
Aria mencari penginapan di desa Ranu Pani.
Buto Ijo memberitahu Aria, saat melihat Selamet tengah duduk di penginapan di tengah desa.
“Biar aku yang bicara,” ucap Aria.
Setelah keduanya sampai di dekat Selamet, Aria lalu bertanya.
“Apa di penginapan ini masih ada kamar kosong?
“Tidak ada,” jawab Selamet.
Buto Ijo yang melihat lihat penginapan dari jendela penginapan yang terbuka, kerutkan kening mendengar perkataan Selamet.
“Penginapan sepi, kau bilang tidak ada kamar? Ucap Buto Ijo.
“Penginapan ini milik padepokan jagad Buwana, jadi tak ada kamar kosong,” balas Selamet.
Hmm!
“Kami butuh satu kamar, jika utusan mau berbagi,” ucap Aria setelah mendengar dengusan Buto Ijo.
“Tidak bisa! Aku sudah pernah bicara kepada kalian di hutan, kalau desa Ranu pani sudah di beli, kalian tinggalkan desa ini dan cari tempat lain.
“Jadi kau sudah membeli semua rumah di sini? Tanya Buto Ijo.
“Bukan aku, tetapi Jagad Buwana,” balas Selamet,
“Tetapi tidak semuanya terbeli, hanya rumah Kusumo yang tersisa dan tidak di jual, selebihnya milik Jagad Buwana,” lanjut perkataan Selamet.
“Tuan Selamet! Kami hanya ingin tinggal di sini sampai hari pertemuan tiba dan tidak akan mengganggu kalian,” ucap Aria.
“Tidak bisa! Selain di rumah Kusumo, kalian tidak bisa tinggal di Ranu pani,” balas Selamet.
Phuih!
“Kau pikir kalau tidak ada rumah di sini, kalian bisa tinggal di Ranu pani,” Buto Ijo ikut bicara.
“Apa maksudmu? Tanya Selamet.
“Kalau kalian terlalu pelit, aku akan hancurkan semua rumah di Ranu pani,” jawab Buto Ijo, Kemudian melangkah ke arah jendela, setelah memegang sisi jendela, Buto Ijo langsung menarik.
Krak!
Jendela kamar langsung copot, setelah jendela terlepas, Buto Ijo langsung membantingnya ke tanah.
Brak!
Jendela penginapan hancur berantakan.
Selamet terkejut melihat ulah Buto Ijo, tubuhnya berubah menjadi asap dan melesat, setelah berdiri di dekat Buto Ijo, tangan kanan Selamet menghantam ke arah leher.
Buk!
Buto Ijo langsung menghantam ke arah Selamet, saat lehernya terkena hantaman.
Kedua tangan Selamet menahan hantaman Buto Ijo.
Buk!
Setelah berhasil menahan serangan, kaki Carik bayangan menendang pinggang Buto Ijo.
Buk!
Kali ini Buto Ijo terpental ke arah pintu penginapan, setelah terkena tendangan Selamet.
Brak!
Pintu penginapan hancur, saat terkena tubrukan Buto Ijo,
Buto Ijo berdiri, lalu tangannya menghantam ke arah dinding penginapan yang terbuat dari kayu jati.
Brak!
__ADS_1
Dinding papan, hancur terkena hantaman Buto Ijo.
Selamet terkejut, melihat Penginapan yang di siapkan olehnya untuk ketua Jagad Buwana, di rusak oleh Buto Ijo.
“Berhenti….apa yang kau lakukan? Ucap Selamet ketika melihat Buto Ijo mulai merusak penginapan.
“Kalau tidak berhenti, ku bunuh kau! Ucap Selamet, kulit wajahnya mulai merah karena kesal dengan Buto Ijo.
“Apa kau mampu? Balas Buto Ijo, menirukan perkataan Selamet sewaktu mereka berkelahi di hutan.
Selamet akhirnya hanya bisa menarik napas panjang, lalu melirik ke arah Aria.
