
Semakin lama, omongan Buto Ijo dan Wangsa membuat kuping Ki Banyu Alas panas.
Kemarahan Ki Banyu Alas tidak bisa di tahan lagi setelah mendengar Buto Ijo berkata, gulai kepala Kerbau.
Kaki kanannya dengan ajian gebrak Bumi menghantam lantai ruangan istana yang terbuat dari batu pualam yang keras.
Brak….Krak!
Lantai istana retak, istana tampak siring juga bergetar akibat kuatnya tenaga dalam yang di keluarkan oleh Ki Banyu Alas.
“Diam kau!? Teriak Ki Banyu Alas, mata kerbaunya merah menyala menatap Buto Ijo dan Wangsa bergantian.
“Marah, Jo! Seru Wangsa.
“Mungkin dia lapar, So! Balas Buto ijo, kemudian lanjut berkata, “cepat ambil makanan! Biar diam.”
Wangsa menyambar makanan berupa paha ayam yang masih banyak terdapat di meja, kemudian memberikannya kepada Buto Ijo.
Buto Ijo setelah menerima paha ayam, lalu membolak-balik, tak lama kemudian memakan paha ayam pemberian Wangsa.
“Kenapa kau yang makan? Tanya Wangsa.
“Dasar tolol! Mereka kerbau, tidak mungkin mau dengan paha ayam yang kau berikan, “cepat kau cari makanan untuk mereka.” Buto ijo berkata sambil menjawab pertanyaan Wangsa.
“Apa yang harus aku cari? Tanya Wangsa.
“Tentu saja Rumpuuuut, toloool! Apa kau pernah lihat, Kerbau makan ayam bakar dan minum dawet.
Bhua….Ha Ha Ha
Keduanya lalu tertawa bersama setelah bercakap cakap.
Prabu Anak Wungsu serta pejabat kerajaan hanya bisa gelengkan kepala mendengar olok-olok anak buah Aria, sudah jelas tadi raksasa bertubuh hijau itu, sekali kibas sampai terpental dan muntah darah, tetapi seperti tidak takut dan terus meledek Ki Banyu Alas yang dari tadi sudah sangat marah mendengar ejekan mereka berdua.
Belum sempat Buto Ijo berkata, Ki Banyu Alas melesat dan kakinya menghantam ke arah pinggang Buto Ijo.
Gerakan Ki Banyu Alas yang sangat cepat, membuat Buto Ijo tak bisa menghindar, tubuhnya terpental dan menghantam salah satu tiang istana, sehingga berderak.
Suketi melihat suaminya dua kali terkena serangan Ki Banyu Alas tubuhnya berubah menjadi besar, ketika hendak menyerang.
Buwana Dewi melihat mata Ki Banyu Alas semakin merah menyala, kemudian berteriak.
“Hentikan!
Buwana Dewi tahu, Suketi bukan tandingan Ki Banyu Alas, jika Suketi menyerang, hanya mencari mati.
Tetapi Ki Banyu Alas tidak peduli dengan teriakan putrinya, melihat Suketi diam.
Ki Banyu Alas melesat, kepalannya sudah berubah merah menggunakan ajian Lahar Bumi.
Melihat Suketi dalam bahaya, Aria langsung melesat, tangan kirinya dengan ajian Cakra candhikalla berusaha menahan.
Plak!
Aria terdorong mundur dua langkah, Ki Banyu Alas semakin bengis melihat Aria bisa menahan ajian Lahar bumi miliknya.
Kembali tubuh Ki Banyu Alas melesat memburu ke arah Aria, tangan kanan mengincar dada Aria Pilong.
Aria menggeser tubuhnya ke kiri, tetapi tanpa di duga, kepala Ki Banyu Alas bergerak ke arah bahu kanan Aria.
__ADS_1
Bret!
Tanduk yang ada di kepala Ki Banyu Alas, langsung merobek bahu Aria Pilong.
Aria langsung mundur, setelah bahunya terkena sabeta tanduk Ki Banyu Alas.
Darah tampak mengucur membasahi baju pengantin Aria.
