Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 77 : Pembantaian Di Desa Jatijajar


__ADS_3

Mendengar perkataan Wangsa, Andini serta Andira langsung memegang pedang pusaka pemberian Iblis Kawi dan bersiap.


Sementara itu, saudagar Ming serta Li Ho hanya gelengkan kepala mendengar perkataan Wangsa.


Li Mei perlahan bergeser ke arah sang kakak.


“Kita lebih baik hati-hati dan lihat situasi, jangan ikut campur urusan jika mereka bertempur, agar kita tidak di salahkan oleh salah satu pihak,” bisik Li Ho.


“Aku tidak mengerti dengan mereka ( rombongan Aria ) dari pertama kita berada di tanah Jawa, semua yang kita temui sopan dan ramah, tetapi kenapa sipat mereka ini sangat berbeda dengan orang-orang yang sudah kita temui, bagaikan langit dan bumi, dengan kawan sendiri juga baku hantam,” ucap saudagar Ming berkata kepada Li Ho.


“Kita lihat saja ke depannya tuan, entah kenapa hati kecilku mengatakan, kita tidak boleh bermusuhan dengan mereka,” Li Ho membalas perkataan saudagar Ming.


“Tetapi kedua orang itu selalu menuruti perkataan orang yang berbaju hitam yang di panggil kakak ketiga, kalau perkiraanku tidak salah, pemimpin dari lima orang ini adalah pemuda bercaping yang di panggil kakak ketiga,” Li Mei ikut bicara setelah mendengar perkataan sang kakak.


“Apa benar begitu? Tanya Li Ho.


“Kakak lihat saja dan amati orang itu ( Aria ) mulai dari sekarang,” jawab Li Mei.


“Lebih baik kakak mendekati pemuda itu, jika ingin meredam pria berbaju putih dan pria yang berkulit hijau,” jawab Li Mei.


Li Ho anggukan kepala, dalam hati ia, memuji kecerdikan sang adik yang melihat, mendengar serta menyimpulkan sesuatu.


Sugriwa semakin melotot mendengar perkataan Wangsa, Ki Demang Jati juga terkejut mendengar perkataan Wangsa, yang menurutnya sangat berani.


“Sepertinya kalian adalah para pendekar dari kerajaan Kadiri? Tanya Sugriwa, para prajurit Kahuripan mulai mengurung Wangsa, Buto Ijo, Aria serta sepasang pedang Kemala, setelah mendapat isyarat tangan dari Sugriwa.


“Tuan Ming! Apa benar tuan adalah tamu dari negeri seberang yang di maksud oleh Tumenggung Wirayuda? Tanya Ki Demang Jati dengan tatapan curiga.


“Benar….aku benar Ming Tao Lim! Ini ada surat resmi dari Tumenggung Wirayuda untukku,” saudagar Ming berkata sambil mengeluarkan surat dari balik baju kemudian membuka surat itu, Sugriwa dan Ki Demang jati saling pandang lalu, anggukan kepala setelah melihat segel surat yang terlihat di surat yang di pegang saudagar Ming.


“Tuan Ming! Apa mereka yang sudah membunuh anak murid padepokan Gajahwungkur? Tanya Ki Demang Jati.


Saudagar Ming bingung menjawab pertanyaan Ki Demang Jati.


Melihat Saudagar Ming diam dan tampak tengah berpikir, keyakinan Ki Demang Jati dan Sugriwa terjawab sudah.


“Berani sekali kalian membunuh orang-orang Kahuripan,” ucap Sugriwa dengan wajah geram.


Karena Sugriwa berasal dari padepokan Gajahwungkur, setelah menerima surat dari Tumapel, Sugriwa sangat senang karena akan bertemu dengan kawan-kawannya, tapi apa mau dikata teman-temannya sudah tewas menurut keterangan saudagar Ming.


“Tuan Ming harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya apa yang terjadi setelah kami menghabisi kelima orang ini,” lanjut perkataan Sugriwa.


“Kau pikir setelah membentak-bentak kami, kau masih ada kesempatan untuk bertanya kepada orang,” Buto Ijo berkata dengan nada dingin.


“Kalian berlima! Sedangkan kami di sini berjumlah lebih dari seratus orang, kalian pikir bisa keluar dari desa Jatijajar dengan selamat? Tanya Ki Demang Jati, karena melihat musuhnya seperti tidak gentar walau sudah di kepung oleh puluhan prajurit anak buah Sugriwa.


