
“Kau mengancamku anak muda? Tanya Mpu Barada sambil menatap ke arah Buto Ijo.
“Aku tidak mengancam, tetapi aku ingin membunuhmu,” balas Buto Ijo dengan nada dingin.
Ha Ha Ha
“Aku tahu kau mempunyai hubungan dengan kera itu, tetapi kau setengah manusia dan kera itu siluman, apa kalian bisa hidup bersama? Tanya Mpu Barada.
“Bisa hidup bersama atau tidak! Itu bukan urusanmu, tetapi aku tidak suka dengan perkataanmu,” jawab Buto Ijo.
Aria memberi isyarat untuk tenang.
“Kami mohon Maaf, kami memang penasaran dengan gadis yang di yakini sebagai mahluk terkutuk, dan kami juga ingin membantu kawan kami, Raden Untung, tetapi kami tidak mau menolong kawan dengan mengorbankan kawan, entah itu manusia atau siluman,”
Aria angkat bicara.
“Tidak apa-apa anak muda, tetapi usahamu untuk menaklukkan Penguasa Alas Purwo tidak akan berhasil, tanpa ada bantuan dari gadis yang tadi kau tangkap, karena hanya dia yang bisa membantumu untuk mengalahkan penguasa Alas Purwo,” balas sang Mpu.
“Rupanya kau tahu tujuan kami pak tua! cepat katakan cara untuk mengembalikan tenaga dalam setelah terkena Jarum emas perampas Sukma,” kali ini Kalasrenggi yang bicara.
“Kau mengancamku Kalasrenggi? Tanya Mpu Barada sambil menatap Kalasrenggi.
Kalasrenggi terkejut, karena kakek itu tahu siapa dirinya, padahal kalasrenggi memakai caping untuk menutupi identitasnya agar tidak dikenali.
“Siapa kau sebenarnya kakek tua? Tanya Kalasrenggi.
“Aku adalah Mpu Barada, dan aku tahu siapa kalian dan tujuan kalian ke Alas Purwo,” jawab Mpu Barada.
Sinar hijau melesat dari dalam tubuh Aria, Nyi Selasih keluar, kemudian memberi hormat di depan Mpu Barada.
“Salam sejahtera untuk Mpu Barada si penyampai utusan,” ucap Nyi Selasih.
“Selasih! Sudah lama tidak berjumpa, Nyai Ratu menyampaikan salam untukmu,” balas Mpu Barada.
“Terima kasih, karena Nyai Ratu masih ingat kepada hamba,” balas Nyi Selasih.
“Selasih! Apa kau tidak memberitahu kepada suamimu, Siapa yang akan dia hadapi? Tanya Mpu Barada.
“Takdir sudah di gariskan, hidup dan mati sudah ada ketentuannya, kenapa harus memberitahu siapa musuh yang bisa membuat hati ini merasa kalah sebelum bertempur? Balas Nyi Selasih sambil tersenyum.
“Kau benar, Nyi! Tetapi mengenal musuh dan kelemahannya, bisa meningkatkan percaya diri seseorang jika bertempur,” jawab Mpu Barada.
“Mpu benar, tetapi jika mampu tapi hanya berdiam diri, bukankah itu juga menyalahi aturan.
“Kau menyindir Nyai Ratu, Selasih? Tanya Mpu Barada.
__ADS_1
“Aku hanya siluman kecil, mana berani menyindir Nyai ratu sang penguasa laut, jawab Nyi Selasih.
“Tetapi kerusakan yang di timbulkan oleh orang padepokan Elang emas dan Penguasa Alas Purwo jika di biarkan, akan menghancurkan sebagian umat manusia di tanah Jawa,” lanjut perkataan Nyi Selasih.
Mpu Barada tersenyum mendengar perkataan Nyi Selasih.
“Banyak hal yang menjadi rahasia, ada sebab dan ada akibat, seorang yang mampu terkadang tidak turun tangan, bukan karena dia enggan, tetapi karena ada suatu alasan lain.
“Lanang Jagad mampu membunuh Larang tapa, tetapi dia malah menyuruh suamimu, bukankah ada satu alasan Lanang Jagad untuk tidak melakukannya? Tanya Mpu Barada.
Nyi Selasih diam setelah mendengar perkataan sang Mpu, karena perkataannya memang benar.
“Aku akan menceritakan sedikit, tentang orang yang kalian cari,” ucap Mpu Barada
“Ada seorang manusia berbudi yang bernama Ki Banyu Alas, karena kebaikan dan ketekunannya, akhirnya Ki Banyu Alas menjadi sahabat Nyai Ratu setelah Ki Banyu Alas sering bersemedi di hutan Alas Purwo, tetapi jalinan persahabatan itu memang sudah di rencanakan dan ada maksud terselubung di hati Ki Banyu Alas.
Setelah Ki Banyu Alas menikah dengan salah seorang pengawal Nyai Ratu, diam-diam Ki Banyu Alas mencuri dua buah pusaka, yang pertama adalah Mutiara Pelet Aji, yang membuat Ki Banyu Alas bisa menyerap kesaktian salah seorang tokoh yang Moqsa dan menjadi manusia terkuat.