Sinar kuning ke emasan di mata Aria tampak bersinar, tanda hatinya mulai kesal dan tenaga dalam yang di kerahkan mulai berlipat bersiap menyerang Ki Banyu Alas.
“Apa aku harus menyerang Ki Banyu Alas dengan sungguh-sungguh, lantas bagaimana nantinya dengan Buwana Dewi,” pikiran itu yang selalu terbersit di kepala Aria.
Kedua tangan Ki Banyu Alas yang mengepal berwarna merah sudah sia dan menunggu Aria menyerang.
Aria tancapkan tongkatnya ke tanah, sambil bersiap melancarkan ajian Rengkah gunung.
Sedangkan Buwana Dewi menatap cemas, ke arah keduanya, biarpun Ki Banyu Alas tidak seperti yang ia harapkan, tetapi ikatan batin antara anak dan orang tua tetap ada dan ikatan itulah yang membuat Buwana Dewi cemas.
Hiaaat!
Teriakan Aria terdengar, saat tangan kirinya menghantam ke lantai istana Tampak Siring.
Bayangan putih melesat cepat ke arah Ki Banyu Alas.
Hmm!
“Ajian Rengkah gunung, boleh juga! Seru Ki Banyu Alas.
Saat bayangan putih hendak menghantam, tubuh Ki Banyu Alas melesat menghindari serangan Aji Rengkah gunung, setelah berhasil menghindar, Ki Banyu Alas Balas menyerang dengan menghantam bahu Aria Pilong, dengan ajian Lahar bumi.
Dua sinar merah melesat, saat tangan kiri menghantam, Aria menangkisnya tetapi setelah menangkis, tangan kanan Banyu Alas tanpa di sangka oleh Aria menghantam bahu nya.
Bahu yang berbatasan dengan tangan hancur terkena ajian Lahar bumi, Aria kembali undurkan diri, saat bahunya terasa sakit, putusan tangan Aria jatuh ke lantai.
Prabu Anak Wungsu menatap sedih melihat dari bahu pemuda yang telah menolong negaranya, terus menyembur darah segar, Putusan lengan si pemuda juga terlihat, tetapi wajah sedih Prabu Anak Wungsu beralih menjadi kagum, saat putusan tangan di lantai istana bergerak-gerak, kemudian mulai menyatu dengan bahu yang menjadi tempatnya.
Tangan kiri Aria mengusap-usap bahunya yang sudah pulih kembali, kemudian berkata kepada Ki Banyu Alas.
“Mari kita lanjutkan kembali,” ucap Aria Pilong.
Hmm!
“Rupanya kau punya ajian Pancasona, pantas saja kau sombong, asal kau tahu! Tidak ada kata takut dalam hatiku, mari kita buktikan siapa yang pantas berdiri di atas tanah Jawa.
Ki Banyu Alas pasang kuda-kuda, lalu bersiap.
Setelah tangannya yang putus sudah pulih kembali, Aria mengambil tongkat dan mengalirkan ajian Cakra Candhikkala kedalam tongkat, perlahan tongkat Aria mengeluarkan cahaya, seiring masuknya kekuatan.
Lenguhan panjang layaknya se ekor kerbau terdengar keluar dari mulut Ki Banyu Alas, tubuhnya melesat sambil kepalannya menghantam ke arah kepala Aria Pilong.
Aria geser tubuhya dan menarik kepala, menghindari serangan Ki Banyu Alas, kemudian dengan jurus tongkat sedha gitik, Aria balas menyerang dengan menyabet tangan kiri Ki Banyu Alas.
Whut!
Tangan kanan Ki Banyu Alas balik menghantam badan tongkat, sedangkan kepalan tangan kiri langsung terbuka dan siap menyarangkan pukulan.
Tak!
Setelah tongkatnya terpental, Aria merasakan Aura tenaga dalam menyerang, tangan kiri balas menghantam.
__ADS_1
Plak!
Kedua tangan bertemu, kaki kanan Ki Banyu Alas melangkah maju, berusaha menekan.
