
Dahulu sewaktu Buto Ijo kecil dan di rawat di istana kali mati, Buto Ijo sering mendengar kekejaman Hantu api yang sering membunuh lelembut bangsa ular, mereka terkenal licik.
Jika kesaktian musuh lebih tinggi, Hantu api menyingkir, tetapi jika jauh di bawahnya, jangan harap selamat dari kekejaman Hantu api.
Banyak siluman kecil bangsa ular yang di bunuh oleh Hantu api jika mereka keluar dari istana kali mati, sedangkan Hantu api tidak berani mendekat, karena istana kali mati terdapat air.
Hantu api jika terkena air setengah kekuatannya akan lenyap, sampai tubuhnya kering kembali.
Buto Ijo sangat benci dengan Hantu api yang sering membunuh kawan-kawan kecilnya.
Hantu api mundur Karena kekuatannya langsung melemah, setelah terkena siram satu gentong air yang dihantamkan Buto Ijo.
Buto Ijo maju sambil menyeringai mendekati Hantu api yang mundur sambil matanya melihat ke arah kanan dan kiri.
“Kau mau kabur? Tanya Buto Ijo, melihat gelagat dan tingkah laku Hantu api.
“Enak saja! Kau harus mati di sini,” teriak Buto Ijo sambil memburu Hantu api.
Hantu api berusaha memulihkan kekuatannya dengan tenaga dalam.
Buto Ijo mundur melihat tubuh Hantu api tiba-tiba keluar api.
“Bangsat! Menakut nakuti orang saja,” ucap Buto Ijo melihat api yang menyala di tubuh Hantu api mulai redup kembali.
Phuih!
“Memangnya kau orang? Balas Hantu api dengan senyum mengejek.
“Matamu buta? Tanya Buto Ijo.
“Mana ada orang berwarna hijau,” ucap Hantu api.
Mendengar perkataan Hantu api, Buto Ijo tak bisa bicara, tapi kemarahannya semakin besar.
Tubuhnya melesat, kedua tangan berusaha menangkap tubuh Hantu api, tetapi Hantu api bergerak lebih cepat menghindari tangkapan Buto Ijo.
“Nyi! Apa ke istimewaan dari Hantu api? Tanya Aria.
“Hantu api memiliki kecepatan serta tubuhnya mengeluarkan api, jika selalu berada di dekat Hantu api saat ia mengerahkan tenaga dalam, tubuh kita bisa terbakar,” jawab Nyi Selasih.
“Jadi itu sebabnya Buto Ijo menyiram Hantu api dengan air,” balas Aria.
“Benar Raden,” ucap Nyi Selasih.
Tiba-tiba mata Aria menangkap sinar merah melesat, berusaha menjauh.
Dengan cepat Aria melesat ke arah sinar merah itu, kemudian menghantamnya.
Tetapi saat hantaman Aria hendak sampai, bayangan merah dari tubuh Hantu api lenyap, membuat Aria terkejut karena tak melihat aura musuh di depannya.
“Dia ada di depan, Raden,” ucap Nyi Selasih.
__ADS_1
Mendengar perkataan Nyi Selasih, tanpa ragu Aria Pilong langsung menghantam dan tepat menghajar perut Hantu api.
Buk…aarrggh!
Hantu api yang kekuatannya lenyap, langsung menjerit saat perutnya terkena hantaman Aria, tubuhnya terpental ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo melihat tubuh Hantu api melayang ke arahnya, tanpa ragu lompat menangkap tubuh Hantu api, kemudian membantingnya ke tanah.
Brak!
Kembali Hantu api menjerit, merasakan sakit akibat bantingan Buto Ijo.
“Keparat, gara-gara air dari manusia jadi-jadian itu, ilmuku jadi timbul tenggelam,” batin Hantu api sambil menahan sakit di tubuhnya.
Sambil menahan sakit, Hantu api berguling di tanah menghindari injakan kaki Buto Ijo.
Buto Ijo melihat Hantu api berhasil menghindar, kemudian lompat menangkap kaki Hantu api.
Tap!
Hantu api terkejut, lalu kaki kiri berusaha menendang tangan Buto Ijo yang sedang memegang kaki kanannya.
Tapi naas kaki kiri Hantu api yang hendak membantu malah di tangkap oleh Buto Ijo, sehingga kedua kaki Hantu api dalam gengaman tangan Buto Ijo.
Tubuh Buto Ijo langsung berputar, setelah berhasil menangkap Hantu api.
“Hentikan….lepaskan aku, keparat! Teriak Hantu api saat tubuhnya ikut berputar bersama Buto Ijo.
