
Rombongan Aria bergerak ke barat kota Keta.
Selama perjalanan Buwana Dewi cemberut, karena Aria akhirnya tak jadi bicara setelah kedatangan Buto Ijo.
Suketi yang biasa bersama Buwana Dewi, kali ini tidak mau dan lebih memilih di bahu Buto Ijo.
“Mata itu membuatku merinding,” bisik Suketi kepada Buto Ijo.
“Kau benar! Sewaktu aku menatapnya, entah kenapa hatiku merasa takut,” balas Buto Ijo.
“Lain kali jangan ganggu Sri Buwana Dewi,” ucap Suketi.
Buto Ijo tak menjawab dan terus berlari.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di tempat berkumpulnya orang-orang dari padepokan Elang emas yang di pimpin oleh Mata Elang, menurut petunjuk yang di berikan oleh Selamet.
Suara burung malam menambah seram suasana di malam gelap, apalagi saat ini sedang turun hujan, walau tidak deras, tetapi membuat pakaian basah.
Setelah sampai tidak begitu jauh dari halaman rumah besar yang luas.
Rombongan Aria berhenti, Wangsa langsung memeriksa di sekitar rumah besar, untuk mengantisipasi penjaga yang datang.
Aria menarik bahu Buwana Dewi, agar merapat ke dadanya, apa kau baik-baik saja? Tanya Aria.
“Aku baik-baik saja, kakang,” jawab Buwana Dewi.
“Harusnya tadi kau jangan ikut dan tinggal di penginapan,” Aria berkata kembali.
“Tidak mengapa kakang Aria, Aku akan ikut kemanapun kakang pergi,” balas Buwana Dewi sambil menyenderkan kepalanya ke dada Aria.
Ujang Beurit duduk di tanah becek akibat hujan, bersiap merapalkan ajian dasar bumi setelah Wangsa selesai memeriksa di sekitar rumah orang padepokan Elang emas.
Buto Ijo melihat Ujang Beurit duduk, kemudian berkata dengan nada cemas.
“Jang….bangun Jang! Jangan sekarang.”
“Kenapa paman? Tanya Si Beurit.
Buto ijin memutar kepala Ujang Beurit ke arah Aria yang tengah memeluk Buwana Dewi, dan kebetulan gadis itu tengah menatap ke arah Buto ijo dengan tatapan tajam.
Buto Ijo berbalik sambil menarik bahu Ujang Beurit, hingga pemuda itu langsung terangkat dan berdiri.
“Kau sudah siap Jang? Tanya Aria.
“Sudah tuan, tinggal menunggu tetua Wangsa balik memeriksa,” jawab si Beurit.
Baru saja Ujang Beurit berkata, bayangan Wangsa mendekat.
“Bagaimana? Bisik Buto Ijo bertanya kepada Wangsa.
Wangsa kerutkan kening dari balik capingnya mendengar perkataan Buto Ijo.
“Tumben kau bisa bicara pelan? Tanya Wangsa.
“Cepat katakan keparat! Orang sudah menunggu dari tadi, apa kau tidak lihat Raden dan Buwana Dewi kedinginan,” balas Buto Ijo, kali ini nada suaranya mulai naik.
“Tidak ada orang di sekitar sini, semuanya sudah lelap, apalagi cuaca sedang hujan, penduduk menarik selimutnya dan tidur.
“Tetapi aku tidak tahu ke adaan di dalam rumah anggota Elang emas, jika aku terlalu dekat dan Mata elang masih terjaga, pasti ia tahu kehadiran ku,” Wangsa menceritakan hasil penyelidikannya.
“Biar aku sirep saja orang yang ada di dalam rumah besar itu,” Suketi berkata setelah mendengar cerita Wangsa.
“Kau bisa sirep? Tanya Buto Ijo.
“Aku di ajarkan oleh ayah ketika hendak ikut bersamamu, kata ayah. Mantra sirep boleh aku gunakan jika kakang Buto main gila.
Phuih!
“Dasar Iblis Kawi keparat! Masa mengajarkan anak seperti itu,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
“Mitoha ( Mertua ), Jo,” balas Wangsa mendengar ucapan Buto Ijo.
__ADS_1
“Toha….Siapa Toha? aku tidak kenal,” ucap Buto ijo.
Plak!
Tangan Suketi menampar mulut Buto Ijo.
“Lakukan jika kau bisa,” Aria berkata kepada Suketi.
Buto Ijo duduk, kemudian Suketi mulai membaca mantra Aji sirep yang di dapat dari ayahnya.
Setelah selesai membaca mantra Sirep, Suketi meniup ke kiri rumah, ke kanan dan yang terakhir ke rumah besar tempat orang padepokan Elang emas.
