
“Jadi….jadi kau selama ini memata-matai aku!? Ucap Aria dengan nada geram.
“Tunggu….tunggu Raden, itu tidak benar! Sarka alias Jaka Samudera berkata.
“Tunggu dulu kakang Aria, biar kakang Sarka jelaskan dulu, setelah itu aku dan kakang Sarka siap menerima hukuman,” Wulan berkata sambil menghadang gerak laju Aria.
“Wulan minggir kau! Jangan halangi aku,” ucap Aria dengan nada dingin.
Wulan tidak menyingkir, gadis itu malah duduk dengan kedua kaki di belakang, seperti siap menerima hukuman.
“Kakang Aria! Wulan bersalah, Wulan siap menerima hukuman dari kakang Aria.”
Sarka tidak diam saja melihat kekasihnya duduk dan pasrah siap menerima hukuman, Sarka duduk di samping Wulan.
“Raden, jika aku telah berbuat dosa, hukumlah aku tetapi bebaskan Wulan, karena Wulan dari awal tidak tahu siapa aku sebenarnya,” ucap Sarka sambil tersenyum pahit.
Aria diam mendengar perkataan Sarka dan Wulan.
“Raden jangan terburu nafsu, nanti akan menyesal di kemudian hari, lebih baik kita dengar keterangan dari Sarka,” resi Sarpa kencana berkata dengan nada bijak.
Setelah menarik napas panjang Aria balik dan kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah berada di dalam Aria berkata.
“Kalian pergilah bersama panglima Sanjaya, semoga kalian berdua bahagia.”
Wulan dan Sarka melihat Aria masuk keduanya langsung sujud, sambil berkata.
“Terima kasih Raden telah mengampuni kami.”
“Maafkan ayahmu ini, anak! Kau pergi meninggalkan kami karena ayah menjodohkan mu, tetapi sekarang aku sadar bahwa jika tidak saling cinta hidup tidak akan bahagia, sekarang kau sudah menemukan jodohmu, bawa pasanganmu ke tanah Pasundan dan tinggal bersama kami,” ucap Panglima Sanjaya.
“Baik ayah! Tetapi aku akan membereskan satu hal lagi sebelum meninggalkan tanah Jawa, aku akan membongkar niat busuk Senopati Singalodra, di arena sayembara untuk membersihkan nama Raden,” balas Jaka Samudera.
Panglima Sanjaya menarik napas mendengar perkataan putranya, yang sudah beberapa tahun pergi meninggalkan keluarga.
“Mari kita pergi! Biarkan tuan Aria berpikir,” ucap Panglima Sanjaya, sambil menepak bahu Jaka Samudera.
Setelah berbasa basi sebentar dengan Resi Sarpa kencana, mereka lalu pergi meninggalkan rumah, tempat Aria berdiam sementara.
Resi Sarpa setelah melihat rombongan panglima Sanjaya pergi, sang Resi ikut pergi, karena berbicara dengan Aria di saat hati pemuda itu sedang marah dan kecewa akan percuma.
Di dalam rumah, Aria duduk di kursi butut di temani oleh Buto Ijo dan Nyi Selasih.
“Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kita lakukan? Tanya Aria kepada Buto Ijo.
“Yang bikin pusing Raden bunuh saja,” jawab Buto Ijo.
“Tidak semua masalah hilang jika kita membunuh,” balas Aria.
“Besok Kita berangkat ke gunung Semeru setelah pikiranku tenang,” Aria berkata.
Ke esokan hari, dua bayangan melesat pergi dari kota Daha.
__ADS_1
Anak buah Bahurekso yang berjaga di perbatasan langsung melapor kepada Senopati Singalodra, bahwa Aria sudah meninggalkan Daha.
Senopati Singalodra mendengar berita dari anak buahnya langsung tertawa senang, karena batu sandungan di arena sayembara telah pergi.
***
Penduduk kota Daha berbondong bondong menuju alun-alun kerajaan Kadiri, tampak satu arena besar berdiri di tengah alun-alun, di sekeliling arena tempat sayembara.
Ratusan Prajurit Kadiri tampak berjaga-jaga di sekeliling arena.
Di depan arena sayembara, terdapat tenda kebesaran, tempat Prabu Samarawijaya dan para tamu kehormatan duduk menikmati pertunjukan.
Setelah memberikan sepatah dua patah kata sambutan dari Prabu Samarawijaya, tentang Sayembara yang bertujuan untuk mempersatukan para pendekar di kerajaan Kadiri.
Sayembara akhirnya resmi di buka.
Beberapa pendekar penggembira naik ke atas arena untuk unjuk kebolehan.
Tepuk tangan meriah serta suara sorak sorai dari para penonton membuat mereka yang bertempur di arena sayembara menjadi bersemangat dan menampilkan kebolehan yang mereka punya, untuk memenangkan pertandingan.
Prabu Samarawijaya tepuk tangan, memberi semangat untuk para pemenang, sementara Senopati Singalodra bibirnya selalu tersungging senyum penuh misteri sambil menatap ke tengah arena.
Sedangkan panglima Sanjaya sering melirik ke arah Jaka Samudera yang sekarang hanya mau di panggil Sarka, pemuda itu duduk di dekat Tumenggung Wirabumi.
“Tuan Sarka! Apa benar Raden Aria sudah melanjutkan perjalanan? Sarka anggukan kepala dengan raut wajah sedih, mendengar pertanyaan Tumenggung Wirabumi.
Sarka walau baru beberapa hari bergabung, entah kenapa dia sangat respect terhadap kepribadian Aria.
