Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 55 : Maaf! Aku Membohongimu


__ADS_3

Aria menggunakan ajian Rogo Demit untuk keluar dari tempat pertemuan, karena jaraknya dengan tempat Buto Ijo berjaga cukup dekat, Aria tidak susah untuk keluar.


Setelah berada di dekat Buto Ijo, Aria kemudian berkata.


“Mari kita pergi!


Buto Ijo tanpa banyak bicara, kemudian anggukan kepala, keduanya lalu melesat keluar dari istana Kadiri.


Panglima Sanjaya dan Sekar yang memburu keluar, akhirnya hanya bisa kecewa setelah prajurit Kadiri memberitahu, bahwa Aria dan Buto Ijo sudah meninggalkan istana.


Setelah berada jauh dari istana Kadiri, Aria berkata.


“Cari rumah kosong atau candi yang sudah tidak terpakai untuk kita menginap, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Semeru dan jangan lupa, kau jemput Wulan dan Sarka di tempat kediaman Tumenggung Wirabumi.”


“Baik, Raden,” jawab Buto Ijo.


Buto Ijo bergerak.


Setelah menemukan rumah kosong di pinggiran kota.


Buto Ijo lalu menuju rumah Tumenggung Wirabumi untuk menjemput Wulan dan Sarka.


Sementara di dalam ruangan istana Kadiri, yang tadinya penuh tawa, kini suana hening.


Resi Sarpa kencana setelah mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, tak lama kemudian pamit undur diri karena kecewa.


Tumenggung Wirabumi tampak menarik napas panjang di ruangan pertemuan.


“Aku terpancing oleh perkataan Senopati Singalodra,” ucap Prabu Samarawijaya.


“Kalau benar apa yang dikatakan oleh pendekar Aria, Kadiri dalam bahaya, Kahuripan dari timur, sementara Galuh dari barat ( Kuningan ),” ucap Tumenggung Wirabumi.


Prabu Samarawijaya dalam hati membenarkan perkataan Tumenggung Wirabumi dan baru sekarang rasa sesal menyelimuti hati Prabu Samarawijaya akibat perkataannya yang menyinggung Aria.


Tetapi semuanya sudah terlambat, Prabu Samarawijaya menyadari kesalahannya, setelah Aria pergi.


Wulan dan Sarka bertanya-tanya dalam hati, setelah Buto Ijo menyuruh mereka untuk membereskan perbekalan, dan pergi dari rumah Tumenggung Wirabumi.


“Kenapa kita pergi, 2 hari lagi sayembara akan dimulai? Tanya Sarka, sambil menatap ke arah Wulan.


“Aku juga tidak tahu! Jawab Wulan.


Keduanya lalu pergi mengikuti Buto Ijo ke tempat Aria sedang menunggu.


Tumenggung Wirabumi minta ijin kepada Prabu Samarawijaya untuk membujuk Aria.


Setelah di beri ijin Tumenggung Wirabumi langsung pulang ke rumah, tetapi tubuh Tumenggung Wirabumi langsung lemas, setelah Aria, Wulan dan Sarka tidak ada, begitu pula dengan barang-barang mereka.


“Gara-gara beberapa patah kata, hancur sudah semuanya,” batin Tumenggung Wirabumi.


Resi Sarpa kencana begitu keluar dari ruangan, langsung mencari Aria, tetapi setelah keliling kota tidak menemukan Aria, resi Sarpa kencana duduk bersila dan melakukan kontak batin, lalu bertanya kepada ular ghaib peliharaannya kemana raja mereka pergi.


Para ular tidak berani memberitahu di mana raja mereka berada karena takut, tapi setelah di desak dan resi Sarpa kencana mau bertanggung jawab, akhirnya sang resi tahu di mana Aria Pilong berada.


Resi Sarpa kencana langsung melesat ke arah pinggiran kota Daha.


“Wulan, Sarka tengah menatap Aria dengan banyak pertanyaan.


Tetapi melihat wajah Aria yang kelam, mereka tidak berani.

__ADS_1


Untuk mencairkan suasana, Wulan lalu berkata.


“Kang Aria! Kenapa Kemuning serta Ki Demang Surya tidak di ajak? Tanya Wulan.


“Aku tidak mau membahayakan jiwa mereka, jika ikut bersamaku.


“Untuk sementara bersama Tumenggung Wirabumi, Ki Demang surya dan Kemuning tidak akan celaka.” Jawab Aria.


“Raden kenapa? Apa ada yang salah di tempat pertemuan? Tanya Sarka memberanikan diri.


Aria lalu menceritakan kejadian siang tadi dan hasil pertemuan ketika berada di istana Kadiri.


Sarka dan Wulan tampak geram mendengar perkataan Aria.


Sumpah serapa keluar dari mulut kedua muda-mudi itu.


Buto Ijo masuk ke dalam, memberitahu Aria, bahwa resi Sarpa kencana datang.


Buto Ijo lalu keluar setelah memberi isyarat, agar Resi Sarpa kencana boleh masuk.


Resi Sarpa kencana menarik napas dalam-dalam saat sudah berada di hadapan Aria Pilong, entah kenapa kali ini lidahnya terasa kelu dan susah untuk bicara.


“Ada apa resi mencari ku? Tanya Aria.


“Aku kaget ketika mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, sebelum pertemuan selesai, aku pergi untuk mencari Raden,” balas Resi Sarpa kencana.


“Tapi apa benar yang Raden katakan dalam pertemuan? Tanya Resi Sarpa kencana.


“Kau pikir aku berbohong? Aria balik bertanya.


“Bukan….bukan begitu Raden! Aku berpikir jika perkataan Raden Aria benar, itu artinya Kadiri dalam bahaya,” balas Resi Sarpa kencana.


