
Setelah suasana di tempat upacara terkendali, Aria, Buwana Dewi, Wangsa, Buto Ijo dan Suketi serta Iblis Kawi berkumpul, hanya Selamet dan Ujang Beurit yang tidak terlihat diantara mereka.
Di tenda istana, Prabu Anak Wungsu bisa bernapas lega, setelah melihat kera besar sudah tidak ada lagi di panggung upacara, hanya bekas panggung upacara pernikahan yang porak poranda terlihat.
Para penduduk yang berkumpul di dekat tenda Prabu Anak Wungsu perlahan membubarkan diri, tetapi tidak semua, penduduk yang tersisa adalah penduduk yang merupakan penyamaran dari Senopati Gala, Gali serta Nyoman Sidharta.
Prabu Anak Wungsu belum menyadari ke hadiran Nyoman Sidharta serta sepasang Senopati kembar ada di dekat tenda, karena ketiganya selalu di tutupi oleh anak buah mereka, sehingga tidak terlihat.
Perlahan Nyoman Sidharta berbisik kepada anak buahnya untuk segera mengepung tenda kerajaan.
Anak buah Nyoman Sidharta bergerak perlahan mengepung tenda Prabu Anak Wungsu.
Setelah semua siap, dan tangan mengambil keris yang di sembunyikan di balik baju.
Nyoman Sidharta langsung teriak kencang, Serang!
Kerusakan menyambar ke arah prajurit yang menjaga tenda, Crep….Crep!
Dua orang prajurit tewas terkena tusukan, tenda kerajaan langsung gempar, panglima Wisnutama langsung melesat menghadang di depan Prabu Anak Wungsu.
Begitu pula dengan pengawal khusus Prabu Anak Wungsu, berusaha menghadang pergerakan pasukan Nyoman Sidharta yang berusaha menerobos masuk ke tenda kerajaan dari arah depan.
Sementara Senopati kembar, Gala dan Gali bergerak dari arah belakang, berusaha membokong anggota kerajaan.
Saat senopati Gala hendak menusuk seorang menteri.
Dari dalam tanah muncul seorang pemuda bermata sayu, pisau kecil yang di pegang si pemuda yang tak lain, Ujang Beurit menyambar ke arah leher Senopati Gala.
Senopati Gala terkejut, melihat kemunculan Ujang Beurit yang tiba-tiba, tubuhnya langsung mundur, menghindari tebasan ke arah leher, sementara itu, sang adik menusuk ke arah punggung Ujang Beurit setelah melihat kakaknya di serang.
Setelah melihat musuh mundur menghindari serangan, Ujang Beurit langsung berbalik sambil hantamkan pisaunya ke arah keris Senopati Gali.
Tring!
Suara kedua senjata yang bertemu terdengar, Senopati Gali melihat serangannya dari belakang berhasil di tangkis, kemudian melesat ke arah salah seorang menteri tua penjaga perpustakaan.
Shing….Crep!
Menteri tua tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi sasaran senopati Gali, ia terlambat menghindar sehingga dadanya terkena tusukan keris Senopati gali.
Selamet yang tengah mencari Kilani, langsung menuju ke arah tenda kerajaan, begitu pula dengan rombongan Aria, saat mendengar suara jeritan.
Raut wajah Nyoman Sidharta pucat melihat, rombongan Aria bergerak ke arah tenda kerajaan.
Sang mantan patih, kemudian teriak memberi perintah kepada anak buahnya, agar cepat-cepat membunuh Prabu Anak Wungsu.
Tubuh Nyoman Sidharta melesat ke arah Prabu Anak Wungsu, sambil kerisnya menyambar ke arah raja tua tersebut.
Panglima Wisnutama menyambar tubuh Prabu Anak Wungsu, sehingga terhindar dari sabetan keris Nyoman Sidharta.
Nyoman Sidharta semakin bernafsu, sambil terus memburu ke arah Prabu Anak Wungsu.
Sebelum sampai di hadapan Prabu Anak Wungsu, bayangan asap terlihat dan membentuk tubuh seorang.
Selamet berdiri di hadapan Nyoman Sidharta dengan wajah bengis.
“Kau yang menyuruh Kilani menaruh racun, kemudian meracuni salah satu kawanku? Tanya Selamet.
“Lantas, kau mau apa? Tanya Nyoman Sidharta, balik bertanya dengan nada kesal, karena sudah dua kali rencananya gagal oleh para tamu, Prabu Anak Wungsu
“Jawabanmu sudah cukup untuk mengantarmu ke neraka,” jawab Selamet dengan nada dingin.
Nyoman Sidharta melesat ke arah Selamet sambil menyabetkan kerisnya.
