Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 44 : Jangan Remehkan Kami


__ADS_3

“Lancang! Teriak panglima pengawal Raja, lembu Jarot.


Tapi panglima pengawal tidak berani bertindak, karena ada Prabu Samarawijaya.


Prabu Samarawijaya anggukan kepala.


Panglima pengawal Raja maju setelah mendapat isyarat, kemudian berdiri di depan Aria.


“Aku Panglima pengawal Raja, Lembu Jarot, memerintahkan kau sujud di hadapan Raja Samarawijaya.”


“Kau sujud terlebih dahulu.”


“Baik!


Lembu Jarot langsung sujud di hadapan Prabu Samarawijaya.


Sang Prabu tersenyum sambil anggukan kepala, kemudian menatap ke arah Aria, Raja merasa tertarik melihat sikap Aria yang tidak takut terhadapnya.


Lembu Jarot berdiri, kemudian menoleh ke arah Aria, lalu berkata.


“Sekarang giliranmu.”


“Giliran apa? Tanya Aria.


“Giliran kau sujud di depan Baginda Raja,” ucap Lembu Jarot.


“Memangnya aku bilang akan sujud? Tanya Aria.


“Kau ingkar janji anak muda! Ucap Lembu Jarot sambil menatap Aria.


Aria mendengar perkataan Lembu Jarot, wajahnya yang tertutup caping, berhadapan dengan panglima pengawal Raja bertubuh kekar.


“Aku bilang apa? Tanya Aria.


“Kau sujud terlebih dahulu,” jawab Lembu Jarot.


“Selain itu apalagi yang aku katakan? Tanya Aria.


“Tidak ada,” jawab Lembu Jarot.


“Jadi kapan aku bilang akan sujud? Tanya Aria.


“Dasar kerbau,” ucap Buto Ijo, ikut berkata.


“Apa kau bilang!? Teriak Lembu Jarot sambil melesat dan meninju dada Buto Ijo.


Buk!


Lembu Jarot kerutkan kening, melihat tubuh Buto Ijo tidak bergeming terkena tinjunya.


Lembu Jarot langsung mundur.


Buto Ijo menepak-nepak dadanya yang terkena tinju Lembu Jarot.


Sambil mendengus, Buto Ijo berkata.


“Kau bebas mau memukul dimana saja.”


“Baik,” balas Lembu Jarot, setelah berkata, tangan kanan Lembu Jarot melesat ke arah kepala Buto Ijo.


Whut!


Buto Ijo miringkan kepala, tinju Lembu Jarot lewat di sisi kanan kepala Buto Ijo tanpa mengenai sasaran.


“Kenapa kau menghindar? Tanya Lembu Jarot.


“Memangnya aku Kerbau, kalau di pukul diam saja,” jawab Buto Ijo.


Senyum di bibir sang Prabu semakin lebar, mendengar perkataan Buto Ijo.


“Siapa mereka? Prabu Samarawijaya berkata dalam hati merasa tertarik melihat Aria dan Buto Ijo.


“Paman Wirabumi! Apa mereka kawan Paman? Tanya Sang Prabu.

__ADS_1


“Mereka adalah penyelamat kami Baginda Prabu.


“Jadi! Mereka yang berhasil melumpuhkan Adiguna? Tanya sang Prabu.


“Benar Baginda,” jawab Tumenggung Wirabumi.


“Sudahlah! Mereka bukan musuh,” Samarawijaya berkata kepada Lembu Jarot.


Lembu Jarot sambil melotot ke arah Buto Ijo, kembali ke belakang Prabu Samarawijaya.


Samarawijaya tersenyum, melihat semuanya sudah berdiri.


“Silahkan masuk dan berbincang-bincang di dalam, Baginda,” ucap Wirabumi, Samarawijaya anggukan kepala kemudian melangkah ke arah rumah Tumenggung Wirabumi.


Senyum tersungging di bibir Wirabumi ia tahu Prabu Samarawijaya suka dengan Aria, karena Wirabumi melihat sang Prabu sering melirik ke arah Aria sambil tersenyum.


Rara Ayu jalan di dampingi terus oleh Sarka yang berpakaian compang-camping, sebenarnya Rara Ayu merasa risih, tetapi Sarka termasuk rombongan Aria, orang yang telah menolong keluarganya.