Angin sejuk terasa di leher Buto Ijo, ketika Suketi meniup.
“Silahkan Raden! Seru Suketi setelah selesai merapalkan matra sirep.
“Nyi Selasih,” Ucap Aria.
Sinar hijau perlahan menyelimuti di sekitar halaman depan rumah, saat nyi Selasih melepaskan pagar ghaib.
Si Beurit duduk bersila, begitu pula Aria yang berada di belakang Ujang Beurit.
Tangan Ujang Beurit perlahan melakukan gerakan seperti ketika menarik gudang utara, tapi kali ini posisinya di balik.
Kedua tangan bergerak dari bawah ke atas.
Saat peluh mulai mengucur di wajah Si Beurit, Arya langsung menyalurkan tenaga dalamnya ke arah punggung Ujang melalui kedua telapak tangan.
Perlahan suara gemuruh terdengar di sekitar halaman depan rumah orang padepokan Elang emas, atap gudang utara perlahan menyembul keluar dari dalam tanah dan terus bergerak naik.
Ujang Beurit terus mengerahkan tenaga dalam yang tersalur dari punggung untuk memunculkan gudang utara dari dalam tanah.
Wangsa melesat untuk melihat pintu rumah anggota padepokan Elang emas, apa ada yang keluar dari rumah.
Melihat situasi aman, Wangsa kembali, dan Ujang Beurit terus menggerakkan ulang kedua tangannya bergerak dari bawah ke atas.
Akhirnya gudang utara berdiri tegak di halaman depan rumah, tempat orang dari padepokan Elang emas berkumpul.
Keringat mengucur dari wajah Si Beurit dan Aria, seperti sewaktu mereka menarik gudang utara masuk ke dalam tanah, tanpa terasa waktu terus berlalu dan hujan gerimis masih belum berhenti.
“Terima kasih Jang! Seru Aria mendengar perkataan anak buahnya.
Sedangkan Buto Ijo sebentar-sebentar mulutnya menguap.
“Kenapa kau? Tanya Wangsa.
“Aku ngantuk,” jawab Buto Ijo.
“Aku tidur di pohon di sekitar sini saja, besok jika mereka datang, baru aku bangun,” lanjut perkataan Buto ijo, kemudian melesat naik ke atas pohon di dekat gudang utara yang baru muncul.
Wangsa hendak teriak memberitahu agar jangan terlalu dekat, tetapi Buto ijo keburu naik ke atas pohon, tanpa di sadari oleh raksasa bertubuh hijau itu, angin yang berembus dan di rasakan oleh Buto ijo saat Suketi meniup mantra sirep, berakibat pada Buto Ijo walau tidak berpengaruh besar.
Ujang Beurit memilih gundukan tanah yang mirip bukit kecil, setelah membaca mantra Ajian Dasar bumi, si Beurit mengeruk tanah untuk membuat satu lubang besar tempat mereka mengawasi gudang utara.
Aria masuk setelah lubang tersedia, lubang yang unik di tutup dengan tanah yang di keraskan oleh Si Beurit, sedang di bawahnya lubang besar cukup untuk mereka ber empat istirahat, sambil menunggu aksi Selamet bersama para pedagang.
Di dalam lubang, Aria membuka bajunya dan memberikan kepada Buwana Dewi.
“Kau pakai saja, biar tubuhmu hangat,” ucap Aria.
“Tidak kakang, aku tidak apa-apa,” jawab Buwana Dewi.
Perlahan Buwana Dewi memeluk tubuh Aria, agar keduanya menjadi hangat.
Saat kepala Ujang Beurit hendak menengok ke arah Aria dan Buwana Dewi yang berada di belakang mereka, kepalanya langsung di pegang dan di tahan oleh Wangsa.
“Tong di tempo, Jang! Bisi kabita ( jangan kamu lihat, nanti ingin) Ucap Wangsa.
Waktu berlalu dan hari berganti pagi, hujan gerimis dari tengah malam mulai berhenti, matahari mulai menampakkan sinarnya, seiring kicau burung di dahan dahan pohon menyambut datangnya mentari pagi.
Di alun-alun kota Keta, Selamet dan beberapa pedagang seperti yang sudah di sepakati, langsung teriak teriak sambil mengelilingi kota.
__ADS_1
“Gudang utara muncul….gudang utara muncul,” teriak pedagang yang berlarian.
“Gudang utara muncul di barat kota,” teriak pedagang yang berlari.
Penduduk mulai berkumpul mendengar perkataan para pedagang.
“Apa benar yang kau katakan? Tanya salah seorang prajurit, ketika mendengar teriakan salah seorang pedagang.