“Kahuripan tinggal menunggu kesanggupan Galuh untuk membantu, tetapi panglima Sanjaya belum memberikan jawaban,” jawab Aria.


“Kalau boleh tahu! Apa langkah Raden selanjutnya? Tanya Resi Sarpa kencana.


“Aku akan melanjutkan perjalananku yang tertunda,” jawab Aria.


“Tetapi Sayembara tinggal 2 hari lagi, apa Raden tidak menunggu Sayembara selesai, baru melanjutkan perjalanan? Tanya Resi Sarpa kencana.


“Untuk apa aku harus menunggu sayembara selesai? Toh hasilnya juga sudah aku ketahui,” balas Aria.


“Maksud Raden? Tanya Resi Sarpa kencana sambil keningnya berkerut.


“Kahuripan akan menurunkan ketiga ketua padepokan tangan hitam, Serigala hitam, kelelawar hantu serta Bahurekso.


“Apa di sayembara ada yang bisa mengalahkan mereka? Aria balik bertanya.


“Jika salah satu dari mereka kalah, apa resi pikir, kedua kawan serta anak buah mereka akan diam, itulah kerusuhan yang akan mereka ciptakan agar sayembara ini berantakan kalau yang menang bukan dari pihak mereka.”


“Apa Tumenggung Wirabumi sudah bersiap diri, jika ketua pendekar kerajaan Kadiri jatuh ke tangan orang dari Kahuripan? Lanjut perkataan Aria.


Raut wajah Resi Sarpa kencana berubah mendengar perkataan Aria, baru ia mengerti apa yang di maksud oleh Aria.


Jika yang menjadi ketua pendekar adalah orang Kahuripan, akan sangat berbahaya buat kerajaan Kadiri.


Suasana langsung hening setelah aria bicara.


“Tadi siang aku sebenarnya sudah membuat perjanjian, akan menyelesaikan masalah ini di arena sayembara, antara aku dengan panglima Sanjaya, ketiga ketua padepokan Tangan hitam serta Senopati Singalodra, tetapi semuanya berantakan hanya gara-gara Raja yang gila hormat,” kembali Aria berkata dengan nada geram.

__ADS_1


“Tapi Raden! Bukankah masih ada Sarka yang sudah di daftarkan lomba? Ucap Resi Sarpa kencana.


“Kau sanggup menghadapi mereka? Tanya Aria.


“Demi Wulan aku harus sanggup,” balas Sarka.


“Tetapi Aku tidak akan membiarkan Raden bertempur dengan Panglima Sanjaya,” lanjut perkataan Sarka dalam hati.


Mendengar perkataan Sarka, wajah Aria langsung menoleh ke arah Sarka.


“Kau bicara apa? Tanya Aria.


Wulan melihat Sarka diam, akhirnya menjawab pertanyaan Aria.


“Kakang! Aku mengerti kakang tidak suka padaku, walau kang Aria pernah berjanji kepada kakek untuk membawa dan menjagaku, tetapi yang Wulan butuhkan bukan hanya sekedar penjaga, Wulan membutuhkan pendamping, dan kakang Sarka berjanji akan mendampingi Wulan.


Tanpa setahu Aria, dalam beberapa hari Sarka terus menempel Wulan dan menyatakan cintanya, tadinya Wulan menolak, tetapi berkat kegigihan hati Sarka, akhirnya hati Wulan luluh dan menerima Sarka menjadi kekasihnya.


Aria anggukan kepala setelah mendengar penjelasan Wulan, cinta memang tak bisa di paksa.


Aria juga sadar, ia sudah menganggap Wulan seperti adiknya sendiri setelah Aria mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya.


Setelah menarik napas panjang, akhirnya Aria berkata.


“Jika kau ingin tetap ikut sayembara, aku akan tetap berada di sini.


“Tetapi bilamana aku bertindak di arena sayembara, itu untuk melindungi mu dari musuh, bukan untuk Raja bodoh itu,” ucap Aria.


“Raden! Ada beberapa orang mendekat ke tempat ini,” ucap Buto Ijo.


Mendengar perkataan Buto Ijo, Aria beserta yang lain keluar.


Ketika mereka sudah keluar dari rumah.


Buto Ijo tengah berhadapan dengan panglima Sanjaya, Ki Panca dan Sekar Arum.


Aria mendengus melihat Panglima Sanjaya, pikirannya yang sudah tenang jadi teringat kembali akan kejadian di ruang pertemuan.


“Apa kalian sudah bosan hidup, berani mengejarku sampai kesini? Tanya Aria dengan nada dingin penuh ancaman.


Tangan kiri Aria sudah berubah merah, mengandung Aji mawa geni dan siap untuk bertempur.


“Tunggu dulu tuan Aria! Kami datang bukan untuk bertempur,” jawab Panglima Sanjaya.


Tetapi wajah sang panglima berubah setelah melihat pemuda yang berada di dekat Wulan.


“Jaka….Jaka samudra?


Aria kerutkan kening mendengar perkataan panglima Sanjaya.


“Disini tidak ada yang bernama Jaka samudra,” ucap Aria.


“Kakang jaka! Teriak Sekar Arum sambil melesat dan langsung memeluk Sarka.


Wulan langsung cemberut, matanya berkaca kaca, hatinya panas menahan api cemburu melihat Sarka berpelukan dengan gadis yang sangat cantik.


Sarka melepaskan pelukan Sekar Arum, setelah memberi hormat kepada panglima Sanjaya, Sarka kemudian berkata kepada Aria.


“Maaf Raden! Aku telah berbohong kepada Raden selama ini, nama asliku bukan Sarka, tetapi Jaka Samudra, aku adalah!

__ADS_1


Sarka menarik napas dalam-dalam sebelum berkata,


“Putra panglima Sanjaya.”


__ADS_2