Rara Ayu ingin tahu seperti apa Aria, ingin bertanya kepada Wulan, Rara Ayu merasa malu, akhirnya Rara Ayu memutuskan bertanya kepada Sarka.


“Sarka! Apa kau pernah melihat Raden? Tanya Rara Ayu.


“Memangnya kau tidak lihat? Sarka balik bertanya.


“Bukan itu maksudku! Jawab Rara Ayu, “Apa kau pernah melihat wajahnya? lanjut perkataan Rara Ayu.


“Kira-kira dibawah aku ketampanannya,” jawab Sarka sambil keningnya berkerut.


“Apa maksud mu dengan kira-kira? Tanya Rara Ayu dengan raut wajah bingung.


Sarka wajahnya mendekat, Rara Ayu langsung menjauh.


“Mau apa kau? Tanya Rara Ayu.


“Takut terdengar sama si Ijo,” Sarka berkata pelan.


“Raden kan buta, sedangkan aku bisa melihat, tentu saja tampan aku,” bisik Sarka.


“Ih! Rara Ayu berkata sambil jalan lebih cepat, karena merasa sebal dengan perkataan Sarka.


Makanan dan minuman dikeluarkan, mereka lalu bercakap-cakap santai.


“Lama tak berjumpa Resi Sarpa kencana,” Prabu Samarawijaya berkata.


Resi Sarpa kencana tersenyum, “banyak hal yang harus hamba lakukan, Baginda,” balas Resi Sarpa kencana.


Prabu Samarawijaya tersenyum sambil anggukan kepala.


Prabu Samarawijaya percaya kepada Resi Sarpa kencana, karena Resi Sarpa kencana setia kepada kerajaan Kadiri.


“Aku akan membersihkan kerajaan dari orang-orang yang mencoba mengeruhkan suasana.


“Aku yakin! Masih banyak antek-antek Adiguna di kerajaan,” Prabu Samarawijaya berkata.


“Baginda benar,” balas Tumenggung Wirabumi.


“Aku tahu Adi mas Mapanji tidak puas dengan keputusan ayahanda yang memberinya kerajaan Kahuripan.


“Tapi aku adalah Rakryan Mahamantri ( Putra Mahkota ) yang menggantikan kakak Sanggramawijaya Tunggadewi.


“Jadi apa aku salah, kalau aku di beri Panjalu oleh ayahanda? Ucap Prabu Samarawijaya.


“Baginda benar,” kali ini Resi Sarpa kencana yang berkata.


“Walau kita berbeda ibu, tetapi mempunyai ayah yang sama, aku tak mau berperang dengan Adi mas Mapanji Garasakan.


Resi Sarpa kencana menarik napas mendengar perkataan prabu Samarawijaya.


“Pendekar ini? Tanya Prabu Samarawijaya, saat melihat Aria di depannya.


“Aria Pilong,” Aria menyebut namanya ketika mendengar perkataan Samarawijaya.


“Pilong! Jadi pendekar ini,” ucap Samarawijaya, tak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Benar, aku Buta,” balas Aria.


“Aku Buto,” Buto Ijo ikut bicara.


“Boleh aku lihat wajah tuan pendekar? Tanya Prabu Samarawijaya.


“Hamba juga ingin lihat wajah tuan pendekar yang telah menolong keluarga Wirabumi,” ucap Tumenggung Wirabumi.


Rara Ayu langsung menatap ke arah Aria setelah mendengar perkataan ayahnya, entah kenapa Rara Ayu merasa umurnya tidak jauh berbeda dengan Aria, dan Rara Ayu penasaran sekali, ingin melihat wajah Aria.


Aria membuka capingnya, rambut panjang Aria langsung tergerai sampai bahu, wajah tampan dan senyum sering terlihat di bibir Aria, menambah daya tarik Pemuda itu, tetapi setelah melihat ke arah mata, mata berwarna kuning ke emasan terlihat jernih, rasa segan dan angker terpancar keluar dari aura mata Aria.


Rara Ayu sampai terpana melihat Aria Pilong, orang buta yang selama ini pernah di lihat oleh Rara Ayu sangat jauh berbeda dengan orang buta yang ada di hadapannya, hati Rara Ayu berdebar, saat terus menatap wajah Aria Pilong, raut wajah anak Tumenggung Wirabumi itu langsung merah, tak lama kemudian tundukkan kepala.


