Iblis Buta

Iblis Buta
Undangan Untuk Ki Banyu Alas


__ADS_3

Mpu Barada mendengus mendengar perkataan Buto Ijo, entah kenapa emosinya naik jika berdekatan dengan raksasa bertubuh hijau itu.


“Berikan Jarum pusaka tongkat Emas, orang tua! Lembusora berkata sambil menatap tajam Mpu Barada.


“Aku akan mengembalikan pusaka ini kepada pemiliknya,” balas Mpu Barada.


“Kau kenal dengan ketua kami? Tanya Lembusora.


“Ketua mu hanyalah seorang pencuri, pemilik asli jarum pusaka tongkat emas adalah Nyai ratu penguasa laut utara,” Mpu Barada berkata sambil menatap tajam Lembusora.


Hmm!


“Di depanku ada putri Ki Banyu Alas dan jarum pusaka tongkat Emas, jika salah satu tidak bisa kudapatkan, Ki Banyu Alas pasti akan menghukum aku,” batin Lembusora.


“Resi! Yang aku tahu jarum pusaka tongkat emas adalah barang pusaka yang di pinjamkan ketua kepada Elang jantan,” Lembusora membalas perkataan Mpu Barada.


“Kenapa tidak kau tanyakan, sebelum dia memberikan pusaka ini, dia dapat darimana? Mpu Barada berkata.


“Kalau begitu! Lebih baik Resi ikut denganku, baru aku yakin perkataan Resi dan resi bisa meminta pusaka ini langsung dari ketua,” balas Lembusora berharap Mpu Barada mau menuruti apa yang ia katakan.


Phuih!


“Hai, kerbau! Biarpun dia sudah tua dan mau mati, Batara tidak akan mau menuruti perkataan mu, dasar tolol! Buto Ijo angkat bicara.


“Diam kau, pisang Ijo! Seru Lembusora mendengar dirinya di sebut Kerbau dan tolol.


“Bangsat! Apa kau bilang? Coba katakan lagi, kau sebut aku apa? Tanya Buto Ijo, wajahnya mulai geram.


“Pisang Ijo! Karena warna tubuhmu mirip pohon pisang, jadi tidak salah aku menyebut mu pisang Ijo,” Lembusora balas meledek Buto Ijo.


Buto Ijo langsung melesat dan tinjunya menghantam kepala Lembusora.


Plak!


Lembusora menangkis dengan tangan kanan, tetapi tanganya terasa sakit saat menangkis hantaman Buto Ijo yang mengandung ajian Brajamusti.


“Keparat Ijo ini pukulannya keras sekali,” batin Lembusora.


Perlahan Lembusora berubah, kepalanya menjadi kepala banteng, dengusan dari hidungnya bergemuruh dan mengeluarkan asap, matanya merah menatap Buto Ijo.


Ha Ha Ha


“Benar kan apa yang aku bilang, kau adalah kerbau! Setelah berkata, Buto Ijo mengambil ranting berdaun lebat, yang terdapat di sekitarnya.


Buto Ijo mengibas ngibaskan ranting sambil tersenyum mengejek ke arah Lembusora dan berkata, lalu tertawa terbahak bahak.


“Rene Mbu….Rene….Rene, maem dulu.”


Dengusan Lembusora semakin keras terdengar, tanpa berkata Lembusora lari, kemudian melesat ke arah Buto Ijo sambil tangannya menghantam ke arah kepala.


Plak!


Kali ini Buto Ijo menangkis dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan mengibaskan ranting ke arah wajah Lembusora.


Lembusora tundukkan tubuhnya kmenghindari serangan Buto Ijo, kemudian tangan kanan menghantam ke arah tanah dengan ajian gebrak bumi.


Brak!


Buto Ijo tak menyangka hanya dengan menggebrak tanah, tubuhnya langsung limbung dan terasa di tekan tak bisa bergerak.


Buto Ijo mengerahkan tenaga dalam, kakinya berusaha menggebrak tanah.


Tetapi tangan kiri Lembusora lebih dulu bergerak menghantam ke arah perut Buto Ijo.


Buk!


Buto Ijo terhuyung setombak ke belakang, akibat hantaman Lembusora.


Raut wajahnya tampak kelam sambil menatap ke arah Lembusora.


Ujang Beurit melihat Buto Ijo tak bisa bergerak setelah terkena ajian gebrak bumi, kemudian berkata.


“Jaga jarak setombak dengannya, agar ajian gebrak bumi tidak berpengaruh pada paman.”

