
Aria dan Buto Ijo hentikan langkah ketika mendengar perkataan orang di belakang mereka.
“Ada apa kisanak? Tanya Aria setelah berbalik.
“Kenapa buru-buru? kita belum berkenalan,” ucap Ki Panca.
“Kami takut terjadi masalah, jika terus berada di tempat ini kisanak,” balas Aria.
“Kalian tenang saja! Kami yang akan bertanggung jawab,” ucap Suara berat dari dalam kereta kuda.
“Kalian dengar perkataan majikanku,” ucap Ki Panca sambil tersenyum.
“Terima kasih,” ucap Aria.
“Tuan kami ingin berkenalan, jika kisanak berdua tidak keberatan,” kembali Ki Panca berkata.
Akhirnya Aria anggukan kepala, Aria juga penasaran, siapa orang yang berada di dalam kereta, dan sepertinya orang itu mempunyai hubungan dengan orang dari Kahuripan.
“Silahkan kisanak! Ki Panca berkata sambil mempersilahkan Aria masuk ke dalam kereta kuda.
Aria masuk kedalam kereta kuda, saat giliran Buto Ijo. Buto Ijo menolak dan berkata kepada Ki Panca bahwa ia tidak biasa naik kereta kuda, dan lebih memilih berjalan atau lari mengikuti kereta kuda.
Di dalam kereta kuda yang besar, duduk pria bertubuh besar, berusia sekitar 60 tahun, di samping pria besar itu, duduk seorang gadis cantik yang matanya terus menuju ke arah jendela kereta, melihat para penduduk lalu lalang di jalan yang menuju ke arah alun-alun kerajaan Daha.
“Aku Sanjaya siapa nama kisanak? Tanya pria bertubuh besar itu.
“Namaku Aria tuan,” jawab Aria singkat.
“Kenapa tuan masih memakai caping? Di dalam keretaku, tuan tidak usah takut,” kembali Sanjaya berkata.
“Wajah kami rusak akibat terkena wabah menular tuan, jadi kami tidak bisa membuka topeng,” Aria membalas perkataan Sanjaya.
Mendengar perkataan Aria, gadis muda itu sekilas melirik ke arah Aria, tetapi kembali matanya menatap ke arah jendela kereta.
Ha Ha Ha
“Tidak usah berbohong di depanku, tuan! Ucap Sanjaya sambil melirik ke arah tongkat yang di pegang Aria, kemudian berkata kembali, “Tetapi kali ini aku bisa mengerti, karena aku tahu ada sebagian pendekar yang tidak mau wajahnya di kenali,” Sanjaya berkata sambil tertawa.
Aria diam tak membalas perkataan Sanjaya.
“Hei! Kenapa kalian malah ke arah hutan? Teriak Buto Ijo.
Aria kerutkan kening mendengar teriakan Buto Ijo yang mengatakan kereta kuda ke arah hutan, bukan ke alun-alun kota.
“Kemana tuan akan membawa kami? Tanya Aria.
Sanjaya belum menjawab pertanyaan, matanya terus memperhatikan Aria.
Aria tahu Sanjaya tengah menatapnya, suara hembusan napas yang keluar dari hidung Sanjaya terasa oleh Aria.
“Apa ada yang salah di diri saya tuan? Tanya Aria.
“Tidak….tidak! Jawab Sanjaya.
__ADS_1
“Kami akan menyapa beberapa kawan terlebih dahulu, sebelum pergi ke alun-alun kota Daha,” lanjut perkataan Sanjaya.
“Apa tuan Sanjaya ingin menjebak kami? Tanya Aria.
Cis!
Terdengar suara cibiran dari mulut gadis, yang matanya terus melihat jendela kereta.
“Tuan Aria jangan khawatir, untuk apa aku menjebak tuan, jika tuan Aria tidak suka dan ingin turun dari kereta kami, Silahkan,” balas Sanjaya, kali ini nadanya sedikit berbeda dari yang pertama.
Aria diam mendengar perkataan Sanjaya.
“Baik! Aku ikut dengan tuan, menjadi kawan atau lawan bisa kita lihat setelah hasil pertemuan.
Sanjaya anggukan kepala mendengar perkataan Aria.
“Orang yang terus terang,” batin Sanjaya, “dari suaranya seperti seorang pemuda, tetapi kenapa membawa tongkat, dia tidak seperti orang buta, apa yang ia sembunyikan dari balik capingnya itu,” banyak pertanyaan di benak Sanjaya tentang Aria.
Belum jauh kereta kuda masuk ke dalam hutan, tampak satu perkampungan kecil dengan puluhan rumah berderet sejajar.
Kereta masuk ke dalam perkampungan.
Setelah berada di tengah, di depan rumah paling besar, kereta berhenti.
Dua orang berpakaian hitam berdiri di samping kereta kuda, kemudian membuka pintu kereta.
