
Ha Ha Ha
“Ternyata Adi Buto Ijo,” Bahurekso berkata sambil tertawa.
“Sudahlah Adi Klewing, apa kau tidak tahu dengan sipat kakangmu itu? Dulu kalau saja aku tidak keburu datang, muridku si Gagak pasti mati olehnya.”
“Tapi kakang! Dia memperlakukan kita seperti seorang musuh,” Klewing alias Serigala hitam protes, mendengar perkataan Bahurekso.
“Kalau tidak aneh dan kejam, itu artinya bukan dari golongan hitam,” ucap Bahurekso sambil menatap tajam ke arah Serigala hitam.
Serigala hitam langsung diam melihat tatapan Bahurekso.
“Paman kenal dengannya? Tanya Senopati Singalodra.
“Dia Buto Ijo! tuan Senopati, salah satu tokoh golongan hitam yang sangat di takuti, dulu Buto Ijo pernah tinggal di padepokan Tangan hitam,” jawab Bahurekso.
Senopati anggukan kepala mendengar perkataan Bahurekso, Senopati Singalodra percaya, karena Bahurekso adalah salah satu tokoh yang ia percaya.
“Dimana panglima bertemu Buto Ijo dan bagaimana bisa sampai berkawan? Tanya Bahurekso.
“Tadi aku bertemu, saat dia membunuh 3 anak buahmu,” ucap Panglima Sanjaya, “tetapi kami belum berkawan,” lanjut perkataan Sanjaya.
Hmm!
“Sipatnya dari dulu tidak berubah,” Bahurekso berkata setelah mendengar perkataan panglima Sanjaya.
“Dan tuan ini? Singalodra menunjuk ke arah Aria.
“Aku Aria,”
Senopati Singalodra mendengar suara Aria yang terdengar seperti seorang pemuda, kerutkan keningnya.
“Seorang tokoh yang di takuti, sampai-sampai Bahurekso juga menaruh hormat, tapi dia berdiri, sedangkan yang ber umur masih muda duduk bersama panglima Sanjaya, siapa pemuda itu,” batin Singalodra.
“Aria….!!
“Kami baru dengar nama Aria? Ucap Senopati Singalodra, “kenapa tidak di buka capingnya kisanak? Biar kita saling kenal wajah,” lanjut perkataan Senopati Singalodra.
“Tidak usah! Aku sudah kenal dengan wajah kalian,” balas Aria.
Senopati Singalodra kerutkan kening mendengar perkataan Aria.
“Wajahnya terkena penyakit wabah menular, jadi tidak bisa membuka caping,” kali ini panglima Sanjaya yang berkata.
Whut!
Bayangan hitam melesat cepat menuju ke arah Aria.
Plak!
Aria menangkis satu tangan yang hendak menyambar penutup wajahnya.
Tangan kiri bayangan hitam kembali menyambar, setelah tangan kanannya berhasil di tangkis.
Tangan kiri Aria memegang tongkat, kemudian tongkat bergerak naik ke arah pergelangan tangan kiri bayangan hitam.
Tak!
Suara keluhan terdengar, saat tongkat Aria menghantam pergelangan tangan si penyerang.
Saat dirinya lengah, ketika pergelangan tangannya terhantam, satu tangan menghantam bayangan hitam.
Plak!
Bayangan hitam menangkis, tetapi tubuhnya terpental, saking kencangnya hantaman yang di lakukan oleh Buto Ijo.
Kelelawar hantu tampak mengibas-ngibas kedua tangan menahan sakit.
Buto Ijo melesat ke arah kelelawar hantu, tangan kirinya menghantam, tapi kali ini satu bayangan menangkis serangan Buto Ijo.
Plak!
Buto Ijo serta bayangan hitam sama-sama mundur, kali ini Bahurekso yang menangkis serangan Buto Ijo.
__ADS_1
“Apa Adi Buto Ijo ingin berlatih dengan kami? Tanya Bahurekso.
“Jika ada yang berani mengganggu Raden, akan ku bunuh,” ucap Buto Ijo sambil menatap tajam.
Senopati Singalodra kerutkan keningnya mendengar kata Raden.