__ADS_1


“Tidak usah kau beritahu, Jang,” ucap Buto Ijo mendengar perkataan Ujang Beurit.


Mpu Barada ikut berkata mendengar perkataan Buto ijo yang tidak berterima kasih, malah tidak mau di beritahu.


“Memangnya kau sudah tahu? Tanya Mpu Barada.


“Memangnya kau tadi tidak dengar? Aku baru sekali dengar langsung mengerti,” jawab Buto Ijo, kemudian Lanjut berkata.


“Jang! Kau beritahu, Batara. Tadi dia tidak mendengar perkataanmu, pelan-pelan saja, kalau sudah tua suka lupa.”


Raut wajah Mpu Barada berubah kelam, sambil menatap Buto Ijo.


“Yang aku maksudkan adalah kau, bukan aku,” Mpu Barada berkata dengan nada dingin.


“Aku sudah di beritahu oleh Ujang Beurit, jadi kau tidak usah bertanya lagi,” balas Buto Ijo.


Hmm!


Suara dengus Mpu Barada terdengar, setelah mendengar jawaban Buto Ijo.


“Nu sabar ge ambekeun, komo urang,” ( yang sabar saja kesel, apalagi saya ) batin Wangsa, melihat raut wajah Mpu Barada yang tak sedap di pandang mata.


“Mau sampai kapan kalian bicara? Tanya Lembusora yang wajahnya berubah kembali seperti semula, niat bertempur Lembusora sudah hilang, karena ia tahu melawan mereka juga percuma karena Ia tidak akan menang.


“Kau pulang dan katakan kepada ayahku, aku undang ayah untuk menghadiri pernikahan ku yang akan di laksanakan di Istana tampak siring, dalam tiga hari kedepan,” Buwana Dewi berkata kepada Lembusora.


“Menikah….! Menikah dengan siapa? Tanya Lembusora, seperti bingung mendengar perkataan Buwana Dewi, kemudian lanjut berkata.


“Jodoh tuan putri adalah Raden Sentanu, murid ketua.”


“Tutup mulutmu! Aku hanya mau menikah dengan kakang Aria,” Ucap Buwana Dewi.


“Aria Pilong, ketua padepokan Jagad Buwana? Tanya Lembusora.


“Benar,” jawab Buwana Dewi.


“Apa yang kurang dari Raden Sentanu? Tanya Lembusora, kemudian lanjut berkata.


“Masih muda, tampan, kaya dan ber ilmu tinggi, sangat jauh berbeda dengan Aria Pilong serta satu lagi keunggulan Raden Sentanu, dia tidak buta.”


Kepalan tangannya menghantam ke arah leher Lembusora.


Plak!


Lembusora melihat serangan, kemudian menangkis dan lompat mundur.


Kepalanya berubah kembali menjadi kepala banteng dan balas menyerang Buto Ijo.


Plak….plak….Blar!


Keduanya sama-sama mundur, setelah saling serang dan tangkis.


Aria tidak memperdulikan Buto Ijo yang bertempur, tetapi bertanya kepada Buwana Dewi.


“Apa Dewi hendak melangsungkan acara pernikahan 3 hari lagi? Tanya Aria.


“Benar, kakang! Bukankah kakang sudah berjanji akan menuruti permintaanku? Buwana Dewi balik bertanya sambil tersenyum.


“Buwana Dewi mengerti, bahwa bukan itu maksud sebenarnya dari pertanyaan Aria.


“Apa kakang kecewa, karena aku mengundang ayah di acara pernikahan kita? Tanya Buwana Dewi.


“Tidak! Aku mengerti,” jawab Aria Pilong sambil tersenyum.


“Aku ingin mengundang serta menyadarkan ayah di acara pernikahan kita dan mau tinggal bersama,” Balas Buwana Dewi sambil menggenggam tangan Aria Pilong.


Aria anggukan kepala mendengar perkataan Buwana Dewi dan balas menggenggam kekasihnya.


Para penduduk dan prajurit mulai berdatangan, pertempuran di dalam istana tampak siring, berhasil di menangkan oleh panglima Wisnutama.


Sedangkan patih Nyoman Sidharta serta Senopati Gala dan Gali berhasil melarikan diri bersama pasukan yang setia kepada mereka.


Prabu Anak Wungsu serta panglima laut I Gusti Wardana, keluar dari persembunyiannya kembali ke istana Tampak Siring setelah mendengar keterangan para penduduk, bahwa musuh dan para Elang raksasa berhasil di tumpas oleh para pendekar yang baru pertama kali mereka lihat.

