
Aria Pilong menoleh ke arah Buto Ijo, lalu berkata yang sama.
“Kau lihat dan diam.”
Buto Ijo mendengar nada suara Aria, tanpa bicara melangkah ke arah Wulan dan berdiri di samping gadis itu.
Ronojiwo dan Suto Abang terkejut melihat Aria memperlakukan Buto Ijo.
“Siapa dia, apa kau kenal? Tanya Ronojiwo kepada adik seperguruannya.
“Aku tidak tahu, wajahnya tidak jelas,” jawab Suto Abang.
“Kenapa Buto Ijo sangat menuruti perkataan pemuda itu? Tanya Ronojiwo.
Karena Ronojiwo tahu, bahwa Buto Ijo tak pernah mau mendengar apa yang orang katakan.
“Tapi coba kakang lihat! Dia memegang tongkat yang di pesan oleh Ki Loreng geni,” ucap Suto Abang setelah memperhatikan tongkat yang di pegang oleh Aria.
Mendengar perkataan Suto Abang, Ronojiwo memperhatikan Aria, Wulan serta Buto Ijo, “Bertiga! Jangan-jangan mereka yang dimaksud oleh Ki Loreng geni,” Ronojiwo berkata dalam hati.
Harimau anak buah Loreng geni mendekat ke arah Aria dari berbagai arah, mencoba mengurung.
Aria menyalurkan kekuatan ke arah mata, mata Aria bersinar, kini pemuda itu bisa melihat aura hitam bergerak mengurung dirinya.
Bayangan hitam berbentuk Harimau terus mendekat.
Aria mengangkat tongkat, yang diam-diam sudah di aliri oleh ajian Cakra Candhikkala.
Harimau yang berada di depan, lompat menerkam ke arah kepala Aria.
Aria bergerak ke kanan menghindari terkaman, kemudian tongkatnya menebas ke arah perut harimau yang sedang lompat.
Crash!
Darah berwarna hitam muncrat dari perut Harimau jadi jadian, setelah tubuhnya ambruk ke tanah, perlahan bayangan Harimau memudar tubuhnya menguap dan berubah menjadi seonggok debu.
Ronojiwo sampai melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat, mahluk jadi-jadian yang suka ia pinta bantuannya, begitu mudah di bunuh oleh pemuda buta itu.
Sementara Suto Abang hatinya merasa tidak enak jika melihat ke arah Aria.
Se ekor Harimau jadi-jadian menerkam dari belakang, Aria Pilong sambil menghadap ke atas lalu rebahkan tubuh, menghindari terkaman Harimau anak buah Ki Loreng geni.
Setelah Harimau lewat di atas tubuh Aria, pemuda itu menusuk perut Harimau.
Crep!
Kembali satu bayangan Harimau memudar dan menjadi seonggok debu, setelah terkena tusukan tongkat kayu cendana, yang sudah di aliri oleh ajian Cakra Candhikkala.
Melihat kawan mereka lenyap, beberapa Harimau yang tersisa tampak ragu untuk menyerang Aria.
Harimau-Harimau itu hanya jalan mengelilingi Aria, sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
“Kakang! Lebih baik tinggalkan tempat ini,” bisik Suto Abang.
“Kau tak usah takut, Ki Loreng geni tidak akan tinggal diam melihat dua anak buahnya tewas, sebentar lagi beliau pasti datang,” Ronojiwo berkata berusaha menenangkan adik seperguruannya.
Setelah lama hanya mondar-mandir di sekitar Aria, tak lama kemudian terdengar Auman menggelegar.
Asap hitam muncul di tempat Harimau yang sedang berkumpul, ketika mendengar suara auman.
Asap hitam tak lama kemudian berubah menjadi sosok pria paruh baya yang wajahnya mirip Harimau.
Asap Hitam yang tak lain adalah Ki Loreng geni menatap tajam ke arah Aria.
“Anak muda! Aku kasih kesempatan padamu untuk bisa keluar dari gunung Wilis, jika kau mau menuruti apa yang aku perintahkan,” Ki Loreng geni berkata.
“Apa yang kau inginkan? Tanya Aria
“Aku minta kau serahkan Nyi Selasih padaku,” jawab Ki Loreng geni.
“Kalau kau turuti keinginanku apapun yang kau mau akan ku kabulkan.
“kau ingin harta, tahta bahkan wanita akan kuberikan padamu,” Ki Loreng geni berkata.
Aria diam tak menjawab perkataan Ki Loreng geni.