Selamet menghilang dengan aji Halimun, kemudian balas menyerang dari samping.
Whut!
Nyoman Sidharta melihat asap bergerak ke samping, kemudian tangan kanan langsung menangkis keris Selamet.
Trang!
Setelah menangkis sambil meng hentakan keris pusaka Naga hitam, Nyoman Sidharta menebas ke arah perut Selamet.
Selamet mundur selangkah, menghindari sabetan Nyoman Sidharta.
Melihat musuh yang mengepung tendanya, Prabu Anak Wungsu langsung memberi perintah dengan nada ger kepada bawahannya.
“Serang mereka dan bunuh semua, jangan sampai ada satupun yang melarikan diri,” perintah Prabu Anak Wungsu.
Setelah memberi perintah, Prabu Anak Wungsu langsung di jaga ketat dan perlahan di bawa menjauh dari tenda kerajaan, sementara itu, prajurit langsung mengepung serta menyerang Nyoman Sidharta beserta anak buahnya.
Pertempuran tak seimbang terjadi, beberapa kali lipat jumlah prajurit yang mengepung pemberontak terlihat dan mulai memakan korban, satu persatu anak buah Nyoman Sidharta dan Senopati kembar, Gala dan Gali tewas oleh prajurit Tampak Siring.
Nyoman Sidharta tidak bisa berbuat apa-apa, karena masih bertempur dengan Selamet, begitu pula dengan Senopati Gala dan Gali yang bertempur menghadapi Ujang Beurit.
Tak butuh waktu lama, bagi prajurit Tampak Siring untuk menghabisi satu persatu prajurit yang berkhianat.
Hanya tersisa tiga orang pemimpin musuh, yang tengah bertarung.
__ADS_1
Nyoman Sidharta, Senopati Gala dan Gali sudah tidak semangat melanjutkan pertarungan, karena ambisi mereka untuk membunuh Prabu Anak Wungsu, pupus sudah.
Nyoman Sidharta terus di hujani tusukan serta Sabetan oleh Selamet, sedangkan Kedua Senopati kembar masih terlihat seimbang melayani Ujang Beurit yang terkadang menghindari serangan dengan masuk ke dalam tanah.
Raut wajah ketiga pemimpin semakin tak bersemangat, saat melihat rombongan Aria sampai ke tempat mereka bertempur.
“Saudara Buto! Orang ini telah menyuruh orang menabur racun, yang airnya di pakai untuk menyiram tubuhmu.
Buto Ijo mendengar perkataan Selamet, langsung melesat ke tempat mereka bertempur, sambil tangannya menghantam dari samping ke arah kepala Nyoman Sidharta.
“Whut….plak! Nyoman Sidharta menangkis serangan Buto Ijo sambil terhuyung, karena Ajian Brajamusti yang terkadung di pukulan Buto Ijo, membuat tangan Nyoman Sidharta serasa pecah.
Di sisi Lain, melihat serangan Buto Ijo yang tiba-tiba, Iblis Kawi mendengus, kemudian berkata.
“Sepertinya itu jurus orang yang tadi menghantam kepalaku, apa si keparat itu yang tadi memukulku? Tanya Iblis Kawi.
Wangsa yang berdiri di samping Iblis Kawi, Tak menjawab pertanyaan Iblis Kawi, walau ia tahu siapa yang melakukannya.
Buto Ijo, setelah serangannya di tangkis, lalu berkata kepada Selamet.
“Met! Bantu si Ujang, biar si keparat ini, aku yang pelintir kepalanya.”
“Baik,” jawab Selamet, kemudian melesat membantu Ujang Beurit.
Nyoman Sidharta sudah nekat dan siap untuk mati, karena melarikan diri sudah tak mungkin baginya.
Sedangkan Senopati kembar semakin repot, melawan Pria muda bermata sayu mereka berdua masih belum bisa mendesaknya, sekarang di tambah satu lagi yang kemampuannya lebih tinggi.
Senopati Gala dan Gali, terus mundur sambil menghindari Selamet, belum lagi tarikan tangan Ujang Beurit dari dalam tanah, membuat mereka berdua harus selalu waspada.
Melawan Ujang Beurit mereka bisa saling serang dan menutup kelemahan diantara mereka, ketika Selamet datang membantu Ujang Beurit, kedua Senopati tak bisa melakukannya.
Selamet yang dulu berbeda dengan yang sekarang, setelah di beri keris pusaka Naga hitam, kemampuan Selamet meningkat pesat.
Karena hawa dari keris pusaka naga hitam yang menuntun Selamet untuk memburu Aura musuh, agar bisa di hisap oleh keris pusaka Naga hitam.
