
Setelah Wangsa Pergi memberi laporan kepada Aria, Buto Ijo bersiap menghadapi Nyoman Sidharta yang sudah berubah wujud setelah merapalkan mantra Tantra.
Tubuh Nyoman Sidharta yang kurus sudah berubah menjadi sebesar Buto Ijo, semua otot di tubuhnya mengembang dan terlihat lebih kekar dari Buto Ijo.
Phuih!
“Ilmu apa yang kau pakai sehingga wujudmu bisa berubah menyeramkan seperti itu? Tanya Buto Ijo.
Nyoman Sidharta tidak menjawab, tetapi kepalanya bergerak ke arah Prabu Anak Wungsu.
Setelah melihat Prabu Anak Wungsu, dendamnya kembali membara dan langsung menyerang, tanpa memperdulikan Buto Ijo.
Whut!
Buto Ijo ketika melihat Nyoman Sidharta menoleh ke arah Prabu Anak Wungsu, ia sudah mengira musuhnya pasti menyerang, Buto Ijo melesat lebih cepat, sambil lompat, kaki Buto Ijo menendang punggung Nyoman Sidharta.
Buk!
Nyoman sidharta langsung tersungkur, tetapi tidak lama, tubuhnya bangkit dan langsung menghantam dada Buto Ijo yang baru saja sampai.
Buk!
Kali ini Buto Ijo yang terpental terkena hantaman Nyoman Sidharta.
Buto ijo langsung berdiri, senyum terlihat dari bibirnya.
“Keras juga pukulanmu,” ucap Buto ijo.
“Mau lagi? Tanya Nyoman Sidharta.
Phuih!
“Sini….maju kau, dasar raksasa keparat! Seru Buto ijo.
“Kau juga raksasa, artinya kau juga keparat,” balas Nyoman Sidharta.
Mendengar perkataan Nyoman Sidharta, Buto ijo tak mau lagi berkata, tubuhnya langsung melesat dan berusaha menubruk Nyoman Sidharta.
Sang Patih belum tahu tenaga sebenarnya dari Buto ijo dan tak mau gegabah, setelah melihat musuhnya berusaha menubruk, Nyoman Sidharta mundur menghindar, kemudian kakinya langsung menendang pinggang Buto ijo yang tengah kalap.
Buk!
Buto Ijo terhuyung terkena tendangan Nyoman Sidharta.
Nyoman Sidharta melihat Buto Ijo terhuyung, kemudian memburu, lalu menangkap bahu Buto Ijo.
Tap!
Setelah menangkap bahu, Nyoman Sidharta berusaha menarik tubuh Buto Ijo agar mendekat sambil mulutnya terbuka, siap menggigit dan memutuskan urat leher dengan giginya yang besar.
Buto Ijo yang tak mau lehernya di gigit, tangan kanan bergerak menutupi lehernya.
Crep!
Kedua taring Nyoman Sidharta menancap di pangkal lengan Buto Ijo.
Nyoman Sidharta terkejut, karena Buto Ijo mengorbankan lengannya untuk menutupi Leher dari gigitannya.
Saat Nyoman Sidharta hendak mencabut giginya yang menancap di pangkal lengan.
Tangan kiri Buto Ijo terlebih dahulu menjambak rambut Nyoman Sidharta, kemudian menarik kepala musuh, sehingga gigitan pada pangkal lengannya terlepas, tangan kanan Buto Ijo yang masih mengeluarkan darah langsung menonjok hidung Nyoman Sidharta.
Plak….****!
Suara hidung yang melesak dan darah menyembur dari hidung Nyoman Sidharta, membuat mantan patih tersebut menjerit.
Nyoman Sidharta berusaha melepaskan rambutnya yang di Jambak, dengan memukul perut Buto Ijo.
Buk!
Bibir Buto Ijo tampak meringis menahan sakit, akibat hantaman Nyoman Sidharta, tetapi jambakan tangan Buto Ijo tidak ia lepaskan, sambil menahan sakit Buto Ijo menarik kembali kepala Nyoman Sidharta mendekat, ketika akan menghantam hidung, niat Buto Ijo di batalkan karena hidung Nyoman Sidharta masi menyemburkan darah segar.
“Nanti tanganku kotor,” batin Buto Ijo, kemudian menghantam kening Nyoman Sidharta dengan tinjunya.
Plak!