“Apa dia seorang Raden? Batin Senopati Singalodra.
“Lowo Ireng hanya ingin kenal dengannya, tidak ada maksud apa-apa,” jawab Bahurekso.
Xi Xi Xi
Suara tawa seorang wanita terdengar.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik dengan pecut pendek berada di pinggang, masuk bersama seorang pria berpakaian lusuh.
“Nyi Rondo mayit, selamat datang! Ucap Senopati singalodra.
“Maaf aku datang terlambat, karena harus menolong dulu seseorang,” balas Nyi Rondo mayit.
Raut wajah Aria berubah setelah Buto Ijo berbisik kepadanya, bahwa yang datang bersama Nyi Rondo mayit adalah, Tumenggung Adiguna.
“Siapa dia Nyi? Tanya Senopati Singalodra.
“Ini adalah Tumenggung Adiguna, mantan Tumenggung kerajaan Kadiri,” tuan Senopati, “Tumenggung Adiguna hamba bebaskan dari penjara kerajaan Kadiri, karena dia berjanji akan membantu kita.”
“Bagus….bagus sekali Nyi,” ucap Senopati Singalodra sambil bertepuk tangan, setelah tahu siapa yang datang.
“Silahkan duduk Tumenggung! Seru Senopati Singalodra.
“Tumenggung Adiguna yang selalu menunduk, kemudian berjalan ke kursi bersama Nyi Rondo mayit, saat kepalanya terangkat.
Di depannya berdiri Buto Ijo.
Tumenggung Adiguna terkejut sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Kau….kau ada di sini? Tanya Tumenggung Adiguna sambil berdiri lalu menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Kalian saling kenal? Tanya Senopati Singalodra.
Buto Ijo melesat ke arah Tumenggung Adiguna tangan kanannya menghantam ke arah kepala, tapi dengan santai panglima Sanjaya mencekal pangkal lengan Buto Ijo, lalu siku kirinya bergerak menghantam pelan ke arah pinggang Buto Ijo.
Buk!
Buto Ijo mundur satu langkah.
Aria terkejut setelah panglima Sanjaya bergerak, gerakannya cepat dan tak di sangka sama sekali oleh Aria dan Buto Ijo.
“Sabar….sabar sobat! Kenapa tergesa-gesa, mari kita dengar keterangan dari kedua belah pihak terlebih dahulu, bukan begitu, tuan Aria? Panglima Sanjaya berkata, nadanya seperti nada peringatan untuk Aria agar jangan bertindak gegabah.
Saat Buto Ijo hendak menghantam panglima Sanjaya, Aria langsung teriak sambil angkat tangan kiri.
“Hentikan.”
Buto ijo langsung berhenti bergerak.
Phuih!
Setelah meludah, Buto Ijo kembali berdiri di belakang Aria, wajahnya terlihat kesal sambil melirik ke arah Sanjaya.
“Anak muda yang hebat! Cukup satu kata, seorang iblis kejam sampai tidak berani bergerak,” batin panglima Sanjaya sambil melirik Aria Pilong.
“Silahkan Tumenggung Adiguna bicara terlebih dahulu,” ucap Panglima Sanjaya.
“Mereka anak buah Tumenggung Wirabumi,” Tumenggung Adiguna berkata sambil menunjuk ke arah Aria.
“Bangsat! Jangan tunjuk-tunjuk Raden dengan jarimu, ku pecahkan batok kepalamu nanti,” Buto Ijo berkata dengan nada gusar, melihat Aria di tunjuk oleh Tumenggung Adiguna.
Senopati Singalodra terkejut, begitupula dengan panglima Sanjaya, mereka tahu Tumenggung Wirabumi yang mengadakan sayembara atas perintah raja Kadiri.
“Aku adalah tamu yang di undang, bukan anak buah Tumenggung Wirabumi,” jawab Aria.
“Bohong! Ucap Tumenggung Adiguna, kali ini Adiguna tak berani menunjuk.
__ADS_1
“Kau hendak menyerang Tumapel, dan di tentang oleh Tumenggung Wirabumi, kemudian menyerangnya, apa benar? Tanya Aria.
