Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 80 : Kalian Pikir Bisa Mengurungku?


__ADS_3

Aria, saudagar Ming, Li Ho dan Li Mei serta Andini di kurung dalam satu ruangan oleh Tumenggung Wirayuda.


Semua senjata mereka di ambil oleh Tumenggung Wirayuda, begitu pula dengan tongkat Aria.


“Kenapa tuan tidak langsung turun tangan menghabisi Tumenggung Wirayuda? Bisik Saudagar Ming, takut suaranya terdengar oleh 2 orang pengawal yang ada di depan tempat mereka di kurung.


“Jika tadi aku membunuh Tumenggung Wirayuda, kalian semua akan mati,” jawab Aria.


“Apa benar yang kau katakan? aku jadi ragu kau mampu membunuh Tumenggung Wirayuda,” batin saudagar Ming.


Batangan besi yang besar dan rapat, agar mereka yang di kurung tidak bisa keluar melarikan diri, belum lagi pengawal yang siap sedia berdiri di depan kurungan, begitu ada gerakan mencurigakan, pengawal akan memberi tanda sehingga para pengawal lain akan segera datang membantu.


“Kalau sudah lewat tengah malam, tolong kau beritahu aku,” ucap Aria kepada Andini.


Andini anggukan kepala mendengar perkataan Aria.


Setelah berkata, Aria langsung pejamkan mata dan duduk bersila, lalu bercakap-cakap dengan Nyi Selasih.


“Suami harus hati-hati, banyak penangkal ghaib di rumah Tumenggung Wirayuda, yang membuat aku susah bebas bergerak,” nyi Selasih memberitahu suaminya tentang situasi di kediaman Tumenggung Wirayuda.


“Nyi Selasih diam saja, biar aku yang akan menghadapi Tumenggung Wirayuda,” ucap Aria.


“Nanti, lewat malam baru aku akan bergerak, apa di dalam rumah Tumenggung ada tokoh sakti selain Tumenggung Wirayuda? Tanya Aria.


“Hanya ada satu orang menurut penglihatan ku, yakni pendekar Rajawali hitam, tetapi aku tidak melihat keberadaan orang tua itu, sepertinya ia menutup dirinya dengan kabut kekuatan yang ia ciptakan untuk menutupi keberadaannya.


Saudagar Ming tampak gelisah di dalam penjara, dalam hati pedagang dari negeri Tiongkok itu menyesali kerjasama yang sudah ia sepakati dengan Aria Pilong.


Saudagar Ming kemudian berkata kepada Li Ho dengan bahasa asal mereka.


“Li Ho! Apa kau punya solusi untuk membantu kita keluar dari sini? Tanya Saudagar Ming dengan nada cemas.


“Tidak ada tuan, kita hanya bisa menunggu dan menjelaskan kepada Tumenggung Wirayuda,” balas Li Ho.


“Menyesal aku sudah menerima tawaran kerjasama dengan si buta,” ucap saudagar Ming sambil melirik ke arah Aria yang duduk bersila sambil pejamkan mata.


“Tuan! Menyesal sesudah kejadian tidak akan menolong kita mengatasi masalah ini, sebaiknya kita tunggu sampai kita di bebaskan, kemudian kita jelaskan kepada Tumenggung seperti yang sudah kita bicarakan di desa jatijajar,” kembali Li Ho berkata.


“Aku akan cerita kepada Tumenggung Wirayuda bahwa aku di ancam oleh pemuda buta itu untuk bekerja sama, aku juga akan bilang bahwa pemuda itu datang untuk membunuh Tumenggung,” ucap Ming Tao Lim dengan nada kesal.


“Apa Tumenggung Wirayuda mau percaya dengan perkataan tuan Ming? Lalu jika tuan membocorkan rencana tuan Aria, apa tuan akan selamat? Itu malah menambah rasa curiga terhadap Tumenggung Wirayuda kepada kita,” balas Li Ho.


“Jadi apa yang harus kulakukan? Tanya Saudagar Ming.

__ADS_1


“Kita hanya bisa menunggu, tuan,” jawab Li Ho.


“Coba kau lihat! Orang yang menggebu-gebu untuk membunuh malah duduk diam, tanpa ada usaha untuk keluar dari penjara ini,” saudagar Ming berkata dengan nada kesal, sambil melirik ke arah Aria Pilong yang tengah duduk sambil pejamkan mata.


Trang….Trang!


Seorang penjaga memukul batang besi penjara dengan golok, setelah terus mendengar celoteh saudagar Ming dengan bahasa yang ia tak mengerti.


“Diam! Ku bacok kau nanti, kalau masih saja berisik,” teriak si penjaga dengan nada bengis.


