Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 29 : Kesedihan Wisesa


__ADS_3

Setelah berhasil mendapatkan kitab 7 racun, Wulan beserta rombongan kembali ke padepokan.


Setelah tiba di padepokan, Aria, Wulan, Buto Ijo serta Wisesa berkumpul, untuk membahas kitab 7 Racun.


“Bagaimana langkah Den Aria selanjutnya? Tanya Wisesa.


“Aku akan ke gunung Semeru untuk meminta petunjuk kepada Resi Lanang jagad,” jawab Aria.


“Tapi aku khawatir kitab 7 racun jatuh ke tangan Resi Larang tapa,” lanjut perkataan Aria.


“Jadi apa yang harus kami lakukan menurut hemat Raden? Tanya Wisesa.


“Mengenai kitab aku hanya bisa memberi saran, karena kitab 7 racun adalah milik padepokan Wisanggeni,” jawab Aria.


“Sebenarnya aku sudah memikirkan satu jalan, tapi memang agak berat untuk melaksanakannya,” ucap Wisesa sambil menarik napas panjang, wajah ketua padepokan Wisanggeni yang baru itu terlihat sedih, seperti enggan bicara.


Setelah lama diam, akhirnya Wisesa bicara.


“Aku dengan terpaksa akan membubarkan padepokan Wisanggeni.”


Kali ini Aria yang menarik napas, mendengar perkataan Wisesa, sedangkan Wulan matanya berkaca-kaca mendengar perkataan sang ayah.


“Aku turut sedih mendengar rencana paman, tetapi menurutku, rencana yang tadi paman katakan memang rencana terbaik untuk saat ini,” Aria menimpali perkataan Wisesa.


“Tapi bagaimana dengan kitab 7 racun? Tanya Aria.


“Sebelum bicara kitab 7 racun, apa Den Aria sudah di beritahu Wulan, tentang pesan terakhir ayahku? Wisesa balik bertanya sambil menatap Aria.


“Pesan,….pesan apa ya? Tanya Aria.


Cis!


Wulan mencibir melihat Aria bertanya kepada sang ayah.


“Pesan yang mengatakan bahwa Wulan ikut dengan Den Aria.


“Kalau Den Aria mengijinkan Wulan ikut, aku tidak ragu lagi untuk membubarkan padepokan Wisanggeni, tetapi jika Den Aria tidak memberi ijin, mungkin kami akan memikirkan rencana lain,” ucap Wisesa.


“Oh….kalau masalah itu, kami sudah bicara dan Wulan juga sudah setuju kalau nanti kita tidur bersama,” balas Aria.


“Jadi….jadi kalian sudah sepakat untuk menikah? Tanya Wisesa dengan raut wajah senang, mendengar perkataan Aria.


“Menikah? Tanya Aria, menikah itu apa paman? Lanjut pertanyaan Aria.


Wisesa mendengar pertanyaan Aria malah bingung sendiri.


“Apa pemuda ini tidak tahu arti menikah? Wisesa berkata dalam hati, bagaimana aku harus menjelaskannya,” batin Wisesa.

__ADS_1


“Menikah itu, ya….benar kata Raden tadi, tidur bersama terus kuda-kudaan,” jawab Wisesa sambil tertawa, lalu melirik ke arah Wulan.


Raut wajah Wulan berubah merah mendengar perkataan dan lirikan sang ayah, kepalanya langsung tertunduk malu.


“Kuda-kudaan,” suara Aria pelan sambil berbisik kepada Buto Ijo, “kau tahu maksud paman Wisesa tidak? Tanya Aria pelan.


“Kalau Raden tidur bersama, jangan sambil berkuda,” jawab Buto Ijo.


“Oh! Begitu,” ucap Aria pelan, sambil anggukan kepala.


“Baiklah paman! Kami tidak akan tidur bersama sambil naik kuda,” ucap Aria kepada Wisesa.


Wisesa hanya bisa gelengkan kepala sambil mengangguk, mendengar perkataan pemuda buta di depannya.


“Entah bagaimana nasibmu nanti, nak! Pikir Wisesa, sambil menatap ke arah Wulan yang akan ikut kemana Aria pergi.


“Setelah kita sepakat! Aku sebagai ketua padepokan Wisanggeni akan menyerahkan kitab 7 racun kepada Raden Aria Pilong,” ucap Wisesa, sambil meletakan kitab di atas meja, di depan tempat duduk Aria.


“Apa maksud paman? Tanya Aria.


“Kalau kitab masih bersama kami, kitab ini tidak akan aman, karena terus terang kami tidak punya kekuatan untuk menjaga kitab ini,” jawab Wisesa.


“Maaf paman! Kitab ini adalah pusaka milik padepokan Wisanggeni, jadi aku tidak berhak menerima kitab ini, karena aku bukan murid Wisanggeni.


“Jadi bagaimana baiknya menurut Raden? Tanya Wisesa minta pendapat Aria Pilong.


