Iblis Buta

Iblis Buta
Pelangi Di Kota Keta


__ADS_3

“Aku meminta si gadis untuk kebaikan mu, karena Prabu Mapanji Garasakan yang menginginkan gadis itu, dan kau bisa terhindar dari kejaran para pendekar serta padepokan Elang emas yang bernafsu ingin mendapatkan Gadis terkutuk,” patih Argobumi berkata membalas perkataan Aria, sambil memegang gada bumi, senjata pusaka yang ia andalkan.


Raut wajah Buwana Dewi berubah kelam mendengar perkataan patih Argobumi, kemudian maju dan berdiri di hadapan Aria sambil menatap tajam ke arah Patih Argobumi.


“Aku adalah aku, Kau orang tua! enak saja berkata akan membawa ku, memangnya kau pikir aku mau ikut bersamamu? Buwana Dewi berkata dengan nada dingin.


Raut wajah Buwana Dewi berubah kelam, hawa di sekitar sang gadis perlahan berubah dingin seiring perubahan yang terjadi di wajah Buwana Dewi.


“Kakang! Biar aku saja yang hadapi mereka,” Buwana Dewi berkata.


“Memangnya kau mampu menghadapi mereka? Tanya Aria.


Tanpa setahu Aria, Nyi selasih sudah memberitahu kepada Buwana Dewi, ajaran menarik napas untuk meniup suling adalah latihan tenaga dalam yang di ajarkan oleh orang yang di panggil ibu, serta tarian-tarian yang ia pelajari adalah ilmu silat tingkat tinggi.


“Buwana Dewi belum tahu, tetapi Buwana Dewi mau mencoba, karena tak ingin merepotkan kakang Aria yang harus selalu melindungi aku,” jawab Buwana Dewi.


Aria hendak membalas perkataan Aria, tetapi Nyi Selasih memberitahu.


“Biarkan dia Raden! Beri kesempatan Adik Buwana Dewi untuk memperlihatkan kepandaiannnya, menurutku kekuatan Buwana Dewi tidak rendah, karena orang yang di panggil ibu olehnya aku yakin bukan orang sembarangan.”


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Nyi Selasih.


“Kau harus Hati-hati! Seru Aria kepada Buwana Dewi setelah mendengar perkataan Nyi Selasih, “Karena banyak manusia licik yang mempergunakan segala cara agar berhasil memenangkan pertandingan.”


“Kakang tidak usah khawatir, aku sudah lama melihat kelicikan manusia yang selama ini berusaha menangkap ku,” Buwana Dewi membalas perkataan Aria.


Buwana Dewi melepaskan selendang hijau yang melilit pinggangnya.


Saat Buwana Dewi sudah berhadapan, tampak Buto Ijo mendekat ke arah Aria.


“Raden! Kenapa Buwana Dewi berhadapan dengan orang itu?


“Bukankah Buwana Dewi tidak bisa bertempur? Tanya Buto Ijo yang sudah tidak bercaping.


“Buwana Dewi yang ingin bertempur.


“Menurut Istriku, Buwana Dewi mempunyai kemampuan, tetapi dia tidak menyadarinya,” Aria berkata.


“Bagaimana dengan Mata Elang? Aria balik bertanya.


“Mata Elang sedang menunggu Elang jantan,” balas Buto Ijo.


“Menunggu bagaimana? Jadi kau tidak membunuhnya, Jo? Tanya Wangsa.


“Mata Elang menunggu Elang jantan di Akhirat,” balas Buto Ijo.


“Sing bener Ari ngomong teh kehed,” ucap Wangsa dengan nada kesal.


Aria berkata untuk sekalian melerai, kedua anak buahnya yang mulai beradu omong.


“Kita harus siap dan waspada agar bisa membantu jika Buwana Dewi dalam bahaya.”


Saat Patih Argobumi sudah bersiap, tiba-tiba Jati Wilis mendekat dan berkata.