Aria hentakan kaki kiri, berusaha menahan dorongan Ki Banyu Alas.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung Ki Banyu Alas, melihat pemuda buta di depannya masih bisa menahan dorongan tenaga dalam yang ia kerahkan melalui telapak kiri.
Ki Banyu Alas kembali mendorong sambil meng hentakan kaki, kali ini Ki Banyu Alas mengerahkan segenap kekuatan tenaga dalam, karena ia penasaran seberapa tinggi tenaga dalam Iblis Buta yang umurnya jauh berada di bawahnya.
Aria terus menahan, tetapi sewaktu Ki Banyu Alas hentakan kaki, Aria terhuyung mundur dua langkah, kedua telapak mereka terlepas.
Ki Banyu Alas tak mau membuang kesempatan melihat Aria mundur, ia kembali menyerang dengan menghantam ke arah dada Aria.
“Kenapa dia tersenyum? Ki Banyu Alas berkata dalam hati, melihat telapak tangannya akan menghantam dada, tetapi musuh yang akan ia hantam malah tersenyum.
“Celaka! Seru Ki Banyu Alas setelah tangan kanannya menghantam angin, karena Aria sudah tidak berada di depannya.
Aria sudah tahu serangan Ki Banyu Alas dan tidak menghindar, karena setelah jarak mereka dekat, Aria menggunakan Aji Rogo Demit untuk berpindah tempat ke belakang Ki Banyu Alas.
Senyum dingin terlihat di bibir Aria setelah berada di belakang tubuh Ki Banyu Alas, tongkatnya perlahan di angkat ke atas, setelah merasa tempat yang di tuju sudah tepat, tongkat melesat menyabet leher Ki Banyu Alas dari belakang.
Crash!
Kepala Ki Banyu Alas yang berupa kerbau langsung menggelinding, jatuh ke lantai istana Tampak Siring.
“Ayah!? Teriak Buwana Dewi, melihat kepala Ayahnya terlepas dari badan, air mata mengucur deras membasahi pipi.
Aria tertegun mendengar teriakan Buwana Dewi, hatinya menyesal telah membunuh Ki Banyu Alas.
Setelah Buwana Dewi teriak, suasana di ruangan langsung hening, semua mata tertuju ke arah tubuh Ki Banyu Alas yang masih tegak berdiri, sedangkan kepala Ki Banyu Alas berada tak jauh dari tempat tubuhnya berdiri.
“Kenapa diam,Jo? Tanya Wangsa
“Memangnya apa yang harus ku lakukan? Jawab Buto Ijo sambil balik bertanya.
“Bukankah tadi kau bilang, akan masak gulai kepala kerbau,” balas Wangsa, kemudian lanjut berkata.
“Cepat ambil kepala Ki Banyu Alas, lalu rebus di kuali.”
“Kau saja yang ambil,” balas Buto Ijo.
“Aneh! Kepalanya sudah putus, tetapi kenapa matanya masih saja bergerak-gerak,” kembali Buto Ijo berkata.
Wangsa terkejut mendengar perkataan Buto Ijo, karena dia tidak memperhatikan kepala Ki Banyu Alas, melainkan menatap tubuh Ki Banyu Alas yang masih tegak berdiri, walau kepalanya sudah putus.
Setelah mendengar perkataan Buto Ijo, Wangsa lalu memperhatikan kepala Ki Banyu Alas.
Raut Wajah Wangsa terkejut, ketika melihat mata Ki Banyu Alas berkedip.
Bukan hanya Wangsa yang terkejut, mereka yang ada di dalam ruangan juga mengeluarkan seruan tertahan, setelah melihat badan Ki Banyu Alas yang tanpa kepala, perlahan membungkuk sambil tangannya meraba-raba, setelah menemukan kepalanya, Tangan Ki Banyu Alas mengambil, kemudian memasangkan kepalanya ke leher.
Roman Wajah Wangsa tampak cemas sambil terus menatap Ki Banyu Alas yang tengah menyambungkan kepalanya.
Dari bibir Wangsa keluar suara pelan, melihat Ki Banyu Alas hidup kembali.
“Aji Rawarontek”
__ADS_1