
Pertempuran berlangsung sengit, setelah Buto Ijo berhasil melumpuhkan Suto Abang, ia lalu membantu Wulan yang mulai kewalahan menghadapi anak buah Ronojiwo.
Sedangkan Ronojiwo sangat penasaran, ia di bantu oleh mahluk ghaib tapi masih belum bisa mendesak Aria Pilong.
Yang membuat Ronojiwo tak habis pikir, musuhnya buta, tetapi kemana saja serangan datang ke tubuh pemuda itu, ia selalu bisa menghindar atau menangkisnya, malah serangan balik pemuda itu sangat berbahaya dan tidak di sangka-sangka.
Sejak Naga langit bangun dari semedinya di dalam tubuh Aria, kekuatan keduanya perlahan mulai menyatu, dan kekuatan dari Naga langit yang tersalur ke mata, membuat Aria melihat aura tenaga dalam yang keluar dari tubuh musuhnya.
Semakin besar tenaga dalam yang digunakan oleh musuhnya, semakin besar sinar yang terpancar dalam tubuh musuh Aria Pilong yang dapat dilihat.
Ronojiwo sudah mengeluarkan keris berwarna hitam, ber eluk 7 yang menjadi senjata pusakanya selama ini.
Keris yang mengeluarkan hawa dingin, dan menambah aura si pemakai, membuat Ronojiwo menjadi lebih percaya diri menghadapi musuhnya.
Tangan kanan memegang keris, sementara tangan kiri mengandung ajian Bayu Abang, terus berusaha mendesak Aria.
Whut!
Keris menyabet ke arah perut Aria, tetapi serangan Ronojiwo berhasil di hindari setelah Aria Pilong mundur satu langkah, kemudian tongkatnya melesat ke arah se ekor Harimau yang berusaha menerkam dari samping.
Crash!
Leher Harimau robek besar terkena sabetan tongkat, tak lama kemudian Harimau ambruk, berubah menjadi seonggok debu.
Ronojiwo semakin geram, melihat Aria kembali berhasil menewaskan anak buah Ki Loreng geni.
Tangan kirinya menyambar ke arah dada, angin berhawa panas melesat mendahului hantaman tangan kiri Ronojiwo.
Whut!
Tangan kiri Aria balas menghantam dengan ajian Mawa geni.
Blam!
Keduanya mundur setelah beradu pukulan.
Jerit kematian terus terdengar di dalam hutan gunung Wilis.
Buto Ijo mengamuk membantai anak buah Ronojiwo yang mengeroyok Wulan.
Sedangkan Ronojiwo semakin putus asa melihat korban di pihaknya semakin lama semakin bertambah.
“Keparat! Pantas saja Ki Loreng geni tidak berani gegabah, rupanya pemuda buta ini bukan orang sembarangan,” batin Ronojiwo.
Keris Ronojiwo terkadang berubah warna menjadi merah, akibat ajian Bayu Abang yang di salurkan ke tangan kanan yang memegang keris.
Shing!
Keris menyambar ke arah leher Aria.
Aria tundukkan kepala, menghindari tusukan Ronojiwo, kemudian tongkat Aria balas menghantam ke arah kaki Ronojiwo.
Ronojiwo lompat menghindari hantaman tongkat Aria, setelah berada di atas Ronojiwo melesat kembali, sambil menusuk ke arah Ubun-Ubun kepala Aria.
Aria mundur satu langkah menghindari tusukan Ronojiwo, saat merasakan geraman dari belakang, tongkat Aria menusuk ke belakang.
__ADS_1
Crak!
Kepala Harimau jadi-jadian yang hendak menerkam dari belakang, langsung menggelepar setelah kepalanya tertancap ujung tongkat Aria.
“Bangsat! Kalau begini terus aku bisa mati konyol,” batin Ronojiwo, apalagi setelah tahu adik seperguruannya sudah tak berdaya akibat kedua kaki, tangan dan bahu Suto Abang di hancurkan oleh Buto Ijo.
Ronojiwo kali ini menyerang sambil mencari kesempatan untuk melarikan diri, mata Ronojiwo bergerak liar dan terus berputar mencari tempat dan kesempatan untuk melarikan diri.
Setiap anak buah Loreng geni menyerang, Ronojiwo selalu mengamati dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Kini hanya 3 Harimau saja yang tersisa, itupun ragu untuk menyerang.
Tetapi Aria tidak mau menunggu waktu lama, tubuhnya melesat ke arah satu Harimau terdepan, dan menghantam dengan tongkat.
Harimau yang tengah di serang, lompat menjauh setelah merasa dirinya terancam, dua ekor Harimau yang tersisa lompat menerkam ke arah Aria.
Whut!
Aria langsung mengibaskan tongkat.
Sret!
Kedua Harimau menggelepar setelah badan mereka tertebas ujung tongkat.
Ronojiwo melihat hal itu, langsung menetapkan diri untuk pergi dari pertempuran.
“Kenapa aku lama berpikir, dia kan buta, kalau diam-diam aku pergi dari sini dengan cepat tanpa menimbulkan suara, tak mungkin si buta tahu aku pergi,” batin Ronojiwo.