“Yang Mulia patih Argobumi tidak perlu turun tangan, biar hamba yang akan menangkap gadis itu untuk sang Prabu.”


Patih Argobumi anggukan kepala, kemudian mundur memberi kesempatan kepada Tumenggung Jati Wilis.


Tumenggung Jati Wilis menatap wajah Buwana Dewi dengan penuh nafsu, kecantikan Buwana Dewi membuat Tumenggung Jati Wilis berniat mempermainkan gadis itu sebelum ia tangkap.


“Majulah Cah Ayu! Seru Jati Wilis dengan tatapan liar penuh hasrat birahi.


Mata Buwana Dewi berkilat mendengar ucapan dan tatapan mata Jati Wilis, tatapan mata seperti inilah yang sangat ia benci.


Perlahan Buwana Dewi mulai menari dengan selendang hijaunya, sambil napasnya mengikuti petunjuk dari perempuan yang ia panggil ibu.


Gerakannya tampak lemah lembut, dan yang Paling aneh serta tanpa di sadari oleh mereka yang matanya terfokus kepada gadis cantik yang tengah menari, sinar pelangi perlahan muncul di atas kota Keta dan hawa di sekitar tempat orang berdesakan, perlahan mulai dingin.


Para pedagang dan penduduk mulai menjauh.


Rona wajah Jati Wilis terlihat merah, melihat Buwana Dewi menari sambil pinggulnya melenggak lenggok ke kiri dan ke kanan.


Buto Ijo, Wangsa serta yang lain kerutkan kening melihat Buwana Dewi menari.


Hmm!


“Dasar gadis kampung, bukannya bertempur malah bikin pertunjukan,” ucap Buto Ijo sambil mendengus.


Berbeda dengan yang Lain, Aria menatap tubuh Buwana Dewi penuh dengan aura yang berwarna warni dan aura itu masuk ke dalam tubuh Buwana Dewi berasal dari pelangi yang tiba-tiba muncul di atas kota Keta.


Tumenggung Jati wilis perlahan kedua tangannya mulai mengikuti gerakan gerakan Buwana Dewi, semakin lama gerakan Buwana Dewi semakin cepat. Begitu pula dengan Tumenggung Jati Wilis.

__ADS_1


Patih Argobumi kerutkan kening melihat tingkah anak buahnya.


Patih Argobumi menghantamkan Gada bumi miliknya ke tanah.


Blar!


Tumenggung Jati Wilis langsung berhenti menari dan menatap bingung ke arah diri sendiri, lalu menatap patih Argobumi sambil berkata, “apa yang terjadi? Tanya Jati Wilis.


“Jangan lihat tubuhnya,” teriak patih Argobumi kepada Jati Wilis.


“Bangsat! Rupanya kau sebangsa siluman betina,” Jati Wilis Berkata setelah mendengar perkataan sang patih.


Selendang Buwana Dewi melesat menyambar Jati Wilis


Jati Wilis lompat naik ke atas selendang, saat selendang Buwana Dewi menyerangnya, kemudian Jati Willis lari ke arah Buwana Dewi, setelah selendang sang gadis menjadi tempatnya berpijak.


Setelah dekat, Jati Wilis dengan kedua tangan terbuka langsung menerkam, berusaha menangkap Buwana Dewi.


Buwana Dewi tubuhnya berputar dan bergerak ke samping kanan, menghindari terkaman Jati Wilis, kedua tangannya lalu turun naik begitupula dengan selendang yang mengikuti gerakan tangan.


Ujung Selendang yang turun naik, perlahan berbalik dan bergerak dan membelit pinggang Jati Wilis.


Whut!


Selendang setelah membelit, kemudian membanting tubuh Jati Wilis.


Brak!


Jati Wilis memegang pinggangnya berusaha menahan sakit, akibat punggungnya terhempas dengan keras ke tanah.


Suara ledekan dan gelak tawa terdengar dari mulut pedagang yang tidak suka terhadap Tumenggung Jati Wilis melihat sang Tumenggung terhempas.


