
Teriakan para gadis yang tengah mandi di sungai, mengejutkan semua orang saat tengah melakukan aktivitas di sungai itu.
Para gadis yang sedang mandi langsung membenamkan tubuh mereka ke dalam air, tetapi ketika sadar bahwa air sungai sangat jernih dan tak bisa menutupi tubuh mereka, kedua tangan langsung bergerak untuk menutupi tubuh mereka agar tak terlihat.
Sebagian gadis yang tengah mandi teriak kepada kawan mereka yang sedang mencuci, untuk meminta baju atau kain agar bisa menutupi tubuh.
Aria tengah duduk di atas batu besar, mendengar suara minta tolong di depannya langsung lompat ke arah suara, Aria berani lompat ke sungai, karena suara riak air sungai menandakan bahwa sungai yang ada di sekitarnya, adalah sungai dangkal.
Aria lompat ke arah suara.
Dengan tangan kiri memegang tongkat, tangan kanan Aria memeluk gadis yang tadi berteriak minta tolong.
Para gadis langsung gempar dan naik ke permukaan, kemudian lari untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di sungai.
Sementara gadis yang tadi teriak serta pinggangnya di peluk oleh Aria terus meronta, sambil menjerit-jerit.
“Tenang dulu dan jangan panik, mana orang yang telah mengganggu, saudara? Tanya Aria, sambil terus memeluk gadis itu.
Tapi belum sempat Aria mendengar jawaban sang gadis.
Tangan si gadis langsung menampar pipi Aria.
Plak!
“Dasar penjahat cabuul, terkutuk! Teriak gadis itu, sambil meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Aria.
Aria terkejut ketika pipinya di tampar oleh orang yang ia tolong, lalu melepaskan pelukannya.
Saat tangan Aria tak lagi memeluk, si gadis langsung lari dan menyambar kain dari salah satu bakul berisi pakaian yang baru saja di cuci, sambil mulutnya terus mencaci maki Aria.
Tak lama kemudian, puluhan penduduk kampung sambil membawa golok, parang, pacul serta kayu, berdatangan.
“Ada apa Ratmi? Tanya salah seorang pria paruh baya, sambil membawa golok.
“Ada orang yang mengintip kami mandi, ayah! Ucap Ratmi, dengan raut wajah terlihat merah menahan marah, bercampur kesal, tetapi Ratmi tak berani berkata, bahwa ia juga sudah di peluk oleh pria itu.
“Manusia rendah! Berani sekali mengacau di desa Randu alas,” seru ayah Ratmi yang merupakan kepala kampung Randu alas.
“Aria kerutkan kening mendengar perkataan pria yang berteriak ke arahnya.
“Ada apa Kisanak! Siapa yang kau maksud dengan manusia rendah? Tanya Aria.
Ayah Ratmi kerutkan kening saat melihat pemuda yang tadi ia tegur melihat ke arah lain, sementara telinga pemuda itu yang terlihat mengarah kepada mereka.
“Sudah Ki sepuh! Bunuh saja penjahat hina itu, tak usah banyak bicara lagi,” ucap salah satu penduduk kampung.
__ADS_1
“Tunggu dulu! Seru orang tua yang di panggil ki sepuh, saat melihat Aria dengan tongkatnya mengetuk – ngetuk batu saat berada tak jauh di depan mereka, kemudian melangkah, berusaha mendekat.
Ratmi serta beberapa penduduk terkejut, saat melihat Aria mendekat sambil tongkatnya terlihat sebagai penunjuk jalan.
“Aku tak mengerti maksud Kisanak? Tanya Aria, kini pemuda itu berdiri di depan para penduduk desa.
“Aku sedang berjemur di atas batu, kemudian terdengar suara minta tolong, lalu aku berusaha menolong, tapi orang yang aku tolong malah menamparku,” lanjut perkataan Aria.
“Apa....apa Kisanak tak bisa melihat? Tanya Ki Sepuh.
“Aku buta sejak lahir Kisanak! Tentu saja tak dapat melihat,” jawab Aria sambil tersenyum pahit.
Seorang pria muda desa Randu Alas sudah lama menyukai Ratmi, mendengar gadis itu teriak serta mendengar cerita dari gadis lain, nafsu amarah pemuda itu memuncak.
“Bohong Ki! Jangan percaya sama orang yang tidak kita kenal,” ucap pemuda, yang sudah lama menyukai Ratmi.
Ki Sepuh angkat tangan memberi isyarat agar penduduk diam.
“Kisanak! Di sekitar tempat Kisanak duduk adalah tempat mandi para gadis di kampung ini, dan lelaki tidak boleh ke tempat itu,” ucap Ki Sepuh.
Aria yang mendengar perkataan Ki Sepuh terkejut.
“Maaf....Maafkan saya Ki! Saya benar – benar tidak tahu,” jawab Aria dengan nada penuh sesal, tetapi dalam hatinya Aria bertanya tanya, gadis dan lelaki apa berbeda?