“Suruh orangmu berhenti, nanti aku beri satu rumah dekat penginapan, tetapi ingat! Kalian jangan tanya dan ikut campur urusan Jagad Buwana, kalau tidak! Aku akan berusaha membunuh kalian berdua,” Selamet berkata dengan nada dingin.
“Sekalian dengan makanannya! Awas kalau tidak, ku hancurkan satu persatu rumah di desa ini,” ucap Buto Ijo.
“Bangsat kau! Ucap Selamet dengan nada geram, ia yang biasa berkata sopan, kali ini tak bisa menahan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Selamet kemudian masuk, lalu menyuruh pelayan penginapan untuk membetulkan kerusakan akibat amukan Buto Ijo.
Suasana di desa Ranu pani sepi setelah rumah dan tanah di sana di beli oleh Jagad Buwana.
Aria dan Buto Ijo menempati rumah bekas penduduk tak jauh dari penginapan, Selamet juga mengirimkan makanan, kepada Aria dan Buto Ijo, karena takut sang raksasa mengamuk, sedangkan waktu kedatangan rombongan para pengurus padepokan semakin dekat.
Rama dan Resi Jayaprana serta Bayusena suka berkunjung ke tempat Aria menginap, tetapi Anjani tidak, karena gadis itu terus di jaga ketat oleh sang kakek.
“Kalau aku tahu bakal seperti ini, aku tak mau bertemu dengan Kakek! Seru Anjani sambil menangis.
“Anjani! Kakek berbuat seperti ini, itu untukmu juga, apa yang kau harapkan dari pemuda buta seperti dia? Makan saja terkadang harus di suapi, bagaimana kalian bisa hidup kalau seperti itu? Tanya Raden Kusumo dengan suara keras.
“Itu terserah kakek, pokoknya Anjani tidak mau di atur kalau soal jodoh,” sang cucu tetap bersikeras.
“Kalau kau masih saja menolak! Kakek akan menyuruh orang untuk membunuh mereka,” Raden Kusumo mulai mengancam mendengar perkataan Anjani.
“Apa kakek tidak juga sadar setelah di beritahu jangan mencari penyakit oleh guru, kakek masih berani mengancam kakang Aria.
2 orang ketua tangan hitam yang sangat di takuti, hanya dalam gebrakan langsung tewas, sedangkan Bahurekso ketua pertama, lebih dulu tewas.
“Apa kakek juga tahu siapa pengawal kakang Aria, pria yang bertubuh besar? Tanya Anjani.
“Paling juga centeng pasar,” jawab Raden Kusumo.
“Kakek tahu tokoh golongan hitam yang sangat di takuti, tokoh yang bernama Buto Ijo, Kakek tahu Buto Ijo? Tanya Anjani.
“Memangnya kenapa dengan Buto Ijo, kakek kan hanya ada urusan dengan si buta, bukan dengan Buto Ijo,” ucap Raden Kusumo.
Pria bertubuh raksasa yang di bahunya ada kera, dia adalah Buto Ijo.
Raden Kusumo terkejut mendengar perkataan Anjani, bahwa pria itu adalah Buto Ijo, tokoh yang sangat di takuti.
“Pantas saja Jayaprana selalu memperingatkan aku, agar jangan mencari urusan dengan orang itu,” batin Kusumo.
Setelah terjadi cekcok, Anjani selalu di awasi.
Raden Kusumo juga menyuruh seorang pengawalnya yang bernama Suropati untuk mengawasi Aria.
Suropati merupakan pengawal Raden Kusumo, saat di beri perintah tadinya Suropati hendak menolak, tetapi setelah di desak oleh Raden Kusumo, akhirnya Suropati menerima.
Siang hari Suropati saat jalan di jalanan yang sepi, Suropati melihat Buto Ijo yang juga tengah berjalan menuju ke arahnya.
Buk!
Suropati dengan sengaja menubruk bahu Buto Ijo.
“Kalau jalan pakai mata! Ucap Buto Ijo sambil terus berjalan.
Phuih!
“Ini jalan umum, mau jalan dimana saja bebas,” Suropati berkata setelah melewati Buto Ijo.
