidak sengaja,” ucap Buto Ijo, setelah melihat raut wajah Aria yang tampak kesal
“Mari kita pergi,” Aria berkata, setelah Buto Ijo membunuh ketiga utusan dari padepokan Tangan hitam.
Baru saja Aria dan Buto Ijo berjalan dua langkah, terdengar suara di belakang mereka.
__ADS_1
“Tunggu kisanak.”