Wangsa dan Buto Ijo langsung maju mendekati Ki Demang jati, setelah mendengar perkataan kepala desa Jatijajar itu.


“Tahan! Jangan dulu bertindak,” ucap Aria yang berada di belakang Buto Ijo dan Wangsa.


Buto Ijo dan Wangsa langsung hentikan langkahnya, mendengar perkataan Aria.


Sementara itu di sisi lain, Li Ho setelah mendengar perkataan Aria, kemudian menoleh ke arah Li Mei sambil anggukan kepala.


“Benar perkataan adik Li Mei, ternyata pemimpin kelima orang itu adalah kakak ketiga,” ucap Li Ho.


Aria maju dengan di bantu tongkatnya melewati Wangsa dan Buto Ijo setelah berada di depan keduanya, Aria lalu berkata.


Li Ho, Li Mei serta Saudagar Ming baru sadar setelah melihat cara Jalan Aria yang di bantu tongkat, bahwa Aria buta.

__ADS_1


Ketiganya sama sekali tidak menyangka Aria buta, mereka berpikir tongkat Aria adalah senjata berupa pedang yang di sembunyikan di dalam tongkat, bukan alat bantu untuk matanya yang tidak bisa melihat.


“Tuan prajurit! kita sudahi saja masalah ini, ucap Aria, kepada Sugriwa yang terus saja mendesak mereka.


“Rupanya kau buta kisanak! Seru Sugriwa, sambil tersenyum mengejek Aria Pilong, setelah melihat Aria berjalan di bantu oleh tongkatnya.


“Memangnya kenapa kalau aku buta, tuan prajurit? Tanya Aria dengan nada dingin.


“Kau memohon padaku agar bisa mengasihani dan kalian terhindar dari hukuman,” jawab Sugriwa.


“Hati-hati kalau bicara tuan prajurit! Kami tidak suka di kasihani, tetapi kami kasihan jika ada orang yang tidak suka di nasehati oleh kami,” balas Aria.


“Kau mengancamku? Tanya Sugriwa sambil tersenyum, kemudian tertawa terbahak bahak.


Ha Ha Ha


Jleb!


Tawa Sugriwa langsung terhenti, setelah ujung tongkat Aria menancap di lehernya.


“Andini dan Andira! Kalian awasi mereka, jika ada prajurit Kahuripan yang melarikan diri, bunuh langsung,” setelah berkata.


Aria mencabut tongkat, lalu menghantam sekumpulan prajurit yang mengeluarkan suara terkejut, melihat Pemimpin mereka tewas dalam sekali serang.


Blam!


Beberapa prajurit terpental terkena Aji mawa geni yang di keluarkan oleh Aria Pilong.


Buto Ijo serta Wangsa yang memang sudah geram tetapi tertahan oleh Aria, setelah melihat pemuda itu menyerang, langsung lompat, dua kepala prajurit yang ada di dekat Buto Ijo langsung di sambar, kemudian di adukan satu sama lain.


Prak!


Wangsa dengan jurus macan putih lompat, menyambar prajurit yang menombaknya.


Tombak di tarik dengan tangan kiri, sedangkan cakar kanan menyambar leher.


Bret!


Tak ada teriakan, saat leher prajurit robek terkena sambaran cakar Wangsa.


Suasana menjelang malam di desa Jatijajar semakin mencekam, suara jerit teriakan terdengar silih berganti dari prajurit yang meregang nyawa, oleh Aria, Buto Ijo serta Wangsa yang bagaikan tiga iblis pencabut nyawa.


Li Ho, Li Mei serta saudagar Ming melihat Aria mengamuk sampai tak bisa berkata-kata.


Tongkat Aria dengan jurus sedagitik sekali bergerak, pasti menewaskan prajurit Kahuripan.


Ki Demang jati terkejut, beberapa kali tubuhnya hampir terkena sambaran tongkat Aria, tetapi ki Demang jati yang merupakan bekas kepala pasukan seperti Sugriwa dan mempunyai sedikit kepandaian berhasil menghindar dan prajurit yang terus mengepung Aria, menyelamatkan Ki demang jati dari tebasan tongkat Aria Pilong.


“Celaka! Siapa orang-orang ini, dari gerakan mereka tampaknya mereka bukan orang sembarangan,” batin Ki Demang jati.


Whut!