Gadis yang duduk di samping pintu, turun, kemudian Sanjaya dan yang terakhir adalah Aria.
Buto Ijo langsung menghampiri Aria dan berdiri di sampingnya.
Di dalam rumah sudah berkumpul beberapa orang, dan sepertinya mereka memang sedang menunggu kedatangan Sanjaya.
Seorang pria berpakaian mewah ber umur sekitar 25 tahun berwajah tampan dengan keris di balik pinggang, berdiri setelah melihat kedatangan Sanjaya.
“Selamat datang panglima Sanjaya yang kami hormati! Ucap orang itu.
“Terima kasih tuan Singalodra atas undangannya,” jawab Panglima Sanjaya membalas hormat Singalodra.
Singalodra kerutkan kening setelah melihat dua orang bercaping yang berada bersama Sanjaya selain Ki Panca.
“Maaf apa mereka kawan panglima? Tanya Singalodra.
“Benar! Mereka kawanku,” jawab Sanjaya.
Sanjaya duduk berdampingan dengan gadis cantik, yang wajahnya tidak pernah tersenyum, di belakang mereka Ki Panca berdiri.
Aria juga di persilahkan duduk, sedangkan Buto Ijo berdiri di belakang Aria.
Di samping Singalodra duduk tiga orang berpakaian hitam, salah satunya adalah Serigala hitam, dua diantaranya adalah Bahurekso ketua tangan hitam, serta Kelelawar hantu.
Serigala hitam terus menatap ke arah Buto Ijo, begitu pula dengan Buto Ijo yang balas menatap Serigala hitam.
“Kenapa dia bisa bersama rombongan panglima Sanjaya,” batin Serigala hitam.
__ADS_1
Sedangkan Buto Ijo menatap Serigala hitam sambil berpikir. “Apa ia mengenali aku.”
Singalodra ragu hendak bicara, tapi sesekali ia melirik ke arah Aria yang memakai caping.
“Panglima! Bagaimana kelanjutan dari pembicaraan kita waktu itu? Tanya Senopati Singalodra.
“Aku akan membicarakan masalah itu setelah melihat sayembara yang akan di adakan oleh kerajaan Kadiri,” jawab Sanjaya.
“Kenapa tidak dari sekarang panglima? aku rasa kerajaan Galuh dan Kahuripan sangat cocok dan bisa bekerjasama,” Singalodra berkata.
Aria terkejut setelah mendengar bahwa panglima Sanjaya berasal dari kerajaan Galuh.
“Senopati Singalodra! jangan cepat mengambil keputusan, Kahuripan belum mengenal Galuh begitu pula sebaliknya,” Sanjaya membalas perkataan Singalodra.
“Jadi dia Senopati dari Kahuripan, artinya kerajaan Galuh dan Kahuripan bekerja sama untuk menyerang Kadiri,” batin Aria.
“Maaf tuan Senopati, hamba minta ijin bicara? Serigala hitam berkata.
Bahurekso kerutkan kening mendengar perkataan tetua ketiga, begitu pula dengan Senopati Singalodra.
“Jika ada yang tetua ingin sampaikan silahkan,” balas Singalodra.
“Aku ingin bertanya kepada panglima Sanjaya? Ucap Serigala hitam.
“Silahkan,” jawab panglima Sanjaya.
“Dimana tuan kenal Buto Ijo? Tanya Serigala hitam sambil menunjuk ke arah Buto Ijo.
Panglima Sanjaya dan Senopati Singalodra terkejut mendengar perkataan Serigala hitam.
Begitu pula dengan Bahurekso dan kelelawar hantu.
“Jadi….jadi dia Buto Ijo? Bahurekso bertanya kepada Serigala hitam.
“Benar kakang! Aku memang belum cerita kepada kakang, kemarin aku bertemu dengan Buto Ijo, dan dia sudah membunuh muridku,” ucap Serigala hitam sambil berdiri dan menunjuk ke arah Buto Ijo.
Buto Ijo menyeringai mendengar perkataan Serigala hitam, lalu bertanya.
“Darimana kau tahu, aku Buto Ijo?
Phuih!
“Jika kau hendak menyamar lebih baik, tutupi kulit kakimu yang hijau, agar tidak bisa di kenali,” jawab Serigala hitam.
Buto Ijo langsung melihat ke bawah, setelah melihat lilitan kain di kakinya sudah tidak ada, karena terlepas sewaktu ia berlari mengikuti kereta kuda.
Buto Ijo langsung menyeringai sambil membuka caping, kemudian membanting capingnya, sambil berkata kepada Serigala hitam.
“Kalau kau sudah tahu, lantas apa maumu?
“Katakan tujuanmu datang kesini? Ucap Serigala hitam.
Buto Ijo menyeringai, sambil menatap tajam ke arah Serigala hitam, lalu menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
“Aku datang untuk membunuhmu,”