Mata Nyoman Sidharta berputar saat keningnya terkena tinju Buto Ijo, saking sakitnya tinju Buto Ijo di rasakan oleh Nyoman Sidharta, mulut mantan patih itu sampai mengeluarkan suara jerit kesakitan yang terdengar, oleh mereka yang menyaksikan pertempuran.
Tanpa di sengaja karena sakit, dan keningnya ada tumbuh benjolan sebesar telur, kaki Nyoman Sidharta menendang perut Buto Ijo.
Buk….Bret!
Buto Ijo mundur dua langkah, sambil tangan kiri memegangi perut yang terkena tendangan, sementara tangan kiri Buto Ijo tampak menggenggam rambut Nyoman Sidharta yang tertarik, begitu pula dengan kulit kepala Nyoman Sidharta ikut terkelupas, darah terlihat mengucur membasahi muka serta tubuh Nyoman Sidharta.
__ADS_1
Aauugghhh!
Jeritan kembali terdengar, kali ini tangan Nyoman Sidharta mengusap kepalanya karena perih, tetapi semakin di usap malah semakin perih.
Kekuatan yang di miliki oleh keduanya sebenarnya seimbang, tetapi Buto Ijo di untungkan oleh ajian Brajamusti dan alam.
Ilmu hitam Nyoman Sidharta jika di gunakan di siang hari, kekuatan ilmunya banyak berkurang, karena terkikis oleh sinar matahari, ilmu hitam yang di miliki oleh Nyoman Sidharta, jika di gunakan malam hari kekuatannya akan bertambah dua kali lipat, itu sebabnya Nyoman Sidharta mulai kewalahan, sewaktu pukulan Buto Ijo yang mengandung ajian Brajamusti mengenai tubuh serta kepala Nyoman Sidharta.
Pukulan Buto Ijo semakin lama semakin terasa menyakitkan.
Nyoman Sidharta semakin nekat, sambil berusaha menahan sakit, Nyoman Sidharta berusaha menubruk Buto Ijo.
Brak!
Setelah Nyoman Sidharta menubruk Buto Ijo, keduanya jatuh ke tanah, kemudian bergulingan di tanah, sambil tangan kanan saling hantam, sementara tangan kiri mereka saling kunci, agar tangan kiri keduanya tidak bisa di gunakan.
Ketika keduanya sudah berhenti berguling, posisi Nyoman Sidharta berada di atas tubuh Buto Ijo, dengan siku kiri Nyoman Sidharta berusaha menahan tangan kanan Buto Ijo, Nyoman Sidharta kemudian meninju kepala Buto Ijo yang berada di bawah.
Melihat kepalan musuh melesat ke arah kepala, Buto Ijo langsung hentakkan punggung, dan kedua kakinya berusaha menggeser tubuh.
Brak!
Tinju kanan Nyoman Sidharta menghantam tanah, karena kepala Buto Ijo bergeser.
Setelah berhasil menghindar, dengkul kiri Buto Ijo menghantam perut Nyoman Sidharta.
Buk!
Tubuh Nyoman Sidharta terangkat, ketika dengkul Buto Ijo menghantam perut.
Tetapi itu sudah cukup, bagi Buto Ijo saat kaki kanannya bebas bergerak.
Kaki kanan Buto Ijo dengan sekuat tenaga menendang dada Nyoman Sidharta, tubuh mantan patih tersebut langsung terpental dua tombak ke atas.
Buto Ijo melihat kesempatan emas, langsung tidak ia sia-siakan.
Tubuh Buto Ijo melesat naik dan berada di atas tubuh Nyoman Sidharta, kemudian kedua tangan Buto menyatu membentuk kepalan dan langsung di hantamkan ke punggung Nyoman Sidharta.
Krak!
Suara hantaman berikut patahnya tulang punggung Nyoman Sidharta terdengar, tubuhnya terhempas menghantam tanah dengan keras.
Brak!
Nyoman Sidharta hanya bisa mengeluh, karena tubuhnya terlungkup dan tak bisa bergerak, akibat punggungnya patah.
Prak!
Kepala Nyoman Sidharta langsung remuk terkena injakan Buto Ijo, perlahan dari kepala Nyoman Sidharta merembes darah segar yang membasahi tanah di sekitar kepala, seiring perubahan wujud Nyoman Sidharta kembali ke semula, seorang patih bertubuh kurus.
Suara riuh tepuk tangan terdengar, saat Buto Ijo angkat tangan memastikan kemenangannya.
Suketi langsung turun dari bahu Aria, dan berlari ke arah sang suami, setelah dekat Suketi langsung melesat memeluk leher dan menciumi pipi suaminya.
