
Resi Larang Tapa mundur kembali, melihat aura yang keluar dari tubuh Aria semakin lama semakin besar.
“Aura ini adalah aura milik Naga langit! Apa benar ucapan Selasih, bahwa pemuda itu adalah titisan Naga Langit,” batin Resi Larang Tapa.
Sedangkan Aria setelah teriak, merasakan tenaganya semakin lama semakin besar.
Aria melesat ke arah Resi Larang Tapa dan menghantam ke arah bahu sang resi.
Blam!
Suara ledakan terdengar, saat pukulan Aria bertemu dengan pukulan yang di pakai oleh Resi Larang tapa untuk menangkis serangannya.
Aria dan Resi Larang tapa sama-sama mundur selangkah setelah kedua tangan mereka bertemu.
Sedangkan Sura kendil, Wiratama serta beberapa murid ketiga padepokan mundur menjauh, karena takut terkena pukulan nyasar dari mereka yang sedang bertempur.
Setelah tahu dirinya ikut terdorong mundur, Resi Larang tapa sangat gusar, kemudian tubuhnya melesat seperti angin, lalu tangan kanan menghantam ke arah kepala Aria Pilong.
Aria saat merasakan desir angin menuju ke arah kepala, langsung tundukkan kepala, menghindari serangan Resi Larang tapa.
Whut!
Pukulan Sang Resi lewat di atas kepala, Aria merasakan angin tajam dari pukulan sang resi, seperti menyayat kulit kepalanya.
Telapak tangan kiri menghantam ke arah perut setelah pukulan kanan berhasil di hindari.
Plak!
Aria menangkis dengan tangan kiri, hantaman Resi Larang tapa, suara ledakan terdengar, kembali Aria dan Resi Larang tapa sama-sama mundur.
“Anak muda, ilmu yang di miliki oleh Larang tapa bersumber dari petir dan cahaya, jika kau tidak melihat kemana Larang Tapa bergerak, jangan harap kau bisa memenangi pertempuran,”
Aria kerutkan kening mendengar suara yang terngiang di telinganya, dan Aria tak bisa memastikan darimana suara itu berasal, tetapi Aria langsung menjawab suara itu.
“Aku tak bisa melihat kisanak! Apakah ada cara lain untuk mengalahkan Resi Larang tapa? Tanya Aria.
“Jika kau buta malah lebih bagus lagi, kau bisa merasakan tarikan napas dari Larang tapa,” balas suara itu.
“Aku bisa merasakan napas dan serangan Resi, tetapi entah sampai kapan aku bisa bertahan, karena Resi itu bergerak semakin lama semakin cepat,” jawab Aria.
“Tarik kekuatanku ku yang ada di dalam dirimu, kemudian salurkan ke arah mata, jika kau dapat melihat sinar putih yang melesat, sinar putih itu adalah Larang tapa yang menggunakan Ajian Kilat Bayu,” kembali suara itu berkata.
“Jadi….jadi kisanak ada di dalam tubuhku? Siapa kisanak, kenapa bisa berada di dalam tubuhku? Tanya Aria.
“Nanti saja kalau mau bertanya, karena sekarang bukan saat yang tepat, karena musuh yang kita hadapi bukan tokoh sembarangan,” balas suara misterius itu.
Sebelum Aria melakukan apa yang diminta suara misterius itu, suara itu berkata kembali.
“Ajian terhebat apa yang kau punya? Tanya suara itu.
“Ajian Cakra Candhikkala,” jawab Aria.
“Apa….! Ajian Cakra Candhikkala,” suara yang terdengar seperti terkejut mendengar perkataan Aria.
“Pakai ajian itu untuk menghadap Larang tapa,” lanjut perkataan suara itu.
Aria kemudian berusaha angkat tangannya, dari bawah ke atas, kemudian dari atas ke bawah, tetapi tidak ada hal apapun yang terjadi.
__ADS_1
Suara desiran angin terdengar semakin dekat, Aria yang sedang berusaha menyatukan kekuatan, tak sempat menghindar saat tangan Resi Larang tapa menyambar ke arah perutnya.
Buk….Hoaks!
