
Sri Buwana Dewi sangat senang dengan nama pemberian dari Aria, karena nama itu sangat berarti baginya.
Aria sangat berkesan di mata Sang Dewi, karena Aria adalah lelaki pertama yang memeluknya, sewaktu ia di serang oleh orang-orang padepokan elang emas.
Aria menerima hasil laporan pertempuran dari Selamet, Mata Elang berhasil melarikan diri, sedangkan para pendekar yang tadinya ingin berlomba mendapatkan
Sri Buwana Dewi, akhirnya mundur teratur, setelah tahu kehebatan orang-orang padepokan Jagad Buwana, tetapi Aria yakin bahwa Padepokan Elang Emas
Tidak akan tinggal diam melihat buruan mereka di rebut oleh Orang Jagad Buwana.
Aria yakin Padepokan Elang emas, pasti memikirkan cara untuk merebut kembali Sri Buwana Dewi dari tangannya.
“Setelah istirahat kita melanjutkan perjalanan ke Panarukan, sekarang kita harus lebih waspada,karena kita harus melindungi Buwana Dewi dari
Sergapan orang orang Padepokan Elang emas.
Wangsa, Buto Ijo serta yang lain, anggukan kepala mendengar perkataan Aria.
Suketi sekarang lebih memilih bersama Buwana Dewi daripada Buto Ijo, karena tubuh Sri Buwana Dewi mengeluarkan bau harum yang membuat Suketi betah berlama lama.
Rombongan kembali ke Desa telaga warna.
Desa itu kembali sepi setelah para pendekar pergi karena tujuan mereka tidak tercapai.
Tak ada kuda yang bisa di beli di desa Telaga warna, sehingga Aria dan rombongan jalan kaki.
Wangsa menatap langkah kaki Buwana Dewi.
“Buwana Dewi cerita hanya di ajarkan suling dan menari, tetapi kakinya tampak ringan ketika melangkah, berjalan tanpa henti, tetapi tidak pernah mengeluh, apa benar dia tidak punya kepandaian? Batin Wangsa, sambil terus memperhatikan langkah kaki Buwana Dewi.
Sri Buwana Dewi sekali kali melirik ke arah Aria yang berjalan di sampingnya, tetapi pemuda itu tidak pernah sekalipun balik menoleh ke arahnya.
Buwana Dewi juga kasihan setelah tahu Aria tidak bisa melihat, wajah Aria saat memeluk dirinya, sampai sekarang tidak bisa Buwana Dewi lupakan.
Aria ketika berjalan sambil memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Buwana Dewi, jika gadis itu tahu tujuan mereka ke alas Purwo, untuk membunuh ayahnya.
Tetapi Mpu Barada berkata, hanya dengan bantuan Buwana Dewi, Ki Banyu alas bisa terbunuh.
“Apa Buwana Dewi mau membantu? Jika ia tahu orang yang akan ku bunuh adalah ayahnya sendiri,” Aria terus memikirkan masalah itu selama dalam perjalanan, sehingga ia tidak pernah bicara sepatah kata dan terus berjalan.
Keluar masuk hutan, turun naik bukit dan pegunungan, selama 3 hari mereka terus berjalan, akhirnya rombongan sampai di sebuah desa, bernama desa Osing.
Desa itu cukup ramai, penduduk desa osing rata-rata petani dan pedagang.
Penduduk desa Osing juga ramah terhadap para tamu yang masuk ke desa mereka.
Selamet seperti biasa mencari tempat untuk Aria, karena Selamet berpenampilan rapi serta memakai pakaian khas Jawa.
Selamet di terima dengan tangan terbuka oleh Kuwu desa Osing.
Selamet mendapat ijin tinggal, dan rombongan di persilahkan menginap di rumah kepala desa Osing, yang bernama Ki Bowo.
Malam mereka berkumpul, Istri Ki Bowo membuat wedang jahe serta ketela rebus yang di taburi kelapa parut dan air gula.
Buto Ijo mulutnya penuh dengan ketela rebus yang rasanya nikmat, di temani wedang jahe, membuat suasana di Rumah Ki Bowo menjadi lebih hangat.
__ADS_1
“Jadi kisanak tidak bisa melihat? Tanya Ki Bowo.
“Benar Ki! Aku tak bisa melihat dari sejak di lahirkan.
“Begitu rupanya, sungguh Malang nasib kisanak,” ucap Ki Bowo.
“Oh Iya Ki! Apa di sini rata-rata berasal dari suku Osing? Tanya Selamet.
“Ki Selamet memang berpengetahuan luas, hampir rata-rata penduduk disini memang berasal dari suku Osing ( suku Osing Sebutan untuk penduduk asli Banyuwangi ), sehingga desa ini kemudian di beri nama Desa Osing.
“Menjadi Petani dan berdagang pekerjaan sehari hari penduduk desa Osing, kisanak,” Ki Bowo berkata.
“Kisanak sekalian mau kemana? Tanya Ki Bowo.
“Kami mau ke Panarukan, Ki! Jawab Selamet.
“Panarukan lumaya jauh, kalian bisa singgah dulu di Keta, sebelum melanjutkan perjalanan ke Panarukan.
“Keta kota yang lumayan besar, Tumenggung kerajaan Kahuripan yang bernama Jati Wilis, tinggal di Keta dan mengatur seluruh wilayah di Panarukan,” Ki Bowo memberitahu Aria dan kawan-kawan bagaimana situasi di Keta.