Saudagar Ming langsung diam mendengar perkataan Penjaga itu sambil melotot ke arahnya.


Setelah memaki saudagar Ming, penjaga itu lalu mengajak temannya duduk di sudut penjara.


“Bangsat! Berisik sekali si gendut, ingin rasanya ku bacok bibir si gendut itu,” ucap si prajurit dengan nada kesal sambil minum tuak yang ada di meja bersama teman yang dari tadi berdiri.


Waktu terus berlalu dan malam semakin larut, suara kentungan dari petugas jaga yang mengelilingi rumah terdengar.


Tok….Tok!


Andini yang duduk di dekat Aria berbisik.


“Kakak ketiga! Sudah lewat tengah malam,” bisik Andini.


Andini lalu menyampaikan pesan Aria.


Li Ho dan Li Mei langsung mendekati Aria.


“Tuan Li! Aku akan membunuh Tumenggung Wirayuda malam ini, Tuan Li, tuan Ming dan Saudari Li Mei, setelah keluar dari sini, langsung saja menuju ke arah gunung Kawi untuk bersembunyi, masalah barang dagangan nanti akan di pikirkan lagi,” bisik Aria.


“Tapi bagaimana kita bisa keluar dari penjara ini tuan? Tanya Li Ho.


“Aku akan mengeluarkan kalian dari sini,” jawab Aria.


Li Ho dan Li Mei kerutkan kening mendengar perkataan Aria, batangan besi baja penjara tempat mereka di kurung sangat kuat, jangankan mereka yang tidak mempunyai senjata, memakai senjata untuk memutus jeruji besi baja penjara juga satu hal yang tidak mungkin.


“Andini! Coba kau hitung jarak antara aku dengan kedua penjaga itu,” bisik Aria, karena kedua penjaga tidak mengeluarkan suara ( tidur ), membuat Ari tidak bisa memperhitungkan jarak dengan kedua penjaga itu.


Andini anggukan kepala, sementara Li Ho dan Li Mei hanya diam mendengarkan, karena mereka belum mengerti maksud dari perkataan Aria Pilong.


“Mereka berdua sekitar 4 tombak di sebelah kanan dari tempat kita duduk,” bisik Andini.


Baru saja Andini berkata.

__ADS_1


Tubuh Aria lenyap di antara mereka.


Li Ho sampai jingkrak begitu Aria lenyap di depannya, Sedangkan Li Mei mengeluarkan suara tertahan.


Dengan Ajian Rogo Demit, Aria menghilang dan sudah berdiri di antara kedua penjaga.


Lengan Aria meraba leher, kemudian tangannya mencekik salah seorang penjaga.


Krek!


Suara gemeretak patahnya tulang leher terdengar, satu penjaga langsung bangkit, tetapi ketika ia melihat Aria sudah berada di luar kurungan, si penjaga langsung menyambar golok yang ada di meja.


Whut….Krak!


Tangan Aria menghantam ke arah kepala penjaga, yang hendak mengambil golok.


Penjaga langsung tersungkur dengan kepala pecah, “kakak ketiga! Kunci kurungan tergantung di tembok di dekat meja,” ucap Andini.


Aria mengambil kunci, lalu memberikan kunci kepada Andini.


Penjara tempat mereka di kurung berada dalam ruangan yang terdapat beberapa pintu yang terbuat dari kayu jati, dan setiap pintu terdapat beberapa penjaga.


Saudagar Ming sampai menggosok mata beberapa kali dengan tangan setelah melihat Aria bisa menghilang.


“Kalian langsung saja pergi dari sini, jangan pikirkan harta, yang penting nyawa kalian selamat.”


Setelah keluar, kalian langsung pergi ke gunung Kawi, jika bertemu dengan kera yang bisa bicara, katakan saja kalian temanku dan sahabat Suketi,” ucap Aria.


Li Ho, saudagar Ming langsung anggukan kepala, mendengar perkataan Aria.


Sementara Li Mei masih menatap Aria, gadis itu masih tak percaya melihat Aria bisa menghilang.


Dengan ilmu Rogo Demit, Aria melewati setiap pintu, setelah melumpuhkan penjaga, Aria membuka pintu, begitu seterusnya sampai mereka keluar dari ruangan tempat mereka di kurung.


Setelah berada di luar, suara riuh terdengar dari gerbang rumah kediaman Tumenggung Wirayuda.


Aria kerutkan kening setelah mendengar teriakan orang yang suaranya ia kenal.


“Wirayuda keluar kau bangsat! Cepat katakan di mana Raden berada.”


Hmm!


Aria mendengus sambil berkata dalam hati.

__ADS_1


“Di suruh menunggu, malah datang ke sini.”


__ADS_2