“Keparat! Batin Tumenggung Jati Wilis, mendengar suara gelak tawa dan cibiran para pedagang.


Jati Wilis merasa malu melawan seorang gadis muda, dalam beberapa gebrakan dirinya sampai jatuh ke tanah, apalagi ada patih Argobumi.


Rasa malu Jati Wilis menjadi hawa amarah.


Tumenggung Jati Wilis tangan kanannya tampak memegang keris berwarna hitam, di pangkal keris terlihat kepala naga dan buntut naga berada di ujung keris.


Keris pusaka Naga hitam yang menjadi andalan Tumenggung Jati Wilis.


Mata Aria melihat asap mengepul keluar dari keris yang di pegang oleh Tumenggung Jati Wilis, asap hitam yang menyelimuti seluruh badan keris.


“Hati-hati, Buwana Dewi! Seru Aria melihat Aura keris milik Tumenggung Jati Wilis.


Buwana Dewi seperti tidak mendengar Aria, ia terus asyik menari bersama selendang berwarna hijau miliknya.


“So! Kau bisa main suling? Tanya Buto Ijo.


“Main suling,” jawab Wangsa sambil kerutkan keningnya.


“Untuk apa main suling? Tanya Wangsa.


“Untuk mengiringi Buwana Dewi menari,” jawab Buto Ijo.


Phuih!


“Kau pikir aku pemain sandiwara,” balas Wangsa dengan nada kesal.


“Bangsat! Kalau tidak suka bilang saja, Kenapa harus marah,” Ucap Buto Ijo sambil melotot.


“Jang! Kau bisa tidak? Tanya Buto Ijo.


“Tidak paman,” jawab Si Beurit.


“Kau dengar! Kalau begitu kan enak,” Buto Ijo berkata setelah mendengar perkataan Si Beurit sambil menatap Wangsa.


Sang Resi tidak memperdulikan dan menatap ke arah Buwana Dewi yang tengah menari.


Hiaaat….!


Tumenggung Jati Wilis teriak sambil melesat, keris pusaka Naga hitam menusuk ke arah perut Buwana Dewi.


Whut!


Buwana Dewi bergerak menghindari, kemudian tangannya dengan gemulai bergerak dari samping dan menepak pergelangan tangan Jati Wilis.


Tangan Kiri Jati Wilis menangkis serangan Buwana Dewi, setelah berhasil menangkis, keris menyabet ke arah tangan Buwana Dewi yang memegang selendang.


Buwana Dewi melempar selendangnya ke belakang sambil tubuhnya lompat mundur menghindari serangan dan kembali menyambar selendangnya.

__ADS_1


Setelah berhasil memegang selendang, selendang Buwana Dewi meluncur ke arah Tumenggung Jati Wilis.


Tumenggung Jati Wilis tegakkan pusaka Naga hitam, kemudian sang Tumenggung melesat ke arah selendang.


Sret…..Bret!


Keris pusaka Naga hitam merobek selendang bagian tengah, Tumenggung Jati Wilis terus bergerak mendekat sambil merobek selendang Buwana Dewi.


Sret!


Setelah dekat, keris Naga hitam menyambar ke arah dada.


Buwana Dewi terkejut dan bergerak mundur, tetapi lengan Buwana Dewi yang memegang selendang, terkena sambaran keris Jati Wilis.


Bret!


Setelah berhasil melukai Buwana Dewi, Tumenggung Jati Wilis lompat mundur, tampak bibirnya tersenyum.


Selamet menghilang dan sudah berada di sebelah Buwana Dewi.


“Dewi tidak apa-apa? Tanya Selamet.


“Aku tidak apa-apa, paman,” jawab Buwana Dewi sambil sesekali bibirnya seperti meringis.


“Sebaiknya paman kembali,” lanjut perkataan Buwana Dewi.


“Sudahlah! Lebih baik kau ikut dengan patih Argobumi, kau lebih pantas berada di istana Kahuripan daripada bersama si buta,” Tumenggung Jati Wilis berkata dengan nada mengejek.