Terhadap ayahnya panglima Sanjaya, Sarka berani membantah, tetapi terhadap Aria ia selalu menurut.
Setelah hari pertama sayembara berjalan sukses, hari kedua sayembara, para peserta semakin sedikit, tetapi kemampuan para pendekar yang masih bertahan lebih mempuni, karena mereka adalah para pemenang, para pendekar yang sudah mempunyai nama besar, langsung masuk di babak kedua.
Suara riuh terdengar setelah Tumenggung Wirabumi membuka sayembara di hari kedua.
Seorang pendekar berusia sekitar 50 tahun berpakaian putih, yang di kenal dengan julukan Bangau putih, yang kemarin berhasil menjadi peserta yang memenangi pertandingan, naik ke atas Arena.
Setelah memberi hormat Prabu Samarawijaya dan kepada para penduduk dan pendekar yang hadir di sekitar arena.
Bangau putih berdiri dengan gagah, menunggu sang penantang.
Suara riuh dan tepuk tangan para prajurit terdengar ketika melihat seorang pemuda naik ke atas panggung sambil loncat dan bersalto tiga kali di udara kemudian kakinya dengan mantap sudah berdiri di atas panggung.
Pemuda tampan yang berpakaian mewah dengan senyumnya seperti sedang merendahkan orang, lalu memberi hormat kepada Prabu Samarawijaya, kemudian kepada Tumenggung Wirabumi dan resi Sarpa kencana, yang tak lain gurunya.
Senopati Aji gatra setelah memberi hormat, lalu berhadapan dengan Bangau putih, di tengah Arena.
“Tuan lebih baik mundur saja, sebelum terluka,” ucap Aji gatra.
“Jangan sombong Senopati,” ucap Bangau putih mendengar perkataan Aji gatra.
“Di dalam arena sayembara, kepandaian yang menentukan, bukan jabatan,” lanjut perkataan Bangau putih sambil mengejek Senopati Aji gatra.
“Bangsat! Tutup mulutmu,” ucap Senopati Aji gatra langsung menyerang Bangau putih.
__ADS_1
Bangau putih membentangkan kedua tangan dengan satu kaki menekuk, tubuhnya melesat mundur menjauh dari Senopati Aji gatra yang menyerangnya.
Senopati Aji gatra terus memburu, sambil salah satu tangannya menyerang ke arah kepala Bangau putih.
Bangau putih miringkan kepala, tangan kiri yang terbentang, menyambar ke arah bahu Senopati Aji gatra, Bangau putih masih menghargai Aji gatra dan tidak menyerang tempat mematikan di tubuh Aji gatra, tetapi kebalikan dari Bangau putih, Aji gatra menyerang ke arah tempat mematikan.
Melihat bahunya di serang, tangan kiri Aji gatra menangkis, kemudian kaki kanan menghantam ke arah tempat mematikan di bawah perut Bangau putih.
“Kurang ajar! Kau sungguh kejam Aji gatra,” ucap Bangau putih sambil lompat mundur menghindari serangan.
Kaki kiri yang menekuk, turun dan menghentak ke tanah, Bangau putih melesat ke atas, lalu kedua tangannya menyambar ke arah kepala senopati Aji gatra.
Aji gatra terkejut, lalu jatuhkan diri menghindari serangan Bangau putih.
Melihat posisi lawan sudah berada di bawah, Bangau putih menyeringai sambil berkata.
“Makanan Bangau adalah ular,” Sambil kaki kanan berusaha menginjak tubuh Aji gatra yang tengah menghindari.
Plak!
Telapak tangan Aji gatra menghantam telapak kaki Bangau putih.
Bangau putih tubuhnya berputar sambil bersalto, setelah posisi kepalanya di bawah, tangan Bangau putih tegak lurus sambil menghantam ke arah bahu.
Aji gatra terkejut melihat serangan musuh, perlahan tangannya meraba gagang keris yang terselip di balik pinggangnya.
Saat telapak tangan dengan jurus Burung bangau mencari mangsa, hendak menghantam, sinar perak melesat ke arah leher Bangau putih.
Bangau putih terkejut dan tak menyangka, lawannya mencabut senjata.
Bangau putih berusaha menahan luncuran tubuhnya, tapi terlambat, keris senopati Aji gatra menyambar ke arah leher.
Sret!
Bangau putih langsung jatuh sambil memegangi lehernya yang sobek, darah terus menyembur karena luka sabetan keris Aji gatra mengenai urat besar di leher.
Tubuh Bangau putih menggelepar, tak lama kemudian Bangau putih diam untuk selamanya.
Para penonton dan prajurit terkejut melihat kekejaman Senopati aji gatra, yang membuat pendekar Bangau putih tewas di tengah arena.
Suara nada sumbang dan teriakan untuk turun dari arena langsung di tujukan kepada Senopati
“Senopati Aji gatra! Ini hanya sekedar sayembara, tidak boleh sampai membunuh,” ucap tumenggung Wirabumi.
“Kalau aku tidak membunuh dia, dia yang akan membunuhku,” balas Senopati Aji gatra.
Bayangan hitam melesat dan sudah berdiri di arena, sambil menatap Aji gatra.
He He He
“Kalau benar begitu, aku juga tidak akan segan lagi senopati,” ucap Serigala hitam sambil tertawa.
Setelah puas tertawa, Serigala hitam lalu menatap Aji gatra, kemudian berkata.
__ADS_1
“Bersiaplah! karena tanganku sudah gatal ingin mencabik-cabik tubuhmu.”