“Benar tuan! Gudang utara muncul di barat kota,” jawab si pedagang.
Mendengar perkataan si pedagang, Prajurit langsung melaporkan apa yang ia dengar kepada komandan, lalu sang komandan melaporkan kejadian yang membuat heboh di pagi hari, kepada Tumenggung Jati Wilis.
Tumenggung Jati Wilis dengan pakaian kebesaran langsung mengumpulkan 300 orang prajurit kota Keta, kemudian bergerak menuju barat kota.
Hatinya sangat geram, karena di barat kota setahu Tumenggung Jati Wilis merupakan tempat orang-orang dari perguruan padepokan Elang emas.
Rombongan besar bergerak di pimpin Tumenggung Jati Wilis, di ikuti oleh para penduduk yang merasa penasaran, apa benar gudang utara yang di kabarkan lenyap bisa muncul kembali.
Mata Tumenggung Jati Wilis merah, setelah melihat gudang utara berdiri di halaman depan rumah besar, tempat berkumpul orang-orang dari perguruan Elang emas.
“Kepung daerah sekitar sini, jangan sampai orang-orang dari padepokan Elang emas melarikan diri.
“Kalau ada yang masih membandel, bunuh di tempat,” Tumenggung Jati Wilis memberikan perintah kepada para prajurit.
Ratusan prajurit di pimpin oleh beberapa komandan, langsung bergerak menyebar.
Suara riuh penduduk dan pedagang terdengar saat melihat gudang utara.
Mata elang baru bangun ( akibat pengaruh sirep yang di lepaskan oleh Suketi )
Perwakilan Elang jantan itu kerutkan kening setelah menadapat laporan dari anak buahnya, bahwa ratusan prajurit mengepung tempat mereka, dan gudang utara yang hilang kini berada di halaman depan rumah tempat mereka berkumpul.
Raut wajah Mata elang berubah setelah mendapat laporan dari anak buahnya, Mata elang langsung melesat keluar dari rumah.
Setelah sampai, di depan gedung utara, rombongan Mata elang dengan puluhan anak buahnya yang terhalang oleh satu pohon besar, berdiri berhadapan dengan ratusan prajurit kota Keta yang di pimpin oleh Tumenggung Jati Wilis.
“Jadi kalian yang sudah memindahkan gudang utara kesini? Tanya Tumenggung Jati Wilis.
“Tunggu….tunggu dulu Temanggung, jangan salah sangka! Aku juga baru bangun dan baru mendapat laporan bahwa gudang ini tiba-tiba muncul di halaman kami.
Hmm!
“Kau pikir aku bocah kemarin sore, orang-orang berkepandaian tinggi seperti kalian, sampai tidak tahu gudang sebesar ini bisa berada di halaman markas kalian,” Tumenggung Jati Wilis berkata dengan nada dingin.
Wangsa tersenyum melihat dari dalam lobang yang tersembunyi, Tumenggung Jati Wilis sudah berhadapan dengan Mata elang serta anak buahnya.
“Selamet memang hebat,” batin Wangsa.
Ketika suasana semakin panas, tiba-tiba terdengar suara dari pohon yang menjadi penghalang antara rombongan Mata elang dan pasukan Tumenggung Jati Wilis.
Whut….gubrak!
Buto Ijo yang tengah tertidur, tubuhnya jatuh dari atas pohon, sementara Suketi langsung lompat ke dahan lain setelah tubuh Buto Ijo jatuh dari pohon.
Semua mata langsung memandang ke arah Buto Ijo.
Wangsa langsung menepak jidat melihat Buto Ijo jatuh dari atas pohon dan kini berada di tengah orang-orang yang sedang bersiteru.
Buto Ijo dari balik caping, matanya memandang ke arah sekeliling, setelah melihat ratusan orang tengah menatapnya begitu juga Selamet, Buto Ijo baru sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar.
“Siap kau dan sedang apa di atas pohon di depan tempat kami? Tanya Mata Elang dengan pandangan curiga.
“Aku utusan Elang jantan yang hendak mengambil isi gudang utara untuk di bawa ke markas pusat padepokan,” Jawab Buto Ijo.
“Dusta!? Teriak Mata elang sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
Ha Ha Ha
“Bukti sudah di depan mata, kau tidak bisa mungkir, Mata elang,” Tumenggung Jati Wilis berkata dengan nada dingin.
Wangsa tersenyum lebar setelah tadi merasa khawatir, begitu mendengar perkataan Buto Ijo yang semakin memanaskan suasana antara Mata elang dan Tumenggung Jati Wilis.
__ADS_1
Bibir sang Resi tersenyum sambil berkata.
“Bagus, Jo.”