Pusaka kedua yang di curi adalah Jarum pusaka tongkat emas, yang dapat melenyapkan tenaga dalam, orang yang terkena tusukan Jarum emas.
Tetapi karena Nyai Ratu pernah ucap kata, bahwa ia tidak akan mencelakai Ki Banyu Alas.
Ucapan itu berbalik setelah Ki Banyu Alas mencuri kedua pusaka.
Nyai Ratu lalu mengutuk Ki Banyu Alas menjadi siluman bertubuh manusia tetapi berkepala kerbau dan akan tewas dalam kesedihan oleh anaknya sendiri.
Kelima penjaga setelah menerima petunjuk dari Nyai Ratu akhirnya dapat menyegel dan memenjarakan Ki Banyu alas di Alas Purwo.
Tetapi Sepasang Elang Emas berhasil membuka segel kekuatan dan penjara Ki Banyu Alas.
Ki Banyu Alas yang merasa berterima kasih, lalu memberikan Jarum pusaka tongkat emas.
Tetapi itu hanyalah akal akalan saja, karena sebelum memberikan pusaka itu, Ki Banyu alas meminta sepasang Elang emas untuk menaklukkan tanah Jawa.
Ki Banyu Alas ingin melihat tindakan apa yang akan di lakukan oleh Nyi Ratu, setelah mengetahui salah satu pusakanya di pakai untuk membunuh orang-orang tidak berdosa.
Nyai Ratu meminta tolong kepadaku sambil memberitahu satu rahasia.
Sewaktu Ki Banyu Alas meninggalkan istrinya, sang istri tengah mengandung, setelah melahirkan, istri Ki Banyu Alas meninggal dunia, anak Ki Banyu Alas kemudian di taruh di tempat antara dunia manusia dan dunia mahluk ghaib.
Hanya darah gadis itu yang bisa membunuh Ki Banyu Alas, itu sebabnya gadis itu di sebut manusia terkutuk, karena gadis itu yang bisa mewujudkan kutukan Nyai Ratu untuk membunuh Ki Banyu Alas.
“Dimana gadis itu? Tanya Kalasrenggi.
“Gadis itu selalu muncul bersama datangnya pelangi, dan menghilang bersama lenyapnya pelangi,” jawab Mpu Barada.
__ADS_1
“Jadi gadis itu anak Ki Banyu Alas? Tanya Aria.
“Benar! Itu sebabnya padepokan Elang emas dan para pendekar memburu si gadis, karena mereka berpikir jika mendapatkan gadis itu, bisa menguasai Ki Banyu Alas.
“Darimana mereka mengetahui gadis itu anak ki Banyu Alas? Tanya Aria setelah mendengar cerita Mpu Barada.
“Aku yang menyebarkan berita atas perintah Nyai Ratu, karena itu adalah cara untuk menyiksa batin Ki Banyu Alas setelah tahu bahwa gadis itu adalah putrinya.
“Tetapi mereka tidak tahu caranya membebaskan Si gadis dari jeratan Pelangi ( ruang Dimensi )
“Kenapa tidak Nyai Ratu sendiri yang membebaskan gadis itu? Tanya Wangsa.
“Tidak semua hal bisa di lakukan oleh Nyai Ratu, ia juga mempunyai keterbatasan dan tak bisa melepaskan Gadis itu tanpa syarat serta bantuan orang lain.
“Dan salah satu syaratnya adalah darah dia,” ucap Mpu Barada sambil menunjuk ke arah Suketi.
Suketi langsung memeluk leher Buto Ijo, begitu mendengar perkataan Mpu Barada.
“Kau tenang saja! Aku akan membela mu sampai mati,” ucap Buto Ijo saat merasakan pelukan Suketi di lehernya.
“Raden! Aku tidak akan mengijinkan Mpu Batara mengambil darah Suketi,”
“Mpu Barada, Jo! Seru Wangsa.
“Diam kau! Selalu saja kau memotong perkataanku,” ucap Buto Ijo.
“Aku hanya membenarkan perkataan kau yang salah,” balas Wangsa.
“Aku tak peduli dia Batara atau ganti nama jadi Barada, tetapi satu hal yang harus di aku ingatkan kepada dia,” Buto Ijo berkata sambil menunjuk ke arah Mpu Barada.
“Jika dia berani menyentuh Suketi! Langkahi dulu mayatku.”
“Kau yakin dengan perkataanmu? Tanya Mpu Barada sambil menatap tajam ke arah Buto Ijo.
“Tentu saja aku yakin, Tolol! Kalau tidak yakin, untuk apa aku bicara,” jawab Buto Ijo dengan nada kesal.
“Baik! Kalau itu maumu,” balas Mpu Barada dengan nada dingin, karena di sebut tolol.
Aria maju dan berdiri di dekat Buto Ijo, setelah mendengar perkataan Mpu Barada, kemudian berkata.
“Aku tidak akan tinggal diam jika kawanku mendapat ancaman.”
Wangsa, Selamet serta Si Beurit juga ikut berdiri di samping Aria, setelah mendengar perkataan sang Ketua.
Wangsa bicara mewakili kawan-kawannya
__ADS_1
“Kami akan selalu bersamamu, Jo”