“Sudah….sudah! Malu kalau di lihat orang,” ucap Buto Ijo sambil jarinya menahan kepala Suketi, agar tidak bisa mencium lehernya.
Aria tersenyum saat mendekati Buto Ijo, begitu pula Prabu Anak Wungsu serta kerabat kerajaan.
Hanya Buwana Dewi yang terlihat cemberut, karena pagi ini ia hendak menikah, tetapi gagal.
Sedangkan hari mulai beranjak sore, ada kemungkinan pernikahannya di batalkan.
Iblis Kawi, melihat mulut anaknya masih terlihat monyong, hendak mencium tetapi kepalanya di tahan oleh Buto Ijo, kemudian berkata.
“Kau tidak suka dengan anakku? Tanya Iblis Kawi.
“Kalau tidak suka, kenapa aku mau nikah dengan Suketi,” jawab Buto Ijo.
“Lantas kenapa kau pegangi kepalanya, pukul saja sekalian, seperti biasa kau lakukan,” balas Iblis Kawi.
Mendengar perkataan Iblis Kawi, kepala Buto Ijo langsung menoleh ke arah Wangsa dan matanya langsung menatap tajam, tetapi sang resi gelengkan kepala, seakan menjawab tatapan Buto Ijo, bahwa ia tidak berkata apa-apa terhadap Iblis Kawi.
“Bukan seperti itu, aku memegangi kepala Suketi agar dia tidak terus menciumi aku, sebab di sini banyak orang, kan malu! Buto Ijo memberi alasan kenapa ia memegangi kepala Buto Ijo.
“Kau malu memper istri anakku? Tanya Iblis Kawi dengan tatapan tajam.
“Apa karena anakku se ekor kera? Lanjut pertanyaan Iblis Kawi.
“Bagsat! Kau terus saja memojokkan aku, apa belum cukup pukulan….
Buto Ijo langsung hentikan perkataannya saat melihat sang mertua menatap tajam.
“Kenapa tidak kau teruskan, ucapanmu? Tanya Iblis Kawi.
__ADS_1
“Tadi….tadi aku mau berkata apa ya, lupa lagi,” Buto Ijo berkata sambil garuk-garuk kepala.
“Bukankah kau hendak bilang, belum cukup pukulan yang tadi kau layangkan? Tanya Iblis Kawi.
“Tidak….aku tidak berkata seperti itu, siapa yang berani memukul bapa mertua? Tanya Buto Ijo dengan wajah tanpa dosa.
Suketi yang tengah duduk di bahu Buto Ijo, jarinya langsung menunjuk ke arah sang Suami.
“Benar kan, tidak ada yang tahu,” kembali Buto Ijo berkata, ketika tak mendengar suara orang yang ada di dekatnya.
“Memang kau orangnya, karena istrimu sendiri yang bilang,” ucap Iblis Kawi setelah melihat jari anaknya menunjuk ke arah wajah sang suami.
Buto ijo langsung diam.
Iblis Kawi terus menggerutu terhadap Buto ijo yang ia lihat suka bertindak semaunya.
Aria Pilong kemudian menjadi penengah antara Buto ijo dan Iblis Kawi.
Prabu Anak Wungsu lalu mengundang mereka untuk makan, karena dari pagi belum ada makanan yang masuk ke perut mereka, sejak kejadian Buto Ijo terkena siraman air beracun.
Sambil bersantap, Prabu Anak Wungsu menatap Aria dan Buwana Dewi, keduanya masih memakai baju pengantin, tetapi mereka belum menikah, karena terlebih dahulu rusuh.
Setelah selesai bersantap, Prabu Anak Wungsu berkata dengan lemah lembut, “maafkan aku! Karena pengkhianatan patih Nyoman Sidharta, pernikahan tuan Aria batal,” ucap Prabu Anak Wungsu.
“Semua sudah ada yang mengatur, jadi Prabu Anak Wungsu tidak usah mengkhawatirkan aku,” balas Aria.
“Tidak….tidak! Ini semua salah kami, jadi merepotkan tuan Aria berserta kawan semua,” Prabu Anak Wungsu membalas Perkataan Aria, kemudian lanjut berkata.
“Bagaimana kalau malam ini kita adakan acara pernikahan untuk tuan Aria, pernikahan berlangsung di dalam istana, sehingga tidak ada yang mengganggu acara pernikahan.
Mereka yang hadir saling pandang mendengar usul sang Prabu, kemudian mereka semua sepakat anggukan kepala.
