Iblis Buta

Iblis Buta
Undangan Persahabatan


__ADS_3

“Apa maksud mu bukan manusia? Tanya I Gusti Wardana setelah mendengar perkataan Nahkoda kapal.


“Tuan panglima! Mereka sudah membunuh satu Elang raksasa, sampai pemimpin Elang yang ganas, si satu kaki kabur, sedangkan yang tuan panglima lihat pusaran air dan badai petir, wanita itu yang membuatnya, coba tuan panglima pikir, apa ada manusia yang mampu melakukan itu? Tanya Nahkoda kapal dengan raut wajah pucat, karena ingat janjinya kepada Aria untuk tidak menceritakan apa yang terjadi Kepada orang dari kerajaan Bali.


Tetapi Nahkoda kapal tidak tega kepada I Gusti Wardana, karena sang panglima orang baik dan selalu menjaga laut dari para perompak, sehingga mereka yang sehari hari bekerja di laut merasa aman.


“Pemuda yang sedang memeluk wanita, tidak dapat melihat, tetapi dia pemimpin rombongan,” Nahkoda kapal berkata pelan.


Melihat panglima masih saja diam, lanjut perkataan Nahkoda kapal.


“Kalau panglima pikir hamba berbohong, tuan panglima bisa menanyakan kejadian seperti yang hamba katakan kepada semua penumpang kapal, karena mereka semua melihat apa yang terjadi.”


Raut wajah I Gusti Wardana terkejut mendengar perkataan Nahkoda kapal.


Melihat pengawalnya hendak mencabut golok, I Gusti Wardana melesat, kemudian menarik tangan Tirta, sampai pengawalnya terpental ke belakang, kemudian berteriak kencang.


“Tunggu.”


Sri Buwana Dewi melepas pelukannya, matanya menatap tajam ke arah I Gusti Wardana, begitu pula dengan Aria, capingnya bergerak ke arah sang Panglima.


Buto Ijo maju selangkah, kemudian tangan kirinya menunjuk ke arah I Gusti Wardana.


“Kau ingin mati lebih dulu? Tanya Buto Ijo.


“Lancang, kau!? Teriak Tirta saat melihat Buto Ijo menunjuk ke arah sang majikan.


Pengawal I Gusti Wardana melesat, sambil goloknya menebas tangan kiri Buto Ijo.


Panglima laut kerajaan Bali terkejut dan tidak menyangka, Tirta akan menyerang Buto Ijo.


Hmm!


Buto Ijo mendengus sambil tarik tangan kiri, Tirta melihat musuh berhasil menghindar dari tebasannya, golok langsung meluncur ke arah kaki, berusaha menebas kaki kanan Buto Ijo yang selangkah berada di depan kaki kiri.


Shing!


Buto Ijo angkat kaki kanan menghindari tebasan, setelah golok Tirta lewat dan tak mengenai sasaran, Buto Ijo balas menyerang, tangan kanannya menghantam telak ke arah dada Tirta.


Buk….Byuur!


Tirta terpental sampai keluar dari kapal dan tercebur ke laut.


I Gusti Wardana terkejut, Tirta adalah pengawalnya yang ber ilmu tinggi dan bertenaga besar, tetapi sekali hantam sampai terpental ke laut.


Para prajurit anak buah Tirta langsung melihat ke arah jatuhnya pemimpin mereka, tetapi tubuh sang pemimpin tidak muncul kembali.


“Tunggu….tunggu dulu kisanak! Seru I Gusti Wardana.


“Ini hanya salah paham.”


Lanjut perkataan I Gusti Wardana.


“Aku hanya ingin berterima kasih, karena Tuan sudah membunuh Elang raksasa yang selalu mengganggu para nelayan akhir-akhir ini.”


Anak buah I Gusti Wardana terkejut mendengar perkataan sang pemimpin, bahwa rombongan yang berada di depan mereka, sudah membunuh Elang raksasa yang sangat di takuti oleh para nelayan.