Aria terpental, darah menyembur dari mulut pemuda itu, Buto Ijo melihat Aria terpental, langsung memburu pemuda itu, kemudian berdiri di depan pemuda itu, berjaga-jaga apabila Aria di serang lagi oleh Resi Larang tapa.
Phuih!
“Sudah tahu aku terjungkal, bukannya di bantu berdiri, malah diam saja,” ucap Aria saat merasakan kehadiran Buto Ijo, tanpa membantu dirinya.
Resi Larang tapa setelah menghantam perut Aria dengan Ajian gelap bumi, hanya menatap dengan wajah heran, karena pemuda itu masih bisa berdiri.
“Gila! Siapa pemuda itu, dia masih bisa berdiri setelah menerima dua pukulan Aji gelap bumi,” batin Larang Tapa.
Setelah Aria berdiri, suara dengan nada kesal kembali terdengar di telinga Aria.
“Apa yang kau lakukan, tangan naik turun, turun naik? Tanya suara itu.
“Aku berusaha menyatukan kekuatan seperti yang kau katakan tadi,” balas Aria.
“Bukan seperti itu! Suara itu menjawab.
“Aku mana tahu, memangnya kau pernah mengajari aku? Balas Aria dengan nada kesal.
Sura Kendil dan Wiratama hanya bisa leletkan lidah, melihat kecepatan Resi Larang tapa, karena mereka tidak melihat Resi itu bergerak, mereka hanya melihat setelah sang Resi sampai di tempat orang yang dia incar.
“Kau pusatkan perhatianmu, angkat Qodam ( kekuatan ) yang ada di dalam tubuhmu, satukan dengan kekuatan yang kau miliki, setelah bersatu, sebagian kekuatan kau arah kan ke mata, sementara sisanya kau salurkan melalui ajian Cakra Candhikkala.
“Cepat lakukan apa yang tadi aku katakan, sebelum Larang tapa menyerang lagi.”
Setiap Resi Larang tapa menyerang dan menghantam Aria, mahluk yang berada di dalam tubuh pemuda itu selalu berusaha menahan dengan kekuatannya, agar Aria tidak terluka parah terkena pukulan ajian gelap bumi.
Resi Larang tapa melihat Aria hanya diam berdiri, sementara aura yang keluar dari dalam tubuh pemuda itu terlihat semakin lama semakin besar, terkejut, kemudian bersiap melancarkan serangan.
“Celaka! Jika tidak ku bunuh sekarang, pemuda ini ke depannya pasti akan menjadi batu sandungan buat rencana Raden Singalodra,” Resi Larang tapa berkata dalam hati.
Resi Larang tapa melesat, tiba-tiba tubuhnya lenyap setelah menggunakan ajian kilat Bayu.
“Sekarang! Teriak suara di telinga Aria Pilong.
Mata di balik caping bersinar, kali ini Aria melihat kilatan sinar berwarna putih bergerak sangat cepat ke arahnya.
Setelah berhasil melihat sinar putih yang di yakini adalah gerakan Resi Larang tapa.
Aria Pilong menyiapkan Ajian Cakra Candhikkala, untuk menahan ajian gelap bumi, setelah melihat sinar putih sampai di depannya.
Saat tangan Resi Larang tapa menghantam ke arah kepala Aria Pilong. Pemuda itu dengan ajian Cakra Candhikkala balas menghantam.
Resi Larang tapa terkejut melihat bulatan sinar berwarna kemerahan di tangan Aria Pilong.
“Ajian Cakra Candhikkala,” suara pelan terdengar dari mulut sang Resi.
lalu kedua tangan beradu, menimbulkan suara dahsyat, setelah kedua ajian sakti bertemu.
Blam!
Kali ini Resi Larang tapa mundur dua langkah, sambil langkahnya terhuyung, setelah beradu pukulan.
__ADS_1
Sedangkan Aria masih tetap berdiri tanpa bergeming, tetapi dari mulutnya menyembur darah segar, dada Aria terasa semakin sesak.
“Tidak salah lagi, rupanya pemuda ini memang titisan Naga Langit, dan juga Murid dari kakang Lanang jagat,” batin Resi Larang tapa.
Melihat darah menyembur dari mulut Aria, Resi Larang tapa tampak beringas, tatapan matanya semakin bengis, setelah menyadari siapa pemuda yang dia hadapi.
