
Buto Ijo serta Ki Wangsa langsung melesat, Buto Ijo memilih gerombolan yang dekat dengannya.
Sementara Resi Maung Bodas memburu para perampok yang mulai menjauh.
Krak….Blar!
Suara teriak dan jerit kesakitan terdengar dari mulut para perampok yang terkena hantaman Buto Ijo serta Ki Wangsa.
Sang pemimpin naik ke atas kuda, kemudian ia langsung memecut kuda tunggangannya.
Kening si pemimpin rampok terkejut, melihat kuda yang ia tunggangi meringkik sambil kaki belakangnya menendang-nendang.
Pemimpin rampok setelah menoleh kebelakang, raut wajahnya pucat pasi melihat Buto Ijo tengah memegangi ekor kuda.
Setiap kaki kuda menendang ke arahnya, Buto Ijo bergerak menghindar, sehingga kuda itu lelah sendiri dan akhirnya diam.
Pemimpin rampok dari atas kuda, setelah mencabut pedang, langsung berbalik dan menebas kepala Buto Ijo.
Buto Ijo sebelum pedang musuh sampai, lalu melepaskan ekor kuda, Kuda langsung melesat setelah rasa sakit di ekor berkurang.
Si pemimpin terkejut, karena posisinya tengah berbalik dan tidak memegang tali kekang kuda, tubuhnya langsung terpelanting dari atas kuda, kuda terus berlari masuk ke dalam hutan.
“Mau lari kemana kau? Tanya Buto Ijo sambil menyeringai, sementara itu di sisi lain, puluhan rampok berpakaian hitam, satu persatu mulai tumbang di tangan Ki Wangsa.
Pranaya serta Andini sampai bergidik melihat tubuh perampok yang amburadul akibat cakaran Ki Wangsa yang menggunakan jurus macan putih.
Pemimpin Rampok mundur 2 langkah, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Melihat kini yang tersisa hanya tinggal dirinya, tenggorokan pemimpin rampok terlihat turun naik, tanda dirinya mulai tegang dan takut.
Whut!
Pedang menyabet ke arah perut Buto Ijo, Buto Ijo mundur selangkah dan bergerak ke sisi kiri, kemudian kakinya menendang kaki pemimpin rampok.
Krek!
Suara tulang kaki berderak terdengar, si pemimpi rampok menjerit sambil angkat kaki kirinya yang terkena tendangan, tak lama kemudian tubuhnya duduk karena tidak kuat menahan rasa sakit.
“Aku menyerah….aku menyerah! Teriak si pemimpin rampok dengan raut wajah ketakutan.
Buto Ijo menghampiri, lalu menarik topeng, kemudian menjambak rambut si perampok dan menyeretnya ke hadapan Aria.
“Kalian kenal dia? Tanya Aria kepada Ki Wangsa serta Buto Ijo.
Keduanya gelengkan kepala, “kau kenal dia? Kembali Aria bertanya, kali ini ia bertanya kepada Pranaya.
“Kami tidak kenal dengannya,” balas Pranaya, sambil melihat wajah orang itu.
“Katakan siapa kau sebenarnya, dan apa maksudmu berkata, bahwa kau anak buah Buto Ijo? Tanya Aria dengan pandangan bengis.
Si pemimpin rampok diam, tak menjawab pertanyaan Aria, lidahnya berusaha mengeluarkan racun, yang di selap kan di gigi geraham, tetapi racun yang sudah keluar terselap kembali, setelah kepalanya kena tampar Wangsa.
“Jawab kalau di tanya, Kau dengar tidak? Ucap Ki Wangsa, sambil tangannya menampar kepala si pemimpin rampok.
Plak!
Setelah menampar, kemudian mulut si perampok di cengkeram oleh Wangsa.
“Bagaimana mau bicara, jika kau terus memegang mulutnya,” ucap Buto Ijo sambil menepak tangan Wangsa.
“Ampun….ampun tuan pendekar, aku hanya orang suruhan,” jawab si pemimpin rampok setelah mulutnya terbebas dari cengkeraman Wangsa.
“Siapa yang memerintahkan kau berbuat seperti ini? Kembali Aria bertanya.
“Kami….kami di suruh oleh Tumenggung Wira Yuda untuk merampok di daerah kerajaan Kadiri.
“Jika kami memakai nama Buto Ijo, kami bebas mengambil harta rampasan, jika di kejar prajurit Kadiri kami di suruh lari ke arah Tumapel.