Tangan Selamet terus bergerak, berusaha menahan keris yang ingin melesat ke arah Senopati Gala yang tengah bersiap.
“Aku yakin, keris ini dulunya di ciptakan oleh orang ber ilmu hitam,” batin Selamet.
Karena keris terus berontak dalam genggamannya, akhirnya Selamet membiarkan keris menuntunnya untuk menyerang Senopati Gala.
Tubuh Selamet melesat sambil keris pusaka Naga hitam menusuk ke arah kepala Senopati Gala.
Senopati Gali, melihat kakaknya di serang berusaha membantu, tetapi ketika ia hendak bergerak ke arah sang kakak, Ujang Beurit keluar dari tanah sambil pisau kecil di tangan kanan menyambar ke arah Senopati Gali.
Whut!
Pisau kecil milik Ujang menyambar ke arah perut, Senopati Gali menangkis serangan Ujang.
Trang!
Ketika kedua senjata mereka beradu, tangan kiri Senopati Gali menghantam ke arah dada.
Whut!
Ujang Beurit menggeser tubuhnya menghindari serangan Senopati Gali setelah menarik pisau kecil, setelah berhasil menghindar, Pisau kecil Ujang Beurit menebas ke arah bahu sang Senopati.
Bret!
Darah langsung menyembur keluar dari bahu kanan Senopati Gali, ketika pisau Ujang Beurit berhasil merobek bahunya.
Senopati Gali lompat mundur dua tombak, berusaha menghindari serangan susulan.
Tetapi ketika lompat mundur, Senopati Gali tidak melihat musuhnya yang perlahan amblas ke dalam bumi.
Setelah menaburi bahunya dengan obat serbuk, Senopati menatap ke depan tetapi tidak melihat pemuda bermata sayu yang menjadi musuhnya.
“Dimana dia? Batin Senopati Gali.
Tanpa di sadari oleh sang Senopati, dari dalam bumi di belakang tubuhnya keluar sosok tubuh bermata sayu, Ujang Beurit sambil menahan napas agar ke hadirannya tidak di ketahui, perlahan tangan kanan yang memegang pisau bergerak ke arah leher Senopati Gali, setelah pisau berada di depan leher, baru Ujang Beurit hembuskan napasnya.
Senopati Gali terkejut ketika merasakan dari belakang tubuhnya ada hembusan napas.
Tetapi terlambat, sebelum sang Senopati bergerak, tangan kanan Ujang Beurit terlebih dahulu menarik pisau kecil yang sudah menempel di leher Senopati Gali.
Sret!
Darah langsung menyembur dari leher Senopati Gali.
Setelah berhasil menggorok leher musuh, Ujang Beurit kembali masuk ke dalam tanah dan menuju ke arah Aria.
Prabu Anak Wungsu hanya bisa gelengkan kepala melihat aksi si Beurit, sudah dua orang anak buah Aria yang sudah ia lihat kemampuannya dan sang Prabu sangat takjub melihat kehebatan mereka.
Senopati Gali berusaha teriak memanggil kakaknya berusaha meminta bantuan.
Tetapi setiap hendak teriak, tak ada suara yang keluar dari mulut Senopati Gali, karena tenaga yang ia keluarkan malah memompa darah semakin banyak keluar dari leher sang Senopati yang menganga lebar, baju di dada sudah penuh dengan darah, begitupula dengan tanah di tempat Senopati Gali berdiri, karena darah terus menetes turun karena tidak terserap oleh baju yang penuh darah.
Tak lama kemudian Senopati Gali ambruk dan tewas karena luka di leher dan kehabisan darah.
__ADS_1
Sang Kakak hanya melihat punggung sang adik yang tengah berdiri, saat melihat tanah di sekitar kaki sang adik penuh dengan darah.
Senopati Gala berusaha melesat ke arah adiknya, tetapi keris pusaka Naga hitam tidak mau melepaskan buruannya.
Asap hitam di badan keris semakin tebal, gerakan tangan Selamet juga semakin cepat, membuat Senopati Gala tak bisa membantu sang adik.
Senopati Gala hanya bisa melompat, sambil menatap tubuh adiknya ambruk ke tanah.
Mata sang kakak berkaca-kaca melihat kematian adik kembarnya.
Saat berada di atas, Senopati Gala tidak menghindari tusukan keris pusaka Naga hitam, matanya hanya menatap tubuh sang adik.
“Gali! Maafkan kakak mu, sudah membawamu ke jalan yang salah,” setelah berkata dalam hati, Senopati Gala pejamkan mata.
Crep!
Keris pusaka Naga hitam menancap tepat di jantung Senopati Gala.
Keris pusaka Naga hitam mengeluarkan suara mendesis setelah menancap di tubuh Senopati Gala.