“Apa kau ingin sakti? Tanya Ki Loreng geni, ketika tak mendengar jawaban Aria.
__ADS_1
“Ki Loreng geni! Nyi selasih tidak suka denganmu, kenapa kau paksa? Kau cari saja wanita lain untuk kau jadikan pendamping,” balas Aria.
Ronojiwo keluar dari tempat persembunyiannya, begitu pula dengan Suto Abang yang sebenarnya ragu untuk tunjukan diri.
“Kisanak! Tawaran Ki Loreng geni sangat menggiurkan, kenapa tidak kau terima, kau bisa merajai tanah Jawa jika menuruti apa kata Ki Loreng geni,” Ronojiwo berusaha membujuk Aria.
“Jika Kau ingin sakti! Ki Loreng geni bisa menjadikan kau orang sakti,” lanjut perkataan Ronojiwo.
“Coba kau tanya pada orang yang kau banggakan, siapa yang menebas tangan kirinya,” balas Aria.
Ronojiwo diam mendengar perkataan Aria, kemudian menoleh ke arah Ki Loreng geni.
Setelah di lihat lebih jelas, lengan baju Ki Loreng geni melambai lambai tertiup angin malam.
Phuih!
“Kau beruntung hari itu, tapi tidak kali ini kalau kau masih bersikeras, jangan katakan kalau aku belum memberi peringatan,” ucap Ki Loreng geni.
Tongkat Aria bergetar, sinar hijau keluar dari tongkat Aria, kemudian berubah menjadi gadis yang sangat cantik.
Setelah ganti kulit, tubuh Nyi Selasih jauh terlihat lebih muda, dengan kebaya berwarna hijau di hiasi permata, berdiri anggun di samping Aria Pilong.
Wulan baru melihat yang di panggil Nyi Selasih, setelah melihat bentuk serta wajah Nyi Selasih, Wulan merasa rendah diri, karena Wulan merasa kecantikan Nyi Selasih berada diatasnya.
Ki loreng geni melihat Nyi Selasih, maju satu langkah.
“Nyi Selasih! Terima cintaku ini Nyi,” ucap Loreng geni, mata penguasa gunung Wilis itu tampak penuh harap menatap Nyi Selasih.
“Maafkan aku Ki! Sekarang aku milik Raden Aria,” balas Nyi Selasih.
Cis!
Wulan mencibir mendengar perkataan Nyi Selasih, entah kenapa ia merasa tak suka mendengar perkataan Nyi Selasih.
“Tidak bisa!? kalian berdua berbeda alam, Kalian tidak bisa bersama,” teriak Ki Loreng geni.
“Itu benar,” ucap Wulan, mendengar perkataan Ki Loreng geni.
Buto Ijo kali ini menoleh mendengar perkataan Wulan.
“Kalau berisik, nanti kuremas mulutmu,” ucap Buto Ijo sambil melotot.
“Raden Aria adalah titisan Hyang Naga langit, leluhurku, Kenapa tidak bisa? Aku malah merasa terhormat bisa melayani Raden Aria? Nyi Selasih berkata sambil tersenyum.
“Kau….Kau,” Ki Loreng geni berkata sambil menunjuk ke arah Nyi Selasih.
“Ronojiwo, Suto Abang, kerahkan anak buah kalian, bunuh mereka jangan sampai ada yang lolos, biar Nyi Selasih aku yang hadapi,” setelah berkata, Ki Loreng geni meraung, setelah meraung Ki Loreng geni berubah menjadi Macan hitam dengan loreng berwarna merah.
“Serang! Suara Ronojiwo terdengar memerintahkan anak buahnya, begitu pula dengan Suto abang.
Raut wajah Aria Pilong berubah setelah mendengar perkataan Suto abang, karena suara itu adalah suara yang selalu ia cari.
Suara yang telah merenggut dirinya dari pelukan sang ibu.
“Buto Ijo! Coba kau lihat telinga kiri orang itu, apa daun telinganya di bagian bawah putus,” Aria berkata sambil menunjuk ke arah suara Suto abang.
Suto abang langsung menutup telinga kiri dengan tangan, lalu mundur selangkah ke belakang.
“Mau apa kau? Tanya Suto abang, melihat Buto Ijo bergerak ke arahnya.
“Aku mau lihat telinga kirimu,” ucap Buto Ijo.
Suto abang tak menjawab, ia langsung membacok kepala Buto Ijo.
Melihat kepalanya terancam, Buto Ijo bergerak ke kiri, setelah berhasil menghindar, kepalan Buto Ijo balas menghantam pinggang kiri Suto abang.