“Ajian gelap bumi memang bisa kau tahan dengan Cakra Candhikkala, tetapi kilat Bayu milikku, jarang ada orang yang mampu melihat pergerakanku,” Resi Larang tapa berkata dalam hati, setelah berpikir bahwa tangkisan Aria Pilong yang berhasil menahan serangannya hanya suatu kebetulan.
Suasana di sekitar tempat pertempuran semakin tegang, setelah Resi Larang tapa berhasil di buat mundur oleh Aria Pilong.
Wajah Resi Larang tapa kali ini terlihat serius, kaki kanannya menjejak bumi sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan.
Aria kembali memusatkan perhatian, tetapi sinar yang Aria lihat kali ini sangat cepat lebih dari pertama.
Sebelum menyerang, Resi Larang tapa berputar-putar di sekitar Aria Pilong yang berdiri tegap.
Aria memusatkan pikiran dan terus menatap ke arah sinar Putih yang berputar cepat di depannya.
Setelah dirasa cukup mengecoh sang musuh, Resi Larang tapa setelah puas berputar-putar, kemudian bergerak ke depan setelah merasa musuhnya tidak akan bisa melihat pergerakannya.
Telapak tangan Resi Larang tapa tegak lurus ke depan, menghantam ke arah dada Aria Pilong dengan ajian gelap bumi.
Blar!
Raut wajah Resi Larang tapa terkejut setelah menyadari pukulannya menghantam tempat kosong.
Aria memang tak begitu jelas melihat pergerakan Resi Larang tapa saking cepatnya gerakan sang resi di bantu oleh Ajian Kilat Bayu.
Tetapi saat Resi Larang tapa berada di depan Aria, pemuda itu bisa mendengar suara desah napas sang Resi, sehingga langsung bergerak ke arah kanan.
Setelah berhasil menghindari serangan Resi Larang tapa, dengan ajian Cakra Candhikkala, Aria Pilong balas menghantam pinggang sang Resi.
Buk….aaagggrh!
Jeritan lirih terdengar dari mulut Resi Larang tapa, setelah pinggangnya terkena ajian Cakra Candhikkala, tubuh Resi Larang tapa terpental, dari mulutnya menyembur darah segar.
Resi Larang tapa berusaha berdiri, setelah berdiri sambil terhuyung-huyung, Resi Larang tapa menatap Aria dengan sorot mata penuh dendam.
“Keparat! Jika tidak di bantu Naga langit, pemuda itu sudah ku bunuh,” batin Resi Larang tapa.
Wiratama serta Sura kendil langsung memburu ke arah Resi Larang tapa, tetapi kibasan tangan sang Resi yang tengah kesal, melemparkan kedua ketua padepokan.
Setelah membuat ketua padepokan Baju merah dan Tombak Ireng terpental, Resi Larang tapa kemudian melesat pergi.
Setelah Resi Larang tapa pergi, Aria langsung jatuh terduduk, tenaganya habis terkuras, jika saja Resi Larang tapa melancarkan serangan, dapat dipastikan Aria bisa tewas karena tak mampu menahan.
Buto Ijo menyeringai sambil menatap kedua Ketua padepokan yang tengah berusaha berdiri, kemudian Buto Ijo menghampiri dan menghantam kepala Wiratama.
Prak!
Wiratama langsung tewas, Sura kendil melihat sekutunya tewas, berusaha bangkit menjauh dari Buto Ijo, tetapi Buto Ijo lebih cepat, kedua tangannya langsung meraih pinggang Sura kendil, mengangkat tubuh Sura kendil, lalu mematahkan pinggang Sura kendil, dengan memakai kaki sebagai tumpuan.
Krak!
Mata Sura kendil melotot, saat pinggangnya bertemu dengkul Buto Ijo, tak lama kemudian Sura kendil terpejam setelah nyawanya pergi meninggalkan badan.
Setelah berhasil menewaskan kedua ketua padepokan Baju merah dan Tombak terbang, Buto Ijo menghampiri Aria, Buto Ijo berdiri di dekat Aria, melindungi pemuda itu jika ada musuh menyerang, kemudian berkata kepada Aria.
__ADS_1
“Raden! Mohon ijin untuk membunuh Wiratama dan Sura kendil.”