“Baik! Buto Ijo membalas perkataan Hantu api lalu melempar anak buah Ki Loreng geni ke arah Aria.
Mendengar teriakan Buto Ijo, tanpa ragu Aria melesat ke arah suara desiran angin yang menuju ke arahnya, tangan kiri Aria Pilong yang mengandung ajian Cakra Candhikkala, menghantam ke arah Hantu Api.
Hantu api sebelum terhantam, menjerit ketakutan saat melihat di tangan kiri Aria tampak bulatan sinar merah dari ajian Cakra Candhikkala.
Hantu api sudah di beritahu oleh Ki Loreng geni agar hati-hati terhadap ajian Cakra Candhikkala.
Blar!
Tubuh Hantu api hancur menjadi serpihan debu berwarna hitam, setelah terkena ajian Cakra Candhikkala.
“Mampus kowe! Teriak Buto Ijo, saat melihat tubuh Hantu api hancur.
Wulan dan Wisesa menghampiri Aria, setelah pemuda itu berhasil menghabisi Hantu api.
“Kang Aria! Aku sudah bicara dengan ayah, lebih baik sekarang kita pergi mengambil kitab 7 racun,” Wulan berkata.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan gadis itu.
Lalu Aria merasakan tangannya di genggam dan kembali Wulan berkata.
“Mari ikut aku.”
__ADS_1
Mereka berdua lalu melesat naik ke atas bukit masih di wilayah padepokan Wisanggeni, di iring oleh Buto Ijo.
“Di puncak bukit ada goa yang menjadi tempat makam para leluhur padepokan Wisanggeni, goa itu di beri nama goa batu suci, disana kitab 7 racun berada,” Wulan memberitahu, sambil melesat ke arah goa batu suci.
Tanpa menunggu waktu lama, mereka sampai di goa batu suci.
Wulan menyuruh Buto Ijo untuk, menggeser batu besar yang menghalangi pintu masuk goa.
Goa yang tidak terlalu besar, tetapi manusia bisa masuk dengan mudah ke dalam goa.
Semakin kedalam goa semakin besar, dan terdapat beberapa makam serta tengkorak manusia di dalam goa batu suci.
Mata Wulan mencari-cari petunjuk yang di bisikan oleh sang kakek, sebelum kakeknya menghembuskan napas terakhir.
“Itu dia,” ucap Wulan dalam hati. Sewaktu melihat gambar Cakra di dinding batu.
Wulan lalu meraba-raba dinding batu, setelah terdapat garis berbentuk segi empat yang mengurung tanda Cakra.
Wulan mengeluarkan pisau kecil, lalu perlahan pisau mengorek garis di dinding batu.
Plak!
Lempengan batu berbentuk segi empat terlepas, setelah lempengan batu terlepas, di dalam dinding batu tampak satu buah kitab lusuh bersampul hitam.
Ketika mengambil kitab, terlebih dahulu Wulan memakai sarung tangan yang terbuat dari kulit rusa.
Aria kerutkan kening, mendengar suara gerakan Wulan ketika memasang sarung tangan.
“Apa yang kau lakukan? Tanya Aria.
“Kalau ingin mengambil Buku kitab 7 racun, harus menggunakan sarung tangan dari kulit rusa, karena kitab sudah di lumuri oleh racun, jadi tidak boleh sembarangan,” jawab Wulan.
Aria anggukan kepala tanda mengerti, saat mendengar perkataan Wulan.
Setelah perlahan mengambil kitab dari tempat rahasia, Wulan membersihkan kitab dari racun, mengikuti petunjuk yang di berikan sang ayah.
Setelah kitab bersih dari racun, perlahan Wulan membuka kitab 7 racun yang isinya hanya terdiri dari 7 lembar.
Wulan melihat satu persatu nama racun yang ada di dalam kitab, akibat dari racun tersebut, cara membuat penawar serta racun, tertulis lengkap di dalam kitab.
Aria bersama Buto Ijo berdiri di samping Wulan yang tengah melihat isi kitab.
“Apa benar itu kitab 7 racun? Tanya Aria.
“Benar! Ini kitab 7 racun,” jawab Wulan.
“Coba paman baca,” ucap Wulan sambil memberikan kitab kepada Buto Ijo.
“Aku tidak bisa baca,” Buto ijo berkata, sambil mengambil kitab, kemudian memberikan kitab kepada Aria.
“Lebih baik Raden saja yang baca,” lanjut perkataan Buto ijo sambil menyodorkan kitab kepada Aria.
__ADS_1
Aria tidak mengambil kitab dari tangan Buto ijo, Aria Pilong menoleh ke arah Buto ijo, sambil berkata dengan nada kesal.
“Aku Buta.”