“Calon suamiku semakin tampan saja,” Wulan berkata dalam hati, sambil menatap Aria.


Sedangkan Sarka langsung menarik napas lesu, saat melihat Rara Ayu menatap Aria tanpa berkedip.


Prabu Samarawijaya dan Tumenggung Wirabumi anggukan kepala, begitu pula dengan Resi Sarpa kencana, setelah melihat wajah Aria.


“Sinar matanya memancarkan kewibawaan dan rasa segan kepada orang yang terus menatap pemuda ini, benar-benar pemuda pilihan,” batin Prabu Samarawijaya.


Prabu Samarawijaya sama sekali tidak menyangka bahwa Aria masih muda, begitu pula dengan Tumenggung Wirabumi.


Setelah anggukan kepala sambil tersenyum, Prabu Samarawijaya kembali bertanya.


“Kalau aku boleh tahu, pendekar berasal darimana, dan siapa guru pendekar? Kembali Prabu Samarawijaya bertanya.


“Aku dari gunung Lawu, kalau nama guru! Percuma Aku sebut nama, Baginda tidak akan kenal,”jawab Aria Pilong.


“Tidak sopan,” ucap Lembu Jarot sambil melotot ke arah Aria.


Buto Ijo langsung menatap ke arah Lembu Jarot.


“Aduh celaka,” Sarka berkata dalam hati melihat tatapan Buto Ijo saat melihat Lembu Jarot.


“Apa maksudmu menyebut Raden tak sopan? Tanya Buto Ijo sambil berdiri, kemudian jarinya menunjuk ke arah Lembu jarot.


“Raden….Raden apa? Tanya Lembu Jarot setengah mengejek perkataan Buto Ijo.


Prabu Samarawijaya membiarkan Lembu Jarot berkata, karena ia juga penasaran setelah Buto Ijo memanggil Aria dengan sebutan Raden.


“Dasar kerbau! Memangnya kau tidak tahu apa itu Raden? Ucap Buto Ijo dengan nada tinggi.


“Raden palsu! Kalau Ndoro ku benar, Prabu Samarawijaya, Raja Kadiri, semua mengakuinya,” Lembu Jarot terpancing emosinya dan membalas perkataan Buto Ijo.


Sarka menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terus gelengkan kepala mendengar perdebatan antara, Lembu Jarot dengan Buto Ijo.


Tapi melihat Prabu Samarawijaya diam, Tumenggung Wirabumi tak bisa berbuat banyak.


Buto Ijo langsung menggebrak meja mendengar Aria di sebut Raden palsu.


“Kau pikir cuma Ncoro mu saja yang raja? Ucap Buto Ijo tak kalah sengit membalas perkataan Lembu Jarot.


“Aduh! Ucap Sarka sambil tangannya menepak kening.


“Ndoro toloool, bukan Ncoro,” desis Sarka perlahan mendengar perkataan Buto Ijo, karena takut di dengar oleh yang lain.


“Raden ku juga Raja,” lanjut perkataan Buto Ijo.


“Mimpi! Balas Lembu Jarot.


“Resi Sarpa! Resi adalah orang tertua di sini, apa Resi percaya dengan perkataan mahluk raksasa ini? Lembu Jarot lanjut berkata sambil menatap Resi Sarpa kencana.


Prabu Samarawijaya semakin penasaran dan merasa tertarik mendengar perdebatan Panglima pengawalnya, lembu Jarot yang memang bersifat terbuka dan suka bicara blak-blak dengan Buto Ijo, lalu menatap ke arah Resi Sarpa kencana.


Resi Sarpa kencana tersenyum, karena sebelumnya ia sudah kontak batin dengan Nyi Selasih dan di beritahu sang Ratu, siapa Aria.


Resi Sarpa kencana menatap Lembu Jarot, kemudian anggukan kepala lalu berkata.


“Perkataan Sudara Buto Ijo benar.”


Raut wajah Prabu Samarawijaya, Tumenggung Wirabumi, Rara Ayu serta Sarka terkejut mendengar perkataan Resi Sarpa kencana.

__ADS_1


Lanjut perkataan Resi Sarpa kencana, sambil menatap ke arah Prabu Samarawijaya.


“Raden Aria adalah Raja lelembut bangsa siluman ular, penguasa gunung Lawu.”


__ADS_2