“Maaf Kisanak, saya benar buta! Balas Aria, dari nada yang di ucapkan, Aria sudah mulai kesal mendengar perkataan pemuda itu.
“Buka capingmu agar kami tahu, kau buta atau tidak? Kembali terdengar suara dari pemuda itu.
Hmm!
Suara dengusan keluar dari hidung Aria mendengar ucapan pemuda itu, tangan kanannya mulai menggenggam erat tongkat kayu cendana.
“Maaf Kisanak, kami tidak akan memperpanjang masalah ini, jika Kisanak memang benar buta, apa Kisanak mau menuruti permintaan penduduk untuk mengatasi salah paham ini,” Ki Sepuh berkata sambil menatap ke arah Aria.
Ki Sepuh tak mau gegabah dan harus bersikap adil, sebenarnya ia tak tega terhadap Aria, tetapi para penduduk desa terus mendesaknya.
Aria sebenarnya enggan untuk melepaskan caping yang ia pakai, tetapi untuk meluruskan salah paham ini, dengan berat hati, terpaksa Aria membuka Caping bambu yang ia kenakan.
Raut wajah tampan dengan rambut hitam tergerai sampai pundak terlihat, setelah Aria melepaskan capingnya, tetapi yang membuat hati bergidik adalah, kedua mata berwarna kuning ke emasan, tak ada bulatan hitam serta putih di mata yang berwarna ke emasan itu, mata yang tak lazim di miliki oleh seorang manusia.
Ki Sepuh terkejut, bahkan beberapa penduduk mundur dengan wajah ketakutan saat melihat Aria membuka Caping, sementara itu roman wajah Ratmi berubah merah, melihat wajah Aria yang tampan.
“Bagaimana Kisanak! Seru Aria, sambil mengenakan kembali capingnya.
Pemuda yang tadi bicara penuh nafsu, diam seribu basa setelah melihat keadaan Aria.
__ADS_1
Sedangkan Ki Sepuh hanya bisa menarik napas panjang dan yakin, bahwa kejadian di sungai memang hanya salah paham.
“Jika tak ada urusan lagi, aku pamit mohon diri,” Aria berkata, kemudian melangkah sambil mengetuk – ngetuk tongkat kayu pemberian sang kakek.
Ketika melangkah diantara para penduduk, pemuda yang wajahnya terlihat masih kesal memalangkan kakinya ke arah langkah kaki Aria.
Aria tahu maksud pemuda itu, tetapi ia tak mau bertindak dan membiarkan, karena tak ingin ada hal, yang membuat ia harus bertarung dengan para penduduk.
Plak!
Kaki Aria tersangkut kaki pemuda itu, tubuh Aria limbung dan hendak jatuh, ketika hendak jatuh, tanpa sengaja tangan kiri Aria langsung meraih dan memegang lalu meremas salah satu dada kenyal dari gadis bernama Ratmi.
Auw!
Teriak Ratmi dengan raut wajah berubah merah.
“Maaf...maaf! aku tak sengaja Kisanak,” ucap Aria, sambil terus melangkah.
Tetapi dalam hatinya Aria memang hendak membalas tamparan orang yang hendak ia tolong, Aria tahu dimana Ratmi berada, dari bau yang keluar dari tubuh Ratmi.
“Jaga kelakuanmu Ganda,” ucap Ki sepuh dengan nada dingin setelah tahu apa yang telah di lakukan oleh pemuda itu.
Sementara itu, Ratmi yang mendengar dirinya di sebut Kisanak.
Lalu berkata dengan nada gusar ke arah Aria.
“Aku adalah seorang wanita! Bukan Pria,”
Aria hentikan langkah, ketika mendengar perkataan Ratmi dan teringat akan pesan kakeknya, harus menjauhi orang yang bernama wanita.
Suro Keling memang tidak pernah memberitahu Aria, bahwa wanita dan pria itu berbeda serta ada batasan antara pria dan wanita. Suro Keling hanya berpesan, jangan mendekati wanita, karena yang bernama wanita hanya bisa membuat celaka.
Kini perkataan sang Kakek baru terasa oleh Aria, karena saat hendak menolong seorang wanita, ia malah kena tampar dan hampir di keroyok oleh penduduk kampung.
Aria berbalik setelah mendengar perkataan Ratmi, kemudian berkata.
“Benar apa yang di katakan oleh kakek! Makhluk bernama Wanita memang merepotkan.”
Setelah berkata, Aria balik kembali dan melangkah ke arah kampung Randu alas.
Sementara saking kesalnya Ratmi meng entakkan kakinya ke tanah.
Sedangkan ki sepuh gelengkan kepala mendengar perkataan Aria, dan berkata dalam hati
“Entah dari gunung mana datangnya pemuda itu?
__ADS_1