__ADS_1
“Tumenggung Wira Yuda? Ucap Aria sambil kerutkan kening.
“Tumenggung Wira Yuda adalah Tumenggung kerajaan Kahuripan yang mengatur wilayah barat kahuripan, pimpinan Prabu Mapanji Garasakan,” Pranaya ikut bicara setelah mendengar perkataan si pemimpin rampok.
“Lantas asalmu dari mana dan siapa pemimpin mu? Kembali Aria bertanya tanpa memperdulikan Perkataan Pranaya.
“Kami….kami dari….Hoaks!
Sebelum selesai berkata, tiba-tiba orang itu muntahkan darah segar berwarna hitam, dan tak lama kemudian tubuhnya langsung rubuh, tewas seketika dengan wajah berubah warna menjadi biru.
Hmm!
“Orang ini memilih memakan racun yang di selap kan diantara gigi belakang,” ucap Ki wangsa, setelah melihat gumpalan hitam di mulut orang tersebut.
“Para begal atau perkumpulan rahasia, selalu mempersiapkan anak buah mereka dengan racun, jika tertangkap mereka bisa langsung memakan racun dan tewas, agar tidak ada informasi yang keluar dari mulut mereka,” lanjut perkataan Wangsa.
“Bagaimana dengan mereka? Tanya Buto Ijo sambil menunjuk Pranaya yang sedang berdiri bersama keluarga Kemala.
“Apa maksudmu dengan mereka? Wangsa balik bertanya mendengar perkataan Buto ijo.
“Maksudku! Kita bunuh semuanya atau tidak? jawab Buto Ijo sekaligus bertanya.
Pranaya serta keluarga Kemala yang lain langsung mundur.
“Kau….kau benar Buto Ijo? Tanya Pranaya.
“Kau pikir aku memalsukan namaku sendiri,” jawab Buto Ijo sambil melotot.
Aria memberi isyarat kepada Buto Ijo untuk diam.
“Maaf tuan! Apa para perampok ini sering merampok orang-orang di sekitar gunung Kelud? Tanya Aria sambil memberi hormat.
Pranaya serta Andini balas memberi hormat Aria.
“Mereka memang sering merampok di sekitar gunung Kelud dan gunung Kawi, para pedagang serta pembesar yang lewat pasti akan mereka rampok.
“Mereka memang sengaja untuk menakut nakuti orang dengan nama besar adikku ini,” balas Wangsa.
“Siapa yang kau sebut adik? Tanya Buto Ijo.
“Tentu saja kau! Memangnya kau pikir di sini siapa yang paling tua? Aku pertama, kau kedua serta itu adik ketiga,” ucap Wangsa.
Aria mengerti, Wangsa berkata seperti itu untuk menyembunyikan identitasnya.
Buto Ijo diam setelah melihat isyarat tangan dari Aria.
“Kami datang ke telaga Kelud ini memang bermaksud untuk meminta bantuan kepada eyang Naga hijau, penjaga gunung kelud agar kami terhindar dari keganasan rampok yang saat ini tengah merajalela dengan mengatas namakan Buto Ijo, sebagai pemimpin mereka.
“Tetapi sayang! Eyang Naga hijau tidak mau menampakkan diri,” ucap Pranaya dengan nada sedih.
“Dia tidak akan mau keluar kalau ada aku,” ucap Buto Ijo.
“Tidak mungkin! Keluarga Kemala hijau mempunyai hubungan batin dengan eyang Naga hijau,” jawab Pranaya.
“Kau panggil, dia datang tidak? Tanya Buto Ijo.
Pranaya diam mendengar perkataan Buto Ijo.
“Bagaimana kalau kita bertaruh? Tiba-tiba Wangsa ikut bicara.
“Bertaruh? Tanya Pranaya dengan raut wajah bingung.
Jika kawan kami tidak berhasil memanggil eyang Naga hijau, kami akan membantu keluarga Kemala membasmi semua perampok yang sudah mengacau di daerah gunung Kelud.
“Tetapi jika kami berhasil kau harus memenuhi semua permintaan kami, bagaimana? Tanya Wangsa.
“Memangnya kau bisa memanggilnya? Tanya Buto Ijo.
__ADS_1
“Kau diam dulu, urusan panggil memanggil itu belakangan, kita dengar dulu kesanggupan mereka,” Wangsa menjawab pertanyaan Buto Ijo.