Hmm!


Aria mendengus mendengar perkataan I Gusti Wardana.

__ADS_1


Nahkoda kapal penyeberangan baru saja berdiri, langsung menekuk kedua kaki dan bersimpuh di depan Aria setelah mendengar suara dengusan pemuda bercaping itu.


“Hamba siap menerima hukuman karena melanggar janji untuk tidak membuka rahasia, bahwa tuan pendekar yang membunuh Elang raksasa.


“Tetapi hamba melakukan ini, karena tidak ingin rombongan tuan pendekar bentrok dengan panglima laut I Gusti Wardana.


“Panglima I Gusti Wardana orang baik yang selalu melindungi nelayan dan kapal penyeberangan seperti kami dari para perompak, hamba siap mati! Jika tuan pendekar mau melepaskan panglima I Gusti Wardana.


Mendengar Nahkoda kapal sudah membocorkan rahasia, Buto Ijo melangkah mendekati Nahkoda kapal, ketika tangannya terangkat hendak menghantam, Aria Pilong berkata.


“Mundur!


Mendengar suara Aria, Buto Ijo mundur.


“Maaf kan kami tuan pendekar, kami tidak ada maksud apa-apa, kami hanya ingin berterima kasih karena tuan pendekar sudah membunuh Elang raksasa yang sudah meresahkan masyarakat Bali,” I Gusti Wardana angkat bicara setelah mendengar perkataan Aria.


“Tuan panglima tidak usah berterima kasih, aku membunuh Elang itu karena binatang itu memang musuh kami,” balas Aria.


I Gusti Wardana terkejut mendengar perkataan Aria, kemudian bertanya.


“Apa keluarga tuan ada yang menjadi korban Raja Elang?


Phuih!


“Korban matamu! Elang busuk itu yang selalu kabur jika bertempur denganku,


“Elang busuk yang kabur, kakinya buntung karena aku makan begitu pula dengan salah satu pemiliknya,” Buto Ijo angkat bicara karena kesal mendengar perkataan I Gusti Wardana.


Suketi langsung memberikan kacang kepada Buto Ijo setelah kekasihnya selesai bicara.


Phuih!


“Ntos, Ki! Seru Ujang Beurit mendengar ucapan Wangsa.


Suasana langsung gempar mendengar perkataan Buto Ijo.


Aria hanya bisa menarik napas setelah mendengar Buto Ijo membuka rahasia.


“Aku memang sedang mencari pemilik Elang raksasa, ia biasa di sebut Elang Jantan, Ketua padepokan Elang emas.” Aria akhirnya berkata.


Padepokan elang emas memang partai tertutup, karena terdiri dari orang-orang buronan kerajaan.


Baru sekarang setelah ada dukungan dari Ki Banyu Alas mereka berani menampakkan diri secara terbuka.


“Aku pernah mendengar tentang padepokan Elang emas, tetapi tidak tahu siapa ketuanya.


“Prabu Anak Wungsu, sudah mengutus telik sandi handal untuk mencari sarang Elang raksasa di pulau Bali, karena sang Prabu yakin, sarang binatang laknat itu berada di tempat kami,” balas I Gusti Wardana.


“Rupanya dia tidak mengenal Elang jantan,” batin Aria.


Lanjut perkataan I Gusti Wardana.


“Kalau tuan pendekar berkenan, aku mewakili Prabu Anak Wungsu, penguasa Istana Tampak Siring, mengundang tuan pendekar beserta rombongan untuk berkunjung ke tempat kami, Prabu Anak Wungsu pasti akan senang berkenalan dengan tuan pendekar.”


Aria diam tak menjawab perkataan I Gusti Wardana.


“Bagaimana tuan? Kembali I Gusti Wardana berkata setelah agak lama tidak mendengar jawaban Aria.


