Iblis Buta

Iblis Buta
Persiapan Acara Pernikahan


__ADS_3

“Apa tuan Aria buronan dari kedua kerajaan? Prabu Anak Wungsu bertanya-tanya dalam hati.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Prabu Anak Wungsu, akhirnya anggukan kepala, baiklah jika tuan Aria tidak mau kedua kerajaan hadir,” Ucap Prabu Anak Wungsu, Prabu yang bijaksana mengerti dan tidak menanyakan sebab musabab kenapa Aria membunuh pejabat dari kedua kerajaan.


Mendengar suara tarikan napas Prabu Anak Wungsu, Aria berkata.


“Aku kenal baik dengan Tumenggung Wirabumi serta Prabu Samarawijaya, tetapi dengan Prabu Mapanji Garasakan aku belum pernah bertemu, hanya mendengar selentingan kabar dari patih Argobumi bahwa Prabu Mapanji Garasakan terus mengawasi gerak-geriku karena aku sudah membunuh banyak pejabat dari Kahuripan.”


“Jadi tuan Aria kenal baik dengan kemenakan ku, Prabu Samarawijaya? Tanya Prabu Anak Wungsu.


“Tentu saja kenal, karena dulu dia minta tolong, tetapi malah nusuk dari belakang,” Wangsa ikut bicara.


Raut wajah Prabu Anak Bungsu berubah mendengar perkataan Wangsa.


“Kerajaan Kadiri yang prajuritnya banyak, dan pejabatnya rata-rata ber ilmu tinggi tetapi masih minta bantuan, entah siapa pemuda ini sebenarnya,” batin Prabu Anak Wungsu semakin penasaran mendengar cerita Wangsa.


“Aku membantu kedua kerajaan agar tidak berperang, pejabat kerajaan Kahuripan sangat berhasrat ingin memulai perang dengan Kadiri, jadi aku membunuh pejabat dan Tumenggung dari Kahuripan yang ingin memulai perang,” akhirnya Aria menceritakan sebab musabab kenapa dia membunuh beberapa pejabat kerajaan dari kedua negara.


“Aku mendengar tentang salah satu dari kemenakan ku yang tidak puas dengan pembagian wilayah oleh kakak Airlangga,”


“Belum lama ini ada utusan dari Kahuripan yang datang dan mengundang ku untuk berkunjung ke istana Kahuripan, tetapi aku belum memberi keputusan kepadanya,” kemudian Prabu Anak Wungsu lanjut cerita.


“Setelah mendengar cerita tuan Aria, baru aku sadar dan mengerti, maksud undangan dari Kahuripan sepertinya hendak meminta atau memastikan Bali akan berada di pihak mana.”


“Kalau rakyat tidak menjadi korban, aku tidak akan turun tangan, tetapi setiap perang besar akibatnya akan sangat terasa oleh rakyat dari kerajaan yang bertempur,” Aria membalas perkataan Prabu Anak Wungsu.


“Tuan Aria benar, rakyat akan menjadi korban jika terjadi perang, itu sebabnya aku tidak suka berperang, lebih baik mencari jalan damai daripada harus berperang.” Ucap Prabu Anak Wungsu mendengar perkataan Aria.


“Baginda benar! Tetapi ada saat dimana kita tidak bisa menolak jika terjadi perang, perang hanya pilihan terakhir, setelah jalan damai yang kita tempuh tidak berhasil,” Balas Aria.


“Tuan Aria benar,” ucap Prabu Anak Wungsu.


Tidak terasa mereka bercakap cakap, malam pun tiba dan waktunya mereka untuk istirahat.


Prabu Anak Wungsu menyuruh pelayan untuk mengantar tamu ke kamar mereka.


Saat Buwana Dewi hendak di beri kamar sendiri, Buwana Dewi tidak mau dan hanya ingin sekamar dengan Aria.


“Aku ingin dekat dengan kamar Raden! Seru Buto Ijo.


“Dekat,” bukankah kau selalu berada di kamarnya, apa maksudmu dengan dekat? Tanya Wangsa.


“Kali ini aku tidak ingin sekamar dengan Raden, karena ada Buwana Dewi, jadi pesan kamar yang berdampingan dengan kamar Raden,” jawab Buto Ijo.


“Ada Buwana Dewi atau kau ingin berdua saja dengan Suketi, setelah di berubah ke wujud manusia? Tanya Wangsa.


Memangnya kenapa kalau aku berdua dengan Suketi, toh dia akan menikah denganku beberapa hari lagi,” balas Buto Ijo, kemudian berkata kepada Suketi.