Pranaya berembug dengan keluarga yang lain, perihal tantangan Wangsa.
Setelah berembug, Pranaya akhirnya bicara.
“Kami sekeluarga ingin tahu permintaan kalian, sebelum kami menerima tantangan ini,” ucap Pranaya.
“Kedua gadis berpakaian hijau itu menjadi budak kami dan ikut kemana kami pergi, bagaimana? Tanya Wangsa.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung Aria, mendengar perkataan Wangsa.
“Adik ketiga coba pikir! Kita selama ini selalu saja makan buah seperti monyet hutan, bukankah enak jika mempunyai 2 orang pelayan sekaligus, untuk memasak dan mengurus kebutuhan kita sehari-hari,” ucap Wangsa setelah mendengar dengusan Aria.
“Terserah kau saja! Balas Aria.
Andira yang sudah sadarkan diri dan Andini setelah mendengar perkataan Wangsa, keduanya terkejut, Andira memegang tangan ayahnya sambil gelengkan kepala.
“Bagaimana Ki? Tanya Pranaya kepada juri kunci telaga Kelud.
“Aku tidak tahu juragan, mendadak kontak batin antara aku dan eyang Naga hijau terputus,” jawab Si kakek dengan nada lesu.
Pranaya diam sebentar, kemudian ia mulai berembug lagi dan akhirnya setelah tercapai sebuah kesepakatan dengan para anggota keluarga, Pranaya berkata kembali, sedangkan sepasang pedang Kemala tundukkan kepala.
“Baik, kami terima tantanganmu! Tetapi ada tambahan satu permintaan dari kami, kalian bisa memanggil dan juga membujuk eyang Naga hijau untuk selalu membantu penduduk lereng gunung Kelud dan menjaga kami dari marabahaya, jika kalian berhasil kalian boleh mengambil adik serta anakku untuk di jadikan budak,” ucap Pranaya.
“Kau memangnya bisa memanggil Naga hijau? Tanya Buto Ijo.
“Kalau hanya memanggil, aku bisa! tinggal acak-acak telaga, Naga Hijau pasti keluar,” lanjut perkataan Wangsa, “tetapi untuk memenuhi permintaan mereka itu yang repot,” jawab Wangsa.
“Kalau tak becus, kenapa kau mau bertaruh? Ucap Buto Ijo dengan nada geram.
“Setiap hari makan pisang, mangga, kelapa! Perutku sakit, kalau ada pelayan yang bisa masak untuk kita, kita tidak perlu lagi makan buah, kau juga tidak perlu repot mencari buah kesana kemari,” jawab Wangsa.
“Jika tak sanggup lebih baik kalian segera turun gunung dan basmi para perampok,” Andira berkata, setelah melihat Wangsa dan Buto Ijo terus saja bicara, gadis itu sakit hati terhadap wangsa, pipinya masih biru serta bekas telapak tangan Wangsa masih ada serta rasa sakit di pipi masih terasa oleh Andira sampai saat ini.
“Diam kau budak! Ucap Buto Ijo sambil menunjuk Andira.
“Siapkan saja bekal kalian berdua, karena sebentar lagi kalian akan jadi budak kami,” lanjut perkataan Buto Ijo.
Wangsa kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo.
“Kau sanggup memanggil Naga hijau? Tanya Wangsa.
Buto Ijo melangkah menuju pinggiran telaga, sambil berdiri di atas batu besar, Buto ijo hentakan kaki kanan ke batu yang tengah ia injak.
Blar!
Setelah menginjak batu, Buto Ijo langsung teriak dengan suara lantang.
“Hai tua Bangka, keluar kau!
Pranaya, Wangsa serta kakek juru kunci kaget mendengar teriakan Buto Ijo.
Wangsa langsung menghampiri Buto Ijo.
“Kau jangan berkata sembarangan, kalau begini caranya Naga hijau tidak akan keluar,” ucap Wangsa dengan nada kesal.
“Dia pasti keluar,” jawab Buto Ijo.
“Kenapa kau bisa sangat yakin? Tanya Wangsa.
Buto Ijo langsung menatap tajam ke arah mata Wangsa, lalu menunjuk ke arah tengah telaga yang airnya perlahan mulai berputar semakin lama semakin cepat, kemudian berkata.
“Aku yakin, karena dia adalah bapakku.”
__ADS_1