Brahmana Tunggal yang ikut hadir dan bersantap bersama selalu tundukkan kepala, saat Buto Ijo melirik ke arahnya.
Setelah selesai bersantap, dayang istana atas perintah Prabu anak Wungsu menghias ruangan tengah, untuk acara pernikahan Aria.
***
Malam hari ruangan istana sudah berubah menjadi ramai dan meriah setelah di hias oleh Dayang istana.
Aria dan Buwana Dewi juga sudah berganti pakaian pengantin yang baru, keduanya tampak bergandeng tangan, ketika duduk bersimpuh, di depan Brahmana Tunggal.
“Apa kalian berdua sudah siap lahir dan batin untuk hidup bersama dalam suka maupun duka? Tanya Brahmana tunggal sambil tersenyum.
“Kami bersedia,” jawab Aria dan Buwana Dewi bersamaan.
Setelah mendengar kesiapan keduanya, Brahmana Tunggal kemudian membaca doa suci, agar perkawinan keduanya mendapat berkah dan langgeng.
Baru setengah jalan, Brahmana tunggal membaca doa Suci, tiba-tiba istana Tampak Siring bergetar, kursi dan meja berderak dan bergeser dari tempatnya.
Semua yang hadir kaget, dan tak tahu apa yang terjadi, Selamet langsung melesat keluar, tetapi tak lama kemudian tubuhnya terpental kembali ke dalam sambil muntahkan darah segar.
Setelah Selamet terpental, tak lama kemudian dua orang memasuki ruangan, tempat berlangsungnya acara pernikahan,
Seorang pemuda tampan tampak berjalan di belakang seorang pria yang kepalanya bukan kepala manusia, tetapi kepala kerbau.
Sebagian mundur melihat penampilan pria berkepala aneh yang memasuki ruangan, Aria hanya mendengus setelah tahu siapa yang datang, sedangkan Buto Ijo menatap ke arah Prabu Anak Wungsu sambil bertanya.
“Kau yang mengundang kerbau ini?
Manusia berkepala kerbau mendengus, kemudian tangannya mengibas ke arah Buto Ijo.
Whut….des!
Buto Ijo terpental, dan menghantam meja serta kursi di dalam ruangan, dari mulut Buto Ijo menyembur darah segar, akibat luka dalam.
Ujang Beurit, Wangsa, Iblsi Kawi serta Selamet tak bicara, begitupula dengan Prabu Anak Wungsu dan kerabat kerajaan, mereka seperti terpaku melihat orang aneh tersebut, karena yang bisa membuat Buto Ijo terpental sambil muntahkan darah segar, pasti bukan orang sembarangan.
“Hentikan pernikahan ini, atau istana Tampak siring beserta semua penghuninya akan ku bunuh,” ucap Pria berkepala aneh yang tak lain adalah Ki Banyu Alas.
Aria berdiri setelah mendengar perkataan Ki Banyu Alas, kemudian berkata.
“Kau pikir aku takut!
“Aku tahu kau tidak takut kepadaku, tetapi coba kau pikirkan lagi, jika kau tetap berniat melangsungkan pernikahan ini, ribuan siluman yang sudah mengepung Istana Tampak Siring akan aku perintahkan menyerang dan membunuh semua mahluk bernyawa yang ada di sini, apa kau tidak peduli dengan orang-orang di sini? Tanya Ki Banyu Alas dengan nada dingin.
Belum sempat Aria menjawab, dinding istana yang berada di dekat taman, jebol.
Seorang pria berambut merah dan seorang wanita paruh baya, masuk dan langsung berkata.
“Langsungkan saja pernikahan, memangnya dia saja yang punya pasukan, Aku mewakili ketua Jagad Buwana memerintahkan ribuan siluman dari istana kali mati dan gunung Kawi menghadiri pernikahan ini,” ucap pria yang baru saja masuk dan menjebol dinding istana, pria itu tak lain adalah Singabarong bersama sang istri.
Selamet melihat kedatangan Singabarong bersama rombongan, langsung tersenyum, usahanya mengirim dua surat, satu kepada Iblis kawi dan satu lagi ia tujukan kepada Singabarong tidak sia-sia, mereka datang tepat waktu.
__ADS_1
Ki Banyu Alas tersenyum dingin mendengar perkataan Singabarong, lalu membalas perkataannya.
“Baik! Kita bertempur untuk menentukan, siapa yang bisa berdiri di tanah Jawa ini.”