Buto Ijo langsung berhenti, kemudian berbalik.
“Ini jalan milik Jagad Buwana karena semua tanah di sini sudah di beli, kalau kau tak terima, lapor sana sama si Selamet,” ucap Buto Ijo.
__ADS_1
Suropati juga langsung balik badan mendengar perkataan Buto Ijo.
“Orang asing jangan banyak tingkah di Ranu pani,” balas Suropati.
He He He
“Aku tahu siapa kau! Pasti kacung Kusumo, sebab di Ranu pani hanya ada orang jagad Buwana serta orangnya Kusumo, Jagad Buwana tidak pernah ganggu aku, itu artinya! Kau orangnya Kusumo,” Buto Ijo berkata.
“Kalau aku benar orangnya Raden Kusumo, kau mau apa? Tanya Suropati.
Buto Ijo langsung melesat mendengar perkataan Suropati, kakinya lalu menendang pengawal Raden Kusumo.
Suropati bergerak menghindar, kemudian tangannya balik menghantam ke arah dada Buto Ijo.
Buk!
Suropati terkejut, pukulannya tak mempan terhadap raksasa itu, tubuhnya langsung mundur saat tangan Buto Ijo menghantam ke arah pinggang.
Whut!
Melihat Suropati mundur, Buto Ijo langsung mengejar dan tangannya berusaha meraih baju Suropati.
Plak!
Suropati menepis tangan Buto Ijo, lalu kaki kanannya dengan sekuat tenaga menendang pinggang Buto Ijo.
Buk!
Kembali Suropati terkejut, tendangan yang di aliri tenaga dalam dan menghantam telak pinggang Buto Ijo, sama sekali tak membuat raksasa itu bergerak.
Buto ijo menyeringai, kaki Suropati yang masih berada di pinggang, langsung di kempit oleh tangan Buto Ijo.
Setelah kaki tak bisa bergerak, tangan Buto Ijo menekan.
Krak!
Jeritan panjang terdengar dari mulut Suropati saat tulang betisnya patah akibat di jepit oleh Buto Ijo.
Dengan sekuat tenaga sambil menahan sakit, tubuh Suropati bergerak naik, tangan kanannya yang mengepal menghantam kepala Buto Ijo.
Plak!
Caping Buto Ijo terpental, kulit wajahnya yang berwarna hijau terlihat, Suropati sangat terkejut melihat raut wajah bengis berwarna hijau.
Buto Ijo melepaskan kaki Suropati, kemudian tangan kanan dan kiri merangkul pinggang Suropati, layaknya seorang pegulat, Buto Ijo kali ini memeluk pinggang Suropati, semakin lama pelukannya semakin kencang, suara patahan tulang dada serta rusuk di tubuh Suropati terdengar.
Krek….Krek….Krek!
Saking kencangnya pelukan yang di lakukan kedua tangan Buto Ijo, Suropati sampai tak bisa bersuara, kulit wajahnya merah, matanya melotot berusaha menahan sakit.
Telinga Suropati mendengar suara tulang-tulang di sekitar pinggangnya yang patah, darah langsung menyembur dari mulut Suropati, tak lama kemudian kepala Suropati terkulai.
Pengawal Raden Kusumo itu tewas, dengan tulang rusuknya di kiri kanan remuk.
“Baru juga berkelahi sebentar sudah mampus, lagak saja seperti jago.”
Phuih!
Setelah berkata, Buto Ijo meludahi wajah Suropati yang sudah tewas, mata sang pengawal naas itu masih melotot menatap ke arah Buto Ijo.
Suketi sampai menutup matanya, tak kuat melihat mata Suropati.
“Sudah mampus, masih saja melotot,” ucap Buto Ijo sambil mendengus.
Prak!
Kaki Buto Ijo menendang kepala Suropati.
Buto Ijo lalu memegang tangan Suropati, kemudian menyeretnya mayat Suropati menuju ke arah rumah Raden Kusumo.
Hatinya sangat kesal, kini di kepala Buto Ijo hanya ada dua kata yang dia ingat.
Membuat perhitungan
__ADS_1