“Tutup mulutmu!? Teriak Buwana Dewi mendengar perkataan Tumenggung Jati Wilis.


Udara berubah dingin, pelangi di atas kota Keta bersinar lebih terang, mata Buwana Dewi perlahan berubah warna menjadi biru, seiring raut wajah sang gadis yang terlihat kelam.


Suketi langsung lari ke pelukan Buto Ijo, raut wajah Suketi tampak seperti ketakutan tak berani menatap ke arah Buwana Dewi.


Tangan Buwana Dewi langsung mengibas ke arah Tumenggung Jati Wilis, sinar hijau keluar dan melesat ke arah sang Tumenggung.


“Menghindar!? teriak patih Argobumi.


Tumenggung Jati Wilis tidak mengindahkan seruan sang Patih.


“Keris pusaka Naga hitam mengibas ke arah sinar hijau yang berasal dari tangan kanan Buwana Dewi.


Ledakan terdengar saat asap hitam dan sinar hijau bertemu.


Blam!


Tubuh Buwana Dewi bergoyang, sedangkan Tumenggung Jati Wilis terpental, dari mulutnya menyembur darah segar.


Tumenggung Jati Wilis langsung berdiri.


Dengan raut wajah geram, Tumenggung Jati Wilis acungkan keris pusaka Naga Hitam, kali ini asap tebal keluar dari ujung keris.


Asap hitam bergulung membentuk se ekor Naga, kemudian melesat menyerang ke arah Buwana Dewi.


Buwana Dewi angkat tangan kanan naik ke atas, telapak tangannya lalu terbuka.


Tangan kanan seperti menarik sesuatu dari atas, tiga sinar keluar dari pelangi dan melesat bersama tarikan tangan Buwana Dewi.


Buwana Dewi mengibaskan tangannya, ke arah Naga hitam, sinar hijau, merah dan kuning melesat kemudian bergerak


menyerang Naga hitam.


Naga hitam menghindar, tetapi dari arah samping sinar pelangi melesat dan berputar layaknya seutas tali, dan perlahan mengikat tubuh Naga hitam.


Semakin lama ikatan semakin kencang, Naga hitam kembali berubah menjadi asap, tiga sinar pelangi setelah berhasil menaklukkan Naga hitam langsung melesat ke arah Tumenggung Jati Wilis.


Blar!


Tubuh Tumenggung Jati Wilis hancur terkena hantaman sinar pelangi Buwana Dewi.


Serpihan dagung tubuh Tumenggung Jati Wilis berceceran ke berbagai arah.


Buwana Dewi lompat mundur menghindar dari serpihan daging Jati Wilis yang melesat ke arahnya.


Setelah berhasil mengalahkan Jati Wilis, Buwana Dewi menatap ke arah atap rumah Tumenggung Jati Wilis, dimana terlihat dua orang memakai pakaian berwarna hijau dengan mahkota di kepalanya dan seorang kakek tua berpakaian putih.


Selama Buwana Dewi Bertempur, perempuan berbaju hijau layaknya seorang putri keraton serta memakai mahkota di kepalanya, bibirnya bergerak gerak, memberi arahan kepada Buwana Dewi apa yang harus dia lakukan melawan Tumenggung Jati Wilis.


Buwana Dewi terkejut saat sedang bertempur dan telinganya seperti mendengar suara bisikan bisikan, apa yang harus ia lakukan, tetapi saat suara itu semakin jelas terdengar dan itu adalah suara orang yang ia panggil ibu yang mengasuhnya dari kecil.


Buwana Dewi tanpa ragu langsung melakukan apa yang ibu angkatnya katakan.

__ADS_1


Kakek berpakaian putih yang tak lain adalah Mpu Barada, berkata sambil tersenyum melihat ke arah Buwana Dewi.


“Nyai Ratu datang di saat yang tepat.”


__ADS_2