“Ketua! Musuh kita adalah sejenis Elang gunung, jika di pulau Bali ada gunung berapi, aku yakin disana sarang Elang raksasa, karena Elang raksasa butuh tempat yang luas untuk tempat istirahat memulihkan tenaga,” Selamet ikut bicara.

__ADS_1


Di pulau Bali memang ada gunung berapi, tetapi gunung tersebut di anggap suci oleh penduduk di pulau Bali.


“Gunung apa namanya? Tanya Aria.


“Gunung Agung, tuan pendekar,” jawab I Gusti Wardana.


“Mana ada gunung yang suci, kalau orang suci baru ada,” Buto Ijo berkata.


“Gunung Agung dipercaya oleh penduduk sebagai penjaga keseimbangan pulau Bali, tuan,” I Gusti Wardana membalas perkataan Buto Ijo.


“Buwana Dewi dan Suketi, baru suci,” ucap Buto Ijo tak mau kalah.


Phuih!


“Suci….Suketi Cineur ( Suketi kecil ), Wangsa berkata setelah mendengar ucapan Buto Ijo.


“Apa artinya, Jang? Buto Ijo bertanya kepada Ujang Beurit saat mendengar kata-kata yang tidak ia mengerti, keluar dari mulut Wangsa.


“Suketi cantik, paman,” balas Ujang Beurit.


“Tidak kusangka akhirnya kau mengakui juga, So! Buto Ijo berkata setelah mendengar arti dari Ujang Beurit.


“Te hayang,” ucap Wangsa sambil tersenyum mengejek.


“Artinya, Jang? Buto Ijo bertanya.


Setiap Wangsa Meledek Buto Ijo dengan bahasa Pasundan, Ujang Beurit harus mencari kata-kata mirip dan pas untuk meng artikan, supaya kata ledekan menjadi pujian agar mereka tidak bertengkar.


“Jang….? Buto Ijo berkata kembali setelah tidak mendengar ada suara keluar dari mulut Ujang Beurit.


“Artinya, Paman sampai mabuk kepayang,” jawab Ujang Beurit.


Senyum tampak di bibir Buto Ijo, mendengar perkataan Ujang Beurit.


Wangsa tidak menanggapi, karena ingin mendengar keputusan Aria.


Aria memang butuh tempat nyaman untuk istirahat, tenaga Buwana Dewi terkuras sewaktu mengeluarkan Ajian Banyu Weling, wajahnya terlihat pucat.


Jika benar perkataan Nahkoda kapal, itu artinya kerajaan Bali tempat yang nyaman untuk istirahat, sambil mempersiapkan diri memburu Elang kaki satu serta Elang jantan yang pasti tidak jauh dari tempat peliharaannya.


“Baik! Aku terima undangan persahabatan dari tuan panglima.


“Aku akan membantu Prabu Anak Wungsu membasmi Elang raksasa, yang Sudah meneror penduduk.


“Kami tidak akan mengotori Gunung Agung jika Elang kaki satu tidak ada di sana.


“Tetapi jika Elang kaki satu dan majikannya berdiam di Gunung Agung, Kami akan membunuhnya, karena mereka sudah mengotori gunung yang kalian anggap suci.


Panglima Laut I Gusti Wardana anggukan kepala dan merasa senang, mendengar Aria mau membantu dan juga menghargai adat serta kepercayaan yang mereka anut.


“Mari Silahkan pindah ke kapal ku supaya lebih cepat sampai dan bertemu dengan Prabu Anak Wungsu,” I Gusti Wardana mempersilahkan Aria naik ke kapal perang miliknya.


“Kau harus segera istirahat,” Aria berkata setelah mendengar tarikan napas Buwana Dewi.


“Iya kakang! Badan ku Letih sekali,” ucap Buwana Dewi.


Aria lalu memegang tangan Buwana Dewi.


Buwana Dewi langsung balas menggengam, kemudian berbisik sambil mendesah di telinga Aria.

__ADS_1


“Temani Buwana Dewi istirahat di kamar.”


__ADS_2