“Ki….Ki Bowo! Terdengar suara orang memanggil dari depan rumah.
Ki Bowo beranjak dari kursi yang ia duduki, kemudian melangkah ke arah pintu rumah.
“Ada Apa, Wer? Tanya Ki Bowo.
“Ki Sura dan Saudagar Karyo sedang bertengkar, Ki,” ucap Klewer.
“Lagi-lagi saudagar Sumito! Ki Bowo berkata sambil menarik napas.
“Ada apa Ki? Tanya Selamet.
“Suruh mereka berdua ke sini! Seru Ki Bowo, setelah menjawab pertanyaan Selamet.
“Baik, Ki! Balas Klewer.
Klewer langsung lari ke arah kedua orang yang sedang bertengkar.
Tak lama kemudian, puluhan obor tampak menerangi jalan menuju ke arah rumah Ki Bowo.
Aria serta rombongan yang merasa penasaran, berdiri di belakang Ki Bowo.
“Ki Bowo! Lebih baik kita usir dia dari desa Osing,” ucap Ki Sura dengan nada kesal.
“Sudah aku bilang jika harganya tidak sesuai, aku tidak akan menjualnya, tetapi dia masih ngotot ingin membeli,” Ki Sura lanjut berkata dengan nada kesal.
“Kau menghasut pedagang di sini untuk tidak menjual dagangannya kepadaku,” teriak Saudagar Sumito sambil menunjuk Ki Sura.
“Tak perlu aku hasut, mereka memang tidak mau menjual kepadamu,” balas Ki Sura.
“Ki Sura! Apa kau tahu sekarang aku sudah di angkat menjadi kepala pedagang di Panarukan oleh Tumenggung Jati Wilis.
“Aku bisa menyuruh para pedagang yang ada di Panarukan untuk tidak membeli dagangan atau hasil bumi dari desa Osing.
Lanjut perkataan Saudagar Suminto.
__ADS_1
“Aku membeli dengan selisih harga yang tidak terlalu besar, dan aku juga rutin membeli barang jualan kalian, jadi kenapa kalian menolak kebaikanku?
“Kalau hanya satu macam, memang jatuhnya tidak terlalu besar, tetapi kau menginginkan semua barang dari desa Osing, sehingga keuntunganmu jadi berlipat ganda,” Balas Ki Sura sambil menunjuk Saudagar Suminto.
“Keputusan ada di tangan Ki Bowo,”
“Bagaimana dengan keputusan Ki Bowo? Tanya Saudagar Suminto.
“Lebih baik Saudagar Suminto berlaku adil,” jawab Ki Bowo.
“Apa maksud Ki Bowo dengan berlaku adil? Tanya Saudagar Suminto.
“Jika penduduk desa Osing ingin menjual, bisa kau beli, tetapi jika yang tidak ingin menjual, kau tidak bisa memaksa mereka,” jawab Ki Bowo.
Phuih!
“Kalau begitu aku rugi, lebih baik aku mencari desa lain saja untuk berdagang,” balas Saudagar Suminto.
“Kalau tidak mau jual beli dengan penduduk Osing, kenapa kau sering datang kesini? Tanya Ki Sura dengan nada mengejek.
“Ki Sura! Mulutmu sangat tajam, kau harus hati-hati, biasanya orang bermulut tajam tidak ber umur lama,” Balas Suminto dengan nada dingin.
Buto Ijo yang mendengar pertengkaran, sudah kesal dan hendak berkata, tetapi mulutnya penuh dengan ketela rebus, sehingga ia harus mengunyah habis terlebih dahulu ketela rebus di dalam mulutnya, baru bisa bicara.
“Aku tidak takut dengan ancaman, jika aku merasa benar,” Ki Sura membalas perkataan saudagar Suminto.
Ha Ha Ha
“Baik….baik! Kau sudah menentukan jalan mu sendiri.
“Aku tahu kau bersekongkol dengan perwakilan Raden Kusumo.
Lanjut perkataan Saudagar Suminto.
“Asal kau tahu! Tumenggung Jati Wilis dalam waktu dekat akan menghabisi semua pedagang yang berada di bawah naungan Raden Kusumo.
“Kerabat Raden Kusumo di kerajaan Kahuripan tidak akan membantu jika Tumenggung Jati Wilis sudah turun tangan.”
Ki Bowo menatap ke arah Sahabatnya, seakan minta pengertian ke pada Ki Sura.
Jika saudagar Suminto benar melakukan ancamannya, para penduduk desa Osing yang akan menjadi korban.
Memaksakan kehendak, kemudian menjual hasil bumi dan barang kepada Raden Kusumo melalui perwakilan dagangnya, malah akan menambah marah saudagar Suminto.
Ini seperti buah simalakama.
Melihat Ki Sura diam, Ki Bowo bertanya.
“Bagaimana menurutmu? Tanya Ki Bowo sambil menatap ke arah sahabatnya.
Di belakang Ki Bowo, Raut wajah Aria berubah kelam mendengar perkataan saudagar Suminto.
Raden Kusumo adalah anak buahnya, jika Tumenggung Jati Wilis berani mengganggu usaha dagang Raden Kusumo, itu artinya Jati Wilis harus berhadapan dengan Jagad Buwana.
Sebelum Ki Sura menjawab.
__ADS_1
Terdengar suara bernada dingin dari balik caping, yang ada di belakang Ki Bowo.
“Jo! Tangkap dia.”