Ki Demang jati terkejut, lalu tangannya menyambar dan mendorong seorang prajurit.


Crash!


Ujung tongkat Aria merobek perut prajurit naas itu.


Ki Demang jati lompat mundur, raut wajahnya pucat pasi setelah melihat perlahan tapi pasti, satu persatu prajurit penjaga desa jatijajar tewas oleh Aria, Wangsa serta Buto Ijo.

__ADS_1


Andini serta Andira hanya menjadi penonton, karena prajurit yang hendak melarikan diri, tewas diburu oleh Wangsa yang bergerak seperti layaknya se ekor macan yang tengah memburu mangsa.


Keris di tangan Ki Demang jati menyambar Aria, tetapi sebelum keris Ki demang jati sampai, Suketi lompat dari bahu Buto Ijo ke arah Ki Demang jati, kedua tangan mungil Suketi menarik rambut Ki Demang Jati.


“Monyet keparat! Ucap Ki Demang Jati menarik serangannya, kemudian tangan kiri berusaha menangkap tubuh Suketi yang sedang menjambak rambutnya.


Saat tangan Ki Demang Jati hendak memegang tubuh Suketi, tangannya tertahan.


Buto Ijo berdiri di samping Ki Demang jati, sambil memegang lengan kepala desa jatijajar.


“Mau apa kau? Tanya Buto Ijo sambil menatap bengis Ki Demang jati.


Belum sempat Ki Demang jati menjawab, Buto ijo meng entakan lengannya.


Krak!


Saking kuatnya sentakan Buto Ijo, sambungan tangan di bahu Ki Demang jati putus.


Jeritan panjang terdengar dari mulut Ki Demang jati, darah menyembur dari lengan serta urat yang putus akibat di tarik Buto Ijo.


Suketi lompat ke bahu Buto Ijo, setelah tangan Ki Demang Jati putus.


“Berisik! Ucap Buto Ijo sambil menghindari tusukan Ki Demang jati yang menyerang membabi buta, akibat rasa sakit dari tangannya yang putus.


Prak!


Tangan kiri Buto Ijo menghantam kepala Ki Demang jati, langsung merubuhkan kepala desa jatijajar itu, akibat kepalanya pecah di hantam Buto Ijo.


Setelah hari gelap para penduduk yang membawa obor, tampak gemetar dan tak bisa berkata-kata melihat kepala desa mereka tewas mengenaskan, begitupula dengan Sugriwa serta hampir seratus orang lebih prajurit Kahuripan tewas bergelimpangan dengan beberapa bagian tubuh banyak yang terpisah, layaknya di terkam binatang buas.


“Adik ke empat dan kelima! Tolong siapkan air hangat untukku mandi, bau darah ini sungguh bikin aku muak,” ucap Aria.


Andini langsung menuntun Aria pergi.


ketika Aria melewati saudagar Ming.


“Pria bertubuh tambun itu, langsung bersembunyi di belakang Li Ho, melihat Aria mendekat ke arahnya.


Hati Li Ho serta Li Mei bergidig, melihat pakaian Aria yang penuh darah musuh, begitu pula dengan Wangsa dan Buto Ijo.


“Adik ketiga! bagaimana dengan penduduk desa yang melihat kejadian ini? Tanya Wangsa.


“Kakak pertama tolong atur dan suruh mereka tutup mulut! Kalau ada yang bertindak mencurigakan, bunuh saja,” Aria membalas perkataan Wangsa, sambil melangkah di tuntun oleh Andini.


Buto Ijo sambil melangkah berkata kepada Wangsa.


“Segera bereskan! Ucap Buto Ijo.


“Pergi kau! Jangan ganggu aku,” balas Wangsa sambil melotot.


“Aku memang akan pergi, mandi air hangat seperti Raden,” Buto ijo membalas perkataan Wangsa.


“Kau siapkan air panas untuk aku mandi,” lanjut perkataan Buto ijo kepada Suketi sambil melangkah mengikuti Aria.


Li Ho, Li Mei dan saudagar Ming menatap Buto ijo dengan tatapan tak mengerti, mendengar perkataan Buto Ijo kepada kera yang ada di bahunya.


“Coba kalian berdua pikir,” ucap saudagar Ming dengan raut wajah bingung, sambil berbisik kepada Li Ho serta Li Mei


“Masa Kera di suruh masak air.”

__ADS_1


__ADS_2