“Menyerang Tumapel! Ucap Senopati dengan nada geram, karena Tumapel adalah kota di wilayah kerajaan Kahuripan yang berbatasan dengan Kerajaan Kadiri.
Bahurekso bergerak, tangannya menghantam kepala Tumenggung Adiguna.
Prak!
Tumenggung Adiguna langsung tersungkur, perlahan kepala serta wajahnya berubah hitam.
“Orang seperti ini harus mampus,” ucap Bahurekso.
“Kenapa di bunuh? Karena sakit hati, dia mau membantu kita menyerang Kadiri,” Nyi Rondo mayit berkata.
“Tutup mulutmu!? Ucap Senopati Singalodra mendengar perkataan Nyi Rondo mayit.
Karena di situ ada Aria yang belum jelas asal usulnya dan berpihak kemana, Senopati tidak mau rencananya bocor karena Nyi Rondo mayit salah bicara.
Nyi Rondo mayit langsung diam, mendengar bentakan Senopati Singalodra.
Hmm!
Panglima Sanjaya menarik napas panjang sebelum berkata.
“Berarti di sini ada 3 perwakilan.
“Aku dari Galuh, Senopati Singalodra dari Kahuripan, serta tuan Aria dari kerajaan Kadiri.”
“Panglima Sanjaya, kalau aku jelas pembesar kerajaan Kahuripan, tetapi dia! Kita tidak tahu asal-usulnya, apa berhak dia mewakili Kadiri? Ucap Senopati Singalodra sambil menunjuk ke arah Aria.
Nyi Rondo mayit melirik ke arah Aria, diam-diam tangannya bergerak ke arah pinggang.
Pecut pendek milik Nyi Rondo mayit, melesat ke arah caping Aria.
Whut….tap!
Tangan kiri Aria menangkap pecut Nyi Rondo mayit, setelah memegang pecut, tangan Aria kemudian menyentak.
Tubuh Nyi Rondo mayit mendekat, Aria berdiri, kemudian tangan kanannya menampar pipi Nyi Rondo mayit.
Plak!
Nyi Rondo mayit terpental, dari bibir Nyi Rondo mayit meleleh darah segar.
Nyi Rondo mayit lidahnya keluar, mengusap darah dari sekitar bibirnya, sambil matanya menatap buas ke arah Aria.
“Kau kejam sekali tuan muda! Ucap Nyi Rondo mayit.
“Masih untung kau tidak ku bunuh,” balas Aria dengan nada dingin.
“Apa kau mampu? Tanya Nyi Rondo mayit, sambil tersenyum sinis.
Aria setelah mendapat ilmu Rogo Demit, berlatih untuk menguasainya, dalam jarak dekat ia masih mampu berpindah tempat dengan menghitung jarak langkahnya, tetapi jika jauh, aria tidak mampu karena ia tidak bisa melihat.
Dari suara yang di dengar, Aria memperkirakan jaraknya dengan Nyi Rondo mayit ada 4 langkah.
Baru saja Nyi Rondo mayit berkata, apa kau mampu.
Aria tiba-tiba menghilang dari kursi tempat ia duduk.
Semua yang ada di ruangan terkejut, termasuk Nyi Rondo mayit melihat Aria menghilang.
Tiba-tiba Nyi Rondo mayit merasakan sakit di kepala saat merasa rambutnya ada yang menarik, raut wajah Nyi Rondo mayit langsung berubah pucat pasi.
Aria menyeringai, tangan kanannya tampak menjambak rambut Nyi Rondo mayit, kemudian menghantamkan kepala perempuan itu ke meja.
Brak!
Meja hancur, Nyi Rondo mayit langsung jatuh tak sadarkan diri, setelah kepalanya menghantam meja yang terbuat dari kayu jati.
Setelah merubuhkan Nyi Rondo mayit, dalam sekejap Aria sudah duduk kembali di kursinya, sambil tangan kanan memegang tongkat.
Suasana di dalam ruangan langsung hening.
__ADS_1
Panglima Sanjaya menatap tajam ke arah Aria Pilong, sambil berkata dalam hati.
“Ilmu Iblis”