Wisesa anggukan kepala mendengar perkataan Aria dan setuju dengan pendapat pemuda itu, Wulan adalah keturunan dari Birawa jadi wajar jika mempelajari kitab 7 Racun.


“Baiklah! Menurutku, usul Raden sangat baik, lalu Wisesa berkata kembali sambil menatap ke arah Wulan.


“Kau baik-baik bersama Raden Aria, ke ahlian racun dan pengobatan yang kau miliki harus kau gunakan untuk membantu Raden Aria dan manusia yang membutuhkan pertolonganmu.”


“Baik ayah! Wulan akan selalu ingat pesan ayah,” balas Wulan, tanpa terasa bulir-bulir air mata jatuh di pipi Wulan mendengar perkataan ayahnya.


***


Aria Pilong menunggu Wulan mempelajari kitab 7 racun, dan persiapan Wisesa untuk membubarkan padepokan Wisanggeni.


Sudah 2 malam Wulan terus membaca kitab 7 racun di kamar Aria.


Saat Wulan tengah duduk di kursi di dalam kamar Aria sambil membaca kitab, tiba-tiba Wulan bertanya.


“Apa boleh aku tulis kitab ini? Tanya Wulan.


“Tidak! Kau harus menghapal kitab itu, percuma saja kita bakar kitab, kalau masih ada salinan tentang kitab yang sudah di bakar,” jawab Aria.


Wulan anggukan kepala dan terus menghapal kitab sambil di temani oleh Aria, karena waktu yang di berikan pemuda itu untuk menghapal kitab tersisa waktu 2 hari lagi, sambil menunggu persiapan ayahnya selesai.

__ADS_1


***


Di kaki gunung Wilis, dua orang kakek tengah duduk sila di depan 2 batang pohon besar yang batangnya menjulang tinggi.


Dua batang pohon itu tumbuh berdampingan, se akan seperti saudara kembar.


Di depan kedua kakek itu ada satu bokor yang terus mengepulkan asap berbau wangi, menyebar ke seluruh hutan di sekitar tempat kedua kakek itu duduk.


“Kakang! Apa junjungan kakang mau menemui kita? Tanya kakek yang bertubuh besar dan berkulit merah, di leher si kakek terlihat kalung dari tengkorak bayi yang di ikat oleh kulit.


“Kau diam saja Suto Abang! kita ini sedang meminta bantuan, jadi harus sabar,” jawab kakek yang terus menaburkan serbuk kemenyan kedalam bokor perapian.


“Tapi kita di sini sudah dari pagi kakang! Matahari sudah hampir tenggelam, tetapi junjungan yang kang Ronojiwo maksud, belum juga menampakkan diri,” balas Suto Abang dengan raut wajah kesal, karena kakinya sudah pegal, terus duduk menemani sang kakak yang hendak memanggil makhluk penunggu gunung Wilis.


Percakapan keduanya terhenti setelah merasakan perubahan di sekitar tempat mereka duduk.


Angin yang berhembus mendadak lenyap dan Suasana berubah hening, suara binatang kecil yang tadi sangat riuh di dalam hutan, mendadak lenyap.


“Ssst! Jangan bicara lagi, junjungan sebentar lagi datang,” bisik Ki Ronojiwo kepada Suto Abang.


Tak lama setelah Ronojiwo berkata, tiba-tiba di tengah dua batang pohon kembar, muncul asap yang semakin lama semakin menebal dan akhirnya asap itu menggumpal dan berbentuk seperti seorang manusia.


Suto Abang terkejut, setelah melihat bentuk dari asap yang muncul.


Seorang pria dengan bentuk wajah mirip Harimau, tampak sudah beridiri di depan mereka.


“Ada apa kau memanggilku Ronojiwo? Tanya Mahluk itu yang tak lain adalah Ki Loreng geni, penguasa gunung Wilis.


“Hamba mohon bantuan dari Ki Loreng geni,” jawab Ronojiwo.


“Bantuan apa yang bisa kuberikan? Tanya Ki Loreng geni.


“Hamba hanya minta bantuan anak buah Ki Loreng untuk melindungi adik seperguruan hamba yang sedang terancam,” jawab Ronojiwo.


“Itu perkara mudah! Tetapi sebelum itu kau harus membantuku terlebih dahulu,” ucap Ki Loreng geni.


Ronojiwo kerutkan kening mendengar perkataan Ki Loreng geni.


“Apa yang bisa kami bantu Ki? Tanya Ronojiwo.


“Menurut anak buahku, dalam beberapa hari kedepan ada satu rombongan yang akan lewat di kaki gunung Wilis ini, kau cegah rombongan itu dan bunuh mereka.


“Ambil tongkat berwarna hijau dari seorang pemuda buta,” ucap Ki Loreng geni.


“Pemuda buta! Batin Suto Abang.


“Jangan-jangan.”

__ADS_1


__ADS_2