“Benar tidak, Suketi? Tanya Buto Ijo.


“Kakang Buto benar,” balas Suketi.


“Hati-hati Suketi! kalau hanya berdua saja di dalam kamar bersama Buto Ijo, sebab wajahnya mencurigakan, biar lebih aman lagi, lebih baik kau berubah kembali dari sekarang,”Wangsa berkata untuk mengingatkan Suketi.


“Bangsat, kau! Kalau kau mau perempuan, minta saja sama Prabu Anak Wungsu,

__ADS_1


Kenapa kau malah bertanya tidak jelas kepada Suketi,” ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Wangsa.


“Aku hanya mengingatkan Suketi untuk berhati-hati, kenapa malah kau yang marah? Tanya Wangsa, sambil lanjut berkata.


“Kau ada maksud tersembunyi ya terhadap Suketi? Tanya Wangsa.


“Ayo Suketi, kita pergi dari sini! Ada Resi yang cemburu terhadap kita,” Buto Ijo menarik tangan Suketi setelah mendengar perkataan Wangsa, kemudian pergi menuju ke kamar tempatnya menginap, tetapi tak lama kemudian, Buto Ijo sudah kembali lagi.


“Mau apa kau kesini lagi? Tanya Wangsa dengan tatapan curiga.


Buto Ijo tak menanggapi pertanyaan Wangsa, ia lalu memanggil dayang istana.


“Tolong tunjukan kamar yang akan kami tempati,” Buto Ijo berkata kepada salah seorang dayang.


Ha Ha Ha


“Makanya kalau belum tahu, harus bertanya biar tidak nyasar,” Wangsa berkata sambil tertawa.


“Sudah….sudah kakang! Jangan meladeni Resi Wangsanaya,” ucap Suketi saat melihat Buto Ijo hendak menghampiri Wangsa.


Buto Ijo akhirnya pergi setelah tangan Suketi menariknya, dan ikut di belakang dayang istana Tampak Siring menuju ke arah kamar.


Aria beserta rombongan istirahat, setelah bertempur melawan Elang jantan.


Selamet tengah asyik menulis surat untuk Iblis Kawi, memberitahu pernikahan Aria dan Buto Ijo.


Ke esokan harinya Selamet di beri merpati pos oleh I Gusti Wardana untuk mengirimkan surat kepada Iblis Kawi, tetapi diam-diam Selamet menulis surat lain yang di satukan dengan surat iblis Kawi.


Entah kenapa pirasat Selamet mengatakan, bahwa pernikahan Aria di Istana tampak siring tidak akan berjalan mulus seperti apa yang di harapkan oleh Prabu Anak Wungsu, walaupun sang Prabu sudah menjanjikan akan mengamankan acara pernikahan dengan segenap kekuatan prajurit istana tampak siring, tetapi pirasat Selamet mengatakan lain.


Persiapan-persiapan acara pernikahan mulai terlihat di istana Tampak Siring, rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar istana mulai di hias oleh prajurit dan penduduk yang merasa berterima kasih kepada Aria yang telah menolong mereka dari teror Elang raksasa.


Umbul-umbul tampak mewah di berbagai sudut benteng, jalan-jalan yang menuju ke istana Tampak siring juga mulai di hias.


****


Sementara itu di tengah hutan Karang Asem yang lebat dan jarang di masuki manusia.


Beberapa rumah terlihat di tengah hutan, dan beberapa orang berpakaian layaknya seorang petani, mondar-mandir di sekitar rumah.


Di rumah paling besar, seorang pria berpakaian biasa dengan rambut putihnya yang di gelung ke atas, tampak mondar mandir di dalam ruangan sambil tangannya memegang dagu.


Pria berpakaian biasa itu seperti tengah berpikir, sementara di dekat pria itu, duduk dua orang pria paruh baya dengan wajah serupa.


“Bagaimana Patih Nyoman Sidharta? Apa patih sudah menemukan jalan, agar kita keluar dari pulau Bali? Tanya Senopati Gala kepada patih Nyoman Sidharta.


“Kalian pikir gampang keluar dari pulau Bali? Nyoman Sidharta balik bertanya mendengar perkataan Senopati Gala.


“Kita bisa tinggal sementara di sini dengan selamat, itu sudah bagus,” lanjut perkataan Patih Nyoman Sidharta dengan nada kesal.