Selamet mencabut keris pusaka Naga hitam dari dada Senopati Gala, kemudian tangannya menarik tangan sang Senopati, kemudian melemparkan mayat Senopati Gala ke arah adiknya yang sudah terlebih dahulu kehilangan nyawa.
Whut….Brak!
“Hidup atau mati, kumpul bersama,” ucap Selamet melihat mayat Senopati kembar.
Nyoman Sidharta melihat Senopati Gala dan Gali tewas, tubuhnya lompat mundur.
Setelah sampai tanah, kedua kaki Nyoman Sidharta langsung memasang kuda-kuda.
Wangsa melihat Nyoman Shidarta seperti sedang mengeluarkan ilmu andalannya, kemudian melesat dan berdiri di samping Buto Ijo.
“Mau apa kau kesini? Tanya Buto Ijo.
“Aku mau melihat ilmu andalannya,” jawab Wangsa.
Saat Buto Ijo tanya Jawab dengan Wangsa.
Nyoman Sidharta menancapkan kerisnya di tanah, kemudian mulai membaca mantra yang bisa membuat dirinya menjadi setengah raksasa.
Nyoman Sidharta diam-diam tanpa sepengetahuan orang istana selalu melakukan meditasi Tantra agar ia mempunyai ilmu Leak yang bisa mengubah dirinya menjadi setengah raksasa, ilmu leak yang di miliki oleh Nyoman Sidharta bisa di pakai siang hari, tidak seperti Pengiwa yang hanya bisa di pakai di malam hari.
Kedua mata Nyoman Sidharta mulai melotot dan membesar seperti hendak menyembul keluar, hidung sang patih juga ikut membesar, kedua gigi taring memanjang, begitupula dengan lidah Nyoman Sidharta yang terus menjulur sampai leher, kulit wajah dan seluruh tubuh mulai mengeras.
Buto Ijo dan Wangsa tak memperhatikan perubahan Nyoman Sidharta, keduanya dari bercakap-cakap, lanjut beradu omong ketika Buto Ijo bertanya, apa Wangsa melihat ketika Suketi tidak memakai baju.
“Memangnya apa urusanmu aku melihat atau tidak,” balas Wangsa ketika terus di desak oleh Buto Ijo.
“Tentu saja urusanku, tolol! Suketi sekarang adalah istriku,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.
“Jadi kalau dia istrimu, aku atau orang lain tak boleh melihatnya? Tanya Wangsa.
“Tentu saja! Akan ku bunuh orang yang sudah melihat tubuh ( telanjang ) Suketi,” Buto Ijo berkata dengan nada penuh ancaman.
Phuih!
Wangsa setelah meludah, kemudian berkata sambil tersenyum mengejek, “siapa yang lebih dulu mau kau bunuh, aku, Buwana Dewi atau Ketua? tanya Wangsa
“Apa maksudmu? Tanya Buto Ijo tak mengerti.
“Kau lihat saja, Tolol! Kami setiap hari melihat istrimu telanjang,” jawab Wangsa.
Melihat mata Buto Ijo perlahan mulai merah, Wangsa langsung lanjut berkata.
“Coba….coba kau lihat! Itu, Istrimu sedang duduk di bahu ketua.
“Kau perhatikan baik-baik dan lihat dengan jelas, sekarang istrimu pakai baju apa tidak? Tanya Wangsa.
Buto Ijo langsung diam mendengar perkataan Wangsa.
Nyoman Sidharta yang sudah berubah menjadi sebesar Buto Ijo dan berkepala raksasa sudah mulai kesal karena tidak di anggap oleh kedua orang yang berada di hadapannya.
Kaki kanannya menggebrak tanah, dan tangannya menunjuk ke arah Buto Ijo sambil berteriak.
“Kau mau bertempur atau tidak?
Buto ijo dan Wangsa langsung menoleh ke arah Nyoman Sidharta, tak ada raut wajah kaget atau terkejut saat keduanya melihat perubahan yang terjadi terhadap Nyoman Sidharta.
“Kau atau aku yang hadapi? Tanya Wangsa.
“Kau yang mundur, tolol! Dia bagianku,” bentak Buto ijo, kemudian lanjut berkata.
“Tapi ingat! urusan kita belum selesai.”
“Terserah! Balas Wangsa, kemudian lanjut berkata, “aku ingin bicara dengan Iblis Kawi, tadi dia bertanya padaku, siapa orang yang telah memukul kepalanya.”
Tangan kiri Buto Ijo langsung memegang tangan Wangsa, lalu berkata, tetapi kali ini nadanya tidak sekeras tadi.
“Jangan bicara macam-macam sama bapak mertua.”
__ADS_1