Saat Aria memburu satu Harimau yang tersisa, Ronojiwo langsung melesat ke arah timur, tapi belum jauh Ronojiwo pergi, satu suara mendesing melesat ke arahnya dengan cepat.
Ronojiwo tersungkur, dengan mata terbelalak seakan tak percaya dirinya terkena lemparan tombak pemuda buta, yang menjadi musuhnya.
“Kau….Kau bagaimana bisa tahu aku di sini? Tanya Ronojiwo.
“Kau tanyakan saja pada penjaga neraka, sekarang aku tak bisa jawab, sibuk,” balas Aria.
Ronojiwo tidak tahu bahwa Aria dapat melihat aura tenaga dalam yang keluar dari dalam tubuh.
Saat melihat sinar merah melesat menjauh, Aria tahu itu adalah aura tenaga dalam dari Ronojiwo, tanpa ragu Aria langsung melemparkan tombak ke arah Ronojiwo yang melarikan diri.
Setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Aria jalan menghampiri ke arah suara Suto Abang yang terus merintih menahan sakit.
Setelah sampai di samping Suto Abang, Aria jongkok dan tersenyum dingin kepada Suto Abang.
“Kau masih ingat padaku? Tanya Aria.
“Tolong jangan bunuh aku, Raden! Seru Suto Abang sambil merintih menahan sakit.
“Kenapa tidak kau jawab! Kau masih ingat padaku? Kembali Aria bertanya.
Suto Abang tak berani menjawab, karena berpikir pemuda di sampingnya sudah tahu, bahwa pelaku pembunuhan keluarga bocah itu, adalah dirinya.
Buto Ijo serta Wulan yang menghampiri ke arah Aria, mendengar perkataan pemuda itu dan tak ada jawaban dari Suto Abang, mulai Tersulut amarah mereka.
Plak!
__ADS_1
Buto Ijo menampar pipi Suto Abang, sehingga bibir tokoh golongan hitam itu pecah dan mengeluarkan darah.
“Jangan bunuh dia!? Teriak Aria sambil menoleh ke arah Buto Ijo.
“Cuma nampar pelan saja, Raden,” jawab Buto Ijo.
“Pelan apanya! Bibriku sampai berdarah,” ucap Suto Abang.
“Diam kau! Buto Ijo membalas perkataan Suto Abang, karena takut kena marah Aria.
“Kalung saja tengkorak, tapi cengeng,” Buto Ijo berkata kembali.
Tangan Aria perlahan naik dan siap menghantam.
“Jangan bunuh hamba Raden, sekarang hamba sudah ingat, hamba yang menolong Raden ketika Raden jatuh ke jurang,” Suto Abang berkata sambil menatap ke arah tangan Aria yang hendak menghantam kepalanya.
“Kau tidak menolongku, tetapi kau memisahkan aku dengan ibuku,” ucap Aria dengan nada dingin.
“Aduh….aduh sakit! Tiba-tiba terdengar teriakan dari mulut Suto Abang.
Aria kerutkan keningnya, karena ia belum turun tangan kepada Suto Abang, tapi kenapa orang itu menjerit.
“Aku tidak menyentuh mu kenapa kau kesakitan, jangan jadi pengecut,” dengus Aria.
“Pinggang….pinggangku sakit! Ucap Suto Abang yang hanya bisa terlentang, karena kedua kaki, satu tangan dan satu bahu hancur oleh Buto Ijo.
Mendengar kata pinggang, Aria langsung menepak kaki yang sedang menginjak pinggang Suto Abang.
Plak!
Kaki Buto Ijo langsung bergeser setelah terkena tamparan tangan Aria.
He He He
“Tidak sengaja ter injak,” ucap Buto Ijo sambil melotot ke arah Suto Abang.
“Kau memang telah menolong dan menarik aku dari pelukan ibu sebelum jatuh ke jurang, untuk itu aku tidak akan membunuhmu,” Aria berkata.
Aria sudah tahu, Suto Abang sudah cacat dan tak akan bisa pulih kembali, jika membunuhnya dalam keadaan tak berdaya, hanya mengotori tangannya saja.
“Mari kita susul Nyi Selasih,” ucap Aria yang mendengar keduanya bertarung dan terus masuk sampai ke dalam hutan.
Suto Abang bersyukur saat Aria tidak jadi membunuhnya, tetapi dalam keadaan seperti itu untuk hidup juga percuma, karena Suto Abang akan menjadi orang cacat.
Wulan dan Aria melesat bersama menuju hutan dimana Nyi Selasih bertempur dengan Ki Loreng geni.
Sedangkan Buto Ijo sebelum pergi, menendang sarang semut api pemakan bangkai, yang tak jauh dari tempat mereka bertempur.
Ribuan semut api yang sarangnya di tendang oleh Buto Ijo langsung berhamburan, dan sebagian besar langsung menuju ke arah Suto Abang.
Aria, Wulan serta Buto Ijo dari jauh mendengar teriakan Suto Abang yang tengah di gigit oleh ribuan semut api.
“Sudah di beri kesempatan hidup, masih saja teriak-teriak,” ucap Aria.
Buto Ijo langsung membalas perkataan Aria.
__ADS_1
“Mungkin dia gembira, sudah di beri kesempatan hidup oleh Raden.”