Tak ada cara lain, tangan yang tengah memegang telinga kiri di pakai menangkis hantaman Buto Ijo.
Tampak telinga kiri Suto abang putus di bagian bawah, seperti bekas gigitan.
“Benar Raden, telinganya Cuma setengah,” Buto Ijo berkata.
Aura tubuh Aria langsung meningkat mendengar perkataan Buto Ijo, raut wajah Aria tampak mengerikan.
“Buto Ijo! Patahkan kedua kaki serta tangan orang itu, tapi jangan sampai dia mati, biar nanti aku sendiri yang akan membunuhnya,” nada suara Aria terdengar dingin ketika memberi perintah kepada Buto Ijo.
“Baik Raden,” balas Buto Ijo.
__ADS_1
Buto Ijo melesat ke arah Suto abang, sementara Ronojiwo di bantu oleh anak buah Ki Loreng geni menhadapi Aria.
Nyi Selasih menjadi lawan Ki Loreng geni, sedangkan anak buah Ronojiwo mengurung Wulan.
Krak!
Telapak tangan Buto Ijo meremas bahu anak buah Suto abang, saat ia di halangi.
Setelah meremas dan mencengkeram, anak buah Suto abang, lalu di lempar ke arah kawannya.
Brak!
Dua orang rubuh terkena lemparan tubuh kawan mereka.
Suto abang melihat ada kesempatan, kemudian menebas pinggang Buto Ijo.
Buto Ijo mundur, lalu kakinya balik menendang tangan Suto abang.
Suto abang tak mau tangannya tertendang, kemudian mundur dua langkah, setelah mundur Suto abang melesat, telapak kiri yang mengandung aji Bayu abang menghantam dada Buto Ijo.
Senyum terlihat di bibir Suto abang, melihat Buto Ijo tak bisa menghindari pukulannya.
Sedangkan Buto Ijo menghentakan kedua kaki ke tanah, saat dirinya tak bisa menghindari pukulan Suto abang.
Kedua kaki Buto Ijo sebatas mata kaki, amblas ke dalam tanah.
Tangan kiri Suto abang menghantam keras.
Blam!
Buto Ijo tersenyum, tubuhnya tidak terpental karena kakinya sanggup menahan hentakan pukulan Suto abang.
Raut wajah Suto abang pucat melihat Buto Ijo masih tegak berdiri setelah terkena hantaman Aji Bayu abang.
Suto abang menyesali kebodohan sendiri, kenapa masih saja menghantam Buto Ijo yang terkenal kebal pukulan.
Suto abang lengah, kaki Buto Ijo yang tertanam di tanah terangkat, lalu menendang dengkul kiri Suto abang.
Krak….aaagghhhr!
Suara teriak kesakitan terdengar saat tulang dengkul Suto abang hancur terkena tendangan Buto Ijo.
Suto abang mundur sambil lompat-lompat, berusaha menjauh dari Buto Ijo.
Ketika Buto Ijo mendekat, Suto abang membacok kepala Buto Ijo.
Whut!
Buto ijo tundukkan kepala, menghindari tebasan.
Setelah menunduk tubuh Buto ijo berputar, kaki Buto Ijo yang ikut berputar menghantam betis kanan Suto abang.
Krak….aaaaghhhrr!
Teriak kesakitan terdengar kembali, saat tulang betis Suto abang patah terkena tendangan Buto ijo.
Suto abang langsung ambruk.
Suto abang menusukkan goloknya saat Buto Ijo mendekat.
Plak!
Buto Ijo menendang golok Suto abang sampai lepas dari genggaman dan terpental.
Buto Ijo geram, melihat musuh sudah tak berdaya tapi masih menyerang dengan ganas.
Buto ijo langsung menubruk ke arah Suto abang, tangannya langsung mencengkeram dan siap meremukan tulang yang tengah ia pegang.
“Tunggu….tunggu dulu,” ucap Suto abang dengan wajah penuh keringat dingin, merasakan tangan musuhnya yang tengah mencengkeram.
“Ada apa? Tanya Buto Ijo.
“Yang kau cengkeram adalah leher,” ucap Suto abang dengan raut wajah ketakutan.
Buto Ijo tersenyum setelah ingat pesan Aria, Buto ijo melepaskan cengkeramannya dari leher Suto abang.
Tangannya perlahan turun lalu memegang bahu Suto abang.
__ADS_1
“Terima kasih! Untung kau beritahu,” Buto ijo berkata, sambil meremas bahu Suto abang.
Krak!