“Sekarang kami menyesal, karena ikut terkena bujuk rayu patih yang mengajak bergabung dengan Elang jantan, kalau tidak bergabung, mungkin hari ini kami sedang makan enak di istana Tampak Siring,” Senopati Gali dengan nada tajam berkata, menyesali keputusan sang kakak yang mengajaknya bergabung dengan patih Nyoman Sidharta.


“Menyesal sesudah terjadi, tidak akan membuat kalian kembali ke istana Tampak Siring, kecuali kita bisa merebut istana Tampak Siring dengan tangan kita sendiri, baru kita bisa memasuki istana Tampak Siring dengan kepala tegak.


“Bicara memang mudah, tetapi bagaimana cara kita bisa masuk kedalam istana Tampak Siring dengan kepala Tegak? Tanya Senopati Gali.

__ADS_1


“Senopati Gali Jaga bicaramu! Biar bagaimana pun, aku masih pemimpin kalian,” balas Patih Nyoman Sidharta dengan nada dingin.


Senopati Gali walau hatinya gusar, akhirnya diam setelah mendengar perkataan mantan patih kerajaan Tampak Siring.


Ketika suasana hening, Pintu rumah di ketuk dari luar.


Tok….Tok….Tok!


“Masuk! Seru Patih Nyoman Sidharta.


Pintu terbuka setelah Nyoman Sidharta berkata.


Seorang yang bertugas jaga melapor kepada Nyoman Sidharta.


“Patih! Ada sepasang suami istri yang ingin bertemu dengan Patih,” ucap Petugas jaga setelah berada di dalam rumah.


“Apa kau kenal dengan orang itu? Tanya Patih Nyoman Sidharta.


“Orang itu adalah Kilani, kepala dapur istana,” ucap si penjaga.


“Suruh….suruh kilani masuk, cepat! Seru Nyoman Sidharta mendengar nama Kilani.


Petugas jaga langsung keluar setelah mendengar perkataan patih Nyoman Sidharta, tak lema kemudian masuk satu perempuan bertubuh gemuk di dampingi oleh seorang pria berpakaian hitam-hitam yang tak lain adalah pengawal Kilani.


Ha….Ha….Ha


“Akhirnya kau datang juga Kilani,” ucap Nyoman Sidharta melihat wanita bertubuh tambun.


“Ada apa paman patih ingin bertemu dengan, Kilani? Tanya wanita itu.


“Aku ingin minta bantuanmu, Kilani,” jawab Nyoman Sidharta.


Raut wajah Kilani berubah mendengar perkataan, Nyoman Sidharta.


“Ban….bantuan apa paman? Tanya Kilani.


Melihat Kilani tampak takut dan membalas dengan gagap, Nyoman Sidharta langsung menggebrak meja sambil menunjuk ke arah Kilani.


“Kau tidak ingin membantu saudaramu sendiri, Kilani? Apa kau tidak ingat siapa orang yang sudah menjadikanmu kepala dapur istana? Ucap Patih Nyoman Sidharta sambil menatap Kilani.


“Maafkan Kilani, paman! Bukan maksud Kilani tidak mau membantu paman, tapi apa daya Kilani yang tidak bisa berperang,” balas Kilani dengan tetap tundukkan kepala, tak berani menatap Nyoman Sidharta yang merupakan suami dari bibinya.


Apa yang di katakan oleh Nyoman Sidharta benar, Kilani menjadi kepala dapur istana karena ada patih Nyoman Sidharta yang menjamin, sehingga Prabu Anak Wungsu mengangkat Kilani menjadi kepala dapur istana dan bertanggung jawab dalam menyiapkan makanan untuk anggota keluarga kerajaan.


“Aku tidak meminta mu berperang, aku hanya meminta kau untuk melakukan satu hal, dan hal itu hanya bisa di lakukan oleh kau, bukan orang lain,” balas Nyoman Sidharta.


“Hal apa yang bisa hamba lakukan paman patih? Tanya Kilani.


Patih Nyoman Sidharta tersenyum kepada Kilani, kemudian mengambil satu bungkusan kecil dari Bali baju, kemudian memberikan bungkus kecil itu kepada sang kemenakan.


Kilani menerima bungkusan kecil dari tangan Nyoman Sidharta, ia tak mengerti apa maksud suami dari bibinya memberikan bungkusan itu.


“Untuk apa bungkusan ini paman? Tanya Kilani.


“Itu Racun Ular hitam dari selat Bali,” jawab Nyoman Sidharta sambil menatap wajah Kilani, kemudian Nyoman Sidharta lanjut berkata.

__ADS_1


“Racuni Prabu Anak Wungsu serta seluruh anggota keluarga kerajaan.”


__ADS_2