__ADS_1


Pertempuran antara Lembusora dan Buto Ijo berlangsung seru dan semakin cepat, keduanya mempunyai tenaga yang sama, Lembusora juga tahan terhadap pukulan.


Beberapa kali, Buto Ijo menyarangkan pukulan, tetapi Lembusora seperti tidak merasakan karena kulit Lembusora menjadi tebal layaknya kulit kerbau.


Tetapi lama kelamaan, pukulan Buto Ijo serta kekebalan keduanya memperlihatkan perbedaan, kalau Buto Ijo memang kebal terhadap pukulan, tetapi Lembusora, kulitnya menjadi keras sehingga bisa menahan pukulan musuh.


Ajian Brajamusti yang terkandung di dalam kepalan tangan serta kaki Buto Ijo, lama kelamaan mulai terasa oleh Lembusora.


Sekali terkena hantaman, tubuhnya seperti di hantam palu besar dan bekas pukulan terasa panas.


“Apa Ajian Raga Lembu milikku sudah hilang pamornya, sehingga pukulan Pisang Ijo sangat terasa oleh ku,” batin Lembusora sambil bergerak menghindari serangan Buto Ijo.


Bukan Aji Raga Lembu yang sudah kehilangan pamor menurut apa yang ada di pikiran Lembusora.


Tetapi ajian Brajamusti yang ada di tubuh Buto Ijo semakin meningkat daya hancurnya, seiring kuat lawan yang di hadapi.


“Aku harus membuat dia diam, kemudian menghabisi pisang Ijo dengan sekali hantam,” batin Lembusora.


Sesekali mata Lembusora melirik ke arah langkah kaki Buto Ijo.


Lembusora lari, dengan kepalanya berusaha menyeruduk Buto Ijo.


“Tap….tap!


Kedua tangan Buto ijo menangkap tanduk Lembusora, tubuh Buto ijo terdorong dua langkah.


Lembusora terus menekan dengan mendorong sambil menggoyangkan kedua tanduknya.


Buto ijo terus memegang erat, melihat tangan Lembusora hendak menghantam tanah, Buto Ijo dengan sekuat tenaga mengangkat tanduk Lembusora dan melemparkannya.


Whut!


Lembusora terkejut saat tubuhnya terlontar, akibat lemparan Buto ijo.


Setelah sampai tanah, Lembusora terus lari sambil menyeruduk kembali.


Kali ini senyum tampak di bibir Buto ijo, ia sudah tahu maksud dari musuhnya.


Kembali tangan Buto Ijo menangkap tanduk Lembusora, dan menekan kepala banteng ke tanah.


Lembusora tertunduk karena kepala nya di tekan kebawah, tangan kanannya langsung menggebrak tanah, bibir Lembusora tersenyum setelah tahu Buto ijo tidak mengalangi ia menggunakan ajian gebrak bumi.


Brak!


Lembusora menghantam ke tanah, tetapi raut wajahnya terkejut setelah merasakan kepalanya menjadi ringan.


Saat kepalanya terangkat dan Buto ijo tidak ada di hadapannya, kepala Lembusora langsung mendongak, setelah melihat kedua tangan Buto ijo bergerak menghantam dari atas.


Lembusora dengan cepat mengerahkan semua tenaga dalamnya ke arah kepala.


Blam….Brak!


Lembusora langsung tersungkur, dan terlungkup di tanah.


Setelah Lembusora terlungkup, dengkul Buto ijo langsung mendarat di punggung.


Krek!


Suara retak tulang punggung terdengar, Lembusora hanya bisa merintih kesakitan, saat kedua tangannya terkunci oleh kaki Buto ijo.


Melihat posisi wajah Lembusora yang terlungkup dan tak bisa bergerak.


Buto ijo berkata sambil memegang kepala Lembusora.


“Kau dengar tidak? Tiga hari lagi, Banyu Alas di undang ke acara pernikahan Raden.


Lembusora yang sudah berubah kembali menjadi kepala manusia, tidak menjawab perkataan Buto ijo, karena mulutnya penuh tanah basah ketika terlungkup.


Mendengar tidak ada jawaban dari Lembusora, dan kepalanya masih saja menghadap tanah.


Buto ijo kemudian memegang kepala Lembusora sambil berkata.


“Tatap aku jika aku tanya? Ucap Buto ijo sambil memutar kepala Lembusora agar berbalik ke arahnya.

__ADS_1


“Krek”


__ADS_2